
"Ooo! Walet Gelombang Awan Pei Pei-yin" Kau membanggakan dia
betul tidak" Dia turun gunung sudah lima tahun, namanya termasuk
dalam tujuh wanita hebat di dunia persilatan, hatimu tentu tergerak.
Terus terang saja, jika kau juga turun gunung, pasti tidak akan kalah olehnya, masalahnya kau harus bisa menghadapi bahaya yang tidak kecil, perbandingan sukses tidaknya adalah satu banding seratus, apakah kau ingin tanya pendapatku?"
"Menurutmu?" "Cepat pulang." katanya dengan pasti.
"Kau......" "Dunia persilatan adalah tempat setan, sulit untuk sukses, apalagi kalau kalah, sangat menyedihkan, buat apa" Ini adalah nasihatku.
Malam sudah larut, nona sudah harus kembali ke penginapan
beristirahat. Pendeta wanita Fou-yun dan Walet Gelombang Awan
sudah lewat empat hari lalu, mungkin sudah bersembahyang di
gunung Wu-tai! Sudah tidak dapat terkejar, selamat malam, nona."
'Hmm..! Orang ini memang aneh.' Kata nona Peng seperti
berbicara sendiri, dia melihat Fu Ke-wei dan Ouw Yu-zhen berjalan
menuju ke kamar. Kuil gunung Tai-hang hanyalah sebuah kuil kecil yang tidak ada
orang mengurus tempatnya, kampung terdekatnya ada sejauh lima li,
satu bangunan kecil, ruangannya tidak dapat menampung Sepuluh
orang, tapi di depan kuil tumbuh lima pohon besar cemara putih,
seperti lima raksasa berdiri di puncak bukit, dalam jarak lima enam li sudah bisa terlihat.
Mengenai cerita setan, di sini banyak dan seram sekali, walau di siang hari, tetap bisa membuat orang ngeri dan tubuh terasa tidak enak,
malam hari lebih-lebih bisa memukul mati orang, tidak ada orang yang berani mendekat, malah binatang liarnya banyak sekali.
Masuk tengah hari, Fu Ke-wei seorang diri muncul di depan kuil, dia berbaju ringkas biru, dengan pedang diselipkan di pinggang.
Dia seperti telah berganti orang, penampilan dulu yang tampan,
santai, seperti pohon anggrek sudah menghilang tidak berbekas,
berganti dengan penampilan yang pemberani, anggun, lapang dada,
mata bersinar, sorot mata dingin, seluruh tubuhnya mengeluarkan
hawa berbahaya, seperti seekor harimau yang mencium bau
mangsanya. Sorot matanya yang tajam, dengan waspada meneliti setiap tempat
yang dapat menyembunyikan orang, rimba, kumpulan rumput, lereng
bukit, tanah liar......setiap sudut tempat diawasi dengan teliti, meneliti gejala-gejala yang mencurigakan.
Dia mengawasi dengan pelan, rumput yang bergoyang di tiup
angin juga tidak akan lolos dari pengawasannya, dengan waspada dan pengalaman nya, dia tidak perlu mendatangi setiap sudut, dia sudah tahu tempat mana yang harus diawasi, tempat mana mungkin bisa
mendapat serangan menggelap atau pengeroyokkan, tempat mana saja bisa maju atau mundur dengan mudah, tempat mana adalah
sudut mati. Paling akhir, di dalam radius tiga ratus langkah, dengan santai
dia berjalan satu keliling, di atas tanah keadaan aneh sekecil apa pun tidak akan lolos dari pengamatannya.
Dia kembali ke depan kuil, dia meloncat ke atas atap kuil dan
__ADS_1
duduk, mencabut pedangnya lalu beberapa saat memeriksanya,
mengangkat kepala melihat keadaan cuaca.
Matahari terik tepat di atas kepala, langit tidak berawan sejauh
puluhan ribu li, bukit mengelilingi, rumputnya tinggi rimbanya
lebat, kecuali burung yang terbang dan kadang kelinci, anjing liar yang menyusup keluar, tidak ada seorang pun di sana.
"Taar!" sebuah suara diikuti suara siulan panjang yang keras, membuat burung yang sedang istirahat terkejut terbang, kelinci
terkejut berlarian. Tik tak tik tak... suara derap kuda semakin mendekat,
sekelompok kuda telah tiba.
Kelompok pertama empat kuda tiba di bawah bukit, semuanya
kuda Ce-jin yang besar dan tinggi, penunggang kuda dari jarak
seratus langkah lebih menghentikan kudanya dan turun dari
kudanya, mengangkat kepala melihat ke atas, tapi tidak berjalan
mendekat. Tidak lama, kelompok kedua dengan enam ekor kuda menyusul,
meninggalkan satu orang untuk menjaga kuda, sebelas orang pria
wanita di pimpin oleh Huang-jit-ye, Huang Yung-sheng berjalan
menuju kuil. Fu Ke-wei mengembalikan pedangnya ke dalam sarung, lalu
meloncat turun kebawah. Kedua belah pihak berhadapan di lapangan
rumput depan kuil. Satu banding sebelas "Huang-jit-ye sungguh tepat waktu." Fu Ke-wei mengepalkan tangan menghormat, "aku merasa bangga, bisa dikatakan telah
memberi muka padaku."
