Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 17


__ADS_3

Pendeta Wu-yi mulai merubah posisinya, dari dalam mantel dao dia


mengeluarkan belati sepanjang satu chi delapan cun, adalah sebilah pedang pendek tajam yang pas ukurannya.


Nyonya setengah baya bergerak kearah berlawanan, di tangan


kanannya ada belati, tangan kiri menyembunyikan tiga buah senjata


gelap yang kedua ujungnya tajam.


Pendeta Wu-yi sudah sampai disisi meja, tiba-tiba dengan cepat


membalikan meja, dia ingin membalikan meja dan bersembunyi


dibelakangnya, bersembunyi di belakang meja jadi tidak takut


diserang pisau Xiu-luo. Tubuhnya bergerak tangan bergerak, cepat sekali.


Tapi, dia tetap terlambat selangkah.


Mejanya dapat ditangkap, juga telah dibalikan, tapi tidak keburu


menghalangi tubuhnya, sinar jarum sekelebat sudah sampai, sulit


dilihat dengan mata telanjang.


"Ngeek..." pendeta Wu-yi berteriak tertahan.


"Buum...!" meja telah jatuh.


"Ping ping pang pang!" teko dan gelas jatuh pecah, air teh


muncrat dimana-mana. Nyonya setengah baya sudah bergerak satu langkah kekanan,


tadinya akan melemparkan senjata gelapnya, menggunakan


kesempatan itu mendobrak jendela melarikan diri.


"Tinggal kau seorang." Kata Fu Ke-wei dingin.


Nyonya setengah baya itu ketakutan, wajahnya berubah.


Pendeta Wu-yi menahan sakit di perutnya, dia meronta di lantai,


menggulungkan tubuh, suara rintihannya menggetarkan hati orang,


di bawah iga kanannya darah segar membasahi mantel dao nya.


"Pisau tidak membuka luka." Fu Ke-wei tanpa perasaan berkata,


"dao tua sendiri ingin cepat mati, makanya menggoyangkan pisau


yang tertinggal di luar tubuhnya setengah cun, supaya udara


masuk kedalam luka, makanya mengalirkan begitu banyak darah."


Bertarung dengan orang, harus memantapkan hati berani maju


terus, jika semangat tempurnya hilang, apapun akan habis.


Begitu Pendeta Wu-yi roboh, mental nyonya setengah baya telah


hancur oleh tekanan kematiannya, wajahnya pucat, dengan gemetar


berkata: "Jangan paksa aku, dao tua yang bisa beritahukan siapa


penyewanya." "Kau tidak tahu?"


"Aku..aku hanya melakukan perintah."


"Bukankah kau menyuruh Lu bersaudara memotong telinga aku,


dan membawanya pulang melapor?"


"Aku..." "Kau diperintah siapa memotong telinga kembali melapor?"


"Ini...Tamu Penggantung Wu-feng." Nyonya setengah baya

__ADS_1


terpaksa berkata jujur. "Sembarangan bicara!"


"Yang aku katakan benar sekali."


"Nyonya, kau salah melihat aku Xie-jian-xiu-luo," Kata Fu Ke-wei


dingin, "Tamu Penggantung mengaku dirinya paling hebat, ilmu silatnya tinggi sekali, kejam dan percaya diri, merajalela di dunia persilatan dua puluh tahun lebih, tidak pernah berteman dengan orang, makanya dia bisa muncul dengan bebas. Dia memang benar pernah tinggal dikota ini, tapi itu karena ditarik oleh orang, orang yang menarik dia itu pasti bukan Ular Air di seberang sungai, tapi orang-orang kalian.


Bo Yi-he yang mengejar Tamu Penggantung juga tertipu, Bo Yi-he


yang memanggil aku datang kesini adalah Bo Yi-he palsu, mungkin kalian telah mengubur Bo Yi-he yang asli. Jika kau mengira aku ini begitu bodohnya, kejadian malam ini cukup membetulkan kesalahanmu.


Katakanlah! Apa benar kau tidak mau mengatakannya?"


"Yang harus di katakan telah aku katakan."


"Sayang aku tidak percaya kata-katamu."


"Kau..." "Kau mau melemparkan belati itu sendiri" atau menunggu aku


menggunakan pisau Xiu-luo melukaimu, menangkap hidup-hidup


dan memaksamu" Kau adalah seorang wanita, akibat dipaksa oleh


seorang laki-laki, seharusnya kau bisa membayangkan sendiri."


"Kau tidak akan berhasil mendapat pengakuan..."


"Sebenarnya, aku telah mendapatkan pengakuan yang ingin aku


ketahui, aku hanya ingin mendapatkan kepastian dari mulutmu saja.


Mungkin kau pikir saat terpaksa, lebih baik bunuh diri saja, tapi aku beritahu, kau mati atau tidak semua tidak berarti banyak, aku tetap bisa menarik benang dari kepompongnya, memaksa satu persatu


orang-orang penting kalian keluar, ayo lepaskan belatinya!"


