Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 127


__ADS_3

Penunggang kuda laki-laki dan perempuan yang memimpin


didepan, ternyata adalah Yu-shu-xiu-shi Gao Yun-fei dan Lingyun-yan Liu Fei-yan.


Dua orang pedagang kecil mengikuti dengan ketat puluhan


pununggang kuda yang ada di depannya, dengan santainya menuju terus ke utara. Mereka adalah Hoa-fei-hoa dan Ouw Yu-zhen.


Hoa-fei-hoa di Jiang-hu adalah penyamar wajah yang tidak ada


tandingannya, Ouw Yu-zhen adalah pembunuh bayaran misterius,


teknik penyamarannya juga tidak kalah oleh Hoafei-hoa.


Reaksi orang biasa terhadap musuh, biasanya ada dua


macam. Satu adalah menghindar, paling bagus selamanya tidak


ketemu lagi. Satu lagi adalah menghilangkan dia memutus selamanya bahaya


dikemudian hari. Benteng Zhang-feng telah menjalin persekongkolan dengan


perkumpulan Cun-qin, dan sudah jadi kenyataan yang tidak bisa


didebat lagi. keduanya dianggap musuh juga amat logis.


Ketika Fu Ke-wei malam-malam menyerang benteng Zhang-feng,


siapapun yang ditemuinnya langsung dibunuhnya, di dalam


pertempuran itu. siapa pun tidak bisa mengenalnya, Fu Ke-wei dan


Hoa-fei-hoa dengan kawankawan semua tidak tahu orang-orangnya


perkumpulan Cunqiu telah diam-diam melarikan diri.


Ketua benteng Xi dan anaknya tanpa bertempur sudah melarikan diri, orang-orangnya perkumpulan Cun-qiu juga secara diam diam telah


meninggalkan Shan-xi, Fu Ke-wei belum berhasil mengejar Pedang


Naga Terbang Lu-zhao, dendam Hoa-fei-hoa juga belum terbalas, mana mereka mau berhenti"


Dia menduga asalkan menguntip ketat orang pentingnya


perkumpulan Cun-qiu, pasti bisa menemukan keberadaannya ketua


benteng Xi dan anaknya. Ketua benteng Xi dan anaknya bereaksi jenis orang


pertama: menghindar. Fu Ke-wei dan Hoa-fei-hoa bereaksi jenis orang kedua:


memusnahkan musuh. Dengan demikian, terjadi saling mengejar, saling memburu untuk


membunuhnya. Kebanyakan orang didunia ini, demi melanjutkan hidupnya jadi


sibuk lari kesana kemari, asalkan bisa hidup tenang dan gembira


sudah merasa puas. Orang punya tujuan hidup masing-masing, ada yang demi nama,


demi keuntungan, demi harapan, demi budi dendam.......bermacam


macam tujuan. Semua ini walau merupakan sumber kekacauan, tapi jika tidak


ada orang-orang ini, dunia ini juga jadi terlalu sepi, setiap orang hidupnya akan seperti ulat sutra, dunia macam apa itu"

__ADS_1


Orang kadang seperti seekor keledai yang ditutup matanya


mendorong gilingan. Saat pecut dipukulkan kepunggungnya, dia


hanya bisa jalan kedepan, walau sampai dia sendiri pun tidak tahu


harus jalan sampai kapan baru berhenti.


Saat ini dijalan raya ini, ada banyak keledai yang ditutup


matanya seperti mendorong gilingan.


Dari kejauhan tampak satu kota, yaitu kota kabupaten Wuchang


yang letaknya ditengah tengah pertemuan jalur darat dan jalur air, yang ternama, tapi jarak ke kota Wu-chang masih ada setengah hari


perjalanan. Sudah sekitar jam empat sore, sebelum malam baru bisa


mencari penginapan dulu. Yu-shu-xiu-shi dan kawan-kawannya, sebelas orang lakilaki dan


perempuan, menginap di penginapan Yue-bin dipelabuhan Da-he,


sebuah penginapan paling besar diluar kota kabupaten, garasi kereta dan kandang kudanya paling komplit.


Hoa-fei-hoa dan Ouw Yu-zhen memperlambat kudanya, kemudian


pelan-pelan turun dari kuda didepan penginapan tua Han-jiang yang


berada di sebelah selatan pelabuhan.


Mereka tidak berniat membunuh orang-orang itu, hanya


berharap dari orang-orang itu bisa mendapatkan berita tentang


Mereka berdua adalah ahlinya pembunuh bayaran, didalam


kerumunan orang mereka bisa diam-diam membunuh orang,


semudah seperti membalikan tangan.


