Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 49


__ADS_3

Li Jian-jian mengeluh panjang, dengan putus asa pamit pergi


meninggalkan rumah makan.


Sesudah waktunya menyalakan lampu, Fu Ke-wei dengan


setengah mabuk, melangkah keluar dari rumah makan menuju tengah


kota. Dari jalan Fan Hou keluar dua orang, yang langkahnya cepat.


Di mulut gang, di depan ada bayangan orang, dalam


kegelapan malam sulit melihat dengan jelas wajahnya.


Fu Ke-wei perlahan melangkah maju, di ujung timur jalan ini,


orang yang berjalan di malam hari tidak banyak, lampu di pintu


rumah sedikit sekali yang menyala, kegelapan terasa sangat tidak


enak. Dua orang yang mengikuti dari belakang semakin mendekat,


sedikit pun tidak terdengar suara langkahnya.


Fu Ke-wei mendehem sekali, mendadak berhenti.


Satu teriakan dalam terdengar, bayangan orang itu bergerak,


dua orang yang mengikuti dari belakang telah menerkam dia, saat


dia menghentikan langkahnya, teriakan dalam itu adalah keluar


dari mulut dia. : Buug...paak... terdengar dua suara keras, hawa kuat


bergelombang menyebar, bayangan yang bersatu seperti kilat


berpisah, suara suitan dari gelombang udara sangat mengejutkan


orang. Fu Ke-wei berada di tempatnya dengan sikap berjaga-jaga, kipas


lipatnya diulurkan miring, telapak kiri tegak di depan dada, wajahnya serius.


Dua orang yang menyerang dia, melayang mundur kearah pinggir


sejauh dua zhang lebih. "Shi bersaudara." Katanya dengan suara dalam, "jangan membuat aku marah, Telapak Penghancur Hati kalian berdua bukan kepandaian


hebat, jika ingin memecahkan hawa pelindungku, kalian berdua masih harus berlatih keras sepuluh tahun lagi."


Orang bermarga Shi yang disebelah kanan membalikan tubuh


pergi, berjalan selangkah-selangkah dengan susah, pinggangnya


sudah tidak bisa tegak lagi. Orang yang ada di sebelah kiri lebih


mending sedikit, tapi tampak langkahnya mengambang.


Pelan-pelan Fu Ke-wei membalikan tubuh, sepasang mata


macannya bersinar menatap ke arah mulut gang sebelah kanan


jalan yang berada sepuluh langkah lebih.


"Telapak Besi Pedang Dewa (Tie-zhang-shen-jian) Li Hoaxin, kau pernah menggunakan Telapak Besi menyerangku." Dia membuka kipas lipat,


"sekarang, sekarang kau boleh menggunakan pedang melakukan serangan terhebatmu, kedahsyatan tiga jurus Bulan Turun Bintang Tenggelam


milikmu, sulit ditemukan tandingannya di dunia, kipas lipat aku ini mungkin tidak dapat menahannya! Malam itu dibangunan peristirahatan sebelah utara kota, kau bersembunyi di palang atap bangunan, melakukan serangan maut, hampir saja menghancurkan isi perutku, pedangmu tentu lebih lihay di bandingkan dengan telapakmu. Majulah, aku menunggumu."


Tie-zhang-shen-jian, Li Hoa-xin menampakkan diri, pelanpelan


maju ke tengah jalan menghadang, dengan satu siulan naga,


pedang panjang telah keluar dari sarungnya.


"Tuan, kau sungguh tidak bisa melepaskannya?" tanya Li


Hoa-xin menggigit gigi. "Aku tidak melakukan hal yang ada kepala tidak ada

__ADS_1


ekornya." Katanya dengan nada dalam.


"Lima ribu liang perak, menukar syarat adikku


menyerahkan diri pada polisi."


"Maaf, aku tidak bisa terima."


"Sebenarnya kau mau apa?" Tanya Li Hoa-xin nadanya


menjadi keras. "Meminta keadilan."


"Tidak ada jalan perdamaian?"


"Betul, tidak bisa ditawar lagi." katanya dengan tegas.


"Kau mendesak keluarga Li melakukan hal yang terpaksa harus


dilakukan." "Apakah keluarga Li tidak bisa menerimanya?"


"Hm! Anda terlalu mendesak orang, keluarga Li akan


menghadapimu sampai titik darah terakhir." Kata Li Hoa-xin


menggigit gigi, "tuan, kau tidak akan bisa meninggalkan


Xiang-yang hidup-hidup."


Pedang telah diulurkan, siulan naga samar-samar


terdengar. Angin sungai telah membuyarkan hawa panas yang keluar dari


tanah, hawa pembunuhan yang pekat sepertinya menimbulkan rasa


dingin. Di ujung jalan sebelah sana, beberapa orang pejalan kaki


buru-buru menghindar. Dalam sekejap, disekitar menjadi hening menakutkan orang,


tadinya di beberapa rumah ada sinar yang keluar dari pintu, tapi


Dua orang berjarak sepuluh langkah lebih, satu pedang satu


kipas berhadapan dari jauh.


