Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 54


__ADS_3

"Sahabat, siapa marga dan apa namamu?" tanya Ban-el-ye tertawa culas, "kemarin malam, surat yang ditinggalkan di atas kusen pintu, hanya ditulis nama dan tidak ditanda tangani, siapa yang tahu kau


adalah Budha besar dari kuil mana" Kelihatannya tubuhmu, untuk


menyembelih ayam juga tidak ada tenaga, mana dapat menyusup


empat lapis penjagaan tanpa di ketahui, sungguh tidak mudah. Aku


percaya pasti sahabatmu yang melakukan aksi yang mengejutkan ini."


"Malah sebaliknya, temanku tiga hari lalu telah pergi, sebelum kejadian dia telah minta tolong temannya untuk menyelidiki terlebih dahulu, setelah siap maka dipersilahkan teman ini pergi, ini adalah prinsip aku melakukan sesuatu pekerjaan, aku sudah tinggal tujuh


hari di daerahmu." Fu Kewei menggulung lengan baju, gerakan ini jadi tidak cocok dengan penampilan dia sebagai putra bangsawan,


"kemarin malam yang mengirim surat itu adalah aku sendiri, jika saudara tidak percaya, aku tidak akan banyak bicara lagi. Mengenai nama! Tunggu saja sampai Huang-jit-ye (Tuan Ketujuh), Huang


Yung-sheng datang, bagaimana?"


"Sobat, aku sungguh tidak percaya orang yang mengirim surat


kemarin malam adalah dirimu." Ban-el-ye tiba-tiba mengulurkan tangan kanan, ingin mengunci pergelangan tangan kiri Fu Ke-wei


yang ditaruh diatas meja, untuk ditekannya di atas meja.


Tiba-tiba meja makan itu mengeluarkan suara aneh,


sepertinya lantai lotengjuga bergetar.


"Kau ini sungguh nekad, jika tidak sampai di sungai Huang tidak putus harapan." Fu Ke-wei membiarkan lawan mengerahkan tenaga,


tingkahnya tetap santai, "he he he! Aku berani datang mengacau, tentu saja punya sedikit kemampuan."


Wan-wu-ye melihat ada gelagat yang tidak menguntungkan,


mengambil kesempatan itu dia bergerak menyerang, sebelah


telapaknya melayang miring, dipukulkan ke arah sepasang mata Fu


Ke-wei. Ouw Yu-zhen menjulurkan tangan kirinya, dengan tepat sekali


menangkap telapaknya Wan-wu-ye, lima jarinya mencengkeram,


lalu membanting kesamping.


"Aduh......" Wan-wu-ye berteriak sambil melayang keluar, merobohkan kursi


dan meja, merobohkan satu meja disebelah kiri.


Ruangan makan jadi kacau, sepuluh lebih tamu makan


berlarian menghindar, para pelayan berteriak ketakutan,


suasana menjadi ribut sekali.


Fu Ke-wei duduk dengan tenang seperti semula, pergelangan


tangan kirinya masih dikunci dan ditekan ke atas meja oleh Ban-el-ye.


Tapi anehnya malah seluruh tubuh Ban-el-ye tampak gemetaran,


keningnya mengucurkan keringat sebesar kacang, mulutnya tidak bisa bersuara, tampangnya kesakitan sekali.


Lalu Fu Ke-wei membalikan tangan kirinya dengan perlahan,

__ADS_1


akibatnya tubuh Ban-el-ye seperti terbang, terbangnya lebih jauh


dari pada Wan-wu-ye, terbang sampai di mulut tangga, dan buug...


jatuh ketanah. Fu berdua tetap duduk dengan tenang, sepertinya barusan tidak


terjadi peristiwa apa-apa.


Ban dan Wan berdua berusaha bangkit setelah setengah harian


baru mereka dapat berdiri, seorang memeluk lengan kanannya,


seorang lagi menekan tangan kanan, kakinya juga belum leluasa


melangkah, tampak jelas, tubuh bagian bawah kedua orang sudah


mati rasa, tidak bisa dikendalikan lagi, wajahnya pucat seperti


wajah mayat, sambil merintih! Mereka berusaha turun dari loteng,


melarikan diri. "Kalian berdua baik-baiklah dijalan." Fu Ke-wei dengan keras berteriak.


Dua orang ini mana bisa baik-baik dijalan"


Pelayan itu sudah tahu kerepotan akan datang, para tamu makan


juga telah pergi menyelamatkan diri.


Masakan dan arak telah di antar, seluruh ruang makan loteng


hanya tinggal Fu Ke-wei dan Ouw Yu-zhen yang menjadi tamu


makan, pelayannya juga hanya ada dua orang.


datanglah tujuh laki-laki besar yang tinggi dan yang pendek.


