Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 48


__ADS_3

"Aku tidak mempertanyakan perkara pembunuhan tergulingnya


kereta, hanya penasaran pada Xie-jian-xiu-luo. Apakah kau ini


adalah dia?" "Kau kira aku ini bodoh?" kata dia dengan satu kata dua arti,


"memang Xie-jian-xiu-luo namanya 'bagus', banyak sekali orang yang ingin membunuh dia, aku ini tidaklah bodoh, apa untungnya menanggung beban dia?"


"Sayang yaa...! Sayang!" Huo-bao-ing mengeluh sambil


menggoyangkan kepala. "Sayang kenapa?"


"Dalam satu kesempatan tidak sengaja aku mendapat kabar dari


seorang teman persilatan, satu masalah yang Xiejian-xiu-luo sangat ingin mengetahuinya, aku ingin tanpa syarat menyampaikan pada


dia......" "Masalah apa?" tanya Fu Ke-wei acuh.


"Berita mengenai jejaknya ketua benteng Tian-long, Pedang Naga Langit Lu-zhao." Huo-bao-ing seperti tertawa tapi tidak melihat dia, "Pedang Naga Langit menyewa Perkumpulan Qing-lian diam-diam ingin membunuh


Xie-jianxiu-luo, tapi mengalami kegagalan, masalah ini telah tersebar di dunia persilatan. Katanya si Pedang Naga Langit kekayaannya sangat hebat, sulit bisa menjamin dia tidak menyewa perkumpulan pembunuh bayaran lainnya untuk membunuh Xie-jian-xiu-luo. Walau Xie-jian-xiu-luo ilmu silatnya sudah sampai taraf paling tinggi, juga tidak mungkin bisa siang malam mengawasi ada orang diam-diam ingin membunuhnya, jika tidak


menghabisi Pedang Naga Langit, selanjutnya mana ada hari tenang"


Sehingga, aku kira dia pasti ingin cepat-cepat menemukan Pedang Naga Langit, supaya dapat menghabisi sumber mala petaka ini. Saudara kecil, apakah kau ingin tahu jejaknya Lu-zhao?"


"Menurutmu bagaimana?" katanya menyerahkan keputusan,


"tunggulah setelah menyelesaikan masalah tuan besar Li baru


dibicarakan lagi!" "Bagus juga, saudara kecil, kami berdua kembali memberi usul


terlebih dulu......"


"Tidak boleh. Kalian berdua banyak pengalamannya, tapi tidak bisa melihat bahaya, mengira Tuan besar Li sedang repot dengan


urusannya, jadi kalian boleh tenang-tenang. Hm! Apakah kalian


mengerti arti saat terdesak bisa balik menggigit?"


"Ini......" "Keluarga Li masih ada beberapa teman dekatnya, jika mereka


berniat lebih baik hancur sebagai giok, menggunakan kalian berdua


sebagai pengganjal peti mati, apakah kalian terpikir akibatnya" Cepat bersembunyilah, masih keburu. Lihat! Ada orang datang...."


Ada dua orang setengah baya memakai baju ringkas,


sedang pelan-pelan mendatangi.


"Mereka adalah Tamu Awan Shi bersaudara." Teriak Bu-feikhe, wajahnya berubah, "dua orang ini sangat keji, pemarah, kami tidak bisa melawannya. Saudara Du, kita keluar lewat pintu belakang."


Setelah berkata pergi dia langsung pergi dari belakang


bangunan rumah makan, lari menyelamatkan diri.


Tamu Awan Shi bersaudara tidak masuk ke tempat makan, tapi


melangkah masuk ke jalan Fan Hou dan menghilang.

__ADS_1


Beberapa saat, angin wangi menerpa hidung, Li Jian-jian yang


berpakaian rok hijau hitam, tiba-tiba muncul di depan pintu rumah


makan, matanya yang terang tampak sedikit gelisah, sorot matanya


tertuju pada Fu Ke-wei, dengan sedikit ragu, akhirnya melangkah masuk mendekat.


Wajah Fu Ke-wei tenang-tenang saja, dengan sorot mata


menyambut wanita cantik Xiang-yang ini.


Satu ikan lagi yang terumpan, satu ikan yang tidak besar juga


tidak kecil. "Tuan Fu, bolehkah aku bicara denganmu?" tanya Li Jianjian


dengan gelisah. "Dengan senang hati." Dia dengan ramah menunjuk kursi


sebelah kanan mempersilahkan, "nona Li silahkan duduk."


"Terima kasih." Li Jian-jian duduk sambil menatapnya, "tuan Fu, masak kacang bakar pengki... kenapa" Ayah ku......"


"Nona Li, maaf aku menyela." Wajah senyumnya telah hilang,


"nona seharusnya tahu, ini bukan masalah masak kacang bakar


pengki, tapi masalah tujuh nyawa yang tidak berdosa. Di pihak


Nan-yang-ba-jie walau telah mati tujuh orang, tapi mereka adalah


pesilat dunia persilatan, orang yang biasa bermain dengan nyawa,


memegang aturan kebenaran dunia persilatan, pasti tidak akan


membunuh orang biasa." "Tuan Fu, itu adalah kecelakaan......"


