
Bayangan pedang dan seruling bertemu dalam sekejap, tapi
tidak terjadi suara benturan logam, seruling itu terbuat dari logam campuran tembaga ungu, setelah di isi tenaga dalam, cukup untuk
menangkis golok atau pedang.
Tapi kali ini seruling tidak bisa menahan gerakan pedang, disaat
akan bentrok, bayangan sinar pedang tiba-tiba membelok, masuk
menusuk di celah sempit dari bayangan seruling, bayangan dua
orang itu lalu terpisah. Sentuhan dalam sekejap, hidup atau mati telah ditentukan.
"Buuk..." Fu Ke-wei tiarap ketanah, tubuhnya menjauh dua zhang
lebih, begitu tubuhnya berguling, tubuhnya sudah menghilang di
rerumputan ilalang. Orang tua yang menerjang maju delapan chi lebih, mendadak
melemparkan seruling dan menghentikan terjangannya, sepasang
tangan memeluk dada kiri sebelah bawah, tubuhnya pelan-pelan
membungkuk ingin teriak tapi tidak bisa mengeluarkan suara,
darah segar dengan jumlah banyak merembes keluar dari tangan
yang menutup luka seperti mata air.
Akhirnya dia bergoyang-goyang jatuh ke depan, kaki tangannya
mulai meregang. Jantung telah tertembus pedang, seluruhnya telah
tamat. Semua telah berhenti, sepertinya waktu pun berhenti berputar.
Bau amis darah menyegat hidung, sinar matahari tanpa perasaan
menyoroti empat mayat. Dalam keheningan, terakhir terdengar rintihan kesakitan orang
meregang nyawa, lalu kembali hening.
Inilah kehidupan terakhir manusia.
Sungguh manusia tidak mudah hidup, setelah mati apa pun tidak
ada bekasnya, memang manusia akhirnya akan mati.
Dalam sekejap empat orang itu sudah menyelesaikan
kehidupan terakhirnya. Ratu Lebah adalah orang yang paling pintar, dia berjalan di tengah pasir dengan waspada, gerakannya pun cepat sekali, setelah melepaskan jarumnya, dia langsung kabur, dia sangat beruntung dapat
menyelamatkan nyawanya, dia tidak berani berdiam lagi ditempat itu melihat perkembangan akhirnya.
Pulau pasir panjangnya sepuluh li lebih, tempat di mana siapapun
dapat menyembunyikan diri, tapi tidak mudah jika ingin meninggalkan tempat itu, disana tidak ada perahu walau menancapkan sayap pun
sulit terbang, kecuali dia bisa berenang melalui air.
Fu Ke-wei harus berhati-hati pada Ratu Lebah, jika tidak, dia tidak akan sampai menyembunyikan dirinya di dalam rerumputan, karena
jarum yang menusuk di sisi pinggul luar, begitu racunnya menemui
darah segera bercampur, racun dalam darah mengikuti aliran darah
__ADS_1
mengalir ke jantung, di dalam darah akan terjadi perubahan yang
khusus. Jika dia bergerak, aliran racun jarum akan bergerak bertambah cepat, makanya dia terpaksa memutuskan meninggalkan tempat itu,
menyelamatkan dirinya terlebih dulu.
Dalam waktu yang singkat ini, hanya meninggalkan tempat tidak
sampai dua puluh langkah, Fu Ke-wei sudah merasa tidak tahan lagi, kepalanya pusing, kaki dan tangan mati rasa.
Untungnya dia sudah tahu sifat racunnya, jadi dia sudah
menyiapkan obat penawarnya.
Di dalam rerumputan yang tertutup rapat, dengan aman dia
menyembunyikan diri, memaksakan tenaganya mengambil obat
penawar dari kantong serba ada dan menelannya, setelah sesaat
buru dia bertenaga mencabut jarumnya.
Perkiraan dia tepat sekali, Jarum Racun Pintu Neraka adalah jarum
yang membuat orang Jiang-hu yang mendengar wajahnya akan
berubah, senjata ampuh yang bisa membunuh secara diam-diam.
Panjang jarum itu tiga cun, di belakangnya ada bulu lembut
berbentuk corong, jarak ampuh tembakannya, dapat mencapai dua
sampai tiga puluh kali panjang seruling.
