Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
episode 10


__ADS_3

Tikus Setempat sambil sempoyongan berjalan keluar dari restoran,


di jalan sudah sedikit orang, lampu di luar toko bersinar merah gelap, beberapa pemabuk seperti roh, berjalan sempoyongan di sudut jalan.


Malam sudah larut, dan di daerah barat jalan di pinggir sungai


tetap masih ada perahu yang bergerak, ada orang yang sedang


sibuk. Fu Ke-wei sudah tidak terlihat, dia berjalan menuju keujung jalan!


Didepan di sudut rumah dalam bayangan gelap, terdengar satu


siulan pelan! Tikus Setempat yang dengan sempoyongan berjalan kearah


berlawanan, setelah melewati sepuluh toko lebih, tiba-tiba langkahnya menjadi cepat, mabuknya seperti telah hilang, di sudut jalan sekelebat saja dia sudah menghilang, masuk dalam kegelapan di sebuah gang kecil.


Di dekat kaki benteng kota, ada sederetan lima rumah yang tinggi


rendahnya berbeda-beda, jalannya menyempit dua kali lipat, hingga


bisa disebut gang kecil. Dari lima buah rumah itu, hanya rumah kedua yang lampunya


masih menyala. Di depan rumah ada pekarangan, di kedua sisinya ada tanah kosong, rumput liar tumbuh dimanamana.


Fu Ke-wei dengan tenang sampai di depan pekarangan yang


lampunya menyala. Dengan teliti dia memperhatikan keadaan sekelilingnya, ini adalah


kebiasaan orang dunia persilatan, selamanya harus memperhatikan


tempat di mana dirinya berada.


Rumah tembok itu tampak biasa sekali, begitu melihat


langsung tahu keadaannya. Siang hari tadi dia telah


menyelidiknya, saat ini dia hanya perlu berdiri sebentar melihat


keadaan sudah cukup. Jika malam ini Wu-feng sudah datang lebih dulu, di dalam rumah


pasti tidak akan begini tenang dan damai.


Dia maju mengetuk pintu tiga kali, sesaat, pintu dibuka oleh seorang tua, dia diam tidak bicara dan menyingkir kesamping, menunggu dia


masuk, lalu menutup pintu kembali, dengan diam dia membawa jalan


melewati pekarangan menuju ruangan, tampak orang itu tua sekali,


seperti roh yang kecil dan kurus.


Ruangan rumah itu kecil sekali, tapi pengaturannya bersih dan


segar. Di kedua sisi tidak ada kamarnya, jalanan ada di sebelah


kanan, begitu masuk kedalam tampak ada kamar yang sinarnya


redup, lalu ada pekarangan terbuka yang kecil, dibelakangnya lagi


barulah ruang dalam, rumah di pinggir jalan seperti ini, sangat


sederhana sekali tidak ada yang khusus.


Orang yang menyambutnya, adalah Yan-fang yang telah


berganti baju.


Pakaian yang longgar, rok seratus lipatan warna hijau danau,


samar-samar bisa terlihat lekukan tubuhnya, menambah tiga


puluh persen kecantikannya.


Orang tua itu sudah masuk kedalam lagi, mungkin kamar di


belakang ruangan adalah tempat tinggalnya si orang tua.


Yan-fang membesarkan api lampu minyak, dengan santai


menyuguhkan segelas teh, di pipinya tampak sedikit malu, dengan


lembut tapi tidak dibuat-buat berkata:


"Tuan Fu silahkan minum tehnya, tempat tinggalku sederhana

__ADS_1


sekali, di rumah masih belum memakai pembantu, jika pelayanannya


tidak sempurna, harap bisa dimaklumi."


"Nona Yan-fang tidak usah sungkan." Dia tidak minum tehnya,


gelas teh ditaruh diatas meja, "jangan perlakukan aku sebagai tamu."


"Tuan Fu silahkan duduk sebentar." Yan-fang berdiri, "di dapur aku telah menyiapkan cemilan, tidak memerlukan waktu lama. Atau,


silahkan masuk keruang dalam istirahat, jika tidak tuan Fu duduk


seorang diri, malah tidak leluasa, silahkan!"


