Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
episode 7


__ADS_3

Saudara Pan, aku bukan membesarkan lawan, tapi jika berhadapan dengan penjahat ini, lebih baik kau cepat-cepat menghindar supaya lebih aman, dan juga jangan sampai dia mengetahui bahwa kau mencari aku untuk


menghadapi dia, jika tidak, kau akan mendapat mala petaka....


Orang-orang di luar sudah semakin banyak, kita sudah harus berpisah, sampai jumpa."


Di luar gerbang selatan, itulah kota He-kou yang ternama, juga


disebut kota He-nan. Dari tempat He-kou sampai pertemuan sungai


Da-jiang yaitu di jembatan Fu-min, benarbenar tempat berkumpulnya


semua golongan, pusatnya berbagai usaha, tempat kebutuhan


sehari-hari masyarakat Nan-jing.


Jembatan Tong-ji di sebelah timur, adalah jalan raya menuju


perkantoran pemerintah Ning-guo, toko-toko di daerah ini


pendatang semua, kebanyakan adalah pemilik barang dan


pengusaha kecil. Tamu-tamu penginapan di daerah jembatan


Fu-min sebelah barat, kebanyakan adalah pedagang keliling dari


aliran sungai Da-jiang, golongannya lebih bermacam-macam.


Mengenai pelabuhan Shui-xi-men, pelancongnya


kebanyakan orang-orang yang punyakedudukan.


Makanya di tiga tempat ini, orang yang keluar masuk, secara tidak


disengaja terbagi golongan dan kedudukannya, orang yang berpeng


alaman dengan mudah bisa membedakan golongan dan kedudukan


mereka. Fu Ke-wei menginap di penginapan Yi-feng yang berada di


sebelah timur jembatan Fu-min, dia menyamar sebagai seorang


pengusaha kecil yang datang dari Nan-jing dan akan membeli kain


sutra merah. Surat jalan dia dicap oleh kantor pemerintah Jiang-ning, dijamin asli.


Dandanan dia yan g terang tapi tidak berlebihan, cukup menunjukan


kantongnya penuh dengan uang, tapi tampangnya tidak terlalu


menyerupai seorang pengusaha kecil.


Tentu saja, dia pernah tampil di toko kain Hong-tai di sebelah


barat jembatan Tong-ji. Toko kain Hong-tai di perkantoran Ning-guo punya pabrik kain


sendiri, hasil kain sutranya di Nan-jing tidak ada orang yang tidak tahu, pengusaha kecil yang membeli sendiri, mengirim sendiri,


semua langsung berhubungan dengan toko kain Hong-tai.


Menurut pemikiran Fu Ke-wei, di Wu-hu hanya ada satu orang yang kenal dirinya, yaitu saudara Pan nya, seorang yang cukup punya nama di dunia persilatan, anggota dari satu organisasi pemburu bayaran yang khusus memburu buronan pemerintah, penjahat yang dosanya tidak bisa diampuni.


Orang-orang yang membicarakan organisasi ini, semua merasa was-was, siapa tahu suatu hari tidak sengaja melakukan pelanggaran hukum, dan ditangkap oleh mereka, karena orang-orang sangat mungkin melakukan pelangaran hukum.


Perkara pembunuhan yang dilakukan oleh Wu-feng, dalam


catatan di kantor pemerintah, tidak ada dua puluh tapi pasti lebih dari sepuluh, setiap kabupaten juga ada perintah penangkapan


terhadap penjahat kelas kakap ini.


Dipersimpangan jalan antara pesisir pelabuhan Shui-xi-men


dengan kota He-nan, di dalam kota disebut jalan belakang, ini adalah tempat kacau, di tempat ini ada gang lampu merah, ada penjual candu yang pintunya setengah terbuka, ada bermacam-macam tempat judi.

__ADS_1


ada restoran yang menyajikan nyanyian atau tarian, semua adalah


tempat membuang uang, di tempat ini banyak terjadi pertengkaran,


tempat berkumpulnya dewa, ular setan, sapi, kokok, ayam, anjing,


pencuri dan lain lain. Tidak lama setelah malam hari, Fu Ke-wei muncul di depan bar


Jin-lin melalui jalan belakang.


Tidak menunggu dia melangkah masuk ke dalam bar, disebelahnya


telah menyerobot keluar seorang brandalan yang menempel padanya,


dengan sembunyi-sembunyi berbisik di telinga dia:


"Bos Fu, bisa bicara sebentar?"


"Ooo!" Fu Ke-wei tersenyum nakal pada lawannya, "kau malah kenal aku, maaf, maaf."


"Anda menginap di penginapan Yi-feng, pernah ke toko kain


Hong-tai membicarakan bisnis selama setengah hari." kata pria itu sangat pelan, "seorang usahawan seperti aku, jika beritanya tidak cepat, mungkin akan minum angin laut saja!"


"Ha ha ha! Sebenarnya kau usaha apa?" dia terus berkata,


"penarik tamu" Penyerobot tamu" Atau calo?"


"Sembarangan bicara, aku ini pedagang..."


"Ooo! Pedagang" Kalau begitu sama dengan aku! Maaf maaf.


Ha ha ha! Usahamu apa?"


"Bos Fu, bukankah kau mau beli kain sutra?"


