
Dua orang yang berdiri di kiri kanan yang akan menyerang dengan
pedangnya, kepalanya menjadi pusing, mereka tidak tahu telah terjadi perubahan apa, hanya tahu dalam sekejap, dua teman yang bertenaga
besar semuanya telah roboh, mereka jadi ketakutan sekali, bulu
kuduknya berdiri, bersamaan itu mereka meloncat keluar, melarikan diri dengan masuk kedalam hutan disisi jalan.
Tidak lama, dengan menarik terbalik dua tongkat tembaga, Fu
Ke-wei melangkah pergi ke utara.
Dua batang tongkat tembaga yang beratnya ada seratus empat
puluh jin, hanya dengan satu tangan dia menariknya, sepertinya
benda itu tidak mempunyai berat.
Keadaan ini sungguh seperti ada tenaga setan yang menakutkan,
dengan jelas menyatakan nasib pemilik tongkat tembaga itu. Orang
yang kemampuannya lebih rendah dari pada pemilik tongkat tembaga
itu, paling baik tahu diri, jangan sok pahlawan dan muncul
mengantarkan nyawa. Berjalan sejauh satu li lebih, benar saja tidak ada lagi orang yang keluar menghadang, mungkin para pesilat aliran hitam yang
bersembunyi semuanya orang-orang pintar, juga semuanya setan
penakut. Jembatan Bao-shi sudah terlihat, di tengah jalan raya,
tiba-tiba bayangan orang berbaju biru itu menghilang.
Di pinggir seratus langkah dari jembatan ada satu pohon besar,
duduk diatas batang yang melintang Fu Ke-wei bisa melihat
dengan jelas keadaan di atas jembatan dan seratus langkah jalan
raya di selatannya. Seorang yang berpakaian ringkas berwarna hijau muda, mengapit
sebuah busur indah sepanjang enam chi, di kantong busur ada tiga
buah bola tembaga, begitu melihat Fu Ke-wei tahu dia adalah seorang pakar busur bola, kepandaiannya pasti sudah sangat tinggi.
Busur peluru berbeda dengan busur panah, busur peluru harus
ada ruang gerak yang lebih luas, makanya tempat
persembunyiannya harus di pilih dengan hati-hati.
Orang ini segera bersembunyi dengan baik, matanya yang tajam
menembus pada daun yang berada di bawah, mengamati setiap orang
yang berlalu lalang diatas jembatan, dia ingin mencari orang yang
ditunggunya, duduknya sangat mantap, tangan kirinya menegakan
busur, tangan kanan siap di kantong peluru, dia bersiap-siap melepas-kan tembakannya.
Karena semua perhatiannya tertuju pada jembatan, dia jadi lengah
terhadap keadaan di belakang tubuhnya.
"Gui Yuan-zhong!" di bawah belakang tubuhnya tiba-tiba
terdengar teriakan, "balikan tubuhmu!"
__ADS_1
Dewa Ketepel Pengejar Arwah Seratus Langkah Gui Yuanzhong
dengan sendirinya membalikan tubuh melihat ke bawah, tapi celaka!
Terlihat satu bayangan orang berbaju biru di belakangnya, dan busur dirinya terhalang oleh batang pohon, tidak ada tempat leluasa untuk menembakan peluru.
Satu sinar pelangi terbang ke atas, seperti kilat langsung
menghilang, dia tidak bisa melihat dengan jelas benda apa itu, tidak ada tempat untuk menghindar, juga tidak ada kesempatan untuk
menghindar, hanya merasa seluruh tubuhnya bergetar, ada sebuah
benda yang masuk ke dalam bawah dadanya, seperti terkena guntur,
kaki tangan bergetar, tubuhnya tidak bisa dikendalikan lagi, seperti burung terkena panah, dia jatuh terjun ke tanah, busurnya telah
terlepas dari tangannya, tiga butir peluru bajanya juga jatuh dari kantongnya.
Ada sebilah belati sepanjang satu chi, yang bisa dibeli dengan
mengeluarkan uang perak dua liang, masuk miring dari dada
bawah kiri, masuk sedalam enam cun lebih.
Fu Ke-wei muncul di jalan kecil jembatan yang menuju
Guan-qiu, tangan kirinya menarik dua tongkat tembaga, tangan
kanan memegang busur. Puncaknya bukit Guan-qiu tidak tumbuh apa-apa, itu adalah
tempat bermain anak-anak, tanahnya sering terinjak-injak sehingga
tidak bisa tumbuh apa-apa, tanah yang kecoklatan sangat keras.
Tuan besar Li berserta putranya bertiga, ditambah Li Jianjian,
dao dari Wu-dang, semua berdiri menunggu di bawah teriknya
matahari. Fu Ke-wei dengan langkah besar mendaki ke bukit, sambil
membuang tongkat dan busur ke bawah.
"Masih kurang beberapa saat pada tengah hari tepat." Dia menengadah melihat matahari, nadanya tenang sekali, "kalian
mungkin sudah menunggu lama" Maaf maaf!"
