
"Kalian berdua, bicaralah di luar warung." Jin-ba-dou mengulur tangan mempersilahkan, "ini adalah pertarungan yang adil, kalian berdua boleh kembali ke belakang rumah sembahyang mengambil
senjata." "Baik, aku menurut saja." Bu-fei-khe sambil tertawa
melangkah keluar. Huo-bao-ing menghembus nafas panjang, lalu melangkah
mengikutinya. "Hey! Dua orang tua." Fu Ke-wei tiba-tiba teriak, "kalian belum membayar bon masakan dan minuman lho! Jika kalian dipatahkan
tulang tuanya dan digotong pergi, bukankah Xu Lao-ren akan rugi?"
Semua orang, jadi tertegun.
"Kau lagi." Jin-ba-dou marah, "kau ini......"
"Diam!" Fu Ke-wei dengan nada dalam berseru, dia menepuk meja bangkit berdiri, matanya melotot, "kemarin kau menghina dan
memaki aku orang bodoh, aku mengalah saja, apa hari ini kau ingin
memaki lagi?" "Kau..." Jin-ba-dou merasa terkejut sekali.
"Lebih baik kau tutup mulut yang bau itu."
Jin-ba-dou sudah tidak tahan lagi! Mendadak melayangkan
tangan menampar. Shuang-jie-shu-sheng (Sepasang sastrawan hebat) Luo
Wen-jing saat ini baru mengenali Fu Ke-wei, sastrawan yang hari
itu bertemu di gunung Xian.
"Hati hati Tuan kedelapan......" teriak Luo Wen-jing buruburu.
Tapi teriakannya sudah terlambat.
Paak... terdengar satu suara, pergelangan tangan Jin-badou
telah di cengkram dengan kuat oleh Fu Ke-wei.
"Kau telah mati satu kali." Fu Ke-wei memelintir tangan lawan dan ditekankan keatas meja, dengan galak berkata lagi, "untung aku tidak berniat mengambil nyawamu."
Sungguh sulit membuat orang percaya, Jin-ba-dou yang sudah berhasil melatih tenaga dalam sampai tingkat kesempurnaan, tidak bisa terluka oleh senjata tajam, bisa memakai pedang mengeluarkan hawa pedang,
sekarang malah tidak bisa meronta, bukan saja tidak bisa bergerak, juga seluruh tubuhnya gemetar, wajahnya pucat, tangannya dipelintir, ditekan di atas meja, membuat bentuk tubuhnya yang membuat orang tertawa,
mulutnya terbuka menghirup nafas, tapi hawa murninya tidak bisa
terkumpul di Dan-tian, perubahannya terjadi begitu mendadak, dia tidak dapat mengerahkan kepandaiannya melawan, seluruh kemampuannya
sudah dikendalikan orang.
Bu-fei-khe dan Huo-bao-ing terkejut, mulut sampai menganga
tidak bisa bicara, sepertinya tidak percaya dengan kenyataan
didepan matanya. Shuang-jie-shu-sheng Luo Wen-jing juga terkejut sampai
wajahnya ikut berubah, bengong! walau pun dia tahu Fu Kewei
mempunyai ilmu silat tinggi, tapi tidak terpikir bisa setinggi ini, menakutkan.
__ADS_1
Yu-mien-el-lang Li Hoa-rong juga terkejut, dia maju dua
langkah ingin membela. "Kau berani?" Fu Ke-wei berteriak keras, "dibandingkan dengan Jin-ba-dou, apa kepandaianmu lebih tinggi" Heeh!"
Tangan Yu-mien-el-lang yang terulur jadi terhenti, tidak berani
bergerak maju lagi. "Kau berani sekali." Li Hoa-rong dengan wajah merah, "apa kau orangnya Nan-yang-ba-jie" Apa kau telah melihat dengan jelas
keadaanmu" Di daerah ini kau berani menampakan diri, sungguh .
tidak memandang keluarga Li?"
"Orang yang bermarga Li, kau jangan salah kaprah." Kata Fu Ke-wei dingin, "aku ini hanya pelancong yang lewat di tempatmu, sekalian menyampaikan pesan, kesatu, tidak kenal siapa itu
Nan-yang-ba-jie, kedua, tidak kenal dengan kau ini apanya keluarga Li, hanya tahu saudara ini membawa sekelompok tukang pukul, di
penginapan bukan saja dengan kata-kata kasar menghina aku, juga
menyuruh tukang pukul menghajar aku. Hari ini apa lagi, dia sendiri ingin turun tangan menangkap orang, orang semacam ini sudah tidak
ada hukum, terlalu menghina orang, jika tidak mendapat hukuman,
mana ada keadilan" mana ada hukum?"