"Apa..." Kau masih bisa berkata demikian?" kata Fu Ke-wei dengan tidak senang, "aku adalah salah satu penumpang di kereta itu, dengan mata kepala sendiri menyaksikan seluruh kejadiannya.


Nona Li, kau datang apakah untuk membicarakan pembantahan ini?"


"Tuan Fu anda di gunung Xian menyamar sebagai seorang pelajar dan menyampaikan sebuah surat, syarat yang ada di dalamnya."


Wajah Li Jian-jian dengan telinganya menjadi merah, menjawab


yang bukan di tanyakan, "masalah ganti rugi, ayahku tidak menolaknya. Mengenai syarat kakakku menyerahkan diri pada polisi, apa bisa dirubah?"


"Tidak bisa." Fu Ke-wei dengan tegas menolak, "seorang laki-laki sejati berani bertindak harus berani bertanggung jawab, kakakmu harus


bertanggung jawab atas apa yang telah dia perbuat. Aku menginginkan dia menyerahkan diri pada polisi, sama dengan memberi dia satu jalan untuk hidup, seharusnya dia menyerahkan diri sebelum kepolisian menyelidiki siapa pelakunya, menurut aturan, itu bisa mengurangi hukumannya. Menunggu kepolisian menemukan pelakunya, itu sudah tidak bisa dianggap


menyerahkan diri, membunuh orang harus mengganti nyawa, dia akan sulit menghindar dari kematian."


"Sekarang sudah demikian lama, mungkin kepolisian sudah


menyelidik pelakunya adalah kakakmu, saat ini menyerahkan diri


rasanya sudah terlambat. Nona hari ini membicarakan syaratnya


dengan aku sudah tidak ada gunanya, sia-sia saja."

__ADS_1


"Ini......tuan Fu, ini......ini bukankah mendesak ayahku naik ke gunung Liang?" kata Li Jian-jian wajahnya berubah gelisah.


"Ayah anda sekeluarga bisa berkelana di dunia persilatan, menjadi seorang jagoan di aliran hitam, atau menjadi perampok besar


menguasai gunung." Kata dia dengan dingin.


"Ini......" "Jangan bicara syarat lagi denganku." Katanya dengan serius,


"cepat pulang beritahu ayahmu, sebelum surat kepolisian dari


kabupaten Ye tiba di Xiang-yang, lebih baik kakakmu menyerahkan


diri pada kepolisian, mungkin masih ada harapan hidup, kalau


waktunya terus diulur, akibatnya kalian silahkan pikir sendiri, harap jangan sampai melakukan kesalahan terus-menerus, pergilah!"


"Tuan Fu, aku ingin menukar syarat itu dengan syarat apa


pun......" "Nona Li, aku sudah menyatakannya cukup jelas."


"Orang mati tidak bisa hidup kembali, tidak seharusnya pada


orang yang masih hidup..."


"Kau salah, nona Li." Dia dengan nada dalam berkata, "aku bukanlah penegak hukum, lebih-lebih bukan hakim raja akhirat, aku hanya tahu setiap orang mempunyai hak untuk hidup, setiap nyawa juga sangat


berharga, siapa pun tidak berhak menentukan hidup matinya orang lain."


Dia sejenak menghentikan bicaranya, dengan nada dingin serius


berkata lagi, "kakakmu membunuh orang lain, tidak perduli dia itu sengaja atau tidak, harus menerima pengadilan yang adil dan


hukuman. Jika mengira yang kuat hidup yang lemah mati adalah


aturan umum, aku dari dulu sudah melakukan pembunuhan, aku tidak


perlu mendesak kakakmu menyerahkan diri pada polisi."


"Kau telah melumpuhkan Tuan kedelapan Jin dan Enam Jahat,


itu juga tidak mengikuti aturan umum." Li Jian-jian akhirnya dapat mengorek kesalahan Fu Ke-wei.


"Mereka membantu melakukan kejahatan, harus mendapat


hukuman." Dia tertawa tawar, "hukuman yang ringan ini buat mereka, mungkin saja seperti orang miskin kehilangan kuda, siapa yang tahu akan ketidak beruntungan ini" Setiap orang ini akan lumpuh selama


satu bulan, supaya mereka insaf. Setelah satu bulan, titik nadi yang di kunci akan terbuka dengan sendirinya. Nona, paling baik beritahu


pada tiga orang pendeta dao itu, jangan sembarangan memberi obat


atau mencoba melancarkan jalan darahnya, jika terjadi kesalahan


mungkin malah akan merengut nyawa mereka, kalau itu terjadi,


jangan menyalahkan pada diriku."


"Tuan Fu, apakah tidak bisa dibicarakan agi?"


"Segera suruh kakakmu menyerahkan diri pada polisi

__ADS_1


setempat, menunggu surat pemerintah dari kabupaten Ye tiba, maka sudah tidak keburu lagi."


__ADS_2