Setelah melihat tongkat tembaga dan busur itu, kecuali tiga
pendeta dao tua, wajah semua orang telah berubah warnanya.
"Siapakah dirimu sebenarnya?" Tanya tuan besar Li
memberanikan diri dan keras.
"Fu Xian korban selamat di peristiwa tergulingnya kereta di
kabupaten Ye." Dia dengan keras berkata, "Tuan besar Li, aku......"
"Yang aku tanyakan adalah tingkatan mu di dunia persilatan." Tuan besar Li menyela kata-kata dia, "siapa saksi yang mengatakan kau adalah korban selamat peristiwa berdarah tergulingnya kereta di kabupaten Ye"
Siapa saksinya yang bisa menunjukan pelaku kejahatan terbaliknya
kereta" berdasarkan apa kau mengharuskan aku mengembalikan
keadilan padamu" Jawab!"
"Aku tahu kau akan melakukan ini." Dia tertawa tawar, "tuan, apakah kau tahu saat aku kembali ke penginapan, kenapa para pejabat pemerintah dan kepala polisi Lie begitu hormat padaku marga Fu" Itu karena aku telah melaporkan dengan jelas kejadiannya peristiwa
tergulingnya kereta pada Bupati Xiang-yang."
__ADS_1
"Apa" Kau......"
"Satu jam yang lalu, mungkin tentara telah berada di perumahan Han-bei, dan berhasil menggeladah kereta ringan yang digunakan
putramu melakukan kejahatan di kabupaten Ye.
Surat pemerintah Nan-yang yang meminta kantor Xiangyang
menangkap pelaku kejahatan, sudah tiba satu hari sebelum aku
kembali ke penginapan, malam hari aku masuk ke kantor Bupati,
pada Bupati minta diundur tiga hari, hari ini adalah tepat waktunya surat perintah penangkapan itu berlaku." Dia memungut satu
tongkat tembaga, "sekarang, kita selesaikan dahulu perkara kau berulang-ulang melakukan kejahatan, perkara di pengadilan kita
lanjutkan di kemudian hari."
Tangan pendeta dao Qing-xi mengusap janggut, melangkah maju
dengan dingin berkata: "Perbuatan dermawan Fu ini, bukankah sedikit tidak menurut
aturan dunia persilatan, tuan datang dengan amarah, bisakah dengan tenang menyelesaikan masalahnya?"
"Tolong tanya, apakah pendeta dao tahu duduk
persoalannya?" Fu Ke-wei balik bertanya.
"Aku tahu beberapa keadaannya."
"Pasti dengan apa yang aku katakan ada perbedaannya."
"Aku kira, apa yang dikatakan dermawan Li mungkin hanya
kata-kata sepihak, dan tuan juga mungkin tidak dapat membantahnya
dengan bukti yang kuat."
"Pendeta dao jika mengira kata-kata si marga Li mungkin adalah kata-kata sepihak, maka dia tidak akan berdiri disini
membicarakannya." katanya dengan tidak sungkan.
"Kata-kata dermawan sungguh tajam sekali."
"Pendeta dao kau juga tidak berdiri diatas kebenaran."
"Berani sekali!" Pendeta dao lainnya berteriak dengan nada dalam.
"Jika tidak berani maka tidak akan datang." Katanya dingin, "kalian para pendeta dao apa datang untuk menegakan keadilan" Atau datang untuk membela keluarga Li" Aku masih muda, kesabarannya terbatas, jika kalian belum mengetahui keadaan sebenarnya, paling baik jangan sok membela, katakan apa tujuan kalian, ingin jadi penengah menegakan keadilan, kalau begitu tunggulah di pengadilan, coba lihat apakah kalian pantas tidak. Jika mau membantu tidak perlu bersilat lidah, buang saja kata-kata kebenaran, siapa yang kuat itu yang benar.
Kalian para pendeta dao, sayangilah nama baik Wu-dang! Jika
melibatkan diri pada masalah ini, akan berakibat nama Wu-dang
akan menjadi buruk, siapa tahu malah bisa mendatangkan mala
petaka tidak habisnya bagi perguruan anda, itu dosanya besar
sekali." "Kau mengancam aku?" Pendeta dao Qing-xi dari malu jadi marah.
"Tidak bisa dikatakan mengancam, yang aku katakan adalah
kenyataan, jika masalahnya adalah perselisihan pribadi di dunia
persilatan, aku pasti akan menghormati kedudukan dan prinsip pendeta dao, melibatkan masyarakat biasa di peristiwa berdarah, itu bukanlah masalah yang harus kalian urus, kalian di pihak luar tidak usah turut campur urusan ini, kalian ini berebut apa?" Kata-katanya keras dan tajam, sangat menekan orang.
Kedudukan pendeta dao Qing-xi sangat tinggi dan terhormat, tapi
masih belum terlatih sampai tingkat suci tanpa emosi, maka darahnya jadi bergolak, pikirannya jadi tidak jernih, dengan emosi melakukan kuda-kuda, telapak kiri di dirikan di depan dada.
__ADS_1