
Ada salah seorang lawannya melemparkan talinya dan melarikan
diri, pertama-tama hanya seorang, lalu dua orang, tiga orang
berturut-turut melemparkan talinya kemudian melarikan diri, cepat
seperti ikan terlepas dari jaring. Orang-orang ini bisa membaca
situasi, melihat bahaya lalu lari menyelamatkan diri.
Akhirnya hanya tinggal Tian-long-jian Lu-zhao, dan seorang pria
brewokan berusia setengah abad.
"Ampuni aku!" teriak wanita berbaju hitam yang ada
dibawah kakinya ketakutan.
Fu Ke-wei menarik kakinya, dengan dingin menatap wanita yang
ketakutan dibawah kakinya.
"Aku aku akan mengundurkan diri dari dunia dunia persilatan"
kata wanita itu dengan gugup, dibawah tatapan dinginnya dia
ketakutan sekali. Fu Ke-wei melemparkan tali dan kail ditangannya, mengibaskan
tangan memberi tanda pada wanita itu supaya cepat pergi.
Barulah wanita berbaju hitam itu berani menggulingkan
tubuhnya, melepaskan tali yang menjerat tubuhnya, dengan rambut
dan baju acak-acakan dia bangkit berdiri, belum sampai bajunya
dibereskan, dia langsung berlari ketakutan.
Hati Tian-long-jian Lu-zhao seperti tenggelam, sambil menggigit
gigi, dia membuang tali anehnya, selangkah demi selangkah
mendekati Fu Ke-wei. "Jika berani, jangan menggunakan pisau terbangmu, mari bertarung menggunakan pedang denganku." Tian-long-jian Lu-zhao dengan keras berteriak, "benteng Tian-long sudah runtuh oleh perbuatanmu, namanya sudah rusak di dunia persilatan, aku benci padamu dan bersumpah jika ada kau tiada aku, diantara kau dan aku, hanya boleh satu orang yang hidup didunia, sekarang kau berani tidak bertarung dengan adil?"
Pisau Xiu-luo Fu Ke-wei jika digunakan malam hari juga tetap
akurat, sungguh pisaunya lebih mengerikan dari undangan raja
neraka, apa lagi jika digunakan siang hari. Makanya Tian-long-jian Lu-zhao tidak ingin musuhnya menggunakan pisau Xiu-luo.
"Aku juga punya perasaan yang sama." Kata Fu Ke-wei dengan tenang, "jika kau tidak mati hari ini, dikemudian hari tentu akan menggunakan siasat yang lebih hina lagi menyerangku, lebih baik
urusan kita diselesaikan pagi ini."
"Jadi Kau setuju tidak menggunakan pisau terbangmu?"
"Tentu, aku tidak akan gunakan pisau terbang, sekali aku berkata pasti dilaksanakan."
"Srreeng!" Lu-zhao mencabut pedangnya.
Laki-laki brewokan cepat melangkah maju, menahan
tangannya Tian-long-jian Lu-zhao.
"Kakak Lu!" kata laki-laki brewokan dengan tulus, "empat tahun lalu ketika Empat Binatang Pintar bertarung melawan Rasi Tujuh Bintang di bukit Guan-re. Pedang Dewa Xi Gangsheng yang menjadi jago pedang di urutan pertama dari sepuluh jago pedang terbesar di dunia, tampil keluar mencoba mendamaikan, tapi dia hampir saja mengantarkan nyawanya, tubuhnya
__ADS_1
terkena tiga luka pedang, nyawanya tinggal sekejap lagi, tapi tiba-tiba bocah ini muncul, bukan saja dia telah menolong Xi Gang-sheng dari bahaya kematian, juga dalam sekejap dia telah menghancurkan barisan Rasi Tujuh Bintang, dan hanya dalam tiga jurus dia menundukan Empat Binatang Pintar, akhirnya pertarungan besar itu berhenti tanpa ada yang cidera. Kakak Lu, bertarung dengan dia tidak akan ada harapan, lebih baik kita pergi saja!
Orang orang yang terluka ini, harus cepat diobati!"
"Tidak!" teriak Tian-long-jian Lu-zhao seperti sudah gila, "aku ingin bertarung dengannya, dia atau aku yang mati, Saaa. ..V
Dalam teriakannya, tiba-tiba Tian-long-jian Lu-zhao maju
menerjang, pedangnya diayun seperti geledek, saat lawan tidak
bersiap dengan sekuat tenaga dia menyerang.
"Traang!" Satu suara keras terdengar, tampak satu sinar kilatan
memancar, Fu Ke-wei dengan kecepatan yang sulit dibayangkan
mencabut pedangnya, dengan tenang menangkis.
