Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 97


__ADS_3

Yang dikatakan oleh Sepasang Bintang Perak adalah


kenyataannya, bagaimana Hoa-fei-hoa bisa tidak bisa, harus


percaya" "Baiklah! Malam ini terakhir kali kita masuk, tidak perduli berhasil atau gagal, kita harus keluar dari daerah pegunungan ini, di tengah perjalanan kita akan mengubur si anjing tua Xi." Hoa-fei-hoa akhirnya memutuskan, melakukan penyelidikan terakihr kalinya, "aneh! Disini bisa melihatnya dengan jelas, satu persatu rumah, lotengnya juga terlihat dengan jelas, kenapa setelah masuk, sampai arah pun sulit memastikannya" Kenapa tidak bisa mendekati gudang pusaka bawah


tanah......" Dari belakang tiba-tiba terdengar tawa dingin yang


menakutkan, dan batuk pelan dari satu orang lainnya yang


bermaksud menarik perhatian!


Empat orang itu sama-sama terkejut, membalikan tubuh


bersiaga. Tampak seorang biksu setengah baya, seorang lagi pendeta dao


tua, pendeta dao tua membawa pedang, sedang biksu membawa


golok, gerakan mendekat mereka berdua sangat ringan seperti roh


yang tidak berwujud. Kepandaian Hoa-fei-hoa berempat, semua bertelinga tajam,


bermata terang, dalam jarak dua puluh langkah bisa membedakan


daun jatuh atau bunga terbang, orang yang bisa mendekati hingga


sampai di belakang mereka sedikit pun tidak merasakannya, tekanan


dan getarannya terhadap hati empat orang ini, sangat berat sekali.


"Kalian ini bodoh benar." Kata pendeta dao penuh dengan rasa mempermainkan, "melihat dari jarak jauh, dengan melihat dari


dekat itu berbeda sekali, kalau pengetahuan ini tidak mengerti,


kalian mana pantas jadi perampok pencuri harta?"


"Mereka malah ingin menarik diri, dan menjebak ketua benteng Xi di perjalanan!" kata Biksu sambil menggendong tangan, tingkahnya santai sekali, sepertinya tidak khawatir empat orang ini melakukan serangan yang di luar dugaan, "pendeta dao tua, kita bertamu ke benteng Zhang-feng, tuan rumah menyambut dengan meriah, kita


tentu ada kewajiban meringankan kesulitan tuan rumah, betul?"


"Tentu!" suara pendeta dao tua tajam melengking, "Ini adalah rasa setia kawan seorang teman, seharusnya begitu."


"Apa yang akan kita lakukan?"


"Biar aku menggunakan She Shen-zhang (Tangan dewa


mematikan) menangkapnya satu persatu, membawa mereka


pulang ke benteng, bagaimana?"


"Bagus sekali! Aku dengar She Shen-zhang nya pendeta, sangat


hebat sekali, tapi belum pernah melihat kau menggunakannya,


sungguh sangat menyesal, hari ini biar pendeta membuka mataku,


silahkan Dao-chang!"


"Tontonlah." Pendeta dao tua selangkah demi selangkah maju kearah


Hoa-fei-hoa yang ada di depan, sekitar satu zhang dua che, dia


memasang kuda-kuda, sepasang telapaknya disilangkan, lengan


baju dan mantelnya bergerak sendiri tanpa ada angin, sepertinya


dalam sekejap seluruh orangnya ditutupi oleh semacam hawa


misterius. Sepasang telapaknya sedikit bergoyang, semakin lama semakin


membesar, tenaga yang keluar menjadi gelombang terus

__ADS_1


menerjang pada Hoa-fei-hoa.


"Hay......kau ini Yao......Yao-xian......"


Tampak wajah Hoa-fei-hoa ketakutan sekali, lalu tubuhnya


gemetaran. "Aku adalah pendeta dao Yao-xian Li-hun (Dewi pemisah roh)."


Pendeta tua dengan bangganya maju mendekat, "kau sudah tidak


mampu bergerak lagi, menyerahlah."


"Aku......aku tidak......tidak mau mati....."


Dengan ketakutan Hoa-fei-hoa memaksakan diri membalikan


tubuh, ingin meloloskan diri dari cengkraman She Shen-zhang.


"Kau tidak akan mampu pergi......"


Yao-xian dengan bangga berteriak, sekelebat sudah mendekat,


tangannya yang besar mengulur ingin menangkap orang.


Dalam sekejap tangan halusnya Hoa-fei-hoa dengan kecepatan yang


sulit diketahui, diam-diam diayunkan ke belakang, menggunakan cara melempar panah tangan, diamdiam melemparkan satu sinar dingin


dengan kecepatan yang sulit dilihat oleh mata telanjang.


