Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 81


__ADS_3

Dia perlahan menggerakan pedangnya, pedang panjang yang


sangat biasa itu disaat di gerakan, muncul pemandangan yang tidak


bisa dijelaskan. Sepertinya tubuh pedang telah hilang, hanya terlihat sinar yang


tidak jelas dan berkilat-kilat, didalam telinga bisa mendengar suara mengiang-ngiang seperti siulan naga langit!


Jaraknya sudah tinggal kurang lebih dua zhang, di udara terasa


ada hawa kematian. Di saat titik meledak......


"Tenaga mengendalikan pedang! Sepasang Pedang Langit


Selatan cepat mundur!" terdengar teriakan gelisah yang


mengandung tenaga dalam. "Saudara kecil Fu, mohon belas kasihan!"


Suara kuat seorang tua lain lagi hampir bersamaan


terdengar. Sepasang Pedang Langit Selatan begitu mendengar suara itu,


segera mundur dua zhang lebih.


Begitu suaranya hilang, orangnya sudah muncul, ternyata orang


yang datang adalah Tian-ya-koay dan seorang tua yang usia enam


puluh tahun lebih, rupanya kering, tubuhnya kurus tinggi, rambutnya acak-acakan.


Fu Ke-wei melihat sekali pada orang yang baru datang, lalu


menghembus nafas panjang dan melemparkan pedangnya ke tanah.


"Ah...! Ternyata adalah Tian-ya-koay dan Arwah Sepi, kalian


telah datang...bagus sekali!" orang tertua Sepasang Pedang


Langit Selatan dengan gembira berteriak.


"Baik kentut!" Tian-ya-koay memelotot dengan mata kecilnya,


"kalian sedang apa" Apa merasa umurnya terlalu panjang"


Dengan kemampuanmu yang hanya bisa menggambar, juga


berani menyodorkan pedang pada dia" Sampai didunia......"


"Tetua Jie, kapan kau jadi begitu cerewet?" Fu Ke-wei segera memutus kata-kata Tian-ya-koay, "kau tidak masalah berkata


sembarangan, tapi hari-hari selanjutnya aku akan sulit."


"Baik, baik, aku tidak mengatakannya." Tian-ya-koay tahu Fu Ke-wei tidak mau identitasnya diketahui, "kalian ini sebenarnya kenapa"


Saudara kecil, kau malah bersemangat bertarung pedang


menghabiskan waktu dengan mereka" Sungguh hebat!"


"Kenapa kau tidak tanya dulu pada mereka. Apa lagi Sastrawan Baju Putih yang merasa dirinya benar, dan sangat sombong, dia dengan


teman-temannya mencabut pedang ingin menegakkan kebenaran,

__ADS_1


mau menangkap kami berempat yang katanya melakukan kejahatan


dan berniat menangkapnya!" kata Fu Ke-wei dingin.


"Benar-benar tidak ada pekerjaan! Apa kalian tidak


menjelaskan?" kata Tian-ya-koay menginjak kaki.


"Menjelaskan" Tidak ada orang yang mau mendengar penjelasan


kami." Chao Yung-ling marah memotong, "Zhou Xing-jian sama sekali tidak mengizinkan kami memberi penjelaskan, dan langsung


menerjang dengan pedangnya pada Xie-shen, jika bukan tuan muda


Fu menolong, sudah dari tadi dia berlumuran darah dibawah


pedangnya. Tetua Jie dan tetua Du-ku di dunia persilatan dihormati, harus menjunjung kebenaran pada masalah ini."


"Nona Chao tenanglah, dua orang tetua ini pasti akan menegakan keadilan." Fu Ke-wei tertawa, kata-katanya seperti ada udang dibalik batu, "jika tidak, aku akan mencari orang yang terhormat di dunia persilatan, Hoa Yi-feng, menanyakan pada dia kenapa dia bisa


mendidik seorang Zhou Xing-jian, muridnya begitu sombong, yang


tidak bisa membedakan benar atau salah" Orang yang sifatnya seperti dia, membela kebenaran di dunia persilatan hasilnya pasti akan


membuat dunia menjadi kacau, menjadi dunia binatang yang tidak


ada hukum dan aturan, makanya Hoa Yi-feng harus bertanggung


jawab karena tidak tegas mengajar muridnya."


Bobot kata-kata ini sangat berat, walau hanya menunjuk pada


Zhou Xing-jian seorang, tapi sebenarnya telah memaki seluruh


ringkas yang mendengar, wajahnya menjadi merah sampai ke


telinga, rupanya menjadi buruk sekali.


