
"Kau Xie-shen biasa berbuat seenaknya di dunia persilatan, juga sudah terhitung kelas atas, selalu membunuh orang seperti
menyembelih anjing, kenapa sekarang jadi penakut begini?" Chao Yung-ling mengolok, "Satu Pedang Dunia Xi Zhang-feng kalau
berkelana di dunia persilatan, selalu membawa banyak sekali anak
buahnya, kau bisa berbuat apa terhadapnya" Apa lagi dunia ini
begitu luas, dimana kau mau menunggu dia" Jika dia seumur hidup
sembunyi didalam benteng dan tidak keluar, bukankah kau akan
menunggu dia hingga kepala jadi putih"
"Kau dengan saudara-saudaramu, apa benar berani melabrak
benteng Zhang-feng?" tanya Xie-shen tidak percaya.
"Tentu saja berani." Chao Yung-ling mengangkat dadanya yang subur itu, "bukan langsung melabraknya, tapi menggunakan siasat, memaksa mereka keluar benteng, menunggu kesempatan mengirim
mereka ke neraka satupersatu."
Fu Ke-wei yang mendengar diam-diam menganggukan
kepala. Tapi Xie-shen dengan mata tajam menatapnya.
"Kau pergi ke benteng Zhang-feng, selain minta keadilan,
apakah ada tujuan lain?" tanya Xie-shen tiba-tiba.
Chao Yung-ling dengan terus terang berkata:
"Tidak salah! Di gudang bawah tanahnya benteng Zhangfeng, di
tumpuk perhiasan berharga seperti gunung, semua harta yang haram
ini aku akan membawa pulang beberapa, mewakili mereka
menyebarkan harta untuk menembus dosa. Kau pergi bagus tidak?"
"Aku harus pikir-pikir dulu." Kata Xie-shen tertawa pahit, "hey!
Bocah, apakah kau mau ikut pergi?"
"Mungkin." Jawab Fu Ke-wei tidak pasti. "Tuan, haruskah beritahukan penduduk kampung melaporkan ke polisi"
Memperbesar dulu masalahnya, setelah polisi terlibat, kita di luar jadi ada kesempatan." Kata Ouw Yu-zhen.
"Melapor ke polisi" sungguh satu pendapat yang bodoh sekali."
Kata Xie-shen tertawa dingin, "penguasa di seluruh dunia, mana ada yang tidak bersekongkol dengan pemerintah" Besarnya kekuasaan
benteng Zhang-feng di Shan-xi, sampai pemerintah juga takut
padanya, salah-salah malah kita yang
jadi tersangka, aku tidak ingin terlibat hukum!"
"Kau......" Ouw Yu-zhen marah hingga tidak bisa bicara.
"Xiao Zhen, kata-kata Xie-shen tidak salah, siasat ini tidak berlaku untuk benteng Zhang-feng." Kata Fu Ke-wei sambil tertawa.
"Masih si bocah ini yang tahu keadaan." Xie-shen memuji.
"Kalian jangan terus bicara." Kata Fu Ke-wei tidak sabar,
"orang-orangnya benteng Zhang-feng setiap saat bisa kembali kesini membereskan tempat kejadian ini, aku dengan temanku mungkin
tidak bisa melindungi kalian berdua yang masih belum bisa
menggunakan tenaga sepenuhnya, makanya, kalian lebih baik
mencari tempat lain untuk istirahat, cepat tinggalkan tempat
__ADS_1
berbahaya ini demi keamanan."
"Kita memang tidak bisa berlama-lama disini." Kata Chao
Yung-ling buru-buru, "cepat mastik kedalam hutan......wah celaka!
Mungkin sudah tidak keburu......"
Terdengar suara telapak kuda seperti hujan, ada sekelompok
kuda datang dari arah barat, tanah bergetar karenanya.
Kuil dewa tanah hanya berjarak kurang dari dua li, kuda bisa
dengan cepat mencapainya.
"Mari kita bertarung mati-matian dengan mereka!" teriak
Xie-shen sambil menggigit gigi, dan dari pinggang dua mayat
penunggang kuda dia mengambil dua bilah pedang panjang.
"Bocah, ini untukmu!" Dia menyodorkan sebilah pedang.
"Sementara aku tidak memerlukannya, kau berikan dulu pada
nona Chao!" Fu Ke-wei menggelengkan kepala.
Kelompok kuda sudah sampai di bawah bukit, sembilan orang
laki-laki dan perempuan meloncat turun dari kuda, menyusuri jalan
kecil, berjalan seperti terbang, sekejap sudah sampai di depan kuil.
Mereka terdiri tiga laki-laki dan enam wanita.