Teriakan suara terakhirnya, membuat terkejut nyonya setengah


baya, mungkin karena hatinya terlalu tegang, atau terlalu ketakutan, mungkin juga reflek, sekali tubuhnya bergetar, tangan kiri mendadak sekuat tenaga dilayangkan keluar, satu kilatan terbang menembus


udara, senjata gelap yang kedua ujungnya tajam ini, dengan


Pikiran Fu Ke-wei bergerak tubuhnya bergerak, dengan


tenang melangkah kekanan satu langkah.


Senjata gelap pertama tidak mengena sasaran, senjata gelap


kedua melewati lengan kiri luar Fu Ke-wei, senjata gelap ketiga


dengan mudah ditangkap tangan kiri dia.


"Sekarang aku sudah tahu siapa kau ini." katanya dengan gembira,


"kukira kau adalah seorang nyonya, ternyata adalah gadis usia dua


puluh tahun lebih, ilmu merubah wajahmu sungguh hebat, tidak aneh


orang yang pernah bertemu dengan Wanita Penenun Fei Yin-yin,


masing-masing orang mengatakannya berbeda, masing-masing


menggambarkan sendiri, aku telah mendapat penemuan besar pada


ketuamu. Kukembalikan senjatamu, terimalah!"


Senjata gelap itu dilemparkan, terbang menuju Wanita


Penenun Fei Yin-yin. Wanita Penenun tidak berpikir lagi, dia mengulurkan tangan


menerima, begitu senjata itu ditangkap, terdengar teriakan


menggetarkan telinga, seperti kilat senjata itu terbang kembali, dia melemparkan kembali senjata gelap yang diterima, orangnya


mengikuti dari belakang senjata gelap, menerjang dengan


mengangkat belati, dalam sekejap sudah mendekat, belati dengan

__ADS_1


dahsyat di tusukkan, inilah saatnya bertaruh nyawa.


Sejata gelap kecil seperti kilat sampai di depan dada Fu Kewei, dia mengangkat tangan kanannya, kembali menangkap senjata gelap itu,


langsung dilemparkan lagi kedepan.


"Traang!" Terdengar suara menggetarkan telinga, Wanita Penenun Fei


Yin-yin tidak berani tidak menggunakan belati menangkisnya


senjata gelap yang terbang kembali, terlalu cepat, itu hanya


gerakan reflek. Senjata gelapnya ditangkis belati, dan tangan yang


memegang belati telah ditangkap Fu Ke-wei, ditekannya


kebawah. "Aaw...!" Dibawah tekanan yang tidak terhingga Wanita Penenun roboh


kebawah, lutut kanannya menyentuh tanah, seluruh lengan kanannya


sudah tidak bisa dikendalikan, dan juga sakitnya sampai ke hati,


tulang tangannya seperti telah hancur semua, belatinya pun jatuh


ketanah. Selanjutnya, tenggorokannya ditangkap oleh tangan besar Fu


Ke-wei, seperti menangkap leher angsa, pelan-pelan dia menambah


tenaga, ditarik keatas. Tangan ditekan kebawah, leher ditarik keatas, rasanya sangat tidak enak, ingin menggigit lidah bunuh diri juga sudah tidak ada


kesempatan. "Aku tidak ingin kau mati." Kata Fu Ke-wei dingin, "aku ingin


memecahkan hawa dua saluran hawa dan darah, mengunci


saluran kaki dan tanganmu, lalu diserahkan pada anak buahnya


Naga Setempat, bos mereka di bunuh, semuanya marah sekali,


coba bayangkan, mereka akan bagaimana membalas dendam


padamu?" "Am...ampuni aku..." Wanita Penenun dengan takut berkata


terbata-bata. "Apa kau pernah mengampuni aku?" Tangan Fu Ke-wei yang


mengunci leher sedikit mengendur, "siapa ketuamu itu?"


"Aku...aku tidak tahu, aku hanya ta...tahu yang perintahkan aku


adalah bangsawan kecil Zhu Tian-he."


"Aku tidak bisa membebaskanmu, karena kau malam ini sudah


kedua kalinya berbohong."


"Aku ti...tidak bohong..."


"Pembicaraan kau dengan Pendeta Wu-yi, telah kudengar sebagian


besarnya, sepertinya kau telah mengatakan pelanggan bersikukuh


menge-luarkan lebih seribu liang perak, menginginkan satu barang


bukti." "Ini..." "Jika kau tahu pelanggannya, tentu tahu orang penting


lainnya selain bangsawan kecil, Hm... hm...! Aku akan mencabut


kalian sampai ke akar-akarnya, mendapat sekali kerepotan tapi


selamanya aman." "Aku..." "Aku tidak akan banyak bicara lagi padamu..."


"Kau menang, aku...aku akan katakan!"


Wanita Penenun akhirnya menyerah.


"Kau telah menyelamatkan nyawamu sendiri, aku bawa kau ketempat


yang aman untuk membicarakannya." Kata Fu Kewei, sambil menotok

__ADS_1


pingsan Wanita Penenun, setelah membereskan mayat Pendeta Wu-yi,


dia mengapit Wanita Penenun pergi keluar dari rumah.


__ADS_2