Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 18


__ADS_3

Di hilir kabupaten Huan-chang barat laut aliran sungai


tengah, ada sederetan pulau pasir.


Que-zhou adalah salah satu pulau pasir terbesar, dari atas mulai


dari Tong-ling, sampai ke bawah San-jiang, berderet sepanjang


puluhan li, membagi aliran sungai jadi beberapa cabang aliran.


Diatas pulau pasir ada beberapa dusun, rumput dan pepohonan


subur, terdapat banyak bermacam-macam burung air, bukan saja


dapat melihat kelompok burung gereja, kadang bisa menangkap


angsa yang beratnya sepuluh jin lebih.


Dusun tiga rumah di barat laut pulau pasir semuanya adalah


pemburu, hidupnya mengandalkan dari memburu burung air.


Rumah yang paling u lara, didepan pintu ada lapangan luas,


sekelilingnya ditanam banyak pohon Liu.


Hari ini saat fajar, orang didalam rumah belum bangun, diluar


rumah tiba-tiba terdengar satu siulan panjang, suaranya menerjang


kelangit, mengejutkan kelompok besar burung air yang terbang diatas langit.


Pintu papan yang berat dibuka, keluar seorang setengah baya,


ditangannya memegang pedang panjang, melihat kesekeliling,


matanya terlihat terkejut, dengan matanya memeriksa keadaan


sekeliling. Tidak jauh dari kiri di belakang pohon Liu, melangkah keluar Fu


Ke-wei dengan baju biru melambai-lambai, di wajahnya tampak tawa


yang sulit ditebak, dia menggendong tangan dengan tenangnya,


selangkah demi selakah mendekat kepintu, tingkahnya yang


anggun, persis seperti seorang penggede yang berkuasa.


"Siapa?" orang setengah baya terkejut bertanya.


"Teman lama." Fu Ke-wei tertawa, "aku adalah teman baiknya


nona Yan-fang. katakan sedikit kasar, adalah tamu baik atau tamu


hidung belang dia. Saudara, merepotkanmu pergi melaporkan, dia


tidak akan menolak bertemu denganku."


"Iii! Kau...kau ini..."


"Seharusnya kau tahu asal-usulku dan tujuanku datang


kemari." Dari dalam pintu keluar empat orang, di antaranya ada Yan-fang


yang menyamar jadi laki-laki, dan yang menyamar orang tua,


tangan-nya memegang seruling palsu sepanjang dua chi dua cun.


Dua orang lainnya sama berusia setengah baya, wajahnya galak


sangat tegap, semua orang membawa senjata.


"Ternyata kau!" teriak Yan-fang yang menyamar laki-laki


terkejut, "orang-orang kami di Wu-hu semuanya hilang misterius,


pasti telah dibunuh olehmu."


"Makanya aku bisa mencari sampai disini." Dia tertawa semakin


mendekat, "orangnya telah datang, tentu telinganya juga telah datang!

__ADS_1


Nona Yan-fang, kau sungguh terlalu tidak berperasaan, kau meninggalkan aku begitu saja, membuat aku repot sekali mencarinya!"


"Kau..." "Begitu kalian berpencar dan sengaja menyamar lari ke segala


arah, aku sungguh tidak tahu harus mengejar kearah mana


baiknya, hampir saja membatalkan niat tidur bersama kau lagi.


Sekarang baguslah, akhirnya dapat bertemu denganmu, apakah


kau mau pergi denganku?"


Lima orang itu membagi kedua arah, diam-diam


membentuk strategi setengah lingkaran.


Ssst..! terdengar suara pedang dicabut, Yan-fang yang


pertama-tama mencabut pedang.


Seruling orang tua telah diangkat, mata tuanya tidak lamur lagi.


Orang setengah baya yang tampak galak berada paling kiri, kail


kepala macan ditangannya berkilat sinar dingin.


Fu Ke-wei berdiri dalam jarak tiga zhang lebih, wajahnya


semakin dingin. Dengan satu suara siulan naga, dia mencabut pedangnya.


"Ratu Lebah, kau keji sekali, sayang terlalu pintar, orang yang


terlalu pintar sering melakukan hal bodoh." Dia mengayunkan


tangan kirinya, tiga buah Jarum Ekor Lebah telah dilepaskan,


"kukembalikan padamu, kau masih mau mengatakan apa?"


Ratu Lebah menjawab dengan gerakan, mengangkat


pedang maju menyerang. Lima banding satu, lima orang tidak satu pun orang biasa, senjata


gelapnya lebih-lebih dahsyat dan keji.


meloncat dia balik mundur tiga zhang lebih, dua kali loncatan sudah masuk ke dalam rerumputan ilalang.


Lima orang laki-laki dan perempuan pertama tertegun, lalu


meloncat mengejar. Di tempat semacam ini susah melihat orang, mengejar orang di


rumput setinggi satu zhang, bukan saja akan sia-sia, juga setiap saat bisa mendapat serangan mendadak yang sangat berbahaya.


