
Tikus Setempat sambil sempoyongan berjalan keluar dari restoran,
di jalan sudah sedikit orang, lampu di luar toko bersinar merah gelap, beberapa pemabuk seperti roh, berjalan sempoyongan di sudut jalan.
Malam sudah larut, dan di daerah barat jalan di pinggir sungai
tetap masih ada perahu yang bergerak, ada orang yang sedang
sibuk. Fu Ke-wei sudah tidak terlihat, dia berjalan menuju keujung jalan!
Didepan di sudut rumah dalam bayangan gelap, terdengar satu
siulan pelan! Tikus Setempat yang dengan sempoyongan berjalan kearah
berlawanan, setelah melewati sepuluh toko lebih, tiba-tiba langkahnya menjadi cepat, mabuknya seperti telah hilang, di sudut jalan sekelebat saja dia sudah menghilang, masuk dalam kegelapan di sebuah gang kecil.
Di dekat kaki benteng kota, ada sederetan lima rumah yang tinggi
rendahnya berbeda-beda, jalannya menyempit dua kali lipat, hingga
bisa disebut gang kecil. Dari lima buah rumah itu, hanya rumah kedua yang lampunya
masih menyala. Di depan rumah ada pekarangan, di kedua sisinya ada tanah kosong, rumput liar tumbuh dimanamana.
Fu Ke-wei dengan tenang sampai di depan pekarangan yang
lampunya menyala. Dengan teliti dia memperhatikan keadaan sekelilingnya, ini adalah
kebiasaan orang dunia persilatan, selamanya harus memperhatikan
tempat di mana dirinya berada.
Rumah tembok itu tampak biasa sekali, begitu melihat
langsung tahu keadaannya. Siang hari tadi dia telah
menyelidiknya, saat ini dia hanya perlu berdiri sebentar melihat
keadaan sudah cukup. Jika malam ini Wu-feng sudah datang lebih dulu, di dalam rumah
pasti tidak akan begini tenang dan damai.
Dia maju mengetuk pintu tiga kali, sesaat, pintu dibuka oleh seorang tua, dia diam tidak bicara dan menyingkir kesamping, menunggu dia
masuk, lalu menutup pintu kembali, dengan diam dia membawa jalan
melewati pekarangan menuju ruangan, tampak orang itu tua sekali,
seperti roh yang kecil dan kurus.
Ruangan rumah itu kecil sekali, tapi pengaturannya bersih dan
segar. Di kedua sisi tidak ada kamarnya, jalanan ada di sebelah
kanan, begitu masuk kedalam tampak ada kamar yang sinarnya
redup, lalu ada pekarangan terbuka yang kecil, dibelakangnya lagi
barulah ruang dalam, rumah di pinggir jalan seperti ini, sangat
sederhana sekali tidak ada yang khusus.
Orang yang menyambutnya, adalah Yan-fang yang telah
berganti baju.
Pakaian yang longgar, rok seratus lipatan warna hijau danau,
samar-samar bisa terlihat lekukan tubuhnya, menambah tiga
puluh persen kecantikannya.
Orang tua itu sudah masuk kedalam lagi, mungkin kamar di
belakang ruangan adalah tempat tinggalnya si orang tua.
Yan-fang membesarkan api lampu minyak, dengan santai
menyuguhkan segelas teh, di pipinya tampak sedikit malu, dengan
lembut tapi tidak dibuat-buat berkata:
"Tuan Fu silahkan minum tehnya, tempat tinggalku sederhana
__ADS_1
sekali, di rumah masih belum memakai pembantu, jika pelayanannya
tidak sempurna, harap bisa dimaklumi."
"Nona Yan-fang tidak usah sungkan." Dia tidak minum tehnya,
gelas teh ditaruh diatas meja, "jangan perlakukan aku sebagai tamu."
"Tuan Fu silahkan duduk sebentar." Yan-fang berdiri, "di dapur aku telah menyiapkan cemilan, tidak memerlukan waktu lama. Atau,
silahkan masuk keruang dalam istirahat, jika tidak tuan Fu duduk
seorang diri, malah tidak leluasa, silahkan!"
