Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 57


__ADS_3

"Ooo! Walet Gelombang Awan Pei Pei-yin" Kau membanggakan dia


betul tidak" Dia turun gunung sudah lima tahun, namanya termasuk


dalam tujuh wanita hebat di dunia persilatan, hatimu tentu tergerak.


Terus terang saja, jika kau juga turun gunung, pasti tidak akan kalah olehnya, masalahnya kau harus bisa menghadapi bahaya yang tidak kecil, perbandingan sukses tidaknya adalah satu banding seratus, apakah kau ingin tanya pendapatku?"


"Menurutmu?" "Cepat pulang." katanya dengan pasti.


"Kau......" "Dunia persilatan adalah tempat setan, sulit untuk sukses, apalagi kalau kalah, sangat menyedihkan, buat apa" Ini adalah nasihatku.


Malam sudah larut, nona sudah harus kembali ke penginapan


beristirahat. Pendeta wanita Fou-yun dan Walet Gelombang Awan


sudah lewat empat hari lalu, mungkin sudah bersembahyang di


gunung Wu-tai! Sudah tidak dapat terkejar, selamat malam, nona."


'Hmm..! Orang ini memang aneh.' Kata nona Peng seperti


berbicara sendiri, dia melihat Fu Ke-wei dan Ouw Yu-zhen berjalan


menuju ke kamar. Kuil gunung Tai-hang hanyalah sebuah kuil kecil yang tidak ada


orang mengurus tempatnya, kampung terdekatnya ada sejauh lima li,


satu bangunan kecil, ruangannya tidak dapat menampung Sepuluh


orang, tapi di depan kuil tumbuh lima pohon besar cemara putih,


seperti lima raksasa berdiri di puncak bukit, dalam jarak lima enam li sudah bisa terlihat.


Mengenai cerita setan, di sini banyak dan seram sekali, walau di siang hari, tetap bisa membuat orang ngeri dan tubuh terasa tidak enak,


malam hari lebih-lebih bisa memukul mati orang, tidak ada orang yang berani mendekat, malah binatang liarnya banyak sekali.


Masuk tengah hari, Fu Ke-wei seorang diri muncul di depan kuil, dia berbaju ringkas biru, dengan pedang diselipkan di pinggang.


Dia seperti telah berganti orang, penampilan dulu yang tampan,


santai, seperti pohon anggrek sudah menghilang tidak berbekas,


berganti dengan penampilan yang pemberani, anggun, lapang dada,


mata bersinar, sorot mata dingin, seluruh tubuhnya mengeluarkan


hawa berbahaya, seperti seekor harimau yang mencium bau


mangsanya. Sorot matanya yang tajam, dengan waspada meneliti setiap tempat


yang dapat menyembunyikan orang, rimba, kumpulan rumput, lereng


bukit, tanah liar......setiap sudut tempat diawasi dengan teliti, meneliti gejala-gejala yang mencurigakan.


Dia mengawasi dengan pelan, rumput yang bergoyang di tiup


angin juga tidak akan lolos dari pengawasannya, dengan waspada dan pengalaman nya, dia tidak perlu mendatangi setiap sudut, dia sudah tahu tempat mana yang harus diawasi, tempat mana mungkin bisa


mendapat serangan menggelap atau pengeroyokkan, tempat mana saja bisa maju atau mundur dengan mudah, tempat mana adalah


sudut mati. Paling akhir, di dalam radius tiga ratus langkah, dengan santai


dia berjalan satu keliling, di atas tanah keadaan aneh sekecil apa pun tidak akan lolos dari pengamatannya.


Dia kembali ke depan kuil, dia meloncat ke atas atap kuil dan

__ADS_1


duduk, mencabut pedangnya lalu beberapa saat memeriksanya,


mengangkat kepala melihat keadaan cuaca.


Matahari terik tepat di atas kepala, langit tidak berawan sejauh


puluhan ribu li, bukit mengelilingi, rumputnya tinggi rimbanya


lebat, kecuali burung yang terbang dan kadang kelinci, anjing liar yang menyusup keluar, tidak ada seorang pun di sana.


"Taar!" sebuah suara diikuti suara siulan panjang yang keras, membuat burung yang sedang istirahat terkejut terbang, kelinci


terkejut berlarian. Tik tak tik tak... suara derap kuda semakin mendekat,


sekelompok kuda telah tiba.


Kelompok pertama empat kuda tiba di bawah bukit, semuanya


kuda Ce-jin yang besar dan tinggi, penunggang kuda dari jarak


seratus langkah lebih menghentikan kudanya dan turun dari


kudanya, mengangkat kepala melihat ke atas, tapi tidak berjalan


mendekat. Tidak lama, kelompok kedua dengan enam ekor kuda menyusul,


meninggalkan satu orang untuk menjaga kuda, sebelas orang pria


wanita di pimpin oleh Huang-jit-ye, Huang Yung-sheng berjalan


menuju kuil. Fu Ke-wei mengembalikan pedangnya ke dalam sarung, lalu


meloncat turun kebawah. Kedua belah pihak berhadapan di lapangan


rumput depan kuil. Satu banding sebelas "Huang-jit-ye sungguh tepat waktu." Fu Ke-wei mengepalkan tangan menghormat, "aku merasa bangga, bisa dikatakan telah


memberi muka padaku."


