Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 30


__ADS_3

"Surat dari siapa?" tanya Luo Wen-jing yang menghindar ke pinggir dengan perhatian.


"Tidak ditulis nama pengirim." Li Hoa-xin menggelengkan


kepala. "Apa yang ditulis?"


"Katanya setengah bulan lalu, kereta adik ku di pantai utara sungai Ru di kabupaten Ye terjadi kecelakaan, adikku dengan sengaja


membuat celaka sebuah kereta, hingga empat belas orang mati."


"Aduh!" "Orang yang mengirim surat meminta ayah ku bertanggung jawab, pergi ke kabupaten Ye menyelesaikannya, menyerahkan pelakunya


pada pemerintah, mengganti kerugian pada keluarga yang


ditinggalkan." "Hal tidak bagus." Luo Wen-jing tertawa pahit.


"Adikku di kabupaten Ye bertarung dengan Nan-yang-bajie, orang yang diutus belum kembali hingga laporannya tidak jelas, harus tunggu adikku pulang dulu, baru bisa tahu kejadiannya dengan jelas. Jika yang mati adalah orangnya Nan-yang-ba-ie, Hm! memang mereka seharusnya


mati." Kata Li Hoa-xin dingin, "meminta kami menyerahkan orang ke pemerintah, mana ada aturannya?"


"Sastrawan tadi, sangat mungkin bukan orangnya Nanyang-ba-jie." Li Jian-jian sangat teliti, berpikir tentang hal yang tadi dibicarakan, jika benar, dia seharusnya bertindak menurut aturan


dunia persilatan, kenapa minta menyerahkan diri pada pemerintah"'


"Memang seharusnya dia bukan." Nada bicara Luo Wenjing tidak begitu yakin, di sudut matanya timbul hawa pembunuhan, "jika benar, aku Luo Wen-jing akan terus bermusuhan dengan dia. Hemm! Aku pasti bisa menyelidiki asal-usul orang ini, lain kali jangan harap dia bisa meloloskan diri. Saudara Hoa-xin, kita pulang saja, ayahmu harus


membuat rencana menghadapinya."


Enam orang berangkat dengan gembira tapi pulang dengan lesu.


Turun gunung sekitar setengah li, tiba-tiba Luo Wen-jing


berkata dengan perlahan: "Saudara Hoa-xin, kalian jalanlah duluan, jangan melihat


kebelakang." Li Hoa-xin mengerti, dia menganggukan kepala,


mempercepat langkahnya. Shuang-jie-shu-sheng, Luo Wen-jing menyelinap ke belakang


sebuah pohon besar di sisi jalan, menyembunyikan diri, seperti


seekor kucing mengincar tikus, dengan sabarnya


diam menunggu tikus bodoh keluar dari lubangnya.


Lama didepan dibelakang tidak ada gerakan.


Tempat ini adalah sebuah belokan jalan, keatas kebawah bisa


melihat pemandangan sejauh setengah li.


Di kedua sisi jalan adalah hutan sangat rimbun, rumput liar tumbuh subur, pandangan jadi terbatas dan juga sulit berjalan disana, walau kemiringan gunung tidak seberapa, berjalan pun tidak mudah.


Sehingga, orang yang naik atau turun gunung pasti lewat jalan


gunung ini, tidak mungkin melewati tempat liar, mencari kesulitan


sendiri. Dia bersiap tidak menunggu lagi, baru saja mau bangkit


berdiri. "Apa sudah tidak sabar menunggu?" di belakang tubuhnya


terdengar suara lantang yang penuh mengandung sindiran, "kau


harus belajar seperti aku, tidur diatas pohon, kau lihat, bukankah aku ini santai sekali?"


Dia membalikan kepala melihat, hatinya diam-diam menjadi dingin!


Sastrawan baju hijau itu berada diatas akar pohon besar,


tiga-empat zhang jauhnya, sedang menyilangkan kaki, setengah

__ADS_1


berbaring, tampak santai sekali.


Dengan ketajaman telinganya, di hari yang terang, ada daun


kering yang jatuh pun, tidak ada orang yang bisa mendekati dari


belakang, sampai sepuluh zhang tanpa diketahuinya, lalu


darimana sastrawan ini datangnya"


"Anda sepertinya sudah datang beberapa saat."


Dengan suara dalam sastrawan itu melangkah pelan


menginjak rumput menuju kebawah pohon, katanya


"Tidak salah." Kata sastrawan itu seperti tidak terjadi apaapa.


"Anda sungguh hebat."


Sastrawan itu tertawa dingin, dengan santai nengeluarkan kipas


lipat yang bergambarkan bunga anggrek.


"Terima kasih atas pujiannya."


"Apa kau mengerti keadaanmu?"


"Pasti berbahaya, benar tidak?"


"Benar, sangat bahaya."


"Belum tentu." "Anda tidak perlu memaksakan diri bersikap tenang, anda sudah tidak dapat turun lagi."


