
Li Jian-jian mengeluh panjang, dengan putus asa pamit pergi
meninggalkan rumah makan.
Sesudah waktunya menyalakan lampu, Fu Ke-wei dengan
setengah mabuk, melangkah keluar dari rumah makan menuju tengah
kota. Dari jalan Fan Hou keluar dua orang, yang langkahnya cepat.
Di mulut gang, di depan ada bayangan orang, dalam
kegelapan malam sulit melihat dengan jelas wajahnya.
Fu Ke-wei perlahan melangkah maju, di ujung timur jalan ini,
orang yang berjalan di malam hari tidak banyak, lampu di pintu
rumah sedikit sekali yang menyala, kegelapan terasa sangat tidak
enak. Dua orang yang mengikuti dari belakang semakin mendekat,
sedikit pun tidak terdengar suara langkahnya.
Fu Ke-wei mendehem sekali, mendadak berhenti.
Satu teriakan dalam terdengar, bayangan orang itu bergerak,
dua orang yang mengikuti dari belakang telah menerkam dia, saat
dia menghentikan langkahnya, teriakan dalam itu adalah keluar
dari mulut dia. : Buug...paak... terdengar dua suara keras, hawa kuat
bergelombang menyebar, bayangan yang bersatu seperti kilat
berpisah, suara suitan dari gelombang udara sangat mengejutkan
orang. Fu Ke-wei berada di tempatnya dengan sikap berjaga-jaga, kipas
lipatnya diulurkan miring, telapak kiri tegak di depan dada, wajahnya serius.
Dua orang yang menyerang dia, melayang mundur kearah pinggir
sejauh dua zhang lebih. "Shi bersaudara." Katanya dengan suara dalam, "jangan membuat aku marah, Telapak Penghancur Hati kalian berdua bukan kepandaian
hebat, jika ingin memecahkan hawa pelindungku, kalian berdua masih harus berlatih keras sepuluh tahun lagi."
Orang bermarga Shi yang disebelah kanan membalikan tubuh
pergi, berjalan selangkah-selangkah dengan susah, pinggangnya
sudah tidak bisa tegak lagi. Orang yang ada di sebelah kiri lebih
mending sedikit, tapi tampak langkahnya mengambang.
Pelan-pelan Fu Ke-wei membalikan tubuh, sepasang mata
macannya bersinar menatap ke arah mulut gang sebelah kanan
jalan yang berada sepuluh langkah lebih.
"Telapak Besi Pedang Dewa (Tie-zhang-shen-jian) Li Hoaxin, kau pernah menggunakan Telapak Besi menyerangku." Dia membuka kipas lipat,
"sekarang, sekarang kau boleh menggunakan pedang melakukan serangan terhebatmu, kedahsyatan tiga jurus Bulan Turun Bintang Tenggelam
milikmu, sulit ditemukan tandingannya di dunia, kipas lipat aku ini mungkin tidak dapat menahannya! Malam itu dibangunan peristirahatan sebelah utara kota, kau bersembunyi di palang atap bangunan, melakukan serangan maut, hampir saja menghancurkan isi perutku, pedangmu tentu lebih lihay di bandingkan dengan telapakmu. Majulah, aku menunggumu."
Tie-zhang-shen-jian, Li Hoa-xin menampakkan diri, pelanpelan
maju ke tengah jalan menghadang, dengan satu siulan naga,
pedang panjang telah keluar dari sarungnya.
"Tuan, kau sungguh tidak bisa melepaskannya?" tanya Li
Hoa-xin menggigit gigi. "Aku tidak melakukan hal yang ada kepala tidak ada
__ADS_1
ekornya." Katanya dengan nada dalam.
"Lima ribu liang perak, menukar syarat adikku
menyerahkan diri pada polisi."
"Maaf, aku tidak bisa terima."
"Sebenarnya kau mau apa?" Tanya Li Hoa-xin nadanya
menjadi keras. "Meminta keadilan."
"Tidak ada jalan perdamaian?"
"Betul, tidak bisa ditawar lagi." katanya dengan tegas.
"Kau mendesak keluarga Li melakukan hal yang terpaksa harus
dilakukan." "Apakah keluarga Li tidak bisa menerimanya?"
"Hm! Anda terlalu mendesak orang, keluarga Li akan
menghadapimu sampai titik darah terakhir." Kata Li Hoa-xin
menggigit gigi, "tuan, kau tidak akan bisa meninggalkan
Xiang-yang hidup-hidup."
Pedang telah diulurkan, siulan naga samar-samar
terdengar. Angin sungai telah membuyarkan hawa panas yang keluar dari
tanah, hawa pembunuhan yang pekat sepertinya menimbulkan rasa
dingin. Di ujung jalan sebelah sana, beberapa orang pejalan kaki
buru-buru menghindar. Dalam sekejap, disekitar menjadi hening menakutkan orang,
tadinya di beberapa rumah ada sinar yang keluar dari pintu, tapi
Dua orang berjarak sepuluh langkah lebih, satu pedang satu
kipas berhadapan dari jauh.
