Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 145


__ADS_3

"Masalah ini terlalu besar, harus tuan besar Guan yang


menentukannya, aku tidak bisa menentukan." Pengurus Zhong menyiapkan jalan mundur, tentu saja juga tahu masalahnya serius sekali, mana berani dia menentukan sendiri" Lalu dia mengangkat tangan memberi aba-aba untuk mundur, "saudara Liang, silahkan kalian melibatkan diri! Aku harap kau tidak akan menyesal. Jika tuan besar Du memang punya keinginan, dia mungkin juga tidak akan menyesal. Maaf sudah mengganggu, aku pamit."


Aba-aba telah dikeluarkan, orang-orang disekeliling yang siap masuk ke taman semua mundur kembali, kepala harimau ekor ular dengan memalukan keluar dari tempat peristiwa.


Hari sudah terang benderang, Xie-shen, Hoa-fei-hoa dan Ouw


Yu-zhen menunggu diluar penginapan tua Jiang-han, dengan sabar menunggu Fu Ke-wei kembali ke penginapan, mereka berencana menemui dia dan langsung melaporkan berita yang didapat, tidak lagi diam-diam menunggu kesempatan membantunya.


Tiga orang yang mengikuti dari belakang para pengawal


keluarga Guan pergi ke taman Qing-feng, sembunyi dikegelapan menonton, menyaksikan dengan jelas pembicaraan kedua belah pihak.


Tidak saja tahu Yu-shu-xiushi memang betul sembunyi di taman Qing-feng, juga tahu Jin-she-dong telah mengutus tidak sedikit orang datang membantu, situasinya semakin jadi kacau.


Tidak perduli keluarga Guan memihak siapa, semua akan membuat semangat diri Fu Ke-wei, dengan terencana dia menggaet Guan Mei-yun, tidak perduli apa tujuannya, pasti tidak akan berdiam diri.


"Jika tuan membantu keluarga Guan, dan keluarga Guan terpaksa membantu keluarga Du melakukan tindakan serupa, itu akan merepotkan, tuan akan berselisih hebat dengan orang-orang Jin-she-dong, akibatnya sangat serius sekali!" wajah Ouw Yu-zhen tampak gelisah.


"Makanya kita terpaksa muncul memberi laporan! Aku benci pada wanita ****** itu." Kata Hoa-fei-hoa dengan kesal.


"He he he! Aku mencium bau cuka." Xie-shen tertawa aneh.


"Kau......" Hoa-fei-hoa meloncat, dia marah! Di benteng Zhang-feng, dia sudah membuka hatinya pada Fu Ke-wei, dan terus menerus berusaha menarik perhatiannya Fu Ke-wei, tapi tidak berhasil. Saat berkelana di dunia persilatan, dengan wajah cantik yang diberi langit, ditambah ilmu silat hebat yang dilatihnya, siapa yang tidak memuja dia" Orang yang mengejar dia entah ada berapa banyaknya, dia seperti ratu yang dipuja orang, dewi cantik yang dikejar-kejar orang.


Tapi, Fu Ke-wei adalah satu-satunya orang yang tidak


tertarik pada daya tariknya.


Kemudian mereka berdua menjalin hubungan sebagai kakak


beradik seperguruan, Fu Ke-wei sangat sayang dan melindungi dia, tapi didalam perasaannya, itu hanyalah hubungan perasaan kakak beradik seperguruan, bukan perasaan hubungan cinta.


Dia benar-benar tidak bisa menerimanya, Guan Mei-yun


dibandingkan dengan dia, sungguh kalah jauhnya sampai seratus delapan puluh li, wanita ****** ini, malah terpikat oleh Fu Ke-wei"

__ADS_1


Sungguh tidak masuk di akal.


Walau dia tahu Fu Ke-wei menggaet Guan Mei-yun, pasti ada


tujuan lain, tapi tetap saja membuat dia tidak enak, ini sudah


menunjukan cintanya pada Fu Ke-wei, semakin bertambah


kadarnya, hampir sampai ketitik mengharapkan sekali.


Setelah Xie-shen membuka rahasia hatinya, dia jadi malu dan gelisah, dia menjadi marah.


"Sudah sudah, kak Ji jangan marah, tuan sudah kembali!"


Ouw Yu-zhen sambil tertawa, menahan sikut dia yang akan


memukul orang, menunjuk kearah sebelah barat jalan.


