
Di hilir kabupaten Huan-chang barat laut aliran sungai
tengah, ada sederetan pulau pasir.
Que-zhou adalah salah satu pulau pasir terbesar, dari atas mulai
dari Tong-ling, sampai ke bawah San-jiang, berderet sepanjang
puluhan li, membagi aliran sungai jadi beberapa cabang aliran.
Diatas pulau pasir ada beberapa dusun, rumput dan pepohonan
subur, terdapat banyak bermacam-macam burung air, bukan saja
dapat melihat kelompok burung gereja, kadang bisa menangkap
angsa yang beratnya sepuluh jin lebih.
Dusun tiga rumah di barat laut pulau pasir semuanya adalah
pemburu, hidupnya mengandalkan dari memburu burung air.
Rumah yang paling u lara, didepan pintu ada lapangan luas,
sekelilingnya ditanam banyak pohon Liu.
Hari ini saat fajar, orang didalam rumah belum bangun, diluar
rumah tiba-tiba terdengar satu siulan panjang, suaranya menerjang
kelangit, mengejutkan kelompok besar burung air yang terbang diatas langit.
Pintu papan yang berat dibuka, keluar seorang setengah baya,
ditangannya memegang pedang panjang, melihat kesekeliling,
matanya terlihat terkejut, dengan matanya memeriksa keadaan
sekeliling. Tidak jauh dari kiri di belakang pohon Liu, melangkah keluar Fu
Ke-wei dengan baju biru melambai-lambai, di wajahnya tampak tawa
yang sulit ditebak, dia menggendong tangan dengan tenangnya,
selangkah demi selakah mendekat kepintu, tingkahnya yang
anggun, persis seperti seorang penggede yang berkuasa.
"Siapa?" orang setengah baya terkejut bertanya.
"Teman lama." Fu Ke-wei tertawa, "aku adalah teman baiknya
nona Yan-fang. katakan sedikit kasar, adalah tamu baik atau tamu
hidung belang dia. Saudara, merepotkanmu pergi melaporkan, dia
tidak akan menolak bertemu denganku."
"Iii! Kau...kau ini..."
"Seharusnya kau tahu asal-usulku dan tujuanku datang
kemari." Dari dalam pintu keluar empat orang, di antaranya ada Yan-fang
yang menyamar jadi laki-laki, dan yang menyamar orang tua,
tangan-nya memegang seruling palsu sepanjang dua chi dua cun.
Dua orang lainnya sama berusia setengah baya, wajahnya galak
sangat tegap, semua orang membawa senjata.
"Ternyata kau!" teriak Yan-fang yang menyamar laki-laki
terkejut, "orang-orang kami di Wu-hu semuanya hilang misterius,
pasti telah dibunuh olehmu."
"Makanya aku bisa mencari sampai disini." Dia tertawa semakin
mendekat, "orangnya telah datang, tentu telinganya juga telah datang!
__ADS_1
Nona Yan-fang, kau sungguh terlalu tidak berperasaan, kau meninggalkan aku begitu saja, membuat aku repot sekali mencarinya!"
"Kau..." "Begitu kalian berpencar dan sengaja menyamar lari ke segala
arah, aku sungguh tidak tahu harus mengejar kearah mana
baiknya, hampir saja membatalkan niat tidur bersama kau lagi.
Sekarang baguslah, akhirnya dapat bertemu denganmu, apakah
kau mau pergi denganku?"
Lima orang itu membagi kedua arah, diam-diam
membentuk strategi setengah lingkaran.
Ssst..! terdengar suara pedang dicabut, Yan-fang yang
pertama-tama mencabut pedang.
Seruling orang tua telah diangkat, mata tuanya tidak lamur lagi.
Orang setengah baya yang tampak galak berada paling kiri, kail
kepala macan ditangannya berkilat sinar dingin.
Fu Ke-wei berdiri dalam jarak tiga zhang lebih, wajahnya
semakin dingin. Dengan satu suara siulan naga, dia mencabut pedangnya.
"Ratu Lebah, kau keji sekali, sayang terlalu pintar, orang yang
terlalu pintar sering melakukan hal bodoh." Dia mengayunkan
tangan kirinya, tiga buah Jarum Ekor Lebah telah dilepaskan,
"kukembalikan padamu, kau masih mau mengatakan apa?"
Ratu Lebah menjawab dengan gerakan, mengangkat
pedang maju menyerang. Lima banding satu, lima orang tidak satu pun orang biasa, senjata
gelapnya lebih-lebih dahsyat dan keji.
meloncat dia balik mundur tiga zhang lebih, dua kali loncatan sudah masuk ke dalam rerumputan ilalang.
Lima orang laki-laki dan perempuan pertama tertegun, lalu
meloncat mengejar. Di tempat semacam ini susah melihat orang, mengejar orang di
rumput setinggi satu zhang, bukan saja akan sia-sia, juga setiap saat bisa mendapat serangan mendadak yang sangat berbahaya.
