Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 25


__ADS_3

Tapi Fu Ke-wei dapat menghindar serangan maut ini, dia telah


menggunakan cara menghindar dengan menggulingkan tubuh di


tanah, gerakan yang tidak sudi digunakan oleh seorang pesilat tinggi dalam menghindarkan bahaya.


Tangan kiri ketua Zan merogoh kantong senjata gelap yang ada di


bawah tali pinggangnya, semacam benda sudah berada ditangannya


lagi. Fu Ke-wei melemparkan pedangnya sejauh tiga zhang lebih,


berjalan berkeliling merubah posisi.


Tangan dia sedikit mengepal, orang yang di pinggir tidak dapat


melihat di tangannya ada benda apa.


Ketua perkumpulan Zhan pelan-pelan juga merubah posisi, tidak


memperdulikan luka di iga kanannya.


Dua ahli top senjata gelap, segera akan ada menentukan siapa


yang akan lenyap dari bumi ini atau mungkin keduanya bersamaan


mati. Berkeliling setengah lingkaran besar, Fu Ke-wei yang


menyerang pertama, sepasang tangannya diayunkan, lalu


tubuhnya dijatuhkan kekiri.


Kuda-kudanya dari tadi sudah terbuka, jadi mudah saja


menjatuhkan diri. Tapi, tubuh dia tidak jatuh sekali, hanya sedikit bergoyang saja, tubuhnya sudah kembali kesemula.


Sepasang tangannya diayunkan, tapi hanya melemparkan


sebuah Pisau Xiu-luo saja dari tangan kirinya.


Ketua Zhan melempar senjata gelapnya lebih lambat sekejap,


sebuah pisau daun Liu seluruhnya menusuk kedalam rerumputan di


sebelah kiri Fu Ke-wei. Jika Fu Ke-wei tadi benar-benar menjatuhkan diri, saat ini dia


sudah mati di tanah tertusuk pisau daun Liu.


Senjata gelapnya sangat cepat, walau bisa di lihat oleh mata tapi


susah menghindar, maka hanya mengandalkan pengalaman dan


keputusan yang tepat baru bisa menghindar. Bisa dikatakan, begitu


senjata gelap dilepaskan sudah ditentukan mati atau hidupnya.


Orang yang salah antisipasi, orang itulah yang akan melangkah


masuk ke kuburan. Ketua Zhan sudah melemparkan pisau daun Liu, karena yang


digunakan adalah tangan kiri, menurut kebiasaan dia pasti bergerak ke kanan, tapi dia malah sebaliknya melawan kebiasaan, dia bergerak ke kiri, siapa tahu gerakannya malah masuk kedalam perhitungan-nya Fu Ke-wei, tubuhnya tepat menyambut datangnya Pisau Xiu-luo, dia ingin menghindar tapi sudah tidak keburu.


"Ah...!" Ketua perkumpulan Zhan berteriak, tubuhnya sekali bergoyang sekali bergetar, Pisau Xiu-luo sudah masuk kedalam sisi


perut kirinya, tidak tertahan dia mundur dua langkah.


Satu kilatan lagi berkelebat, Pisau Xiu-luo kedua membelah angin


datang, cepatnya laksana kilat.


"Aiit! " ketua Zhan kembali teriak, mundur lagi dua langkah.

__ADS_1


Pisau Xiu-luo menusuk di bahu kiri, sampai ke celah tulang.


"Beritahu aku, siapa pelanggannya?" Fu Ke-wei dengan suara dalam berteriak.


"Aku aku tidak akan beritahu, ini adalah....a ....aturan " ketua Zhan dengan suara gemetar berteriak, selangkah demi selangkah


mendekat pada Fu Ke-wei. Fu Ke-wei melayangkan tangan kiri, Pisau Xiu-luo ketiga satu


kilatan sudah sampai, masuk ke dalam bahu kanan ketua Zhan.


Ketua perkumpulan Zhan seperti terkena petir, hampir saja jatuh


ke belakang, tapi bisa di tahannya, dengan bengis kembali


melangkah ke depan. "Aku terpaksa membunuhmu." Kata Fu Ke-wei menggigit gigi.


Ketua Zhan sudah mendekat sampai kurang dari satu zhang,


tangan kanan yang tadinya sudah mati rasa mendadak di ayunkan,


diiringi sebuah keluhan sakit, dan jatuh kedepan.


Fu Ke-wei mengulurkan tangan kiri, menangkap sebuah jarum tipis


sepanjang lima cun, tadinya dia ingin segera menyerang kembali,


akhirnya dia melemparkan jarum tipis itu ke pinggir, berjalan pada ketua Zhan yang tengkurap meronta di rerumputan.