Fu Ke-wei memperhatikan keadaan sekelilingnya, di dalam hati


timbul rasa curiga. Menurut keadaan, ilmu silatnya Li Hoa-xin masih belum termasuk


pesilat tinggi di dalam pesilat tinggi dunia persilatan, lebih lemah sedikit dari pada Shuang-jie-shu-sheng, setara dengan Tamu Awan Shi (Ke


Yun-shi) bersaudara yang tadi mundur karena terluka, mana mungkin


berani bertarung satu lawan satu"


Dia telah mencium bahaya, dia sedikit tidak tenang, tubuhnya


terasa sedikit dingin, satu tekanan yang tidak nampak yang


hanya bisa dirasakan oleh perasaan, seperti gelombang


menghantam dia. Beberapa bulan ini, dia menyembunyikan diri untuk mengejar


ketua Benteng Naga Langit Lu-zhao, dia bukan saja menyimpan


pedangnya, juga telah menyembunyikan pisau Xiu-luo, supaya tidak


menimbulkan perhatian orang, dan mengetahui siapa dirinya.


Saat ini, dia telah mencium bahaya, sayang dirinya tidak ada


senjata dan senjata rahasia yang bisa dipergunakan.


Buug... tiba-tiba terdengar satu suara, satu pukulan yang keras


mengenai punggungnya. Baru saja timbul kewaspadaan, dan baru saja tenaga dalam


dikumpulkan, di saat sekejap tenaga dalam terkumpul akan

__ADS_1


digunakan, sebuah pukulan dahsyat yang keras sekali mengenai


tubuhnya, hampir saja membuyarkan tenaga dalamnya.


Tubuhnya tergoyahkan, tubuh atasnya membungkuk


kedepan. Dalam sekejap ini, di dalam hati satu pikiran seperti kilat muncul, begitu pikiran muncul langsung dia bergerak, mengikuti


gerakannya, dia menerkam kedepan, sepasang tangan menyentuh


tanah, tubuh digulungkan, dengan kecepatan seperti kilat, dengan


indahnya berguling kedepan, sampai di bawah kaki Li Hoa-xin.


Sebutir bola baja sebesar telur merpati setelah mengenai


punggungnya, jatuh ketanah, berguling kesisinya.


Empat butir bola baja yang sama, mengenai kedua sisi tempat dia


menerkam ke depan, masuk ke dalam tanah yang keras, meninggalkan


lubang yang dalam sekali. Jika dia setelah menyentuh tanah berguling kekiri atau kanan, pasti akan terkena bola baja yang ditembakan


kemudian. Saat bola baja ketiga masuk kedalam tanah, baru terdengar suara


tali busur yang seperti suara angin kencang.


Dalam sekejap ini, terdengar suara teriakan dalam seperti suara


guntur di dalam goa. Muncul empat bayangan orang dari tempat gelap dari kedua sisi


kaki tembok, dua batang tongkat tembaga dan dua bilah pedang


bersamaan waktunya bersatu, dua panjang dua


pendek dahsyatnya seperti geledek.


Pedang Li Hoa-xin juga mendadak menyerang.


Tenaga yang seperti sebesar gunung mengenai tubuhnya, suara


letusan yang terbekam menggetarkan hati orang.


Tubuhnya yang digulung mendadak berhenti, lalu berguling lagi ke


depan. Dua buah tongkat tembaga mental tinggi sekali, dua bilah


pedang panjang ada satu yang patah, yang satu lagi masuk kedalam


tanah satu chi lebih. Pedang Li Hoa-xin mental ke atas, orangnya pun meloncat keatas,


membiarkan Fu Ke-wei berguling di bawah kakinya, lalu dengan


keras dia mencoba menginjaknya ke bawah.


Dalam sekejap ini, kipas tilap menyabet keluar dari gerakan


gulingannya. Perubahan yang terjadi cepat sekali, perubahan yang


berturut-turut tampak panjang diceritakan, sebenarnya


berlangsung dalam waktu sekejap terjadinya.


Setelah punggung Fu Ke-wei terkena bola baja, sampai dalam


bergulingnya menyabetkan kipas tilap, walau pun di siang hari, orang yang menonton di pinggir juga sulit melihat jelas perubahannya,


reaksinya semua terjadi secara reflek, semua ini adalah gerakan


terbaik dari kumpulan pengalamannya, ketepatannya sungguh


membuat orang kagum. Fu Ke-wei yang diserang hingga mempercepat bergulingnya,


seluruh gulingannya ada enam kali, terakhir tangan dan kakinya


dilemaskan, dia berguling lagi ke pinggir dua kali, sepertinya seluruh tulang tubuhnya telah terlepas.

__ADS_1


__ADS_2