"Masalahnya tidak ada sangkutan dengan dia, makanya dia tidak datang. Huang-jit-ye tenang saja, jika aku mati di tempat ini, tidak akan ada orang yang akan mengucurkan air mata, juga tidak akan ada orang yang membalaskan dendamku pada anda."


"Bagus kalau kau tahu itu. Tuan, kau mencari adik


seperguruanku ada keperluan apa?"


"Ingin dia buktikan satu hal."


"Hal apa?" "Itu masalah dia."


"Aku ingin tahu masalahnya dengan jelas."


"Harus menunggu setelah bertemu dengan adik


seperguruanmu, baru bisa membicarakannya."


"Jika anda tidak mengatakannya......"


"Orang-orang yang dibawamu akan menguburkan aku disini."


"Bagus kalau kau mengerti."


"Menurut pendapatku, jika anda tidak memberitahukan keberadaan adik seperguruanmu, aku juga sama tidak akan berhenti memaksa.


Kelihatannya kau dan aku sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, harus ada yang kalah baru bisa menyelesaikan masalah."


"Jika kau berpendapat demikian, aku terpaksa


menyanggupinya." Kata Huang-jit-ye dengan dingin,

__ADS_1


tangannya diangkat dan dilayangkan.


Sebelas orang itu secara bersamaan bergerak, sebentar saja


sudah mengepungnya, membentuk satu lingkaran sepuluh zhang.


Di mata Fu Ke-wei masih ada perasaan curiga, melihat


keadaan, lawan sepertinya tidak ada niat untuk bertarung


beramai-ramai! Lingkaran besar ini sama sekali tidak bisa


menyerang bersama-sama. Dalam sekejap, tiba-tiba dia menyadari situasi dirinya sangat


berbahaya, pengalaman memberitahu, dia tengah menghadapi


keadaan buntu. Lawan sama sekali tidak berniat menghadapi dirinya dengan


pertarungan adil, tapi akan menggunakan strategi senjata rahasia


yang menakutkan menghadapi dia. Tidak perduli dia mendobrak


kearah mana, pasti akan mendapatkan serangan mendadak dari tiga


arah, lawan sama sekali tidak akan peduli melukai teman sendiri.


Sebelas orang itu semuanya tidak mengeluarkan senjata, sepasang


tangannya menempel di tubuh dengan santai dijulurkan ke bawah,


sebelas pasang mata aneh semua dengan dingin menatap dia, hawa


pembunuhan yang begitu dahsyat, dan tekanan yang menekan hati


orang seperti ombak menghantam dia, kematian yang menyeramkan


tanpa kasihan menyerang dia.


Jika hatinya timbul ketakutan, pasti dia akan hancur oleh tekanan


ini, dengan mudah mereka akan memperlakukan dia hingga mati.


Tapi dia bukan orang yang mudah hancur.


Sebaliknya, dia konsentrasi mengumpulkan tenaga dalamnya,


menghirup nafas, tenaga dalam disalurkan ke seluruh tubuh, seluruh orangnya seperti seekor macan tutul siap menerkam mangsanya,


seperti macan ganas yang akan mengeluarkan kekuatannya, dia harus


menempuh bahaya menaklukan musuhnya.


Pedangnya pelan-pelan dicabut, sekarang orang dengan pedang


sudah menjadi satu. Sepertinya, di sekeliling tubuhnya telah ada unsur yang tidak terlihat, tapi dapat dirasakan, semacam penampilan aneh yang membuat lawan takut, sepertinya matahari terik telah kehilangan


panasnya, aliran angin dingin yang tidak hentinya telah menutupi daerah ini.


Dia berhadapan dengan Huang-jit-ye, walau Huang-jit-ye berdiri


lima zhang jauhnya, tapi tetap terpengaruh oleh situasi yang aneh ini, wajahnya pelan-pelan berubah, seluruh tubuhnya keluar bintik-bintik dingin, bulu kuduknya berdiri.


Kedua belah pihak tidak berniat menyerang lebih dulu, muncul


situasi aneh yang tidak normal, sepertinya sedang bertarung siapa


yang bisa bertahan lebih lama, siapa dalam situasi begini lebih dulu hancur.

__ADS_1


Lama, matahari diatas kepala semakin condong ke barat, waktu


tidak terasa telah lewat, situasinya semakin dingin, membuat orang lebih sulit bernafas.


__ADS_2