Dia berhak membunuh ketua Zhan, dia berdiri di samping tubuh


ketua Zhan, tangan kanannya diangkat perlahan, pisau Xiu-luo yang


kecil ujungnya menonjol di ujung jari.


"Berhenti!" dari kejauhan Zhao-zhong yang menjadi


seorang saksi cepat berteriak.


Pedang Penakluk Iblis polisi Xu sekelebat sudah sampai, dia


"Saudara Zhao, apa kau tahu kau sedang melakukan apa?"


"Aku tahu." Kata Zhao-zhong tegas, "aku tidak akan


menghalangi Xie-jian-xiu-luo mengambil nyawa ketua Zhan, aku


hanya ingin bicara dengan marga Fu."


"Apa yang ingin kau bicarakan?"


"Aku ingin membicarakan syarat dengan dia, aku bukan orang


ketua Zhan." "Biarkan dia datang kemari." Fu Ke-wei berteriak, "polisi Xu, aku dapat menghadapinya."


Zhao-zhong cepat mendekat, katanya:


"Pergilah cari orang yang akhir-akhir ini telah bermusuhan dengan mu, hargamu adalah lima belas ribu liang perak."


Fu Ke-wei jadi sadar, juga mengeluh:


"Orang yang sanggup mengeluarkan uang lima belas ribu liang


perak, tidak ada seberapa."


"Apa sudah cukup?" tanya Zhao-zhong.


"Terima kasih, aku akan ambil kembali pisauku."


"Bila percaya padaku, biar aku yang ambil."


"Aku percaya padamu." Kata Fu Ke-wei sambil mundur kesisi.

__ADS_1


Zhao-zhong melepaskan kantong serba adanya, mengeluarkan dulu


obat-obatan yang diperlukan, membalikan tubuh ketua Zhan yang hampir pingsan, dua tangannya bergerak, menghentikan darah yang mengucur, lalu memasukan pil obat kedalam mulut ketua Zhan, lalu mencabut iga buah pisau Xiu-luo, menyobek baju dengan ancarnya memberikan obat


bubuk membalut luka. "Kukembalikan barangmu." Zhao-zhong Derdiri sambil


mengembalikan pisau Xiu-luo, "kau idak takut aku mengambil


kesempatan?" "Kau sangat hati-hati." Fu Ke-wei dengan :enang menerima pisau Xiu-luo, "pisau Xiu-luo iitanganku ini, kapan saja bisa dilemparkan nenusuk titik kematianmu, kau tidak akan mau nenempuh bahaya


melakukannya." "Kau telah menang."


"Lima belas ribu liang perak, sebelum hari *elap harus sudah


diantarkan ke toko obat Hui Vlin."


"Pasti sampai ditujuan."


Fu Ke-wei membalikan tubuh langsung oergi, langkahnya


mantap dan bertenaga.


Setengah bulan kemudian. Di benteng Tian-long yang terletak di bukit Bai-wen gunung Huang,


menyala api besar, asap tebal mengepul keudara.


Sekelompok laki-laki dan perempuan mem bawa peti perbekalan


dan bungkusan baju, sedang menelusuri jalan kecil


berbondong-bondong turun gunung.


Di pinggir jalan Fu Ke-wei melangkah keluar menghadang dijalan


sambil tersenyum bertanya:


"Saudara-saudara, ada hal yang ingin ku tanyakan,


apayang terjadi di benteng Tian-long?"


Seorang pria besar setengah baya yang membawa kapak besar


mendatangi, dengan aneh bertanya:


"Anda marga apa" Apakah temannya ketua benteng?"


"Betul, aku adalah teman lama ketua benteng Lu, Apakah


benteng Tian-long terkena api langit?"


"Kami yang membakarnya, atas perintah."


"Atas perintah" Atas perintah siapa?"


"Ketua benteng kami!"


"Dimana ketua benteng Lu?"


"Dia tiga hari lalu ketua telah pergi membawa beberapa orang."


Kata pria besar setengah baya, "sebelum pergi dia berpesan, setelah tiga hari dia pergi bakar bentengnya, supaya benteng Tian-long


lenyap dari dunia persilatan, dan menghindarkan musuh mencari


jejaknya dan mengejar."


"Ooo! Begitu. Kalian ini kapan tinggal di benteng Tianlong?"


"Dua tahun lalu kami datang ke benteng Tian-long."


"Tidak aneh kalian tidak kenal aku."

__ADS_1


"Kau ini " "Aku, Xie-jian-xiu-luo." Dia tertawa menggoyangkan


tangan, "kalian baik-baik di jalan, sampai jumpa."


__ADS_2