Telah memeriksa kesetiap sudut seluas setengah li, lima orang


selalu tidak berani berpencar mencari.


Setelah satu jam, lima orang dengan hati berat dan khawatir


berjalan menuju rumah mereka yang tidak jauh itu.


Orang-orang di beberapa rumah lainnya, sudah dari tadi menutup


pintu menghindar keributan, hening tidak ada sedikit pun suara, pintu dan jendela tertutup rapat tidak terlihat orang.


Lima orang laki-laki dan perempuan berjalan berbaris, orang tua


yang paling depan sambil berjalan sambil berkata:


"Orang itu pasti tidak akan pergi begitu saja, disini dia menunggu, terang-terangan atau diam-diam menyerang, kita pasti sulit


menghadapinya, kita harus segera meninggalkan tempat ini."


Pria besar yang memegang sepasang garpu berjalan paling akhir,


dia menyatakan tidak setuju katanya:


"Jangan ketakutan oleh namanya, kita lima orang cukup untuk


mengubur dia, bertarung di tempat ini dengan dia, bagaimana pun


lebih baik, daripada meninggalkan tempat ini mengejar dia."

__ADS_1


Orang yang memegang kail kepala macan juga tidak setuju


meninggalkan tempat itu, dengan keras berkata:


"Betul, orang itu sudah lama berkelana di Jiang-hu, adalah


pakarnya dalam perburuan, kalau kita pergi, kita harus berpencar


mencari tempat sembunyi, kalau begitu..."


Tidak jauh dibelakang tubuhnya, tiba-tiba terdengar suara dingin


Fu Ke-wei: "Kalau begitu tidak akan ada teman dalam perjalanan ke


neraka!" "Aduh..." orang yang memegang sepasang garpu sambil


berteriak roboh kedepan. "Hmm..." orang yang memegang kail kepala macan


tubuhnya ditegakan, mencoba menghentikan langkah,


membalikan tubuh. Fu Ke-wei muncul di belakangnya kira-kira duazhang,


pedangnya tidak dikeluarkan.


"Kau..." Orang yang memegang kail kepala macan berteriak ketakutan,


sekuat tenaga melemparkan kail, lalu tubuhnya roboh kedepan.


Perubahannya cepat sekali.


Ratu Lebah berteriak, tiga buah Jarum Ekor Lebah meluncur ke


arah Fu Ke-wei yang datang menerjang dengan cepat, begitu jarum


keluar, dia merendahkan tubuh ke samping, berguling masuk ke


rerumputan. Fu Ke-wei menerobos dari bawah kail kepala macan yang dilemparkan


itu, tepat menyambut pemilik Kail Kepala Macan yang jatuh ke bawah, lalu tubuhnya membelit kesamping, tiga buah Jarum Ekor Lebah


semuanya menusuk masuk ke punggung pemilik Kail Kepala Macan.


Dia mendorong laki-laki besar yang terkena Jarum Ekor


Lebah: "Hemm!" dengan dingin, pedangnya dicabut, tampak satu kilatan


pedang, orang yang melayangkan pedang menerjang tapi tidak


mengenai sasaran, dadanya sendiri malah tersabet oleh pedang


lawannya, dia tersayat luka sepanjang satu chi lebih.


Bersamaan dalam sekejap itu, seruling itu meniupkan jarum Pintu


Neraka, kebawah perutnya, kecepatannya mengejutkan orang.


Perubahan yang berturut-turut sangat berbahaya, semua hampir


terjadi dalam bersamaan waktu, seluruh reaksi terjadi oleh reflek, semua orang seperti lupa akan akibatnya, setiap gerakan menentukan hidup matinya.


Fu Ke-wei yang telah melukai dada orang yang menggunakan


pedang, gerakannya tidak berhenti, dia membalikan tubuhnya,


dengan ganas pedangnya menerjang orang tua yang baru saja


meniupkan jarum Pintu Neraka.


Tapi saat tertahan sekejap, dia tidak dapat menghindar dari


serangan jarum itu, beberapa jarum menusuk di pinggul sebelah kiri luar, dia hanya dapat mengeser bawah perutnya agar jarum itu tidak mengenai perutnya.


Sinar pedang datang membelah udara, dahsyat seperti


geledek mengelegar. Orang tua itu tidak ada kesempatan untuk mengisi jarum lagi,


begitu seruling meninggalkan bibirnya, tanpa sadar dia berteriak


sekali, dengan jurus Menutup Awan Mengunci Embun dia mencoba


menyelamatkan diri, dengan serulingnya dia menyambut sabetan

__ADS_1


pedang yang datang menyerang, tenaga dalamnya disalurkan ke


ujung seruling, tenaga dalamnya yang hebat mengejutkan orang.


__ADS_2