Perkataannya tidak kampungan, juga tidak ada lagak yang


dibuat-buat oleh wanita ini, hati Fu Ke-wei jadi lega, paling sedikit tidak akan terjadi keadaan yang kaku.


"Nona, silahkan." Dia tersenyum, "bisa tidak persilahkan bapak


tua itu keluar berbincang-bincang" kata orang, dia kakeknya


nona." "Kakekku pendengarannya kurang baik, orangnya sudah tua


dan malas bicara," Yan-fang tertawa, "beliau sudah istirahat, mari kita masuk ke dalam, silahkan ikut aku."


Yan-fang berkata, sambil membereskan peralatan minum, tapi


setelah berpikir-pikir dia kembali menaruhnya, lalu berjalan masuk ke dalam.


Fu Ke-wei mengikuti dari belakang, seutas bau harum tipis yang


jernih menerobos masuk ke dalam hidungnya.


Mendadak, dia sepertinya teringat sesuatu, langkahnya jadi


melambat, sepasang alisnya mengerut dan menundukkan kepala


berpikir. Berjalan sampai ujung belakang menggantung satu lentera yang


sinarnya buram. Tiba-tiba Yan-fang membalikan tubuhnya, dengan


sangat alami mengulurkan tangan menggaet lengan Fu Ke-wei.


"Dipekarangan tidak ada lampu, tuan Fu hati-hatilah


hari, aku akan beli satu perumahan besar yang pekarangannya


enak untuk dihuni." "Keinginanmu pasti akan terkabul." Kata Fu Ke-wei, lamunannya


jadi terpotong, "dengan wajahmu, keinginanmu cepat akan


terkabul." "Tuan Fu silahkan duduk." Yan-fang melepas tangannya sambil


tertawa laksana bunga, "aku akan siapkan seteko teh yang harum."


"Jangan urus teh dulu." Dia tertawa ringan, sambil menarik Yan-fang dan mendekap pinggang yang munggil itu, Yan-fang tidak bisa


mengendalikan dirinya, dia duduk di pangkuannya. Bantal kapas seperti ini memang untuk laki-laki dan perempuan duduk bertumpuk, "tempatmu lebih mewah, di bandingkan dengan pelacur ternama di Qin-huai kota Nanjing."


"Mmm...tuan Fu." Yan-fang setengah


menolak menyandar dipelukannya, mulutnya yang kecil munggil


memikat dimonyongkan, "sudahlah, jangan mengolok orang, kau adalah hartawan kecil dari Nan-jing, pengalamannya banyak, siapa yang bisa menandingi pelacur ternama Qin-huai! Apakah kau tiap hari pergi ke pesisir Qinhuai?"


"Pelayanan dalam berbisnis! Tidak bisa di hindarkan, tapi juga tidak setiap hari pergi, aku ini bukan tuan hartawan yang memiliki gunung mas gunung perak di rumah." Dia menangkap tangan mulus Yan-fang


dinikmatinya, "dengan bakat seni mu, pasti bisa dijuluki bunga ternama yang berwajah cantik dan pandai, bunga ternama di Qin-huai, dibanding kau masih jauh."


Yan-fang duduk miring diatas pahanya, tangan kanannya


dipegang Fu Ke-wei, pinggang munggil juga didekap dengan tangan


kiri, ingin berdiri jadi tidak mungkin.


"Kau seperti berpengalaman sekali didalam kelompok bunga."


Yan-fang ingin menarik tangannya, dengan wajah yang genit sangat


memikat, jari mulus tangan kirinya perlahan ditunjukkan pada kening Fu Ke-wei, "aku telah mengatakan ingin membeli rumah, jika kau bisa percaya padaku, pinjamkan pada aku beberapa ratus liang perak,


entah kau mau memberikannya atau tidak?"

