Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
episode 2


__ADS_3

Dia berdiri, berhenti berjalan.


Pelan-pelan dia menaruh keranjang jinjing nya, berdiri


konsentrasi, wajahnya telah berubah, berubah jadi dingin, aneh,


sepasang matanya bersinar, seluruh tubuhnya penuh dengan


hawa yang menakutkan. Dia mengambil pedangnya dan diselipkan dipinggang,


mengangkat kain mantel panjang disisipkan kepinggangnya,


menggulung lengan baju, memeriksa pelindung lengan sebelah kiri


dan kanan. Diluar pelindung tangannya masingmasing ada tiga bilah


pisau yang bentuknya tidak aneh tapi bersinar dan melengkung


seperti bulan sabit, nama pisaunya adalah Xiu-luo, buatan India.


Karena senjatanya, dia di dunia persilatan dijuluki: Xie-jianxiu-luo (Pedang Sesat Pisau Melengkung).


Nama Xie-jian-xiu-luo, didunia persilatan diakui sebagai orang


yang paling berani, paling sulit ditebak, paling sulit dihadapi, pesilat muda misterius, tidak perduli pesilat mana baik dari golongan putih atau golongan hitam, semua segan terhadapnya, selain itu


perbuatannya tidak pernah bohong dan tidak pernah menyesal.


Walau Xie-jian-xiu-luo menggemparkan dunia persilatan, tapi


orang yang tahu nama asli dan wajah aslinya, sangatlah sedikit


sekali. Setelah pagi lewat, didalam kampung hanya tinggal


beberapa orang saja. Semua orang-orang kampung sudah pergi ke gunung


membetulkan kuburan atau bersembahyang pada nenek


moyang. Kemudian dia muncul dibawah pohon besar di mulut kampung, di


depan satu jembatan kecil dari kayu yang melintang diatas sungai,


dia berdiri cliatas jembatan, melihat pekarangan rumah dia yang


berjarak setengah li. Dia tidak melihat lagi kearah kampung, mulutnya menyungging


tawa dingin, tiba-tiba dengan langkah besar dia melewati jembatan


kecil, dia berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Wajahnya sekali pun tidak menengok


Tidak lama kemudian, ada delapan orang, tua, muda, lakilaki,


wanita menelusuri jalan kecil mengejarnya.


Yang paling depan adalah seorang tua berusia lima puluhan, dengan


wajah berbentuk segi tiga, bermulut besar, berkumis tipis carang,


matanya seperti elang bersinar dingin. Dipinggang-nya terselip sebilah pedang antik panjang, dan menggantung segulung tali dengan kail tiga mata y, ing bersinar.


Delapan orang itu, setiap orangnya juga membawa segulung


tali aneh ini, tali yang tidak bisa putus di potong golok.


"Dia harus mati!"


Orang tua setengah baya itu sambil berlari sambil memaki:


"Tidak disangka, setelah sembahyang pada nenek moyangnya,


dia tidak kembali kerumahnya, memilah langsung pergi, sia-sia kita

__ADS_1


menunggu dia setengah harian, hingga kehilangan kesempatan baik


membunuhnya!" "Orang tua Lu!" kata seorang setengah baya kurus dibelakangnya,


"apa mungkin dia telah melihat kita, makanya dia melarikan diri?"


"Tidak mungkin." Kata orang tua Lu dengan pasti, "di saat begini, tidak seorang pun akan menduga ada orang bersembunyi di dalam


rumah menunggu dia masuk."


"Mungkin sudah tidak bisa dikejar lagi."


"Omong kosong! Dia cuma berjalan dengan langkah biasa,


memangnya bisa jalan seberapa jauh" Jika kita mengejar, paling


sedikit lebih cepat dari dia lima kalinya."


"Tuan Lu, bisa mengejar dia juga sudah tidak ada


kesempatan untuk mengatur jebakan lagi."


"Asal kita sudah melihat dia, maka kita coba melewati dia dari samping dan di depannnya kita cari tempat mengatur jebakan, itulah sebabnya aku menyuruh marga Li bersaudara mendahului dia."


"Pak Lu, aku selalu merasa ini tidak baik, terlalu


berbahaya." "Kau jangan banyak omong kosong, tidak bagus" Jika takut, kau tidak usah ikut." Kata tuan Lu dengan tidak senang.


Jalan kecil ini melewati perbukitan yang berliku-liku ke arah


selatan, menuju ke kota An qing, disepanjang jalan jarang ada


perkampungan, tidak ada manusia, burung dan binatang liar


berkeliaran dimana-mana, tidak usah takut bertemu dengan orang.