Perkataannya tidak kampungan, juga tidak ada lagak yang
dibuat-buat oleh wanita ini, hati Fu Ke-wei jadi lega, paling sedikit tidak akan terjadi keadaan yang kaku.
"Nona, silahkan." Dia tersenyum, "bisa tidak persilahkan bapak
tua itu keluar berbincang-bincang" kata orang, dia kakeknya
nona." "Kakekku pendengarannya kurang baik, orangnya sudah tua
dan malas bicara," Yan-fang tertawa, "beliau sudah istirahat, mari kita masuk ke dalam, silahkan ikut aku."
Yan-fang berkata, sambil membereskan peralatan minum, tapi
setelah berpikir-pikir dia kembali menaruhnya, lalu berjalan masuk ke dalam.
Fu Ke-wei mengikuti dari belakang, seutas bau harum tipis yang
jernih menerobos masuk ke dalam hidungnya.
Mendadak, dia sepertinya teringat sesuatu, langkahnya jadi
melambat, sepasang alisnya mengerut dan menundukkan kepala
berpikir. Berjalan sampai ujung belakang menggantung satu lentera yang
sinarnya buram. Tiba-tiba Yan-fang membalikan tubuhnya, dengan
sangat alami mengulurkan tangan menggaet lengan Fu Ke-wei.
"Dipekarangan tidak ada lampu, tuan Fu hati-hatilah
hari, aku akan beli satu perumahan besar yang pekarangannya
enak untuk dihuni." "Keinginanmu pasti akan terkabul." Kata Fu Ke-wei, lamunannya
jadi terpotong, "dengan wajahmu, keinginanmu cepat akan
terkabul." "Tuan Fu silahkan duduk." Yan-fang melepas tangannya sambil
tertawa laksana bunga, "aku akan siapkan seteko teh yang harum."
"Jangan urus teh dulu." Dia tertawa ringan, sambil menarik Yan-fang dan mendekap pinggang yang munggil itu, Yan-fang tidak bisa
mengendalikan dirinya, dia duduk di pangkuannya. Bantal kapas seperti ini memang untuk laki-laki dan perempuan duduk bertumpuk, "tempatmu lebih mewah, di bandingkan dengan pelacur ternama di Qin-huai kota Nanjing."
"Mmm...tuan Fu." Yan-fang setengah
menolak menyandar dipelukannya, mulutnya yang kecil munggil
memikat dimonyongkan, "sudahlah, jangan mengolok orang, kau adalah hartawan kecil dari Nan-jing, pengalamannya banyak, siapa yang bisa menandingi pelacur ternama Qin-huai! Apakah kau tiap hari pergi ke pesisir Qinhuai?"
"Pelayanan dalam berbisnis! Tidak bisa di hindarkan, tapi juga tidak setiap hari pergi, aku ini bukan tuan hartawan yang memiliki gunung mas gunung perak di rumah." Dia menangkap tangan mulus Yan-fang
dinikmatinya, "dengan bakat seni mu, pasti bisa dijuluki bunga ternama yang berwajah cantik dan pandai, bunga ternama di Qin-huai, dibanding kau masih jauh."
Yan-fang duduk miring diatas pahanya, tangan kanannya
dipegang Fu Ke-wei, pinggang munggil juga didekap dengan tangan
kiri, ingin berdiri jadi tidak mungkin.
"Kau seperti berpengalaman sekali didalam kelompok bunga."
Yan-fang ingin menarik tangannya, dengan wajah yang genit sangat
memikat, jari mulus tangan kirinya perlahan ditunjukkan pada kening Fu Ke-wei, "aku telah mengatakan ingin membeli rumah, jika kau bisa percaya padaku, pinjamkan pada aku beberapa ratus liang perak,
entah kau mau memberikannya atau tidak?"