Kemudian dengan cara aneh Fu Ke-wei berkelebat dari samping,
ujung pedangnya tahu-tahu sudah menempel dibawah pipi kanan
Tian-long-jian Lu-zhao, asal didorong sedikit saja, ujung pedang yang tajam akan masuk kedalam tenggorokan.
"Apakah ini yang disebut pertarungan adil?" kata Fu Ke-wei dengan suara dingin, "kau juga seorang pesilat tinggi yang ternama, apakah bisanya hanya belajar menyerang secara mendadak" Aku jadi
berpikir, julukan Tian-long-jian mu mungkin didapat olehmu dengan
cara ini." "Aku su sudah mencabut pedang, kau...kau tidak mencabut
pedang itu bu...bukan salahku "
"Tidak tahu malu" maki Fu Ke-wei keras, "lepaskan
pedangnya!" "Sebelum mati, pedangku tidak boleh terlepas." Kata Tianlong-jian Lu-zhao dengan membandel.
tenaga yan g dikeluarkan sangat pas sekali.
Tian-long-jian Lu-zhao tidak bisa lagi menggenggam
pedangnya "Trang...!" pedang panjangnya terlepas dari
tangannya, jatuh ketan ah.
Ujung pedang Fu Ke-wei kembali menempel di bawah pipi kanan
Tian-long-jian Lu-zhao. "Aku punja cukup alasan membunuhmu." Kata Fu Ke-wei
dengan dingin, "menghadapi penjahat dunia persilatan yang
menggunakan segala cara seperti mu, membunuh dengan cara ini
terlalu menguntungkanmu."
"Kau " "Memusnahkan kepandaianmu jauh lebih bagus, membunuh kau
hanya akan mengotori pedangku, biar orang lain saja yang menagih
hutang padamu " Perkataannya belum habis, dia melemparkan pedangnya, lalu
iga kanan Tian-long-jian Lu-zhao telah terkena satu pukulan berat.
Tidak menunggu tubuh Tian-long-jian Lu-zhao stabil, telapak dan
tinju seperti hujan badai menerpa, sebuah pukulan terakhir menimpa di tulang belakang. Tian-long-jian Lu-zhao berteriak sekali, lalu jatuh ke tanah menjerit kesakitan!
__ADS_1
Laki-laki brewokan tidak dapat dan tidak berani melibatkan dirinya, dia melonggo menyaksikan Lu-zhao mendapat hajaran lawannya.
Pedang Fu Ke-wei yang dilemparkan, jatuh di bawah kaki pria
brewokan itu, badan pedang berkilauan terkena sinar matahari,
tapi terasa dingin sekali.
Laki-laki brewokan justru tidak berani mengambil pedang dan
menusuk Fu Ke-wei, walau punggungnya menantang dihadapan
laki-laki brewokan itu. Fu Kei Wei berdiri tegak, melirik sekali pada Tian-long-jian
Lu-zhao yang kesakitan, perlahan membalikan tubuh berjalan
menuju pria brewokan. . "Aku tidak akan tertipu olehmu." Kata laki-laki brewokan,
"kepandaianku mengambil pedang atau mencabut pedang, pasti
tidak akan secepat pisau Xiu-luo mu."
Fu Ke-wei tertawa tawar, lalu berjalan menuju dua orang yang
roboh terkena pisau Xiu-luo, mengambil kembali pisau terbangnya,
lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Setelah kembali kerumah yang berada dibawah bukit Yinyang,
Fu Ke-wei merasa malas, tidak tahu kenapa rasa kesepian
menyelimuti hatinya, rumah yang begitu besar, hanya ada dia
seorang diri. Hari ketiga, dia membawa buntalannya, meninggalkan
rumahnya yang penuh debu, kembali terjun ke dunia persilatan.
Di kota Fu Ke-wei menginap tiga hari, dia mendapat kabar bahwa
Tian-long-jian Lu-zhao berobat dipenginapan kota, lalu pergi naik
perahu, yang ikut bersama dia hanya pria brewokan itu saja.
Di dunia persilatan balas membalas adalah hal yang biasa,
sehingga, terhadap masalah ini Fu
Ke-wei tidak terlalu disimpan dihati, masalah yang sudah lewat,
biarlah berlalu! Orang yang mengikuti Tian-long-jian Lu-zhao naik perahu,
sebenarnya bukan hanya seorang laki-laki brewokan, perahu itu
disewa mendadak, tapi setelah berlayar dua jam, perahu itu
membelok di satu belokan sungai, dan bergabung dengan satu perahu
kecil yang misterius, diatas perahu ada empat orang laki-laki dan
perempuan, setelah menyambut Tian-longjian Lu-zhao yang terluka
dan pria brewokan, perahu kecil yang misterius itu segera berlayar lagi.
Hari ketiga saat siang hari, perahu itu sudah ditambatkan didekat
__ADS_1
kota air di tenggara pelabuhan Da-gu-dang.