Mulutnya sedang bicara, tangannya juga mungkin menambah
tenaga tekanan, karena Jin-ba-dou sedang menggerakan tenaga
melawan, ingin melepaskan tangannya.
Kesakitan tampak di wajah Jin-ba-dou, dia sudah menampakan
kelelahan, setengah tubuhnya bergulung diatas meja setengah
menakutkan. "Lepaskan dia!" Yu-mien-el-lang berteriak marah, tangan
kanannya seperti kait pelan-pelan diulurkan kedepan, "jika tidak, aku inginkan kau mati, hidup, keduanya susah."
"Ha ha ha ha......" Fu Ke-wei tertawa keras, "aku melanglang buana ke seluruh dunia, peristiwa besar apa yang belum aku temui" Kau,
masih belum bisa menakuti aku marga Fu."
Sudah ada enam orang tukang pukul, mengurung ruangan
warung, matanya melotot mengawasi, ingin segera bergerak.
"Saudara Hoa-rong, jangan ceroboh." Shuang-jie-shusheng Luo Wen-jing sadar, dia cepat-cepat bicara menghalangi, "saudara ini punya semacam ilmu aneh yang menakutkan, jika kau menyerang,
Tuan kedelapan mungkin akan celaka."
"Aku tidak terima ancaman dia, jika dia berani mencelakai Tuan kedelapan, aku akan menghancurkan dia." Yu-mien-ellang dengan benci berkata, tapi tangan yang sudah diulurkan telah dihentikan, meski tidak ditarik kembali, "walau dia bisa terbang ke langit masuk ke tanah juga tidak bisa lolos dari kematian."
"Apa benar?" tanya Fu Ke-wei seperti tertawa tapi bukan
tertawa. "Anda lebih baik percaya, lepaskan!"
Sepasang tangan Fu Ke-wei bersama-sama bergerak,
pukulannya laksana badai menerpa di atas tubuh Jin-ba-dou yang
__ADS_1
tidak dapat bergerak. Sederetan suara yang aneh terdengar,
telapak dan jari tanpa ampun mengenai daging.
Pukulannya terlalu cepat, menunggu Yu-mien-el-lang yang marahnya
menyerang, pukulannya yang cepat telah berhenti, tubuhnya Jin-ba-dou yang setengah sadar dengan kecepatan yang menakutkan menubruk
kearah Yu-mien-el-lang. Yumien-el-lang hampir saja tertubruk. Akhirnya dengan reflek yang cepat, dia mundur menghindar kesisi, menangkap
Jin-badou yang menyedihkan itu.
"Kita selesaikan di luar." Fu Ke-wei memakai pedang yang dirampas dari tangan Jin-ba-dou menunjuk keluar, "aku akan
membuka larangan membunuh, biar kalian penjahat penguasa
setempat yang tidak tahu hukum merasainya."
Dengan langkah lebar dia melangkah keluar, pedang
menggantung kebawah dengan santainya, kepalanya menengadah
langkahnya lebar seperti tidak ada orang, dengan dandanannya
sama sekali berbeda, semangatnya sungguh menakutkan orang.
Seorang laki-laki besar mencoba menghalangi jalannya, tidak
tahu bahaya goloknya diulurkan kedepan.
"Traang!" Terdengar suara keras menggetarkan telinga, kembang api
memancar! Goloknya si tukang pukul terbang naik, traang... menabrak
tembok jatuh kebawah. "Aduuh......" Tukang pukul itu menjerit sambil memegang
tangannya, roboh ketanah secara terlentang, buku lima jari tangan
kanannya semua terlepas, telapaknya pecah, darah mengalir.
Sekarang tidak ada lagi ada orang yang berani menghalangi,
semua bengong melihat Fu Ke-wei melangkahi tubuh tukang pukul
yang roboh ke tanah, keluar dari pintu.
Dua orang tukang pukul yang menjaga di luar pintu,
terkejut dan menghindar memberi jalan.
Yang pertama keluar adalah Shuang-jie-shu-sheng, yang paling
akhir adalah Huo-bao-ing dan Bu-fei-khe, yang harus keluar
semuanya sudah keluar, Jin-ba-dou malah tidak keluar.
Jalannya lebar sekali, saat ini di luar pintu telah
berkerumun banyak orang yang menonton keramaian.
__ADS_1
"Bertarung dulu baru bicara, atau bicara dulu baru bertarung, tamu terserah tuan rumah." Kata Fu Ke-wei sambil mengibaskan pedang dengan keras, wajahnya penuh dengan hawa membunuh, "harimau
buas tidak takut kambing yang banyak, kalian boleh mengeroyok. Hidup mati tergantung nasib, keberuntungan ada dilangit, orang yang takut mati berdirilah yang jauh."