"Jika tidak bisa turun lagi, buat apa aku nenyapamu?" Sastrawan itu sedikit pun tidak serniat untuk bergerak, "bukankah kau sendiri yang kurang tenang, kau berpikir ingin menunggu kelinci dibawah


kau tidak dapat berbuat apa-apa padaku. Jika kau meloncat ke atas, aku akan turun kebawah, kau ikut turun, aku kembali meloncat


keatas. Ha ha ha! Kau bisa berbuat apa?"


"Apa kau tahu julukanku Shuang-jie-shu-sheng, maka sengaja


mempermainkan aku?" Luo Wen-jing kesal sampai hatinya terasa


panas, "kau ngin mengadu ilmu meringankan tubuh denganku?"


"Memangku maksudku." Kata Sastrawan itu dengan wajah


berseri-seri, "kau, marga Luo menganggap dirinya pahlawan hebat, menganggap dirinya dengan sebilah pedang dengan ilmu meringankan


tubuh yang lumayan bagus, ingin meraja lela, menjagoi dunia persilatan, makanya mengambil sebutan Shuang-jie (sepasang hebat). Sekarang di tanganmu tidak ada pedang, kecuali beradu ilmu meringankan tubuh


denganku, kau sedikit pun tidak ada kemampuan lainnya."


"Jika anda sudah tahu asal-usulku, tentu juga tahu tentang "


"Aku tahu maksudmu." Kata Sastrawan memotong, "kau punya seorang pelayan merangkap teman yang setia, dipanggil Bandit Tai.


Orang ini sejak lahir sudah mempunyai tenaga super, dengan satu


tangan dapat mengangkat tempat abu kaki tiga yang besar dan


beratnya seribu jin, suatu kali perampok yang ternama dari gunung


Tai ini, dikepung oleh tentara pemerintah, dan hampir dipenggal


kepalanya. Saat itu kau tanpa sengaja sedang lewat disana, sesaat


timbul perasaan satu nasib, malam-malam kau masuk ke dalam

__ADS_1


penjagaan yang ketat menolong dia membuat dia terhindar dari


hukuman mati, membuat dia merasa hutang budi dan ingin membalas


budinya, dia mengikutimu dari pinggir secara diam-diam melindungi


keselamatanmu, dia telah menjadi bayanganmu. Tapi kau adalah


pendekar kelana dari aliran putih, dia adalah perampok besar dari


rimba hijau, jika berjalan bersama, mana pantas" Maka dia selalu


bersembunyi, selamanya dengan setulus hati membalas budimu


secara diam diam. Tapi, kau telah mengabaikan satu hal penting."


"Hal penting apa?"


"Kau terlalu yakin pada pemikiranmu, kau memastikan, dengan


teman-temanmu bermain keatas gunung, pasti tidak akan terjadi


sesuatu. Makanya, aku berani bertaruh denganmu, pengawalmu


pasti ada di kampung Xian sedang tertidur lelap, kau tidak mungkin dapat menggunakan kemahiran dia menggunakan Garpu Terbang


Kecilnya yang dahsyat itu bersama-sama menyerang aku, kau


berani bertaruh tidak?"


"Suara siulanku dapat mencapai sepuluh li lebih, aku pasti bisa memanggil dia kesini, asal aku bisa bertahan, itu sudah cukup. Garpu Terbang Kecil dia, dalam jarak lima zhang tidak pernah meleset, kau pasti mati."


"Menunggu dia datang, mungkin aku sudah ada di kota


bersenang-senang." "Siapa tuan sebenarnya?" Luo Wen-jing mengganti topik


pembicaraan, dia jelas tahu kata-kata sastrawan ini masuk akal.


"Kau tebak saja sendiri! tuan, pulang dan beritahu Tuan Li, orang yang mati sia-sia di kabupaten Ye itu, setiap orangnya harus


mendapat ganti kerugian seribu liang perak. Dengan kekayaan dia,


mungkin hanya satu rambut dari sembilan sapi. Jika dia tidak mau,


dia akan menyesali seumur nidup."


"Nan-yang-ba-jie juga bukan orang baik, tidak perlu mengganti kerugian, perselisihan dunia persilatan bisa dibereskan


masing-masing, kalau mati ya terima nasib, anda tidak berhak


melibatkan diri dalam hal ini. Sekarang, anda sengaja menantang


aku marga Luo, ini adalah perselisihan pribadi antara aku dengan


kau, harus diselesaikan oleh kita berdua, bertarung mati atau hidup mengandalkan kepandaian masing-masing, aku pasti tidak akan


melepaskanmu." "Kau tidak pantas bagus! Ha ha ha "


Shuang-jie-shu-sheng, Luo Wen-jing tidak tahan lagi, mendadak


dia meloncat terbang, tanpa bersiap tanpa mengangkat kaki,


dengan jurus Bangau Menerjang Awan dia naik keatas, senjatanya


sudah siap menyerang. Dalam tawa yang keras, sastrawan telah bergeser ke pinggir dua


zhang, cepat dan ringan melayang turun, dibawah terdengar suara


gemeresik daun, dia menerobos ranting masuk kedalam hutan, seperti terbang pergi ke selatan, dua tiga kali kelebatan sudah menghilang didalam hutan.

__ADS_1


__ADS_2