Setelah beberapa saat mengejar, jalan kecil itu membelok, hutan


melewati bukit barat, di sebelah barat jalan kecil ada satu parit


yangjernih. "Aduh!" Tuan Lu yang didepan tiba-tiba berteriak terkejut dan


mendadak menghentikan langkahnya.


Tujuh orang lainnya yang dibelakang tidak keburu


mengerem, hampir saja bertabrakan.


Di bawah pohon kecil disebelah kanan jalan, terbaring dua orang


setengah baya berbaju ringkas.


Posisi pedang dan kantung serba gunanya masih tetap


ditempatnya, bisa dipastikan mereka tidak pernah mengalami


pertarungan. Wajahnya putih pucat seperti kertas, bibirnya


membiru, sepasang matanya melotot besar, titik mata


hitamnya sudah buyar. Siapa pun bisa melihatnya, dua orang ini sudah mati.


Matinya belum lama, karena mayatnya masih hangat.


"Marga Li bersaudara sudah mati!" kata tuan Lu sambil


menarik nafas dingin. Di depannya tiba-tiba terdengar ada orang yang bernyanyi.


Mendengar nyanyian itu tuan Lu berteriak dengan marah dan


sedih! Nyanyian itu terdengar keluar, sampai di lapangan datar.

__ADS_1


Di tengah-tengah lapang, seperti setan bayangan Fu Ke-wei


tiba-tiba muncul. Nyanyian sudah berhenti, orangnya berdiri disana tidak bergerak juga tidak bicara, hawa pembunuhan yang dingin memenuhi sekitar tempat


itu, delapan orang yang berada jauh seratus langkah lebih, tetap


merasakan tekanan hawa dingin yang tidak terhingga.


Segera tuan Lu mengibaskan tangannya, sambil menggigit gigi


berjalan mendekat. Tujuh orang lainnya membagi diri kekiri dan kekanan, pelan-pelan


mengurung, sambil pelan-pelan mendekat, sambil melepaskan


gulungan tali dengan tiga mata kail itu.


Fu Ke-wei berdiri seperti gunung, dengan sorot mata bersinar


menyambut delapan orang yang datang mengurung.


Delapan orang itu mempercepat langkahnya, dan dua sayapnya


semakin melebar, akhirnya berhasil mengurung dari empat penjuru,


delapan orang itu membentuk kurungan bulat.


Delapan buah tali dengan tiga mata kailnya mulai diputar, sambil


diputar talinya pelan-pelan diulur semakin panjang.


Tapi Fu Ke-wei tetap berdiri tegak, seperti patung batu. Suara putaran tali semakin lama semakin keras, delapan set mata kailnya semakin


diputar semakin kencang bergerak.


Asalkan ada perintah, maka delapan set kail besi itu akan


menyatu dari delapan arah, walau kail besi tidak mengenai sasaran, dalam keadaan tertali oleh delapan tali aneh, pasti akan dapat


mengikatnya, dan menarik jatuh. Sulit dapat menghindarnya.


"Anjing kecil, apa kau sudah tahu kami akan datang?" tanya tuan Lu menggigit gigi.


"Bukankah kalian sudah datang?" katanya dengan tertawa tawar.


"Pasti ada orang yang memberitahukan sebelumnya."


"Jika ada, pasti orang-orang kalian."


"Benar saja ada mata-mata di antara orang-orang kita." Kata tuan Lu kesal, "tapi kau tetap telah jatuh di tanganku."


"Kau kira aku tidak sanggup membunuh kalian, bisa sebodoh ini berdiam disini menunggu kalian datang mengepung?" Wajah Fu Ke-wei semakin dingin, "sebelum Sepasang Pedang Li mati, mereka telah mengatakan, dipekarangan depan rumahku kalian telah menyiapkan


jebakan tali, makanya aku membawa kalian ketempat yang lapang,


supaya kalian bisa melakukannya dengan sepenuh kekuatan, supaya


mati pun kalian bisa menutup mata. Bukankah kau telah menghabiskan waktu tiga tahun, dan menghabiskan banyak uang untuk memesan tali


khusus Penangkap Naga, kalau tidak ada gunanya, disamping itu


bagaimana kalian akan puas setelah mati" Sekarang ayo lakukanlah! Aku sudah menunggu kalian!"


Di dalam hatinya, tuan Lu menjadi gentar, jika lawan tidak ada


keyakinan, mana mungkin sebodoh itu menunggu musuh datang


mengepungnya" Dia jadi ragu-ragu bertindak, yang lebih penting


lagi dia sudah kehilangan kesempatan mengendalikan keadaan,


hatinya sudah tidak mantap, begitu kehilangan kepercayaan

__ADS_1


membuat dia ragu-ragu bertindak.


__ADS_2