"Masalahnya tidak ada sangkutan dengan dia, makanya dia tidak datang. Huang-jit-ye tenang saja, jika aku mati di tempat ini, tidak akan ada orang yang akan mengucurkan air mata, juga tidak akan ada orang yang membalaskan dendamku pada anda."
"Bagus kalau kau tahu itu. Tuan, kau mencari adik
seperguruanku ada keperluan apa?"
"Ingin dia buktikan satu hal."
"Hal apa?" "Itu masalah dia."
"Aku ingin tahu masalahnya dengan jelas."
"Harus menunggu setelah bertemu dengan adik
seperguruanmu, baru bisa membicarakannya."
"Jika anda tidak mengatakannya......"
"Orang-orang yang dibawamu akan menguburkan aku disini."
"Bagus kalau kau mengerti."
"Menurut pendapatku, jika anda tidak memberitahukan keberadaan adik seperguruanmu, aku juga sama tidak akan berhenti memaksa.
Kelihatannya kau dan aku sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, harus ada yang kalah baru bisa menyelesaikan masalah."
"Jika kau berpendapat demikian, aku terpaksa
menyanggupinya." Kata Huang-jit-ye dengan dingin,
__ADS_1
tangannya diangkat dan dilayangkan.
Sebelas orang itu secara bersamaan bergerak, sebentar saja
sudah mengepungnya, membentuk satu lingkaran sepuluh zhang.
Di mata Fu Ke-wei masih ada perasaan curiga, melihat
keadaan, lawan sepertinya tidak ada niat untuk bertarung
beramai-ramai! Lingkaran besar ini sama sekali tidak bisa
menyerang bersama-sama. Dalam sekejap, tiba-tiba dia menyadari situasi dirinya sangat
berbahaya, pengalaman memberitahu, dia tengah menghadapi
keadaan buntu. Lawan sama sekali tidak berniat menghadapi dirinya dengan
pertarungan adil, tapi akan menggunakan strategi senjata rahasia
yang menakutkan menghadapi dia. Tidak perduli dia mendobrak
kearah mana, pasti akan mendapatkan serangan mendadak dari tiga
arah, lawan sama sekali tidak akan peduli melukai teman sendiri.
Sebelas orang itu semuanya tidak mengeluarkan senjata, sepasang
tangannya menempel di tubuh dengan santai dijulurkan ke bawah,
sebelas pasang mata aneh semua dengan dingin menatap dia, hawa
pembunuhan yang begitu dahsyat, dan tekanan yang menekan hati
orang seperti ombak menghantam dia, kematian yang menyeramkan
tanpa kasihan menyerang dia.
Jika hatinya timbul ketakutan, pasti dia akan hancur oleh tekanan
ini, dengan mudah mereka akan memperlakukan dia hingga mati.
Tapi dia bukan orang yang mudah hancur.
Sebaliknya, dia konsentrasi mengumpulkan tenaga dalamnya,
menghirup nafas, tenaga dalam disalurkan ke seluruh tubuh, seluruh orangnya seperti seekor macan tutul siap menerkam mangsanya,
seperti macan ganas yang akan mengeluarkan kekuatannya, dia harus
menempuh bahaya menaklukan musuhnya.
Pedangnya pelan-pelan dicabut, sekarang orang dengan pedang
sudah menjadi satu. Sepertinya, di sekeliling tubuhnya telah ada unsur yang tidak terlihat, tapi dapat dirasakan, semacam penampilan aneh yang membuat lawan takut, sepertinya matahari terik telah kehilangan
panasnya, aliran angin dingin yang tidak hentinya telah menutupi daerah ini.
Dia berhadapan dengan Huang-jit-ye, walau Huang-jit-ye berdiri
lima zhang jauhnya, tapi tetap terpengaruh oleh situasi yang aneh ini, wajahnya pelan-pelan berubah, seluruh tubuhnya keluar bintik-bintik dingin, bulu kuduknya berdiri.
Kedua belah pihak tidak berniat menyerang lebih dulu, muncul
situasi aneh yang tidak normal, sepertinya sedang bertarung siapa
yang bisa bertahan lebih lama, siapa dalam situasi begini lebih dulu hancur.
__ADS_1
Lama, matahari diatas kepala semakin condong ke barat, waktu
tidak terasa telah lewat, situasinya semakin dingin, membuat orang lebih sulit bernafas.