Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 53


__ADS_3

Fu Ke-wei yang berulang-ulang menerima serangan menggelap,


sudah sejak tadi sangat waspada, melihat pendeta dao tua melakukan kuda-kuda, dia mengira pendeta dao tua akan menyerang karena


marahnya, maka dia segera bergerak lebih dulu, tongkat tembaga


diangkat, siap maju menyerang.


Pendeta dao Qing-xi juga mengira dia mau menyerang, dia menjadi


semakin marah, tangan kiri dengan cepat diulurkan, menangkap


tongkat tembaga yang baru saja diangkat.


Sekali sentuhan segera bergerak, kedua belah pihak tidak


sungkan lagi, Fu Ke-wei sekali bersuara "Hm...!" dingin, tangan kanan memegang erat tongkat, tangan kiri melawan tangan kiri,


dengan adil bertarung tenaga dalam.


Kedua belah pihak beradu tenaga dalam, saling dorong, tarik,


pelintir, lempar, masing-masing mengeluarkan kemampuannya,


kuda-kudanya semakin rendah, tongkat tembaga pelan-pelan


turun. Tongkat tembaga sebesar telur bebek, bisa menahan


tekanan seberat sepuluh ribu jin, siapa yang tenaganya kurang,


pasti tangan kirinya akan hancur ditolak tenaga lawannya,


malah tenaga dalamnya akan hancur.


Sesaat, tiba-tiba tongkat tembaga terlihat membengkok, dua


orang itu semuanya tampak serius, setiap otot di tubuhnya


mengerut, menegang, nafas sepertinya berhenti.


Sesaat lagi, kaki depan pendeta dao Qing-xi goyah, tangan kanan


dengan sendirinya di ulurkan menangkap tongkat.


Fu Ke-wei juga mengulurkan tangan kanan, menggenggam tongkat


tembaga, mendadak sekali dia berteriak keras, memutar tubuh


merendahkan lutut kiri mengangkat tangan kanan, tenaga sebesar


gunung dikerahkan, dengan dahsyatnya mengangkat.


Pendeta dao Qing-xi mendadak mengeluarkan suara "Mmm!",


sepasang kakinya meninggalkan tanah tubuhnya mendadak naik


keatas, terangkat meninggalkan tanah di lempar keatas, di tengah


jalan dia melepaskan genggaman tongkat, kaki dan tangan


bergerak-gerak, mantel dao nya berkibar-kibar, dia melayang tiga


zhang lebih lalu turun dengan berat, hampir saja terjatuh.


Tongkat tembaga menjadi bengkok sedikit, tenaga yang di


terimanya sungguh menakutkan orang.


Dalam sekejap ini, Tuan besar Li mencabut pedang maju dua


langkah, sepertinya ingin mengambil kesempatan menyerang.


Fu Ke-wei membuang tongkat tembaga yang telah bengkok, sekali

__ADS_1


bersuara "Hm!" dingin, tangan kanannya mengeluarkan sebilah belati dari dalam dadanya, di dalam mata macannya tampak sinar aneh, belati berubah jadi segaris semut putih terbang membelah udara, sepasang


tangannya yang diulurkan setengah lurus setengah bengkok, bergerak dengan anehnya.


"Ssst sst sst!" Tuan besar Li mengayunkan pedang memukul belati yang terbang datang, kecepatan belati tidaklah cepat,


sangat mudah dipukul oleh seorang pesilat tinggi.


Semua orang jadi terkejut"


Hal aneh telah terjadi, belati yang melayang itu sama sekali tidak takut sabetan pedang, saat terkena benturan arahnya hanya berubah


sedikit, pisau itu seperti benda hidup. Tuan besar Li sangat ketakutan setengah mati melihat hal ini, setiap sekali mengayunkan pedang dia malah seperti didorong mundur dua langkah, dan dia selalu tidak bisa memukul jatuh belatinya, lebih-lebih tidak bisa menghindar dari


kejaran belati itu. "Dermawan Li cepat buang pedangnya!" teriak pendeta dao


Qing-xi yang masih berdiri gemetar, "ilmu hawa mengendalikan


pedang!" Tuan besar Li seperti terhipnotis, dengan ketakutan


membuang pedang, berdiri kaku gemetaran.


Belati terbang melewati telinga kiri Tuan besar Li, mendadak naik


keatas, membentuk satu lengkungan sinar yang indah, naik keatas


tiga zhang belok melayang ke bawah, tepat jatuh di tangan kanan Fu Ke-wei yang diulurkan keluar, sinarnya segera menghilang.


"Li Hoa-rong, tegakan dada pergilah ke polisi menyerahkan diri."


Kata Fu Ke-wei sambil menyimpan belatinya, satu kata satu kata itu diucapkan, "bunuh orang ganti dengan nyawa, hutang uang bayar dengan uang, jangan buat malu temanteman dunia persilatan, kau


harus bertanggung jawab atas perbuatanmu, aku beri kau satu


kesempatan lagi." Habis bicara, dia membalikan tubuh dengan langkah besar pergi


meninggalkan tempat itu. Semua orang terbengong-bengong melihat Fu Ke-wei pergi,


menghilang kedalam hutan yang ada didepan.


tubuhnya gemetaran. "Ayah, ananda pergi menyerahkan diri." Yu-mien-el-lang sambil melepas pedang sambil berkata, "masalah ganti rugi pada korban mati, harap ayah yang urus."