Walau Yao-xian tidak maju ke depan menangkap orang, juga tidak


akan bisa melihat dan menghindar senjata gelap ini, sekali menerjang ke depan, maka jaraknya tinggal sepanjang tangan diulurkan, dewa pun


tidak akan bisa menghindar hawa kematian ini.


Inilah akibat yang paling menyedihkan, yang paling fatal bagi


Seorang pesilat tinggi yang ilmu silatnya sudah super tinggi,


sering karena terlalu ceroboh, mati ditangan seorang berandalan


dunia persilatan kelas tiga.


Yao-xian dengan temannya biksu setan, keduanya disebut Pendeta


Yao-mo, adalah orang persilatan kelas super. Menurut kabar tujuh


penjaga di tempat pelepas pedang Wu-dang juga tidak bisa menahan


mereka berdua, membiarkan mereka bebas masuk keluar gerbang


gunung. Jika kabar ini benar, berarti ilmu silat dan nama Yao-xian lebih


tinggi dari pada Hoa-fei-hoa entah seberapa tingginya, tidak bisa


dibandingkan. Sebuah jarum Dewa tanpa bayangan, dilempar


menggunakan Wu-tian-shen-gang.


Jika Yao-xian tidak terlalu sombong dan percaya diri,


menanyakan terlebih dulu nama dan asal-usul lawannya, dia tentu


tahu keadaan lawannya, akibatnya tentu akan berbeda sekali.


Jarum menembus perut keluar dari punggung sepanjang dua


cun, tertahan oleh tulang belakang hampir saja tembus keluar.


Bersamaan waktunya Hoa-fei-hoa menjatuhkan tubuhnya ke

__ADS_1


depan, di atas tanah dia membalikan tubuh, tangan mulusnya


bersamaan melemparkan sekumpulan jarum seperti hujan, sambil


berteriak dalam yang aneh.


Pelayan wanitanya dengan dia hampir satu pikiran, juga


bersamaan waktu melemparkan segumpal jarum, tangannya


bergerak pedang menyerang, orangnya berkelebat laksana kilat.


Dua gumpal jarum seperti hujan, kerja sama yang tidak ada celahnya, semua terbang mengarah ke tubuh dan sisi kanannya Biksu Setan,


memaksa Biksu Setan dalam gugupnya berkelebat menghindar kekiri,


tepat menyongsong datangnya pedang pelayan wanita, pedang itu


langsung menusuk tembus ke jantungnya.


"Ngek......" Biksu Setan menangkap pedang yang


menembus dadanya, seperti terkena kilat dia mundur


kebelakang, "Kalian sung...... sungguh


ke......keji......ngek......"


Pelayan wanita itu melepaskan pedang ditangannya, di


tangan sudah ada sebuah jarum, tapi tidak dilemparkan, hanya


untuk berjaga-jaga saja. Yao-xian tidak bisa mengendalikan dirinya, dia menerjang


kebawah sebuah pohon besar, membuat daun dan dahan


bergoyang-goyang, kemudian orangnya mental dan roboh ketanah,


bersamaan dengan Biksu Setan juga roboh.


"Sungguh tontonan yang mengejutkan!" Niu Lang-xing terkejut dengan bulu kuduknya berdiri, "Kalian majikan dengan pelayan berdua kerja samanya begitu matang, cukup membuat para pesilat super


diantara pesilat super ngeri, dua orang ini matinya tidak perlu disesali."


"Ketika dengan sombong dia mengatakan akan menggunakan She


Shen-zhang menangkap kami, aku sudah tahu siapa dia, bersamaan itu dia juga telah mati setengah." Hoa-fei-hoa mengembus nafas panjang,


"Tapi, saat itu aku memang takut, expresi wajah ketakutanku tidak bisa lolos dari penglihatannya, sehingga, dia tanpa ragu dan berani


menggunakan She Shen-zhang. Cepat..., kita kuburkan mayat mereka."


"Pasti masih ada orang yang keluar dari benteng mencari kita, kita tidak boleh ceroboh lagi."


Niu Lang-xing masih ketakutan dengan pelayan wanita


masing-masing menarik satu mayat.


Orang-orang benteng yang keluar dari benteng melakukan


pengawasan ke gunung secara besar-besaran, tamu yang minta


perlindungan dari benteng, semua menawarkan diri membantu, Yao-xian dan Biksu Setan adalah dua diantaranya, juga adalah gelombang pertama dari lima kelompok pengawas.


Saat hampir tengah hari, di benteng Zhang-feng telah tiba


sekelompok tamu agung, yang disambut kedatangannya dari jauh


oleh ketua dua benteng Golok Pemutus Arwah (Duanhun-dao) Han


Zhi-jian dengan membawa sepuluh anak buahnya. Dia adalah adik ipar ketua bentengXi.

__ADS_1


__ADS_2