Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 40


__ADS_3

Lama sekali... kemudian dia membalikan tubuh, berjalan menuju


kamar sebelah kanan, berdiri di luar pintu kamar yang tertutup rapat, perlahan bertanya:


"Apa yang telah terjadi" Orangnya tidak ada di dalam


kamar." "Tidak mungkin nona Duan-mu, orangnya pasti tidak


meninggalkan kamarnya." Jawab orang di dalam kamar dengan


nada tegas. "Tapi sungguh tidak ada orang." Kata Nona Duan-mu juga dengan tegas.


"Saat nona tiba, di dalam bukankah ada suara nyanyian dan


suara mangkuk dipukul?"


"Benar! Tapi......"


"Nona seharusnya mendengar jelas apa yang dia


nyanyikan." "Betul, kalimat terakhir sepertinya lebih baik......"


Mendadak, di dalam kamar Fu Ke-wei terdengar suara


nyanyian: "Kejadian didunia seperti awan mengambang tidak perlu


ditanya, lebih baik tidur sesudah makan......"


Tubuh nona Duan-mu seperti kilat, kembali kedepan pintu kamar


Fu Ke-wei. Pintu kamar yang tadi dibukanya, dia tidak menutup kembali,


sehingga begitu sampai di depan pintu, dia bisa melihat dengan


jelas keadaan di dalam kamar.


Fu Ke-wei tetap seperti semula duduk membelakangi pintu kamar,


sepertinya belum pernah bergerak, tapi tingkah makannya berbeda


dengan yang tadi, tadi makannya dengan anggun, jika minum arak


tidak menggerakan sumpit, tapi sekarang liar sekali, tangan kiri


memegang mangkuk arak, setelah minum seteguk masih tidak


dilepaskan, sumpit di tangan kanan segera menyumpit masakan


memasukan kedalam mulut, seperti setan kelaparan.


"Hebat!" kata nona Duan-mu dengan sepenuh hati, "Dewa keluar, setan menghilang, tidak bisa dibayangkan, di dunia orang yang berhasil melatih sampai tingkat tuan, selama dua ratus tahun ini hanya tuan satu orang. Apakah aku boleh masuk?"


"Ooo! Tahukah nona, orang yang dalam dua ratus tahun lalu itu."


Kata Fu Ke-wei membalikan kepala tertawa, "nenek moyangnya


Wu-dang Dewa Pedang Zhang, Zhang Shan-feng.


Heh! Nona yang cantik sekali, jika kau ada keberanian,

__ADS_1


masuklah! Tapi akibatnya tanggung sendiri."


"Melakukan siasat busuk pada wanita cantik, kau tidak akan dapat meloloskan diri."


Wajah nona Duan-mu sedikit pun tidak merah, dia


melangkah masuk ke dalam kamar.


"Benar, tidak perlu masuk kamar, diluar pintu kamar begitu kau berteriak tolong, aku pasti akan berperkara. Begitu berteriak ada


perkosaan, aku mungkin dipukuli dulu sampai setengah mati oleh


pelayan penginapan baru diantar kekantor polisi." Dia gunakan kaki mengait kursi sebelah kanan, "duduklah! Aku telah memeriksa di luar, tidak ada jebakan, dan bukan siasat wanita cantik. Tapi, walau


sungguh siasat wanita cantik aku juga tidak takut."


"Tuan Fu, kau bisa keluar masuk, aku malah sedikit pun tidak


merasakannya, sungguh latihan mata dan telingaku ini sia-sia saja. Tidak ada orang yang dapat pulang pergi di sisiku tanpa diketahui olehku, jadi tidak mungkin, kau pasti bersembunyi di suatu tempat di dalam kamar."


Kata nona Duan-mu duduk dengan tegas, "tadi aku mencari dan tidak perhatikan di atas kelambu."


"Di atas kelambu" Coba kau bersembunyi di sana biar aku lihat?" dia tertawa mengulurkan tangan, "katamu aku tidak mungkin pulang pergi di sisimu, coba lihat ini apa" Kukembalikan dengan utuh, aku bukan laki-laki aneh yang suka mengumpulkan hiasan wanita."


Di telapaknya, ada satu kantung munggil bersulamkan emas.


Gambar yang di sulam adalah sepasang burung Feng-fang, wangi


semerbak. Nona Duan-mu dengan reflek mengulurkan tangan dan


menundukan kepala, menekan pinggangnya, kantong yang


"Kau......kau kau......" kali ini wajahnya benar-benar menjadi merah, "sudahlah, kau ini seperti setan! Hanya setan yang dapat datang tanpa ada bayangan pergi tanpa ada jejak."


"Sayang aku bukan benar-benar setan." Dia menaruh kantong di tangan nona itu, "sinar lampu gelap, mendorong pintu akan membawa angin membuat api bergoyang, kau terlalu fokus dan percaya diri, tidak terhindar berpikiran salah, melihat yang besar tapi tidak melihat yang kecil. Mata manusia kadang tidak bisa diandalkan, makanya ada orang di siang hari bisa bertemu setan. Kau kata datang untuk berdamai, tidak tahu mau damai dengan cara bagaimana?"