Mereka menginap dipenginampan dengan menyamar


sebagai laki-laki, untuk menyesuaikan dengan dandanan


pedagang kecil, mereka hanya menyewa satu kamar.


Dikatakan kebetulan ya kebetulan sekali, baru saja, membawa


buntalannya mengikuti pelayan masuk kekamar, mereka sudah


melihat bayangan punggung seorang yang dikenal sedang jalan


dikoridor seberang. "Kenapa dia bisa ada disini." Hoa-fei-hoa merasa aneh, dia berkata pelan pada Ouw Yu-zhen, "mungkin dia tahu, mungkinkah datang dengan tujuan yang sama?"


Hoa-fei-hoa adalah ahlinya penyamaran, sekali melihat dia sudah


tahu wajah asli lawannya.


"Sangat mungkin, nanti kita cari dia." Ouw Yu-zhen juga


melihat wajah asli orang itu.


Setelah mandi, hari masih belum malam, dua orang jalan

__ADS_1


kekoridor seberang, mengetuk pintu dengan pelan.


"Siapa?" didalam ada orang yang tanya.


"Mengantarkan teh, tuan." Jawab Hoa-fei-hoa


menggunakan suara laki-laki.


"Pintunya tidak dikunci."


Mereka berdua berjongkok kebawah, mengulurkan kaki


membuka pintu kamar. Benar saja didalam kamar keluar satu tangan besar, lima


jarinya seperti cakar baja.


Dua orang itu seperti ular, dari bawah menyelinap masuk


kedalam kamar. "Masih kurang waspada."


Dua wanita itu berdiri tertawa, kembali mengeluarkan suara


wanitanya. "Kalian, waspada sekali." Sambil menutup pintu kamar, wajah Xie-shen jadi merah, begitu tangkapannya gagal, dia merasa malu,


"Persis seperti pelayan, hebat, hebat, hayo duduk."


Tiga orang itu duduk, Xie-shen menumpahkan dua gelas air teh.


"Kau tidak ikut dengan dia?" Tanya Hoa-fei-hoa, tidak perlu


mengatakan dengan jelas, Xie-shen tahu siapa yang dimaksud dia ini.


"Dia tidak mengikuti perjanjian meninggalkan jejaknya, itu artinya tidak mau aku ikut dia, bagaimana bisa aku bersikukuh mengikutinya."


Xie-shen mengeluh, "apa kalian juga tidak tahu jejaknya?"


"Dia itu paling menyebalkan, hal yang sudah dibicarakan, malah tidak ditepati, jelas dia tidak ingin kita membantu dia


menyelesaikan masalahnya." Kata Hoa-fei-hoa dengan putus asa.


"Sifat tuan aku sedikit tahu, dia sudah terbiasa hidup bebas di dalam bahaya. Jika kita ada disisinya, memang bisa jadi


mempermudah pekerjaannya, tapi jika sekali ada kesalahan. Dia pasti akan merasa sedih dan tidak bisa tenang, sehingga, dia tidak mau


meninggalkan jejaknya." Kata Ouw Yu-zhen dengan tenang.


"Tapi dia lupa ketua benteng Xi dan anaknya juga adalah musuh kita, mana bisa memisahkan kita?" kata Hoa-fei-hoa merasa tidak puas, "kenapa kau bisa datang ke Hu-guan?"


"Mencari dia!" Wajah Xie-shen ada warna bangga, "dia kira dia tidak meninggalkan jejak, bisa menghindarkan aku."


"Bagus! Kau tahu keberadaan dia?"


"Maaf, tidak bisa aku katakan," kata Xie-shen dengan


misterius. "Kenapa tidak bisa dikatakan?"


"Karena takut kalian mencari dia, bisa mengganggu


pekerjaannya." "Mana bisa?" kata Hoa-fei-hoa merasa aneh, "bagaimana kalau begini saja, kita diam-diam mengawasi, jika keadaannya tidak mendesak jangan muncul?"


"Dia pergi kemarin." Xie-shen berkata, "menuju barat, pergi ke kota Wu-chang, sepertinya ingin mengerjakan satu hal yang amat penting." "Ooo...! Bagaimana kau bisa tahu?"


"Dua bulan lebih ini, aku terus secara sabar diam-diam mengikuti mereka. Di Nan-jing, aku baru tahu dia akan ke kota Wu-chang mengerjakan sesuatu. Dia membawa Wanita Jahat menyamar sebagai pelayannya, dua hari lalu menginap dipenginapan ini."

__ADS_1


__ADS_2