Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 37


__ADS_3

Shuang-jie-shu-sheng Luo Wen-jing berdiri dua zhang lebih,


wajahnya sedikit tegang, dia menatap pada Fu Ke-wei, tangannya


memegang pegangan pedang, diam-diam memusatkan tenaga


dalamnya, ber-siap-siap. "Siapa nama tuan, bisakah beritahu?" tanya Shuang-jieshu-sheng dengan nada dalam.


"Aku marga Fu, Fu-xian. Bisa diselidik dari buku daftar tamu di penginapan, seorang persilatan kecil yang tidak punya nama."


"Beberapa hari lalu digunung Xian, anda mengaku sebagai orang pengantar surat, kenapa malah melibatkan diri dalam permusuhan


antara Nan-yang-ba-jie dengan tuan besar Li" Jelas anda adalah


orang yang membantu Nan-yang-ba-jie." Kata


Shuang-jie-shu-sheng dengan nada menyalahkan.


"Kau sepertinya mudah lupa, aku sudah beberapa kali mengatakan tidak kenal dengan Nan-yang-ba-jie, juga selamanya tidak akan


membela penguasa setempat di seluruh dunia." Fu Ke-wei tertawa tawar, "kau Shuang-jie-shu-sheng cukup ternama di dunia persilatan, namanya juga tidak buruk, makanya, aku pernah menitipkan pesan


pada Bandit Tai untukmu, jika Bandit Tai tidak menyampaikan


pesannya, pasti kau tidak memandang persahabatan, merasa diri


benar, tidak memandang niat baikku, tidak mau pergi ke kabupaten


Ye menyelidiki kejadian sebenarnya, tuan, aku sangat menyayangi


mu!" "Aku selalu punya pendirian, tidak perlu dinasihati orang," Kata Shuang-jie-shu-sheng tertawa dingin, "apa yang telah kau lakukan pada Tuan kedelapan Jin?"


"Masalah kecil, mengunci jalan darah dia, aku ingin dia menyesal selamanya, jika kalian tidak mampu dan tidak bisa membuka


kuncian-nya, gotonglah dia ke gunung Wu-dang, mungkin para tetua


Wu-dang dapat menolong dia. Wu-dang adalah nenek moyangnya


tenaga dalam di dunia persilatan, mungkin tahu cara membuka


penguncianku." Yu-mien-el-lang Li Hoa-rong mencabut pedangnya, wajah penuh


dengan hawa membunuh. "Tenang saudara Hoa Rong." Luo Wen-jing mengulurkan tangan menghalangi, "tanya dulu apa keinginannya, kemunculan dia pasti bukan tidak disengaja, aku telah pastikan dia adalah orangnya


Nan-yang-ba-jie." "Tidak perduli apa niatku, hari ini kalian tidak akan bisa lolos." Ujung alis dan sudut mata Fu Ke-wei tampak penuh hawa pembunuhan, "kalian ibarat ular setempat, menghadapi aku naga kuat, kecuali menyelesaikan dengan ilmu silat, tidak ada jalan lain lagi. Shuang-jie-shu-sheng yang bermarga Luo, perbuatanmu hari ini, sungguh membuat aku putus


harapan, semua akibatnya, kau harus bertanggung jawab."


"Kenapa kau putus harapan?"


"Kau hanyalah pengelana Jiang-hu yang penjilat,


membantu penjahat yang kuat, tidak pantas disebut


Sastrawan." "Apa" Kau......"


Luo Wen-jing saking marahnya hampir saja sampai


meloncat. "Jangan bicara dulu, Selain memfitnah, menuduh aku adalah


orangnya Nan-yang-ba-jie."


Di sudut mulut Fu Ke-wei tampak tawa dingin yang sulit ditebak,

__ADS_1


"Jin-ba-dou menghina aku, anda melihat dengan mata kepala sendiri, siapa benar siapa salah, kau seharusnya sangat jelas, tapi aku tidak melihat kau tampil keluar mengatakan kata-kata adil, aku malah


melihat kau sedang membantu seorang penguasa jahat setempat


melakukan kejahatan. Orang-orang aliran putih dunia persilatan jika semuanya sepertimu, bukankah benar dan salah tidak bisa


dipisahkan, hitam putih tidak dibedakan, menjadi dunia binatang.


Kau mengandalkan apa pantas disebut Sastrawan" Mengandalkan


apa pantas menyebut diri dari aliran putih?"


Kata-kata ini sangat berat, wajah Luo Wen-jing merah


sampai ke telinga, dia tidak dapat berkata-kata.


"Aku adalah teman keluarga Li, anda menuduh aku membantu kejahatan itu tidak adil." Shuang-jie-shu-sheng Luo Wen-jing memaksakan diri membela diri, "dua jagoan dari Xiang-yang dengan Nan-yang, salju membeku tiga chi bukan karena dingin sehari, mereka telah bermusuhan bertahuntahun, menyelidiki siapa benar siapa salah, saat ini sudah tidak ada artinya. Huo-bao-ing dan Bu-fei-khe adalah orangnya Nan-yang-ba-jie, aku adalah temannya keluarga Li, demi teman dua iga ditancap pisau tidak masalah bagiku, hari ini, Jin-ba-dou walau punya salah, tapi anda pun harus mengerti, anda menggunakan cara ini menjebak Jin-ba-dou, itu adalah hal kenyataan yang tidak dapat dibantah, malah juga menarik aku tambah terjerumus, sungguh keji."