Penginapan tua Jiang-han berada didaerah pelabuhan diluar gerbang barat kota, begitu hari terang, dipelabuhan orang-orang seperti ikan mas, tidak saja tamu pelayaran sibuk naik turun, orang-orang di kampung yang masuk kekota, juga tidak henti-hentinya.


tanpa mencolok melangkah masuk ke penginapan.


"Kita tunggu didalam penginapan."


Hoa-fei-hoa tidak sabar segera masuk kepekarangan


penginapan. Para tamu penginapan sedang ramai bersiap-siap berangkat, diluar penginapan ramai dengan orang kuda dan kereta, mengambil kesempatan sedang ramai masuk kedalam penginapan, siapa pun tidak perhatikan, ada tiga orang kaya setengah baya, masuk kedalam penginapan.


Tiga orang dengan perkiraan orang biasa, menunggu Fu Ke-wei mandi, ketika mereka tampil dipekarangannya kamar Fu Ke-wei, mereka jadi bengong. Pintu kamarnya Fu Ke-wei terbuka lebar, seorang pelayan sedang melangkah keluar kamar, dengan santainya mengunci pintu kamar, dengan jelas menyatakan Fu Ke-wei dengan pelayannya sudah tidak ada didalam kamar, mungkin sudah membayar kamar.


Dua orang laki-laki besar setengah baya buru-buru jalan ke koridor.


"Tuan muda He sudah pergi?" tanya seorang pria besar


menghadang pelayan. "Tidak tahu." Pelayan penginapan menggelengkan kepala, "aku hanya tahu dia dikasir meninggalkan pesan, menyuruh orang mengunci pintu." "Pelayan kecilnya juga tidak ada?"


"Tidak ada." "Pergi kemananya?"

__ADS_1


"Aku benar-benar tidak tahu, tuan." Pelayan itu


menggeleng-gelengkan kepala, "pagi-pagi semua orang sedang sibuk, siapa pun tidak perhatikan keluar masuknya tamu, tuan muda He tidak mengundurkan kamarnya, juga tidak berpesan apa-apa, sungguh tidak bisa memperhatikan aktifitas dia dengan pelayannya, apakah tuan mencari dia?"


"Sudahlah." Laki-laki besar putus asa, segera pergi dengan temannya.


"Mereka adalah mata-mata, pulang pasti dimarahi, karena tidak baik melaksanakan tugas." Xie-shen berkata, "kita tiga orang persilatan tua juga terjungkal."


"Celaka! Kita harus bagaimana?" Hoa-fei-hoa sangat


gelisah, "harus kemana mencari dia?"


"Tuan diam-diam pergi, juga membawa pelayannya, pasti tahu telah terjadi hal yang tidak diduga, dia telah merasakan keadaannya telah lepas kendali." Kata Ouw Yu-zhen.


"Apa pergi kerumah Guan?"


"Guan dan Du, dua keluarga ini sedang sibuk. Begini sajalah!


Tunggu di sekitar taman Qing-feng lihat keadaannya. Pergi menunggu ketempat yang mungkin akan terjadi peristiwa, lebih praktis dari pada mencari kemanamana, ada satu hal yang harus diingat, kita ini adalah orang luar." Kata Ouw Yu-zhen dengan tenang.


"Aku tahu, mari jalan," Kata Hoa-fei-hoa mengangguk kepala.


Tiga orang itu buru-buru keluar penginapan, berjalan melintas alam liar, segera menuju ke taman Qing-feng yang berada di luar gerbang Bin-yang.


Taman Qing-feng sepi seperti biasanya, jam sepuluh pagi bukan waktunya untuk melancong, taman Qing-feng biasanya juga sedikit orang yang keluar masuk.


Wanita baju hijau Jin Wen-wen dan wanita baju putih Jin Ying-ying, muncul didepan satu vila kecil sebelah timur taman Qing-feng.


Vilanya kecil, bagus, diatas pintu digantung satu papan merk, dua huruf besar merah Chao-yang', seperti naga terbang Feng menari, sepertinya tulisan seorang ternama.


Di ruang tamu di bawah loteng, seorang pelayan setengah baya sedang konsentrasi, sedang membersihkan dan mengelap pajangan antik, pot bunga, alat rumah tangga yang dipajang, wajahnya selalu menghadap kedalam, sepertinya tidak tahu diluar sudah datang dua orang wanita cantik.


Dua wanita hari ini membawa pedang, datang dengan persiapan, siap bertarung.


Jelas niatnya harus berhasil, jika tidak berhasil maka akan


menggunakan kepandaian menyelesaikannya.

__ADS_1


__ADS_2