Yang tiga laki-laki, dua diantaranya adalah orang setengah baya
berbaju ringkas di pinggangnya menggantung pedang panjang,
mengesankan orang, sekali lihat saja langsung bisa menilai dia
orangnya cekatan, telah banyak asam garamnya di dunia persilatan,
seorang persilatan yang ternama.
Seorang lagi adalah seorang sastrawan yang baju putihnya yang
melambai-lambai, masih muda, tampan, tegap, sepasang matanya
terang seperti bintang di tengah malam, di pinggangnya terselip
sebilah pedang antik. Enam orang wanita, empat orang diantaranya wanita cantik
berbaju ringkas membawa pedang, di luarnya memakai baju besar,
yang satu lebih cantik dari yang satunya lagi.
Dua orang lainnya adalah nyonya setengah baya, dandanannya
seperti pelayan, masih nampak bekas kecantikannya yang
matang, waktu mudanya tentu sangat cantik, pakaiannya
sederhana tapi bagus, sikapnya mantap.
Setelah sembilan orang itu melihat mayat yang tergantung diatas
pohon, langsung mengepung Fu Ke-wei dan lainnya dari tiga arah,
tampangnya seperti akan menyerang.
"Hati hati, jangan ceroboh!" kata salah satu orang yang di depan, orang setengah baya yang berada di belakang wanita berbaju ringkas warna biru, mencegah wanita berbaju ringkas biru maju lagi, "sobat yang hawa pembunuhannya tinggi itu, adalah Xie-shen Tu-ba salah satu dari empat penjahat besar yang ternama, aneh! Kenapa dia tidak
__ADS_1
menggunakan golok malah menggunakan pedang, dan tampak sedang
marah, rupanya peristiwa penangkapan orang disiang hari bolong di
penginapan Yue-lai itu, benar adanya."
"Yang wanita itu aku kenal." Seorang lagi orang setengah baya dengan nada dalam berkata, "Nie-sha-yin-hoa, Chao Yung-ling
yang termasyur, spesialis hitam makan hitam, wanita tomboy yang
sangat keji." "Tangkap dulu mereka baru periksa." Sastrawan baju putih menarik kembali sorot matanya yang berkeliaran di tubuh Ouw dan
Chao, dengan beraninya dia mencabut pedang maju mendesak,
"Xie-shen serahkan padaku."
Tindakannya tidak dipikir lagi, tidak ada orang yang mau bicara
tentang keadilan. Xie-shen adalah penjahat keji, Chao Yung-ling ada wanita
tomboy yang bertangan keji, ini sudah cukup.
"Tunggu dulu! Kau mau apa?" Xie-shen berteriak.
"Kalian melakukan kejahatan yang tidak bisa diampuni, hari ini aku akan lakukan kewajiban sebagai ksatria membasmi kejahatan."
Sastrawan berbaju putih dengan sombongnya melangkah.
"Kau pendekar besar dari mana?" Nada bicara Xie-shen penuh ejekan, "kau belum juga tahu duduk persoalannya, sudah langsung mencabut pedang, apa ingin jadi pendekar?"
"Aku termasuk Tiga Sastrawan angkatan muda dunia persilatan
dari golongan putih, Sastrawan Baju Putih (Bai-yushu-sheng) Zhou
Xing-jian, sudah tiga tahun melaksanakan kependekaran di dunia
persilatan, mengurus ketidak-adilan di dunia. Sekarang bukti
kejahatan ada di depan mata, apa kau masih ingin menyangkal?"
kata Zhou Xing-jian angkuh.
"Kau melakukan darma pendekar hanya mendengar dari orang."
Xie-shen sangat kesal sekali, "tidak menanyakan dulu dengan jelas, sudah langsung mengangkat pedang melakukan tindakan, huruf
pendekar ini jadi tidak berharga, sungguh menyedihkan orang-orang
aliran putih!" "Tunggu, setelah aku menangkapmu, kau akan tahu dengan
jelas." Kata Zhou Xing-jian dingin.
Xie-shen menggigit gigi: "Bocah, karena kau melihat aku belum pulih, kau berani
menyombongkan diri di hadapan aku" Kau ingatlah baik-baik, lewat
hari ini, aku akan membuat kau mati dan hidup keduanya sangat
sulit!" "Kau tidak mungkin masih ada hari esok."
Dengan sebuah teriakan dingin, Shou Xing-jian seperti angin
topan, mendadak menerjang maju, ujung pedangnya pecah menjadi
empat buah sinar pelangi, menuju kearah dada dan perut Xie-shen.
Xie-shen berteriak dingin menyambut sinar pedang yang
menyerang, pedang panjangnya seperti kilat menerjang.
"Trang!" terdengar sebuah suara keras, pedang Xia-shen
menangkis serangan lawannya, tubuhnya memutar masuk
__ADS_1
membalas menyerang, secepat kilat, sinar pedang dengan
ganasnya melayang kearah pinggang kanan Zhou Xing-jian.