
Dia berdiri, berhenti berjalan.
Pelan-pelan dia menaruh keranjang jinjing nya, berdiri
konsentrasi, wajahnya telah berubah, berubah jadi dingin, aneh,
sepasang matanya bersinar, seluruh tubuhnya penuh dengan
hawa yang menakutkan. Dia mengambil pedangnya dan diselipkan dipinggang,
mengangkat kain mantel panjang disisipkan kepinggangnya,
menggulung lengan baju, memeriksa pelindung lengan sebelah kiri
dan kanan. Diluar pelindung tangannya masingmasing ada tiga bilah
pisau yang bentuknya tidak aneh tapi bersinar dan melengkung
seperti bulan sabit, nama pisaunya adalah Xiu-luo, buatan India.
Karena senjatanya, dia di dunia persilatan dijuluki: Xie-jianxiu-luo (Pedang Sesat Pisau Melengkung).
Nama Xie-jian-xiu-luo, didunia persilatan diakui sebagai orang
yang paling berani, paling sulit ditebak, paling sulit dihadapi, pesilat muda misterius, tidak perduli pesilat mana baik dari golongan putih atau golongan hitam, semua segan terhadapnya, selain itu
perbuatannya tidak pernah bohong dan tidak pernah menyesal.
Walau Xie-jian-xiu-luo menggemparkan dunia persilatan, tapi
orang yang tahu nama asli dan wajah aslinya, sangatlah sedikit
sekali. Setelah pagi lewat, didalam kampung hanya tinggal
beberapa orang saja. Semua orang-orang kampung sudah pergi ke gunung
membetulkan kuburan atau bersembahyang pada nenek
moyang. Kemudian dia muncul dibawah pohon besar di mulut kampung, di
depan satu jembatan kecil dari kayu yang melintang diatas sungai,
dia berdiri cliatas jembatan, melihat pekarangan rumah dia yang
berjarak setengah li. Dia tidak melihat lagi kearah kampung, mulutnya menyungging
tawa dingin, tiba-tiba dengan langkah besar dia melewati jembatan
kecil, dia berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Wajahnya sekali pun tidak menengok
Tidak lama kemudian, ada delapan orang, tua, muda, lakilaki,
wanita menelusuri jalan kecil mengejarnya.
Yang paling depan adalah seorang tua berusia lima puluhan, dengan
wajah berbentuk segi tiga, bermulut besar, berkumis tipis carang,
matanya seperti elang bersinar dingin. Dipinggang-nya terselip sebilah pedang antik panjang, dan menggantung segulung tali dengan kail tiga mata y, ing bersinar.
Delapan orang itu, setiap orangnya juga membawa segulung
tali aneh ini, tali yang tidak bisa putus di potong golok.
"Dia harus mati!"
Orang tua setengah baya itu sambil berlari sambil memaki:
"Tidak disangka, setelah sembahyang pada nenek moyangnya,
dia tidak kembali kerumahnya, memilah langsung pergi, sia-sia kita
__ADS_1
menunggu dia setengah harian, hingga kehilangan kesempatan baik
membunuhnya!" "Orang tua Lu!" kata seorang setengah baya kurus dibelakangnya,
"apa mungkin dia telah melihat kita, makanya dia melarikan diri?"
"Tidak mungkin." Kata orang tua Lu dengan pasti, "di saat begini, tidak seorang pun akan menduga ada orang bersembunyi di dalam
rumah menunggu dia masuk."
"Mungkin sudah tidak bisa dikejar lagi."
"Omong kosong! Dia cuma berjalan dengan langkah biasa,
memangnya bisa jalan seberapa jauh" Jika kita mengejar, paling
sedikit lebih cepat dari dia lima kalinya."
"Tuan Lu, bisa mengejar dia juga sudah tidak ada
kesempatan untuk mengatur jebakan lagi."
"Asal kita sudah melihat dia, maka kita coba melewati dia dari samping dan di depannnya kita cari tempat mengatur jebakan, itulah sebabnya aku menyuruh marga Li bersaudara mendahului dia."
"Pak Lu, aku selalu merasa ini tidak baik, terlalu
berbahaya." "Kau jangan banyak omong kosong, tidak bagus" Jika takut, kau tidak usah ikut." Kata tuan Lu dengan tidak senang.
Jalan kecil ini melewati perbukitan yang berliku-liku ke arah
selatan, menuju ke kota An qing, disepanjang jalan jarang ada
perkampungan, tidak ada manusia, burung dan binatang liar
berkeliaran dimana-mana, tidak usah takut bertemu dengan orang.