Huo-bao-ing, Bu-fei-khe dan Ouw Yu-zhen menunggu


kedatangan Fu Ke-wei, mereka sangat gembira sekali.


"Saudara kecil, apa sudah selesai?" tanya Huo-bao-ing


dengan gembira. "Mungkin sudah selesai, asalkan Yu-mien-el-lang pergi


menyerahkan diri." Katanya menganggukkan kepala.


"Karena terhalang oleh dua hutan, kami tidak dapat melihat


keadaan di sana." Bu-fei-khe berkata, "Di atas udara arah itu seperti ada pelangi putih menari-nari, hawa pedang berterbangan, apa yang


terjadi?" "Tidak ada apa-apa." Fu Ke-wei tertawa, "Pendeta dao tua dari Wu-dang sedang bersembahyang mengusir setan, begitulah


kejadiannya. Ayo jalan! Mari kembali kekota, aku traktir tetua


minum." Empat orang itu berjalan berdampingan, sambil berkatakata


mereka berjalan kembali ke kota Fan. 


Kampung Lu-an di Shan-xi, bersebelahan dengan Tai-yuan dan


termasuk He-shuo, adalah bahunya dunia, kota terbesar nomor satu ini di lereng barat gunung Tai-hang, taman senangnya .para penjelajah, ranjang hangat para pelaku kejahatan.


Kampung di sekitar sini, hampir semua perumahan dan benteng


membangun tembok benteng pertahanan, memiliki pertahanan


pesilat yang sangat kuat.

__ADS_1


Dari jalan raya di depan istana, Fei Long pergi ke selatan, tidak jauh ada persimpangan jalan yang ramai dengan orang yang berlalu lalang, dari pagi hingga malam, kereta kuda keluar masuk tidak berhentinya.


Belok ke sebelah timur, ada jalan di depan kantor pemerintah, ke


sebelah barat, keluar ke Xi-guan. Di sudut belokan barat, ada satu rumah makan Taian yang sudah ternama ratusan tahun.


Rumah makan Tai-an terkenal karena masakan dan anggurnya


yang enak, sehingga termasuk salah satu empat rumah makan


besar di kota ini, tamu makan yang keluar masuk disini, sedikit


banyak berkedudukan khusus.


Keadaan hidup disini, tentu saja berbeda jauh sekali


dibandingkan dengan di Jiang-nan, tapi harga barangnya murah,


perbedaan antara si miskin dan si kaya tidak terlalu jauh,


sehingga, orang yang punya kedudukan khusus, tidaklah terlalu


elegan. Sore hari itu, Fu Ke-wei dengan Ouw Yu-zhen naik ke loteng


duduk di tempat vip. Dia memakai baju panjang berwarna hijau langit, menjadikan dia


seorang pemuda yang tampan, seperti putra bangsawan, Ouw Yu-zhen


memakai baju berwarna putih bulan, berwajah halus pipi kemerahan,


sepasang matanya yang genit, sungguh menarik dan bisa mengait


arwah orang. "Tersedia beberapa macam masakan sebagai teman minum arak, lima stel mangkok dan sumpit, sepuluh teko arak Fen." Ouw Yu-zhen


memesan pada pelayan yang sambil tersenyum menyodorkan teh


memegang kain lap, "pelayan sebentar lagi temanku akan datang, arak dan masakannya harus yang paling bagus."


"Aku mengerti." Pelayan dengan sopan berkata, "arak dan masakannya siap, setelah teman tuan datang baru......"


"Tidak, setelah siap segera saja keluarkan, tidak perlu


menunggu." "Baik, mungkin tuan belum janji waktu sebelumnya."


"Belum, tapi mereka akan datang." Fu Ke-wei sambil tersenyum menyela, "karena kemarin malam aku telah mengirim pesan pada


mereka, dan pagi-pagi sekali sudah ada orang datang ke penginapan


mengawasi gerak-gerikku. Lihat, dua orang yang baru saja naik ke


loteng, merekalah orang yang mengawasiku, mereka bekerja sangat


bertanggungjawab." Pelayan telah melihat dengan jelas dua laki-laki besar yang baru


saja naik, wajahnya jadi berubah, dengan buru-buru dia turun ke


bawah loteng menyambut. Pelayan lainnya dengan wajah tersenyum, mempersilahkan dua


laki-laki besar duduk di meja dekat jendela, dengan sopan berkata:


"Tuan kedua Ban (Ban-el-ye). Tuan kelima Wan (Wan-wuye),


mau minum a......" "Pergi sana." Ban El Ye yang berkepala macan, mata bulat wajah galak mengibaskan tangan mengusir orang, sorot matanya tertuju ke


arah Fu Ke-wei, "teman itu sepertinya sedang siap mentraktir orang, apa dia telah mengundang orang."


"Betul!" sahut Fu Ke-wei yang tidak jauh sambil tersenyum,


"memang akan mentraktir orang, mungkin tamunya segera datang, apa anda berdua punya ide?"


Dua orang laki-laki besar itu tidak sembunyi-sembunyi lagi,


Ban-el-ye pertama-tama yang mendekati meja makan Fu Kewei,

__ADS_1


menarik satu kursi duduk di sebelah kiri Fu Ke-wei. Wan-wu-ye juga duduk melintang, memisahkan Fu Ke-wei dengan Ouw Yu-zhen,


mengapit dia di tengah-tengah.


__ADS_2