
"Kalau begitu dengan senjata di tangan sebagai ganti, senjata gelap sebagai tambahan, masing-masing melakukan sebaik mungkin!
Aku pernah terluka oleh Jarum Ekor Lebah dan Jarum Pintu Neraka,
berhak menggunakan senjata gelap sebagai tambahan, dibandingkan
dengan perkumpulanmu menggunakan secara diam-diam, sedikit
lebih jantan, bukan?" Fu Ke-wei tertawa dingin, "bagiku, kau sudah berada di pihak yang unggul, paling sedikit aku tidak tahu asal
usulmu, dan asal usulku kau telah sangat tahu, jika tidak, kau pasti tidak akan mengutus puluhan pasukan inti menghadapi aku."
"Baiklah, aku menurut saja." Ketua Zhan tidak bisa
membantah lagi, "kita gunakan senjata dan senjata gelap
semampunya, sampai ada yang mati baru selesai."
"Ketua tidak bertele-tele, aku ucapkan terima kasih terlebih dulu."
Dengan demikian, saksi di kedua belah pihak jadi tidak perlu
memeriksa senjata. Jika hanya menggunakan senjata saja saksi
kedua belah pihak harus memeriksa petarung lawannya, apakah
menyembunyikan sesuatu permainan kecil yang berbahaya.
Setelah saksi kedua belah pihak berunding beberapa saat dengan
singkat, memeriksa lapangan apakah ada jebakan, lalu saksi
membawa petarung ketengah lapangan yang datar, jarak kedua belah pihak lima belas langkah.
Saksi kedua belah pihak memberi aba-aba tangan.
"Apa kalian masih ada kata-kata yang ingin dibicarakan?" tanya Pedang Penakluk Iblis dengan keras.
Tidak ada yang menjawab, situasinya menjadi tegang.
"Kedua belah pihak siap! Cabut pedangnya!" Polisi Xu
suaranya seperti petir. Kedua orang itu mencabut pedang, melemparkan sarung pedangnya, menyiapkan diri, berhadapan dari kejauhan.
Matahari terik diatas kepala, tapi orang d lapangan tidak
merasa kepanasan. Sebaliknya, sepertinya ada hawa dingin
mendesak dari segala arah ketengah lapangan.
Dengan kedudukannya polisi Xu sepakal diangkat oleh semua
orang menjadi wasit. Setelah lima orang saksi lainnya tidak ada lagi yang mengajukan
pertanyaan, polisi Xu mengangkat tinggi tangan kanannya, melihat
sekali pada kedua orang yang mau bertarung, lalu tangar. kirinya
memberi aba-aba pada para saksi untuk mundur.
Lima orang saksi membagi ke kiri dan kanar mundur sejauh dua
puluh langkah, berdiri di posis: masing masing, menjaga kalau-kalau ada orang mencoba mengganggu, siapa pun tidak diizinkan mendekat
lebih dari dua puluh langkah.
__ADS_1
"Aku Pedang Penakluk Iblis Xu Wen-ding dengan ini menjatakan
pertarungan dimulai, kedua belah pihak boleh melakukan apa saja,
sampai ade yang mati baru selesai. Pertarungan mulai!' Teriakan polisi Xu keras sekali, diikuti teriakar tangan kanannya dikibaskan kebawah, dengan cepat dia mundur ke belakang.
Wajah Fu Ke-wei tampak serius, die memberi hormat
pedang terlebih dulu. Ketua Zhan sudah menguasai dunis persilatan tiga puluh tahun,
dari usia, pengalaman dan kedudukannya, kedudukan Fu Ke-wei
jauh di bawahnya, melakukan penghormatan pedang adalah
penampilan merendah diri saja.
Ketua Zhan tidak berani sombong, dia juga sama
memegang pedang membalas hormat.
Setelah saling menghormat, mereka bersamaan melangkah maju,
dalam jarak dua zhang baru menghentikan langkah, menggerakan
pedang, memasang kuda-kuda, bersiap menyerang.
Kuda-kuda Fu Ke-wei tampak sangat aneh, sangat berbeda dengan
jurus pedang dari perkumpulan pedang manapun juga bukan jurus
pedang aliran lurus. Sikap jurus pedang aliran lurus adalah memakai pedang diulur
kedepan, sejajar dengan alis, kuda-kuda begini sangat lincah untuk menyerang atau bertahan, saat menyerang bisa langsung membuka
menerjang udara, saat bertahan cukup sedikit menggerakan ujung
Tapi kuda-kuda Fu Ke-wei, malah tidak beraturan, tangan kiri
digantung di sisi tubuhnya. Pedang juga di taruh miring di depan dada, ujung pedang sedikit keluar, berada di kiri depan, gayanya menunjukan, kuda-kuda dia lemah, sebelah kanan ada kekosongan, saat akan
bergerak menyerang gerakannya pasti kurang leluasa, banyak
kekurangan, tidak aneh gaya dia dijuluki orang Xie-jian (Pedang Sesat).