Zhou Xing-jian yang mendengar lebih-lebih wajahnya berubah


hebat, rupanya tampak terkejut ketakutan, mendadak dia


membalikan tubuh meloncat kebawah bukit berlari pergi.


Begitu Sastrawan Baju Putih lari, semua orang jadi


tertegun. "Murid yang dididik Hoa Yi-feng, kenapa bisa begitu penakut."


Xie-shen menggelengkan kepala mengeluh, "habislah Hoa Yi-feng, bocah ini sungguh membuat bangga perguruan, aneh..aneh.,


karma, .karma." "Saudara kecil, kau telah mengeluarkan kata-kata yang


mengancam, sehingga dia lari ketakutan, kau suruh aku dengan


kakak Du-ku bagaimana menegakkan kebenarannya?" kata


Tian-ya-koay tertawa pahit.


"Aku bersungguh-sungguh, sama sekali tidak asal mengancam." Fu Ke-wei tertawa tawar, "Zhou Xing-jian lari itu tidak apa, disini masih ada orang dari perumahan Wu-ling, dan tiga Feng-huang dari tujuh


wanita terhebat di dunia persilatan!"

__ADS_1


Sorot mata Tian-ya-koay dan Arwah Sepi melihat pada


Sepasang Pedang Langit Selatan dan kawan-kawannya, delapan


orang. "Bagaimana cerita kalian?" tanya Arwah Sepi Du Ku-xing


dengan serius. Sepasang Pedang Langit Selatan walau di dalam hatinya tidak


enak, tapi dalam keadaan ini, terpaksa menundukan kepala


mengalah. "Aku Yue-xiu, Yue-zhen suami istri, tadi telah salah paham pada kalian, harap dimaafkan, dengan ini kami minta maaf." Sepasang Pedang Langit Selatan suami istri melangkah mengepal tangan,


minta maaf pada Fu Ke-wei dan kawankawannya.


Empat orang wanita berbaju ringkas juga maju minta maaf.


Wanita yang memakai baju ringkas biru, adalah Shi-tu Yuyao putri


kesayangannya ketua perumahan Wu-ling, Shi-tusheng, baru saja


turun gunung, belum mendapatkan julukan.


Suami istri Sepasang Pedang Langit Selatan adalah teman


baiknya Shi-tu-sheng, karena mengkhawatirkan putri


kesayangannya yang baru turun gunung, sengaja dia memohon


teman baiknya, menemani dan melindunginya.


Tiga wanita lainnya adalah tiga dari empat Feng-huang, yang


memakai baju ringkas kuning adalah Phoenix Mas You Jin-feng, berbaju ringkas putih bulan adalah Phoenix Giok Shen Yu-feng, berbaju ringkas hijau adalah Phoenix Pembalik Langit Gao Tian-feng.


"Bagus! salah paham telah dijernihkan, sekarang sudah


aman." Tian-ya-koay tenang.


"Dua tukang pukul benteng Zhang-feng ini, apakah dibunuh oleh kalian berdua?" Fu Ke-wei menunjuk pada dua mayat di pojok


lapangan rumput. "Tidak salah, memang aku dengan kakak Jie yang melakukannya."


Kata Arwah Sepi menganggukkan kepala, "saat kami tiba di tempat kejadian, sudah ada dua puluh tamu penginapan yang mati disiksa


akibat di periksa. Lalu kami keluar membunuh dua orang anak buah


itu, mengumpan kawanan mereka ke pegunungan sepuluh li lebih dan


bermain kucing-kucingan, kami berharap ada teman-teman persilatan


yang mendapat kabar dan datang menolong, benar saja ternyata


Langit Tua ada matanya, saudara kecil Tu dan nona Chao jadi selamat setelah mendapat pertolongan saudara kecil Fu."


"Saudara Tu, apa tujuan benteng Zhang-feng menangkap orang


melakukan kejahatan?" t anya Tian-ya-koay.


"Sebenarnya tidak ada yang harus diceritakan, masalah seperti ini di dunia mana pun mungkin saja terjadi..." Xie-shen menceritakan kejadiannya sejak awal.


Sepasang Pedang Langit Selatan yang mendengar sampai

__ADS_1


mengerutkan alis, sambil mengeluh dia berjalan kearah utara


lapangan rumput, menggali lubang, menguburkan mayat.


__ADS_2