Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 113


__ADS_3

"Kau tidak mengerti, pergi sana!" Hoa-fei-hoa yang melihat Shi-tu Yu-yao jadi merasa tidak leluasa, dan juga semakin kesal,


"membicarakan cara dan siasat adalah urusan orang tua. Saudara Fu, bagaimana keji nya, coba katakan! Aku mau tahu"


"Aku kan tidak mengganggumu!" Shi-tu Yu-yao menatap pada Hoa-fei-hoa, dia pun duduk di sisi Fu Ke-wei, sengaja ingin


membuat marah bunga galak yang cantik dan matang ini, "aku


malah tidak mau pergi!"


"Sudahlah, jangan ribut." Fu Ke-wei mencegah mereka bertengkar, dia menunjuk pada Sepasang Cantik Jiang-nan, "dua nona ini, adalah tamu yang minta perlindungan pada benteng Zhang-feng, ketua benteng Xi tahu


mereka menyembunyikan beberapa puluh ribu uang jarahan, sehingga


melihat harta timbul niat tidak baik, dia mengunci jalan darah mereka, memaksa mereka mengatakan tempat persembunyian uang rampokan itu,


dan juga sepakat memberikan mereka pada perkumpulan Cun-qiu, sebagai pertukaran tanda setuju, perjanjian tidak saling menyerang, dan diam-diam bekerja sama.


Aku ingin mereka berdua muncul di depan gerbang benteng,


mengumumkan perbuatan ketua benteng Xi terhadap mereka,


empat puluh lebih tamu yang minta perlindung, mungkin bisa


menjadi sumbu kehancurannya benteng Zhang-feng."


"Bagus sekali, dengan demikian di luar dan di dalam benteng


Zhang-feng mendapat tekanan, dan di pastikan nasibnya akan


hancur." Kata Hoa-fei-hoa dengan gembira.


"Saudara Fu, dua nona ini dari mana asalnya?" tanya Shi-tu Yu-yao.


"Wanita Cantik Sinar Bulan dan Ning-xiang-yan-nie......"


"Sepasang Cantik Jiang-nan!" Hoa-fei-hoa memotong, "tahun lalu mereka malam-malam merampok sekitar tujuh delapan keluarga,


menurut kabar hasilnya ada satu juta lebih uang perak, tidak aneh ketua benteng Xi jadi menginginkannya."


"Bagaimana Sepasang Cantik Jiang-nan bisa tahu ketua


benteng Xi akan menyerahkan mereka pada perkumpulan


Cun-qiu?" tanya Shi-tu Yu-yao tidak mengerti.


"Aku tahu dari hasil kemarin malam, dari mulutnya kepala


pengurus ruang dalam di benteng itu." Fu Ke-wei tertawa tawar. Dia membalikan kepala berkata pada Nie-sha-yin-hoa yang sedang


mengelap pedang, "nona Chao, coba kesini sebentar."


Nie-sha-yin-hoa menyimpan lapnya, memasukan pedang pada


sarung pedang, melenggok menghampiri.


"Tuan, ada perintah apa?"


Nie-sha-yin-hoa tersenyum manis, matanya bersinar, genit sekali.


Hoa-fei-hoa melihat sampai hatinya entah kenapa

__ADS_1


merasakan rasa tidak enak.


"Tolong kau buka kuncian jalan darahnya Sepasang Cantik


Jiang-nan." Fu Ke-wei bangkit berdiri, lalu jalan menuju Sepasang Cantik Jiang-nan.


Nie-sha-yin-hoa tertegun, di dalam hati berpikir, bagaimana dia


ada kemampuan semacam ini"


Dengan hati penuh ragu-ragu dia datang kepada Sepasang Cantik


Jiang-nan. "Kalian berdua, aku segera akan melakukan tindakan terhadap


benteng Zhang-feng, sengaja minta tolong pada nona Chao


membebaskan kuncian jalan darah kalian, paling sedikit tenaganya


harus bisa pulih lima puluh persen, supaya bisa bergerak."


Lalu Fu Ke-wei berbisik pada Nie-sha-yin-hoa sejenak.


Lalu di tulang punggung masing-masing Nie-sha-yin-hoa


berturut-turut menotok Sepasang Cantik Jiang-nan di delapan belas


titik jalan darahnya, lalu mengurut perutnya beberapa saat, baru


selesai. Setelah Sepasang Cantik Jiang-nan mengucapkan terima kasih


pada Nie-sha-yin-hoa, mereka segera mencoba menggerakan kaki


sebagian besar, hatinya menjadi gembira sekali.