"Itu adalah pikiranmu sendiri."


"Kau......" "Kau telah naik ke punggung harimau, satu satunya cara menutupi, yaitu tetap menuduh aku adalah orangnya Nanyang-ba-jie, hingga punya alasan membantu penjahat setempat melakukan kejahatan, tidak perlu perdulikan siapa benar siapa salah, yang mana hitam yang mana putih."


Fu Kewei sedikit pun tidak memberi ampun langsung menyerang


kelemahan lawan, "dengan cara apa pun aku membuktikan bukan


orangnya Nan-yang-ba-jie, kau juga tetap tidak percaya."


"Asalkan kau dapat mengeluarkan satu bukti kuat......"


"Apa yang dimaksud dengan bukti kuat?"


"Aku ingin menahan dua orang ini." Luo Wen-jing menunjuk pada dua orang yang aneh, "aku ingin dari mulut mereka,


"Ha ha ha ha......" Fu Ke-wei tertawa keras menengadah.


"Mengapa tertawa?" tanya Shuang-jie-shu-sheng dengan tidak senang.


"Kau kira kau ini siapa" Apakah tuan langit?" Fu Ke-wei mengolok,


"maka, jika bukan gila, kau pasti idiot. Puuh! Wajah dan mulutmu yang tidak mau kalah ini, sungguh membuat orang tidak bisa


menerimanya." "Kau......" "Hidup matinya dirimu masih belum bisa diramalkan, malah berkhayal dari mulut kedua orang tua menentukan hidup matinya aku. Aku lihat kau sudah terlalu banyak makan jadi sakit perut, hatimu tertutup minyak, sampai dirimu punya permainan apa juga tidak bisa membedakannya,


aku kasihan padamu, tuan."


Luo Wen-jing yang didesak oleh kata-kata ini jadi sewot, dengan


teriakan kemarahan dia mengulur tangan mencabut pedang.


Baru saja pedang keluar sarung, belum sempat diayunkan,


perubahan besar telah terjadi.


Pedang Fu Ke-wei, tiba-tiba dengan kecepatan yang tidak bisa di


lihat mata, seperti kilat menusuk, ujung pedang tibatiba telah


menempel di tenggorokan Shuang-jie-shu-sheng Luo Wen-jing.


Huo-bao-ing dan Bu-fei-khe yang berada tiga zhang lebih


jauhnya, malah tidak melihat bagaimana cara Fu Ke-wei

__ADS_1


menghampiri Shuang-jie-shu-sheng Luo Wen-jing, mereka hanya


melihat bayangan orang berkelebat, langsung sudah melampaui


jarak satu zhang lebih, kecepatan gerakannya sampai tidak bisa


diikuti dengan jelas. Dua orang persilatan yang banyak pengalaman itu mulutnya


sampai menganga tidak bisa bicara, mereka saling melihat, bulu


kuduknya jadi berdiri. Luo Wen-jing juga merasa ketakutan, saking ketakutan nafasnya


seperti berhenti, tadinya dia berani menepuk dada, merasa dia


tercepat dalam kecepatan mencabut pedang, jarak antara keduanya


ada kira-kira satu zhang tujuh delapan chi, kecepatan orang mendekat tidak mungkin bisa lebih cepat dari dia mencabut pedang, tapi


sekarang, ternyata sampai bayangan orangnya saja tidak terlihat


jelas, tahu-tahu ujung pedang yang tajam, dingin sudah menempel di tenggorokannya!


"Jangan gelisah." Fu Ke-wei tertawa dingin, "aku tidak akan semudah ini membunuh mu, aku pasti akan memberi satu


kesempatan bertarung adil denganmu, aku akan menggunakan cara


yang benar, supaya nama Shuang-jie-shusheng dengan baik-baik


terhapus di dunia persilatan."


Habis bicara, pelan-pelan dia mundur kembali, selangkah demi


selangkah dengan mantap, wajahnya serius, sepasang mata macan


bersinar dingin menakutkan orang, setiap saat siap menghadapi


serangan Shuang-jie-shu-sheng.


Shuang-jie-shu-sheng Luo Wen-jing tidak berani menyerang,


di bawah sorot mata lawannya yang dingin berwibawa hatinya


menjadi dingin, keberaniannya sudah hilang tertiup angin.


Didalam kerumunan penonton di sebelah kanan, kira-kira tiga


zhang lebih, tiba-tiba terdengar satu teriakan yang dingin sekali, setiap kata-katanya menggetarkan gendang telinga:


"Balikan tubuhmu, akan kupakai senjataku membunuhmu."


Fu Ke-wei tidak membalikan tubuhnya, dengan nada yang sama


berkata: "Bandit Tai, jangan teriak-teriak seperti kucing, anjing, setiap saat kau boleh menyerang dengan garpu terbangmu, senjatamu


hanya bisa menakuti orang persilatan kelas tiga.


Aku katakan sebelimnya, saat kau menyerang dengan garpu


terbang, itulah saatnya mengumumkan Bandit Tai Qiaozhuang mati.


Prinsipku dalam bertarung, aku tidak mengizinkan siapa pun


menyerang untuk kedua kalinya."

__ADS_1


__ADS_2