"Margaku Duan-mu......"


"Aku tahu, kau adalah Angin Awan Duan-mu Xiu-yin salah satu dari Tujuh Wanita Hebat Dunia Persilatan, satu Ying dua Yan empat Feng-fang.


Delapan Keluarga Besar Dunia Persilatan, putri dari keluarga Duan-mu di Tian-tai, murid langsung dari salah satu empat cabang Wu-dang, yang menguasai pertarungan di udara yang tiada duanya di dunia. Kali ini dengan Shuang-jie-shu-sheng bertamu di keluarga Li, tadinya berniat ke


Long-zhong bertemu dengan Zhu-ge Chaolu, karena terlibat dalam


perselisihan ini, demi kebenaran dunia persilatan jadi tidak bisa melepaskan diri."


"Ooo...! tampak kau sudah tahu semuanya."


"Tapi, malah tidak tahu niat Tuan besar Li."


"Dia bermusuhan dengan Delapan Terhebat Nan-yang


(Nan-yang-ba-jie), bukan hal yang terjadi satu dua hari......"


"Masalahku tidak ada hubungannya dengan mereka, Nanyang-ba-jie juga tahu, mereka mengutus orang jauh-jauh datang ke


daerah kekuasaan keluarga Li untuk menuntut, pasti tidak akan


berhasil, makanya mengundang beberapa teman kesini diam-diam

__ADS_1


mengacau, tapi tidak ada gunanya, mereka sama sekali tidak ada


niat menyerang besar-besaran. Huo-bao-ing dengan Bu-fei-khe,


karena penasaran jadi ingin terus mengacau, Tuan Li tidak perlu


membesar-besarkan masalah kecil ini. Aku tahu dia melakukan ini


bermaksud menutupi hatinya yang tidak tenang, untuk membelokan


perhatian pihak luar dan berencana meninggalkan sebuah


jalan untuk dirinya melepas dosa dan tanggung jawabnya."


"Iii..! Maksudmu......"


"Jangan tanya maksudku, kau boleh tanya maksudnya Tuan


besar Li." Segera dia berkata lagi, "lebih-lebih harus bertanya maksudnya Li Hoa-rong."


"Aku tidak mengerti......"


"Nona, kau bukan tidak mengerti, tapi tidak mau, juga tidak ingin mengerti, tidak perlu aku jelaskan lagi." Tawanya terasa dingin, "tuan besar Li mengundangmu datang, tentu saja ingin membicarakan


masalah Jin-ba-dou, tidak ingin membicarakan yang lain, supaya tidak timbul masalah lain, malah tidak ingin membicarakan masalah


Nan-yang-ba-jie, apa tebakan aku benar?"


"Ini......benar......Jin-ba-dou......"


"Masalah Jin-ba-dou tidak perlu dibicarakan, dia menghinaku, aku membalasnya, membalas dengan cara terang-terangan dan adil, tidak


ada perlunya dibicarakan" Berandalan memukul berandalan, satu


pukulan dibalas satu pukulan, katakan saja berandalan memukul


sembilansembilan, tidak memukul lebih satu, aku tidak menginginkan nyawanya, itu sudah pantas sekali, tidak terhitung ditambah satu?"


"Tuan Fu, pribahasa berkata......"


"Jangan bicara pribahasa denganku." katanya serius, "Jinba-dou sudah pantas mendapat hukuman, aku ada di pihak yang benar,


menurut aturan yang ada, aku tidak takut aturan umum dunia


persilatan. Keluarga Li menguasai Xiang-yang, entah sudah berapa


banyak orang binasa di tangannya, Jinba-dou di beri pelajaran


olehku, bukankah ini hal yang biasa" Bagaimana pun orang tidak bisa seumur hidupnya menang terus, pasti ada satu atau dua kali kalah."


"Harap beri satu kesempatan pada Jin-ba-dou." Duan-mu Xiu Yin menatap dia, "paling sedikit dia bukan seorang yang sangat jahat, seorang yang pernah mati satu kali bisa berubah jadi baik." "Dia tidak akan mati, tunggu setelah keluarga Li menyelesaikan masalahnya,


aku akan mengampuni dia." perkataannya tidak perdulikan tatapan lawan, dengan wajah tenang berkata lagi, "tapi aku curiga Tuan besar Li ingin menyelesaikan secara kekerasan. Dia memang juga bukan


dari aliran pendekar, tidak ada didikan seorang pendekar yang besar hati, tahu mana yang benar mana yang salah, dapat membedakan


mana yang jahat mana yang baik, dia hanyalah seorang penguasa


setempat yang demi mencapai tujuannya, menggunakan segala cara.

__ADS_1


__ADS_2