Begitu kedua belah pihak bergerak, hawa membunuh mendadak
meledak, semangat kedua belah pihak tampak kelihatan di luar,
hawa yang sangat kuat membentuk tekanan dahsyat yang tidak
terlihat, sedikit-sedikit menerjang pada lawannya, hawa dingin di
sekelilingnya menjadi lebih kental lagi.
Dibawah sinar matahari pedang ketua Zhan tampak berkilauan,
samar-samar terdengar suara dengungan, pedangnya mulai
bergerak menyerang, wajahnya yang ganas membuat orang jadi takut. Sebaliknya, pedangnya Fu Ke-wei tampak tidak bertenaga, dia seperti memegang tongkat penggiring bebek, bukan pedang untuk membunuh orang, tidak ada suara dengungan pedang, juga tidak ada hawa pedang yang maju menyerang. Sepertinya, seluruh tubuhnya menciut di bawah tekanan serangan lawan, hingga tidak bersemangat, lemah tidak seperti seorang ahli pedang yang ternama.
Tapi di mata ahli, malah bisa melihat kekuatan di dalamnya. Setiap otot dia adalah lemas, setiap saat ada gejala tenaganya akan mendadak meledak, jika meledak, akan menjadi sebuah serangan yang dahsyat
tiada tara dan sangat menakutkan.
Jika ingin berlatih hingga taraf ini, di katakan sulit memang sangat sulit, tenaganya terpusat di dalamsetiap ototnya, tidak terpengaruh oleh perubahan yang ada diluar, yang disebut diam laksana bayi,
__ADS_1
sekali meledak, tenaganya mendadak bisa berkumpul dari satu titik
dan memancar keluar, seperti geledek, angin kencang, batu pecah,
awan hancur, yaitu gerak laksana kelinci lepas, lewat seperti guntur.
Waktu seperti terhenti, dalam keheningan, suara yang dapat di
dengar hanya samar-samar suara dengungan yang keluar dari
pedang ketua Zhan. Ketegangan hampir membuat orang tidak bisa
bernafas. Beberapa saat, lagi beberapa saat
Mendadak, terdengar teriakan dan kilatan pedang
menerjang, bayangan orang seperti kilat bertemu,
memecahkan keadaan yang tadi saling menunggu.
Batu pecah langit terkejut, hidup mati hanya sekejap.
Tidak terdengar suara bentrokan senjata, hanya terlihat kilatan sinar pedang yang menyilaukan mata dari pedangnya ketua Zhan, yang
mendesak angin maju menyerang, tekanannya seperti ribuan jin yang
tidak bisa ditahan, meluncur pada Fu Ke-wei dengan buasnya, seperti puluhan ribu ular mas mendadak berkumpul.
Pedang Fu Ke-wei seperti sebuah titik menerobos maju menusuk,
lalu berkelebat keluar, tubuh dan pedang menjadi satu keluar satu
zhang lebih, begitu menginjak tanah seperti angin ribut. Fu Ke-wei membalikan tubuh, wajahnya tidak berperasaan, nafasnya seperti
berhenti. Ketua Zhan juga melayang satu zhang lebih, menggunakan
Qian-jin-zhui (berat seribu kati) menahan tubuhnya, dengan agak sulit membalikkan tubuh. Di bawah iga kanannya, mantel yang berwarna biru hijau ada satu robekan besar, tali pinggangnya setengah putus, darah segar keluar memerahkan baju, bekas darah semakin lama semakin
membesar. Warna wajahnya menakutkan sekali, warna darahnya dengan
cepat memudar, giginya menggigit dengan kuat, otot bergerakgerak.
"Trang..!" pedangnya tiba-tiba terlepas dari tangan jatuh ke tanah, tangan kanannya gemetar keras.
"Dalam usia dua puluh tahun aku keluar gunung, melanglang
buana selama empat puluh tahun." Kata ketua Zhan mengeluarkan suara seperti datang dari dunia luar, "hari ini, hanya satu jurus saja aku sudah kalah, aku aku benci, sangat benci, ini bukan kenyataan, bukan kenyataan!"
Darah segar mengalir di bawah iga, pedangnya terjatuh tanah,
itu kenyataan. "Beritahu aku, siapa pelanggannya?" tanya Fu Ke-wei
dengan nada dalam. "Hmm...!" Ketua Zhan berteriak, tangan kirinya dengan cepat diayunkan, sinar kilat meluncur datang.
Fu Ke-wei menjatuhkan diri, berguling dua kali lalu
meloncat berdiri. Tiga buah garpu kecil dan dua senjata gelap berbentuk bintang,
membentuk kipas terbang melayang lewat dari atas punggung Fu
Ke-wei, dalam keadaan itu mati hidup manusia tipis seperti sehelai rambut, orang yang berada dalam jarak satu zhang lima enam chi,
pasti tidak akan bisa menghindar dari serangan lima buah senjata
gelap itu. Senjata gelap itu meluncur sejauh tujuh delapan zhang baru
__ADS_1
tenaganya habis, sungguh menakutkan sekali.