__ADS_1


Pengamen dengan tamu, yang dibicarakan jika bukan uang pasti


***, itu hal yang biasa sekali, Fu Ke-wei sedikit pun tidak ada alasan untuk curiga, walau saat dia masuk ke kamar sudah merasakan ada


sesuatu yang tidak beres. Paling sedikit, seorang wanita pengamen


yang setengah membuka pintu, mengatur rumah yang disewa begitu


mewah, sedikitnya tidak normal.


"Bukan aku tidak mau, masalahnya ada pada dirimu."


katanya. "Aku" Maksudmu adalah, kau ingin di rumah emas


menyembunyikan bunga, takut aku tidak mau?"


"Ini..." "Apa yang membuat kau tidak bisa tenang, yang bergerak?" pipi halus Yan-fang ditempelkan di wajahnya, dia tidak bisa melihat perubahan wajah Yan-fang, hanya merasakan pipi mulus yang sangat licin,


mengelus-elus pipinya dengan nafas seperti anggrek.


"Maksud ku adalah..."


"Tuan Fu, kau harus mengerti." Kata Yan-fang sambil mencium


wajahnya, dengan romantis, "di seluruh kabupaten He-kou, tidak


ada orang yang setampan dirimu, juga kedudukannya terhormat,


uangnya banyak. Aku sudah nekad mengikutimu, itu adalah


keberuntunganku, juga harapan ku, kecuali kau tidak ada perasaan


tidak ada cinta." "Kau menggombal lagi..."


"Bukan aku menggombal, tapi aku mengatakan apa yang ada


didalam hatiku." Yan-fang bangkit ingin berdiri, "kau dan aku baru berkenalan, di pihakku bunga jatuh ada maksud, sekali melihat


langsung jatuh hati, di pihakmu aku tidak tahu, walau kau hanya


bersandiwara! Aku pun tidak akan menyalahkanmu. Jangan


mengusap-usap, sarapanku masih belum siap! Kau duduk dulu sendiri, aku segera menemani mu.


Kamar dalam sudah dibereskan,mau tidak berbaring di dalam?"


"Di restoran aku sudah cukup minum arak, perut juga sudah


penuh dengan makanan, mana bisa sarapan lagi." Dia memeluk


tidak melepaskan, wajahnya berseri-seri, tangan yang memeluk


pinggang munggil tidak jujur, memijat disini mengusap


kesana-kemari, membuat Yan-fang yang diusap seluruh tubuhnya


membara, "jangan tergesa gesa, dan juga..."


"Kalian laki-laki!" mata genit Yan-fang berair, nafsunya sudah


sampai di alis, "seperti kucing yang rakus, setelah masuk rumah


ingin masuk ruangan, setelah masuk ruangan ingin masuk


kamar..." "Setelah masuk kamar ingin naik ranjang." Dia dengan


tertawa aneh melanjutkan, "tapi aku sedikit tidak sama..."


"Apa yang tidak sama?"


Yan-fang memelas, menarik tangan kanan, merangkul leher dia,


seluruh tubuhnya menempel di dadanya, buah dada yang kenyal


menekan di utas dadanya yang luas dan kuat.


Fu Ke-wei bukanlah seorang laki-laki kaku yang bisa memeluk tapi


tidak kacau, dia juga tidak ingin jadi seorang yang kaku, dia mencium pipi halus Yan-fang, dengan mata seksi tertawa aneh, "tidak sama?


tidak sama, karena aku sekarang masih belum memikirkan ranjang,


juga belum memikirkan wanita cantik diatas ranjang. Setelah naik

__ADS_1


ranjang, gelang giok, walet terbang semua sama saja, Xi-zi, Wu-yen tidak jauh berbeda, yang berbeda adalah situasi dan romantisnya.


sebelum naik ranjang, bidang ini seharusnya kau lebih tahu dari pada aku, ruang dalammu diatur sedemikian seperti kamar pengantin, bisa di lihat di bidang ini kau pasti adalah pakarnya, siapa pun setelah masuk ruangan ini, ada berapa orang yang bisa menolak-nya" Tapi malam ini situasi hatiku beda, aku ingin berbincang denganmu dibawah sinar lilin."


__ADS_2