Fu Ke-wei memperhatikan keadaan sekelilingnya, di dalam hati
timbul rasa curiga. Menurut keadaan, ilmu silatnya Li Hoa-xin masih belum termasuk
pesilat tinggi di dalam pesilat tinggi dunia persilatan, lebih lemah sedikit dari pada Shuang-jie-shu-sheng, setara dengan Tamu Awan Shi (Ke
Yun-shi) bersaudara yang tadi mundur karena terluka, mana mungkin
berani bertarung satu lawan satu"
Dia telah mencium bahaya, dia sedikit tidak tenang, tubuhnya
terasa sedikit dingin, satu tekanan yang tidak nampak yang
hanya bisa dirasakan oleh perasaan, seperti gelombang
menghantam dia. Beberapa bulan ini, dia menyembunyikan diri untuk mengejar
ketua Benteng Naga Langit Lu-zhao, dia bukan saja menyimpan
pedangnya, juga telah menyembunyikan pisau Xiu-luo, supaya tidak
menimbulkan perhatian orang, dan mengetahui siapa dirinya.
Saat ini, dia telah mencium bahaya, sayang dirinya tidak ada
senjata dan senjata rahasia yang bisa dipergunakan.
Buug... tiba-tiba terdengar satu suara, satu pukulan yang keras
mengenai punggungnya. Baru saja timbul kewaspadaan, dan baru saja tenaga dalam
dikumpulkan, di saat sekejap tenaga dalam terkumpul akan
__ADS_1
digunakan, sebuah pukulan dahsyat yang keras sekali mengenai
tubuhnya, hampir saja membuyarkan tenaga dalamnya.
Tubuhnya tergoyahkan, tubuh atasnya membungkuk
kedepan. Dalam sekejap ini, di dalam hati satu pikiran seperti kilat muncul, begitu pikiran muncul langsung dia bergerak, mengikuti
gerakannya, dia menerkam kedepan, sepasang tangan menyentuh
tanah, tubuh digulungkan, dengan kecepatan seperti kilat, dengan
indahnya berguling kedepan, sampai di bawah kaki Li Hoa-xin.
Sebutir bola baja sebesar telur merpati setelah mengenai
punggungnya, jatuh ketanah, berguling kesisinya.
Empat butir bola baja yang sama, mengenai kedua sisi tempat dia
menerkam ke depan, masuk ke dalam tanah yang keras, meninggalkan
lubang yang dalam sekali. Jika dia setelah menyentuh tanah berguling kekiri atau kanan, pasti akan terkena bola baja yang ditembakan
kemudian. Saat bola baja ketiga masuk kedalam tanah, baru terdengar suara
tali busur yang seperti suara angin kencang.
Dalam sekejap ini, terdengar suara teriakan dalam seperti suara
guntur di dalam goa. Muncul empat bayangan orang dari tempat gelap dari kedua sisi
kaki tembok, dua batang tongkat tembaga dan dua bilah pedang
bersamaan waktunya bersatu, dua panjang dua
pendek dahsyatnya seperti geledek.
Pedang Li Hoa-xin juga mendadak menyerang.
Tenaga yang seperti sebesar gunung mengenai tubuhnya, suara
letusan yang terbekam menggetarkan hati orang.
Tubuhnya yang digulung mendadak berhenti, lalu berguling lagi ke
depan. Dua buah tongkat tembaga mental tinggi sekali, dua bilah
pedang panjang ada satu yang patah, yang satu lagi masuk kedalam
tanah satu chi lebih. Pedang Li Hoa-xin mental ke atas, orangnya pun meloncat keatas,
membiarkan Fu Ke-wei berguling di bawah kakinya, lalu dengan
keras dia mencoba menginjaknya ke bawah.
Dalam sekejap ini, kipas tilap menyabet keluar dari gerakan
gulingannya. Perubahan yang terjadi cepat sekali, perubahan yang
berturut-turut tampak panjang diceritakan, sebenarnya
berlangsung dalam waktu sekejap terjadinya.
Setelah punggung Fu Ke-wei terkena bola baja, sampai dalam
bergulingnya menyabetkan kipas tilap, walau pun di siang hari, orang yang menonton di pinggir juga sulit melihat jelas perubahannya,
reaksinya semua terjadi secara reflek, semua ini adalah gerakan
terbaik dari kumpulan pengalamannya, ketepatannya sungguh
membuat orang kagum. Fu Ke-wei yang diserang hingga mempercepat bergulingnya,
seluruh gulingannya ada enam kali, terakhir tangan dan kakinya
dilemaskan, dia berguling lagi ke pinggir dua kali, sepertinya seluruh tulang tubuhnya telah terlepas.
__ADS_1