Nama asli peniup seruling adalah Seruling Pengejar Nyawa
dalamnya meniup jarum, dengan sangat jitu bisa menembak dari
seratus chi lebih. Orang yang pernah melihat wajah asli Seruling Pengejar Nyawa
sangat sedikit sekali, tidak perduli orang aliran hitam atau putih semua membencinya. Racun diatas Jarum Pintu Neraka, walau bukan racun
sekali melihat darah langsung mengunci tengorokan, tapi racunnya
sekali masuk ke jantung pasti mati, dan tidak perduli mengenai bagian mana saja, begitu racun mencapai jantung hanya dalam sekejap,
walaupun yang terkena di bagian kaki, perbedaan waktu matinya juga sangat terbatas.
Seruling Pengejar Nyawa dengan Seruling Damai, Seruling Racun
disebut Tiga Seruling Dunia, dari Tiga Seruling Dunia, Seruling
Pengejar Nyawa yang paling keji, dia diam-diam selalu mencelakai
orang, kali ini bisa mati di bawah pedang Fu Ke-wei, sungguh langit mempunyai mata.
Walau Fu Ke-wei telah menyiapkan obat penawar, tapi dia
merasakan lemas juga tidak bersemangat, kaki tangannya tidak
bertenaga, tidak dapat pulih dalam waktu singkat.
Sampai lewat tengah hari, akhirnya dia pulih kembali,
tubuhnya terasa haus dan lapar, sekarang dia sudah bisa keluar.
__ADS_1
Dia kembali ketempat pertarungan tadi, empat mayat itu sudah
jadi kaku, dan juga mendatangkan banyak sekali lalat, membuat
orang ingin muntah. Tanah yang berpasir gampang untuk mengubur orang, dia
menggunakan sepasang tangannya menggali liang, setelah
mengucurkan banyak keringat, baru dia selesai mengubur empat
mayat itu. Orang persilatan yang suka berkelahi, tempat terakhirnya, jika
mati di parit dikubur di parit, jika mati di jalan cukup mendirikan tanda, tidak perlu bompai segala, juga tidak perlu disem-bahyangi
keturunannya. Fu Ke-wei sudah sampai di kampung nelayan lainnya, setelah
makan dia kembali memulai pengejaran.
Dia tidak perlu menanyakan lagi pada penduduk kampung, dia
telah menduga Ratu Lebah pasti tidak berani menampakan diri atau
berhubungan dengan penduduk kampung.
Dia kembali ke tempat pertarungan meneliti jejak Ratu Lebah.
Dia adalah ahlinya pencari jejak, diatas pulau pasir semacam ini,
tidak sulit membedakan jejak yang belum lama ditinggalkan oleh
manusia atau hewan. Setelah dua jam, dia melihat di udara yang jauhnya satu li lebih,
burung air terkejut dan berterbangan ke segala arah, di bawah
kakinya, ada bulu bebek liar, walau telah dikubur dengan teliti, tetap tidak lolos dari matanya yang tajam.
"Kau sudah kenyang makan." pada arah burung air terkejut berterbangan dia berguman, disudut mulut tampak tawa dingin yang
menakutkan orang, "kau seorang gadis, siang hari apa berani
meloncat kedalam air" Kau terlalu pintar, terlalu pintar sering
melakukan kesalahan, melakukan hal bodoh, kau seharusnya
merampas sebuah perahu melarikan diri jauhjauh. Mungkin, kau
mengira aku telah mati oleh racun Jarum Pintu Neraka, jadi tidak perlu terburu-buru pergi!"
Sinar matahari tengelam memenuhi langit, malam akan tiba.
Banyaknya burung air diatas pulau air mengejutkan orang,
sepertinya langit dipenuhi oleh beraneka ragam burung air yang
terbang, mencari sarang untuk istirahat.
Di suatu kampung di pantai barat pulau pasir, di tambatkan dua rakit bambu, itu adalah alat pengangkut hasil buruan pemburu burung, di
sisinya masih ditaruh lima enam kurungan burung persegi besar, sangat kokoh, di taruh di dua tempat, di dalam kurungan tidak ada burungnya.
Ratu Lebah seperti roh keluar dari dalam rerumputan, dengan
gembira lari ke pantai, menuju kedua rakit bambu.
Dia menarik rakit, dan akan menariknya ke sungai yang berada dua
__ADS_1
puluh langkah jauhnya, asal dia berhasil di dorong ke air, maka dia tidak akan takut lagi ada orang mengejar.