Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 75


__ADS_3

Penginapan Yue-lai lebih besar dari pada penginapan Yung-an,


lapangan di depan penginapannya juga sangat luas, disediakan


tempat parkir kereta dan tempat mengikat kuda, memudahkan tamu


memarkir kereta atau mengikat kuda.


Ini adalah perusahaan angkutan kereta keledai Tai-an di Tai-yuan,


kereta angkutan orang mempunyai rute utara-utara.


"Di sini adalah pos istirahat." Kusir utama memberitahu pada penumpang di dalam terpal kereta, "di sini kita istirahat satu jam, para penumpang bisa makan dulu, menambahkan isi kantong airnya, pos


berikutnya kira-kira tiga puluh li, baru ada persediaan air minum."


Penumpang kereta semuanya ada enam belas orang,


diantaranya ada tiga orang wanita.


Semua penumpang telah masuk ke ruangan makan


penginapan Yue-lai. Ruang makannya sangat luas, tadinya ada sembilan tamu makan,


setelah ditambah enam belas orang yang baru datang, hanya


memenuhi setengah lebih. Fu Ke-wei tidak sengaja mengangkat kepala nya, alisnya


mengerut, menatap beberapa tamu yang baru datang yang berada


di tenda peneduh di luar penginapan Yue-lai, samarsamar


terdengar derap telapak kaki kuda yang berlari cepat!


Sepertinya ada sekelompok besar kuda datang dari utara,


seperti bukan melakukan perjalanan jauh, tapi ingin cepatcepat


sampai di tujuan. Kali ini tamu yang baru datang di depan pintu penginapan Yue-lai


semuanya ada empat orang.


Seorang memakai rok putih, dengan jubah seputih es, wanita muda


yang cantik, dua orang pelayannya laki dan perempuan setengah


baya, dan satu orang pelayan wanita kecil yang juga berbaju pendek putih bulan, usia tiga-empat belas tahun.


Wanita muda memakai rok putih itu membawa pedang,


sedang pelayan laki-laki dan perempuan membawa golok.


Karena empat orang ini membawa pecut kuda yang bagus, jadi


datangnya pasti naik kuda.


Empat orang itu sepertinya tidak berniat masuk ke penginapan


Yue-lai, dari luar penginapan mereka memandang kearah utara,


seperti tertarik oleh sekelompok besar kuda yang sedang mendatangi, dengan perasaan ingin tahu dia berhenti mengawasi.


"Kenapa dia datang ke daerah Shan-xi?" Fu Ke-wei berguman, juga seperti bertanya pada Ouw Yu-zhen, "apakah sudah bosan


melihat pemandangan indah di Jiang-nan?"

__ADS_1


Baru saja Ouw Yu-zhen akan menjawab, terdengar suara gemuruh


telapak kuda, tiga puluh lebih kuda sudah tiba di luar penginapan


Yue-lai, tiga puluh dua penunggang kuda itu membagi jadi dua


kelompok, turun dari kuda dengan cepat dan menutup gerbang


penginapan. Setengah lainnya, memenuhi lapangan parkir.


"Hayo masuk!" Pemimpin penunggang kuda itu berkata pada kelompok wanita


muda memakai rok putih yang berada diluar penginapan, dengan


suara dalam memerintahkan, sikapnya sangat kasar.


"Apa..." Kau memerintah aku?" Wanita cantik itu mengangkat alis hitamnya, matanya menyorot galak, "kalian ini, perampok


Jin-nan mana..." Berani sekali!"


Kata-katanya angkuh, tajam dan berani. Wajah sepuluh lebih


penunggang kuda itu berubah, mereka merasa diluar dugaan!


Orang yang berkelana di dunia persilatan harus hati hati


terhadap tiga macam orang, adalah para pendeta, wanita anak


kecil, orang cacat, bertemu dengan orang macam ini, jangan


sembarangan berselisih, sebab akibatnya bisa merepotkan.


Para penunggang kuda itu tentu saja tahu akan hal ini, tapi ibarat telah menunggang macan, sulit buat turun kembali, di hadapan orang banyak mendapat umpatan seorang wanita, mau ditauh dimana


wajahnya" Tentu saja, mereka tidak tahu asal-usul wanita ini, lebihlebih tidak tahu wanita cantik ini adalah pesilat tinggi di antara pesilat tinggi generasi muda. Jadi mereka menganggap wanita yang tidak punya


Amarah telah menghilangkan pikiran sehatnya, laki-laki


penunggang kuda itu tanpa berpikir panjang sebelah tangannya


diayunkan menampar. Tapi reaksi wanita ini cepat laksana kilat, dia juga melayangkan


sebelah tangannya. Buug... terdengar satu suara keras!


Laki-laki penunggang kuda itu mundur tiga langkah.


"Kau cari mati!"


Wanita itu berteriak dingin, sekelebat sudah sampai, tangannya


kembali melayang, lalu seperti ada tenaga air bah yang mendorong, samar-samar terdengar suara geledek!