__ADS_1
Pengamen dengan tamu, yang dibicarakan jika bukan uang pasti
***, itu hal yang biasa sekali, Fu Ke-wei sedikit pun tidak ada alasan untuk curiga, walau saat dia masuk ke kamar sudah merasakan ada
sesuatu yang tidak beres. Paling sedikit, seorang wanita pengamen
yang setengah membuka pintu, mengatur rumah yang disewa begitu
mewah, sedikitnya tidak normal.
"Bukan aku tidak mau, masalahnya ada pada dirimu."
katanya. "Aku" Maksudmu adalah, kau ingin di rumah emas
menyembunyikan bunga, takut aku tidak mau?"
"Ini..." "Apa yang membuat kau tidak bisa tenang, yang bergerak?" pipi halus Yan-fang ditempelkan di wajahnya, dia tidak bisa melihat perubahan wajah Yan-fang, hanya merasakan pipi mulus yang sangat licin,
mengelus-elus pipinya dengan nafas seperti anggrek.
"Maksud ku adalah..."
"Tuan Fu, kau harus mengerti." Kata Yan-fang sambil mencium
wajahnya, dengan romantis, "di seluruh kabupaten He-kou, tidak
ada orang yang setampan dirimu, juga kedudukannya terhormat,
uangnya banyak. Aku sudah nekad mengikutimu, itu adalah
keberuntunganku, juga harapan ku, kecuali kau tidak ada perasaan
tidak ada cinta." "Kau menggombal lagi..."
"Bukan aku menggombal, tapi aku mengatakan apa yang ada
didalam hatiku." Yan-fang bangkit ingin berdiri, "kau dan aku baru berkenalan, di pihakku bunga jatuh ada maksud, sekali melihat
langsung jatuh hati, di pihakmu aku tidak tahu, walau kau hanya
bersandiwara! Aku pun tidak akan menyalahkanmu. Jangan
mengusap-usap, sarapanku masih belum siap! Kau duduk dulu sendiri, aku segera menemani mu.
Kamar dalam sudah dibereskan,mau tidak berbaring di dalam?"
"Di restoran aku sudah cukup minum arak, perut juga sudah
penuh dengan makanan, mana bisa sarapan lagi." Dia memeluk
tidak melepaskan, wajahnya berseri-seri, tangan yang memeluk
pinggang munggil tidak jujur, memijat disini mengusap
kesana-kemari, membuat Yan-fang yang diusap seluruh tubuhnya
membara, "jangan tergesa gesa, dan juga..."
"Kalian laki-laki!" mata genit Yan-fang berair, nafsunya sudah
sampai di alis, "seperti kucing yang rakus, setelah masuk rumah
ingin masuk ruangan, setelah masuk ruangan ingin masuk
kamar..." "Setelah masuk kamar ingin naik ranjang." Dia dengan
tertawa aneh melanjutkan, "tapi aku sedikit tidak sama..."
"Apa yang tidak sama?"
Yan-fang memelas, menarik tangan kanan, merangkul leher dia,
seluruh tubuhnya menempel di dadanya, buah dada yang kenyal
menekan di utas dadanya yang luas dan kuat.
Fu Ke-wei bukanlah seorang laki-laki kaku yang bisa memeluk tapi
tidak kacau, dia juga tidak ingin jadi seorang yang kaku, dia mencium pipi halus Yan-fang, dengan mata seksi tertawa aneh, "tidak sama?
tidak sama, karena aku sekarang masih belum memikirkan ranjang,
juga belum memikirkan wanita cantik diatas ranjang. Setelah naik
__ADS_1
ranjang, gelang giok, walet terbang semua sama saja, Xi-zi, Wu-yen tidak jauh berbeda, yang berbeda adalah situasi dan romantisnya.
sebelum naik ranjang, bidang ini seharusnya kau lebih tahu dari pada aku, ruang dalammu diatur sedemikian seperti kamar pengantin, bisa di lihat di bidang ini kau pasti adalah pakarnya, siapa pun setelah masuk ruangan ini, ada berapa orang yang bisa menolak-nya" Tapi malam ini situasi hatiku beda, aku ingin berbincang denganmu dibawah sinar lilin."