"Betul, aku " "Ada satu partai barang, berkualitas tinggi, ingin cepatcepat dilepas, harganya lebih murah dari toko kain Hong-tai empat puluh


persen, telah diatur dengan baik, dijamin tidak ada masalah."


lima puluh persen. Kau sembarangan menawarkan, kau kira aku


akan percaya padamu" Bisnis semacam ini aku paling nomor


satunya, kau mungkin orang baru, hati-hati Naga Setempat bisa


mematahkan kakimu, kau tahu kau sedang merusak bisnisnya,


menyerobot mangkuk nasinya, kau tahu tidak" Sudahlah!


Saudara...." Begitu orang itu mendengar, gelagatnya terasa tidak benar, dia


langsung melarikan diri seperti seekor tikus.


Fu Ke-wei masuk keruangan makan, lampunya terang benderang,


suaranya ribut sekali, teriakan tebakan tangan dengan hukuman minum menggetarkan telinga, tamunya hampir memenuhi isi ruangan, tiga


ruangan makan yang besar, hampir ada empat puluh meja, banyaknya


tamu yang makan bisa di bayangkan, tentu saja udara-nya penuh dengan asap.


Pokoknya, orang-orang yang minum makan disini, pasti bukan


tuan besar yang punya kedudukan.


Dia duduk di meja paling pinggir, memesan pada pelayan beberapa


masakan dan tiga teko arak, makan minum sendiri sambil memperhatikan keadaan ruangan. Disini dia bisa melihat kesegala


pelosok ruang makan, bisa mengawas: orang yang keluar masuk pintu


restoran. Dengan pengalaman dunia persilatan, dia tidak melihat ada yang

__ADS_1


tidak beres, jika ada orang yang menguntit pun, sekarang sudah tidak akar mendapatkan meja untuk mengawasinya.


Baru saja menghabiskan segelas arak brandalan itu kembali


muncul dengan membawE seseorang, seorang pria besar berusia


sekitar empal puluh tahunan, dengan alis tebal mata besai


bertampang seorang penjahat.


"Orang-orang ini ingin mempermainkar aku." Didalam


hatinya tertawa, "Naga Setempat Lu jiu tampil sendiri."


Benar saja dua orang itu mendorong oranj mabuk yang


menghalangi jalannya, dengan tertawa licik berjalan menuju ke


meja Fu Ke-wei. "Ha ha ha!" Dia mendahului menyapa, "Lu jiu, tidak seharusnya kau mengutus orang baru bersandiwara. Kelihatannya kau betul-betul punyj barangnya.


Duduklah! Suruh pelayan menambal


dua pasang sumpit dan gelas, aku yang traktir."


"Ha ha ha! aku yang harus traktir, aki adalah tuan rumah." Naga Setempat Lu-jit menarik kursi dan duduk, dengan abaaba tangar


juga menyuruh temannya duduk, dengan wajar berseri-seri dia


berkata, "bos Fu, kau pertama kal muncul ditempatku, aku terpaksa sedikit hati-hati Jujur saja, apakah bos ada minat pada barangku?"


Dia memanggil pelayan, menambah aral masakan sumpit dan


gelas. "Jika sumbernya tidak bau amis, aku tenti berminat. Jika tidak, kau cari saja orang lain." Dia terus terang berkata lagi, "jika bau amis, aku tidak bisa mengatasi resikonya. Polisi Lin Wei Yen sangat pintar,


tindakannya sangat keras, kau adalal penguasa daerah ini, tahu


keadaan dan bisa menghindar, tapi aku jadi kambing hitamnya!"


"Kau tenang saja, barang-barangku selamanya tidak bau amis, jika tidak aku tidak bisa sukses seperti sekarang." Naga Setempat tidak sungkan menumpahkan arak sendiri, "Polisi Lin Wei-yen akhir-akhir ini keadaannya tidak baik, beberapa perkara pembunuhan yang tidak bisa dipecahkan membuat dia kewalahan, mana dia ada waktu mengurus hal


sekecil ini?" "Julukan mu Naga Setempat tidak terlalu jelek." Dia mengangkat gelas memuji, "dengan ada kata-katamu ini, aku jadi tenang. Begini saja, nanti setelah melihat barangnya, kita baru bicarakan hal


detailnya, bagaimana?"


"Satu kata, menurut kau saja."


"Baik, satu kata kita jadi, masalah lain kau yang urus,


bagaimana?" "Baik, satu kata kita jadi, kita sudah sepakat, bos Fu besok malam apakah ada waktu?" tanya Naga Setempat dengan gembira.


"Ada." "Saat menyalakan lampu, kita bertemu di gerbang Jin-ma di ujung jembatan Xiao-lie."


"Baik. Sekarang, aku hormati kau, bersulang untuk bisnis besok malam."


Tiga orang mengangkat gelas. Orang brandalan yang


berwajah licik itu, sejak semula tidak pernah bicara, Naga


Setempat juga tidak memperkenalkan kedua belah pihak,


sepertinya menganggap dia sebagai pembantunya.


Tapi Fu Ke-wei telah memperhatikannya, dia menyelidiki orang


yang berwajah licik ini, pengalaman di dalam hatinya lebih banyak


dari pada di wajahnya, sepasang jari tangan yang seperti cakar


elang tidak sama dengan orang biasa.


"Dia orang yang sangat berbahaya." Di dalam hati dia


berpikir. Setelah selesai membicarakan bisnis, kedua belah pihak mengikuti

__ADS_1


aturan tidak membicarakan lagi, juga seperti biasa tidak menanyakan asal-usul lawan bicaranya, menghindar dari penyelidikan.


__ADS_2