Laki-laki penunggang kuda tidak ada pilihan lain, dia meningkatkan kewaspadaannya, menggunakan teknik menghindar pukulan dan


menyerang begitu ada kesempatan, sekejap berturut-turut menangkis


tujuh serangan telapak lawannya, berganti sembilan kali kedudukan, terakhir lengan kanannya terkena sekali pukulan telapak, mengambil kesempatan ini dia meloncat keluar satu zhang lebih, wajahnya menjadi hijau dingin, jari tangan kanannya terasa tidak bisa digerakan lagi.


Serangan cepat dalam sekejap ini, sepuluh lebih penunggang


kuda yang menonton di pinggir sama sekali tidak bisa melihat


dengan jelas gerakannya, semua menjadi bengong, sepertinya


masih tidak percaya pemimpinnya telah dikalahkan orang.

__ADS_1


Walau jarak Fu Ke-wei dua puluh zhang lebih, malah


melihatnya dengan jelas, tidak tahan diam-diam dia


menganggukan kepala. "Kau telah berlatih tenaga dalam Putaran Hawa Murni, tidak aneh bisa menerima pukulan-ku." Wanita itu juga tidak memburu


menyerang lebih lanjut, tadi dia menyerang sepenuh tenaga, telah


menghabiskan tenaga dalam tidak sedikit, "bersiaplah, aku akan menggunakan jurus hebat lainnya supaya kau tidak menyesal seumur


hidup." "Aku juga akan menggunakan kepandaian-ku menghajarmu!" kata laki-laki penunggang kuda menggigit gigi, dia tidak menggunakan


telapaknya lagi, sepuluh jarinya di tekukan, keluar bunyi tulang buku seperti batu beradu, "siapa yang menyesal akan segera ketahuan."


Wanita itu juga menggunakan cakarnya menyerang, tangan dia


seperti cakar kucing atau seperti cakar rase.


Pertarungan segera akan terjadi lagi, puluhan penunggang kuda


yang ada di luar lingkaran tiba-tiba membagi dua, keluarlah dua orang, seorang pendeta dao dan seorang biasa, keduanya sudah setengah


baya lebih, lagaknya sangat sombong sekali.


"Keponakan jangan gegabah!" Pendeta tua dao itu mencegah, suaranya keras sekali, jelas sedang memamerkan kepandaiannya,


setiap kata terdengar di telinga seperti pukulan palu, "tenaga dalam hawa pelindung tidak akan bisa menahan tenaga dalam Langit Besar


wanita muda ini." "Sungguh generasi penerus yang pantas di acungi jempol!" kata orang tua yang berbaju biasa, mata elangnya bersinar sambil tertawa dingin, "ketua vihara Mei-hoa sungguh beruntung, telah berhasil mendidik murid sehebat ini, tujuh tahun ternama di dunia persilatan, nona jarang datang ke daerah tengah, tidak diduga malah muncul di


Shan-xi, membuat orang tidak bisa berpikir."


Dilihat dari wajahnya, murid kesayangan ketua vihara Meihoa ini,


memang seperti gadis dua puluh tahun, tapi jika telah ternama selama tujuh tahun, tidak mungkin usianya dua puluh tahun.


"Tuhan maha besar!" Pendeta dao tua itu juga berpurapura,


"Hoa-fei-hoa (Bunga bukan bunga) Hoa Yu-ji, jangan ikut campur masalah benteng Zhang-feng" Walau kau ada kemampuan


membalikan dunia, bagaimana pun kau seperti naga bermain di air


dangkal. Jika kau benar-benar mau ikut campur, aku akan


menggunakan tenaga dalam Hawa Setan, mencoba tenaga dalam


Langit Besar mu, aku ingin tahu, apakah benar kemampuanmu bisa


menghancurkan bumi."


Wajah Hoa Yu-ji berubah, kesombongannya jadi hilang


setengah. "Kiranya pendeta dao adalah Shan-xian-tai-yi dari Zhongtiao." Kata Hoa Yu-ji, tangannya pelan-pelan telah memegang pegangan pedang,


setiap saat mungkin akan mencabutnya, "aku tidak pernah mengurusi masalah orang lain, aku Hoa Yuji tidak ada keinginan jadi seorang


pendekar. Aku tidak perduli, tapi orang lancang ini siapa dia, dia lah yang bodoh berani menantang dan menghina aku. Kau


Shan-xian-tai-yi dari Zhong-tiao tidak bisa menakuti aku, benteng


Zhang-feng di gunung Li-liang juga hanya bisa menakuti orang


Shan-xi. Hari ini dalam hal kebenaran, aku harus minta keadilan,


hm...!" Nadanya tetap tegas, dan juga penuh dengan perasaan tidak

__ADS_1


rela. Di dunia persilatan, banyak bermunculan pesilat tinggi.


__ADS_2