Telah memeriksa kesetiap sudut seluas setengah li, lima orang
selalu tidak berani berpencar mencari.
Setelah satu jam, lima orang dengan hati berat dan khawatir
berjalan menuju rumah mereka yang tidak jauh itu.
Orang-orang di beberapa rumah lainnya, sudah dari tadi menutup
pintu menghindar keributan, hening tidak ada sedikit pun suara, pintu dan jendela tertutup rapat tidak terlihat orang.
Lima orang laki-laki dan perempuan berjalan berbaris, orang tua
yang paling depan sambil berjalan sambil berkata:
"Orang itu pasti tidak akan pergi begitu saja, disini dia menunggu, terang-terangan atau diam-diam menyerang, kita pasti sulit
menghadapinya, kita harus segera meninggalkan tempat ini."
Pria besar yang memegang sepasang garpu berjalan paling akhir,
dia menyatakan tidak setuju katanya:
"Jangan ketakutan oleh namanya, kita lima orang cukup untuk
mengubur dia, bertarung di tempat ini dengan dia, bagaimana pun
lebih baik, daripada meninggalkan tempat ini mengejar dia."
__ADS_1
Orang yang memegang kail kepala macan juga tidak setuju
meninggalkan tempat itu, dengan keras berkata:
"Betul, orang itu sudah lama berkelana di Jiang-hu, adalah
pakarnya dalam perburuan, kalau kita pergi, kita harus berpencar
mencari tempat sembunyi, kalau begitu..."
Tidak jauh dibelakang tubuhnya, tiba-tiba terdengar suara dingin
Fu Ke-wei: "Kalau begitu tidak akan ada teman dalam perjalanan ke
neraka!" "Aduh..." orang yang memegang sepasang garpu sambil
berteriak roboh kedepan. "Hmm..." orang yang memegang kail kepala macan
tubuhnya ditegakan, mencoba menghentikan langkah,
membalikan tubuh. Fu Ke-wei muncul di belakangnya kira-kira duazhang,
pedangnya tidak dikeluarkan.
"Kau..." Orang yang memegang kail kepala macan berteriak ketakutan,
sekuat tenaga melemparkan kail, lalu tubuhnya roboh kedepan.
Perubahannya cepat sekali.
Ratu Lebah berteriak, tiga buah Jarum Ekor Lebah meluncur ke
arah Fu Ke-wei yang datang menerjang dengan cepat, begitu jarum
keluar, dia merendahkan tubuh ke samping, berguling masuk ke
rerumputan. Fu Ke-wei menerobos dari bawah kail kepala macan yang dilemparkan
itu, tepat menyambut pemilik Kail Kepala Macan yang jatuh ke bawah, lalu tubuhnya membelit kesamping, tiga buah Jarum Ekor Lebah
semuanya menusuk masuk ke punggung pemilik Kail Kepala Macan.
Dia mendorong laki-laki besar yang terkena Jarum Ekor
Lebah: "Hemm!" dengan dingin, pedangnya dicabut, tampak satu kilatan
pedang, orang yang melayangkan pedang menerjang tapi tidak
mengenai sasaran, dadanya sendiri malah tersabet oleh pedang
lawannya, dia tersayat luka sepanjang satu chi lebih.
Bersamaan dalam sekejap itu, seruling itu meniupkan jarum Pintu
Neraka, kebawah perutnya, kecepatannya mengejutkan orang.
Perubahan yang berturut-turut sangat berbahaya, semua hampir
terjadi dalam bersamaan waktu, seluruh reaksi terjadi oleh reflek, semua orang seperti lupa akan akibatnya, setiap gerakan menentukan hidup matinya.
Fu Ke-wei yang telah melukai dada orang yang menggunakan
pedang, gerakannya tidak berhenti, dia membalikan tubuhnya,
dengan ganas pedangnya menerjang orang tua yang baru saja
meniupkan jarum Pintu Neraka.
Tapi saat tertahan sekejap, dia tidak dapat menghindar dari
serangan jarum itu, beberapa jarum menusuk di pinggul sebelah kiri luar, dia hanya dapat mengeser bawah perutnya agar jarum itu tidak mengenai perutnya.
Sinar pedang datang membelah udara, dahsyat seperti
geledek mengelegar. Orang tua itu tidak ada kesempatan untuk mengisi jarum lagi,
begitu seruling meninggalkan bibirnya, tanpa sadar dia berteriak
sekali, dengan jurus Menutup Awan Mengunci Embun dia mencoba
menyelamatkan diri, dengan serulingnya dia menyambut sabetan
__ADS_1
pedang yang datang menyerang, tenaga dalamnya disalurkan ke
ujung seruling, tenaga dalamnya yang hebat mengejutkan orang.