Orang yang memimpinnya, adalah orang keluarga Huang di


perbatasan utara sungai Shi-zi Huang-jit-ye, Huang Yungsheng,


berusia lima puluh tahun lebih, tubuhnya besar seperti beruang,


dipinggangnya ada satu Kail Kepala Macan.


Fu Ke-wei berdiri sambil tersenyum, mengangguk,


menyapa. "He he! Inikah Huang-jit-ye?" lagak Fu Ke-wei santai tapi ada sedikit angkuh, "aku tadi mengira Huang-jit-ye hanya membawa dua saudara saja, tidak di duga datang sampai tujuh orang. Pelayan, cepat satukan meja dan tambahkan sumpit dan mangkuknya."


Setelah meja disatukan, Ouw Yu-zhen bangkit berdiri di


samping kiri Fu Ke-wei. Lima orang itu duduk, dua orang lagi berdiri dibelakangnya Fu


Ke-wei, berdiri di sebelah kiri dan kanan.


Wajah Huang-jit-ye penuh amarah, dia duduk di seberangnya,


sepasang matanya yang aneh seperti api membara, menatap tajam


pada Fu Ke-wei yang duduk dengan tenangnya sambil tersenyum.


"Aku Huang Yung-sheng." Suara Huang Yung-sheng seperti


guntur, "kemarin malam betulkah anda yang datang ke rumahku

__ADS_1


meninggalkan surat memanggil aku?"


"Betul." "Anda mengundang aku kesini ingin membicarakan apa" Aku


tidak kenal kau..." "Kau tidak kenal aku, tapi aku kenal kau. Kau adalah Dewa Kail Cakar Elang Huang Yung-sheng, Huang-jit-ye."


"Jangan banyak omong kosong! Kau ingin bicarakan apa" Jika


mungkin, aku akan mengabulkannya."


"Aku mengundang kau datang, ibarat pesta tidak ada pesta yang baik, pertemuan tidak ada pertemuan yang baik."


"Puuh! Aku berjuang di dunia persilatan sudah dua puluh tahun lebih, gelombang sebesar apa yang belum pernah aku alami" Walau


pestamu ini adalah pesta penguasa, aku juga akan datang,


bukankah sekarang sudah datang?"


"Terima kasih atas kemurahan hatimu, aku merasa sangat


terhormat." "Aku menunggu kau mengatakannya."


"Baik, aku lebih baik menurut dari pada menghormat. Anda belajar silat di perguruan Biksu Kepala Besi di Liu An-zhou, marga Biksu


Kepala Besi adalah Bai, dia punya seorang keponakan bernama Bai


Ru-lian, juga adalah adik seperguruanmu. Beberapa tahun lalu Biksu Kepala Besi mendadak mati di kuil Bai-yun di kota Jia-yu, tahun lalu adik seperguruanmu bersama dengan Sepasang Hebat Jiang-nan


malam-malam merampok sembilan keluarga kaya di Jiangning dan


berhasil merampok puluhan ribu liang perak, kemudian menghilang,


di dunia persilatan tidak menampakan lagi jejaknya Tiga Wanita Iblis.


Adik seperguruanmu berjuluk Yun-sang-nie (Wanita Baju Awan),


menurut kabar dia pintar menyamar, dia dengan kau......"


"Tutup mulut! Aku tidak mau dengar omong kosongmu."


Huang-jit-ye menepuk meja berteriak marah.


"Kenapa kau begini terburu-buru" Aku tidak akan membicarakan


masalah kotor kalian, asal kau beritahu aku di mana dia berada, kita baik-baik saja......"


"Kau ini makhluk apa?" Huang-jit-ye berteriak marah, dan bangkit berdiri.


Tujuh orang sebelumnya seperti sudah direncanakan, berdiri


mengepung. "Anda tidak ingin membicarakannya dengan baik-baik, kalau begitu tidak ada yang bisa dibicarakan lagi." Fu Ke-wei juga bangkit berdiri, wajahnya ditekan, "di tempat umum tidak baik membuat keonaran, besok tepat tengah hari, aku tunggu kau di depan kuil Tai-hang, di lereng selatan gunung Bo-gu, jika lewat waktu tidak akan ditunggu."


Habis bicara, dia dengan langkah pelan jalan ke tangga, Ouw


Yu-zhen mengikuti di belakang sebelah kiri.


Di depan ada seorang laki-laki besar setengah baya


menghadang jalannya, sepasang tangannya pelan-pelan


diangkat. "Lebih baik tenagamu digunakan besok." Wajah Fu Ke-wei sangat dingin sekali, "jika perlu, aku tidak akan takut menggemparkan khalayak ramai, di keramaian membunuh orang, minggir!"


Bentakan suara minggir tidaklah keras, tapi ada kekuatannya

__ADS_1


menakutkan orang, pria besar itu mendadak gemetar dingin, dengan terkejut dia memberi jalan.


__ADS_2