Fu Ke-wei kembali ke gubuk rumput, memeriksa lagi


lukanya Niu Lang-xing. "Kau tetap tidak bisa melakukan gerakan yang kuat, nanti kalian suami istri menonton saja di sini." Dia sambil tertawa dan berpesan pada Zhi Nu-xing, "kau harus perhatikan keadaan di-sekeliling, aku punya beberapa teman yang segera akan datang kesini, aku akan


suruh mereka bertanggung jawab atas keamanan di sekeliling ini,


rasanya keamanannya tidak akan ada masalah."


Terdengar ada suara langkah kaki, Ouw Yu-zhen membawa tujuh


orang laki-laki besar dengan cepat menghampiri.


Seorang laki-laki besar setengah baya yang berjalan di depan


melangkah melewati Ouw Yu-zhen, datang di depan Fu Ke-wei.


"Hao Bai-yun menghadap pada pendekar besar Fu." Lakilaki besar setengah baya dengan sopan memberi hormat pada Fu Ke-wei.


"Dengan beruntung aku telah berhasil melaksanakan tugas." Fu Ke-wei mengatakan dua kalimat yang orang lain tidak bisa


mengerti, "keamanan disini harap kalian bisa menjaganya."


"Baik, kami akan melaksanakan perintah."


Hao Bai-yun membungkuk menyanggupi, dan juga dengan dua


tangan memberikan pisau tajam bersarung.

__ADS_1


"Terima kasih." Fu Ke-wei mengulurkan tangan menerimanya, mengangkat kepala melihat cuaca, "Xie-shen, tetua Tu."


"Ya, tuan!" Xie-shen dengan nada aneh kelakar, menjawab seperti serius.


"Sudah tidak pagi lagi."


"Benar, tuan, sudah lewat jam sembilan, matahari juga sudah


setinggi empat bokong."


"Apakah kembangnya sudah siap" Kita sudah saatnya


bergerak." "Pisau sudah diasah sangat tajam, pasti akan lancar


membunuh orang." "Jika sudah siap mari berangkat." Fu Ke-wei melangkah dengan langkah besar, "Xiao Zhen, Kau temani Sinar Bulan dan Ning-xiang bergerak, bertanggungjawab atas keamanan mereka."


"Ya, harap tuan tenang saja."


Beberapa orang itu bertanya jawab, untuk memudarkan


suasana yang serius, sepertinya memandang pembunuhan sebagai


permainan anak-anak, artinya di dalam hati mereka tidak ada


beban. Jalanan di depan gerbang benteng turun ke bawah, hingga dapat


menampung kuda berlari. Di daerah ini kebanyakan lalu lintasnya menggunakan kuda, jarang


menggunakan kereta, maka jalannya memutar menelusuri kali, pohon


dan rumput di kedua sisinya hijau segar, berbeda sekali dengan di


atas gunung yang gundul. Sepasang Cantik Jiang-nan berjalan dari dalam hutan, keluar menuju jalanan, mereka berdiri di ujung jembatan mengumpat dengan suara


tajam, menceritakan sambil mengumpat ketua benteng Xi yang melihat harta timbul hati merampasnya, menghianati tamu yang meminta


perlindungan, dan berniat menyerahkan mereka pada perkumpulan


Cun-qiu. Orang yang berkumpul di loteng di atas pintu gerbang semakin


banyak, di atas tembok benteng juga berturut-turut muncul tidak


sedikit orang, diantaranya ada orang dari perkumpulan Cun-qiu,


termasuk tamu yang minta perlindungan.


Pintu gerbang di buka, keluar sekelompok besar pengawal


benteng yang marah, beramai-ramai memasang papan jembatan


yang dibongkar kemarin. Jembatan di bagian kedua baru saja dipasang tiang utama, para


pengawal itu sudah berebut menerjang maju.


Sepasang Cantik Jiang-nan membalikan kepala buru-buru pergi,


tapi tidak kembali masuk ke dalam hutan, malah menelusuri jalan


dan lari ke bawah, memancing orang-orang benteng Zhang-feng


mengejarnya. Orang-orang itu berebut mengejar, kecepatannya tiga kali lipat dari pada dua wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2