Setelah beberapa saat mengejar, jalan kecil itu membelok, hutan
melewati bukit barat, di sebelah barat jalan kecil ada satu parit
yangjernih. "Aduh!" Tuan Lu yang didepan tiba-tiba berteriak terkejut dan
mendadak menghentikan langkahnya.
Tujuh orang lainnya yang dibelakang tidak keburu
mengerem, hampir saja bertabrakan.
Di bawah pohon kecil disebelah kanan jalan, terbaring dua orang
setengah baya berbaju ringkas.
Posisi pedang dan kantung serba gunanya masih tetap
ditempatnya, bisa dipastikan mereka tidak pernah mengalami
pertarungan. Wajahnya putih pucat seperti kertas, bibirnya
membiru, sepasang matanya melotot besar, titik mata
hitamnya sudah buyar. Siapa pun bisa melihatnya, dua orang ini sudah mati.
Matinya belum lama, karena mayatnya masih hangat.
"Marga Li bersaudara sudah mati!" kata tuan Lu sambil
menarik nafas dingin. Di depannya tiba-tiba terdengar ada orang yang bernyanyi.
Mendengar nyanyian itu tuan Lu berteriak dengan marah dan
sedih! Nyanyian itu terdengar keluar, sampai di lapangan datar.
__ADS_1
Di tengah-tengah lapang, seperti setan bayangan Fu Ke-wei
tiba-tiba muncul. Nyanyian sudah berhenti, orangnya berdiri disana tidak bergerak juga tidak bicara, hawa pembunuhan yang dingin memenuhi sekitar tempat
itu, delapan orang yang berada jauh seratus langkah lebih, tetap
merasakan tekanan hawa dingin yang tidak terhingga.
Segera tuan Lu mengibaskan tangannya, sambil menggigit gigi
berjalan mendekat. Tujuh orang lainnya membagi diri kekiri dan kekanan, pelan-pelan
mengurung, sambil pelan-pelan mendekat, sambil melepaskan
gulungan tali dengan tiga mata kail itu.
Fu Ke-wei berdiri seperti gunung, dengan sorot mata bersinar
menyambut delapan orang yang datang mengurung.
Delapan orang itu mempercepat langkahnya, dan dua sayapnya
semakin melebar, akhirnya berhasil mengurung dari empat penjuru,
delapan orang itu membentuk kurungan bulat.
Delapan buah tali dengan tiga mata kailnya mulai diputar, sambil
diputar talinya pelan-pelan diulur semakin panjang.
Tapi Fu Ke-wei tetap berdiri tegak, seperti patung batu. Suara putaran tali semakin lama semakin keras, delapan set mata kailnya semakin
diputar semakin kencang bergerak.
Asalkan ada perintah, maka delapan set kail besi itu akan
menyatu dari delapan arah, walau kail besi tidak mengenai sasaran, dalam keadaan tertali oleh delapan tali aneh, pasti akan dapat
mengikatnya, dan menarik jatuh. Sulit dapat menghindarnya.
"Anjing kecil, apa kau sudah tahu kami akan datang?" tanya tuan Lu menggigit gigi.
"Bukankah kalian sudah datang?" katanya dengan tertawa tawar.
"Pasti ada orang yang memberitahukan sebelumnya."
"Jika ada, pasti orang-orang kalian."
"Benar saja ada mata-mata di antara orang-orang kita." Kata tuan Lu kesal, "tapi kau tetap telah jatuh di tanganku."
"Kau kira aku tidak sanggup membunuh kalian, bisa sebodoh ini berdiam disini menunggu kalian datang mengepung?" Wajah Fu Ke-wei semakin dingin, "sebelum Sepasang Pedang Li mati, mereka telah mengatakan, dipekarangan depan rumahku kalian telah menyiapkan
jebakan tali, makanya aku membawa kalian ketempat yang lapang,
supaya kalian bisa melakukannya dengan sepenuh kekuatan, supaya
mati pun kalian bisa menutup mata. Bukankah kau telah menghabiskan waktu tiga tahun, dan menghabiskan banyak uang untuk memesan tali
khusus Penangkap Naga, kalau tidak ada gunanya, disamping itu
bagaimana kalian akan puas setelah mati" Sekarang ayo lakukanlah! Aku sudah menunggu kalian!"
Di dalam hatinya, tuan Lu menjadi gentar, jika lawan tidak ada
keyakinan, mana mungkin sebodoh itu menunggu musuh datang
mengepungnya" Dia jadi ragu-ragu bertindak, yang lebih penting
lagi dia sudah kehilangan kesempatan mengendalikan keadaan,
hatinya sudah tidak mantap, begitu kehilangan kepercayaan
__ADS_1
membuat dia ragu-ragu bertindak.