
Tidak jauh di belakang terdengar satu tawa dingin!
Shi-tu Yu-yao walau baru turun gunung, tapi ilmu silatnya juga
hebat, meski musuhnya ada lima orang dia tetap tidak takut, dia
berharap bisa mendesak lawan bertarung adil menghadapi dia dan
Tian-ya-koay. Walau lima orang bersama-sama maju, dia tetap sanggup
menghadapi lawannya, apa lagi dipihaknya masih ada seorang ahli
bertarung keroyokan, sehingga dia tidak gentar.
Tidak diduga di belakangnya ternyata masih ada orang lagi, begitu
membalikan kepala melihat, diam-diam dia mengeluh.
Di bawah hutan pinus yang rumputnya sedikit, pandangan bisa
sampai jauh sekali, dia melihat ada enam orang, jadi semuanya
sebelas lawan dua. Tian-ya-koay juga melihat kebelakang, diam-diam dia juga
mengeluh. "Betulkah?"
Orang yang sambil tertawa sambil balik bertanya, dia adalah seorang yang mempunyai mata dingin dan licik, di tangannya tampak senjata
trisula yang kelihatan sangat berat, permainan senjatanya bisa digunakan sebagai tombak, pedang, tongkat, malah juga bisa sebagai golok, jika dibacokan ke tubuh manusia bisa menimbulkan luka yang mematikan.
Di dalam hutan pinus jika mendapat serangan keroyokan, tentu saja
keadaannya tidak akan menguntungkan, sebab tidak cukup tempat untuk menghindar, Shi-tu Yu-yao memberi isyarat mata pada Tian-ya-koay,
supaya cepat meninggalkan tempat yang tidak menguntungkan ini.
"Apakah kau benar-benar orang yang ahli dari benteng
Zhang-feng?" Tian-ya-koay membalikan kepala balas bertanya, dia tidak
merasa khawatir jalan mundurnya telah disumbat.
"Kalau tidak dicoba mana bisa tahu?"
"Kalau begitu, baiklah aku coba." Kata Shi-tu Yu-yao, orangnya memutarkan tubuh menjelma menjadi sinar kilat, secara
mendadak menerjang, saat membalikan tubuh pedangnya sudah
telah dicabut. Tian-ya-koay juga secara bersamaan meloncat, tongkat
pemukul anjingnya digetarkan, menotok tenggorokan orang
setengah baya itu. "Seraang...!" Shi-tu Yu-yao berteriak, sambil melepaskan senjata rahasianya. Tiga buah senjata rahasia uang mas yang diam-diam
disiapkan, dilemparkan menjelma jadi tiga garis sinar tipis yang sulit dilihat oleh mata telanjang, bersamaan itu pedangnya juga dengan
dahsyat menyerang orang yang memegang senjata trisula, sekuat
tenaga menerjang keluar dari kepungan, tidak memberi ampun pada
lawan. Trisula itu segera menangkis pedang yang datang menyerang,
dan berusaha mementalkan pedang panj ang yang lincah itu.
__ADS_1
Sinar pedang tiba-tiba lenyap, lalu timbul kembali, dari celah
tipisnya trisula menerjang masuk.
"Ngeek!" Orang yang berada di .sebelah kiri, tenggorokannya telah
terkena serangan pedangnya, tubuhnya berputar lalu jatuh
ketanah. Trisula gagal menahan, Shi-tu Yu-yao segera mencabut pedang,
dan orang yang terkena pedang teriak sekali roboh ketanah.
Orang setengah baya di sebelah kanan melihat bayangan tongkat
warna kuning hijau samar-samar menusuk, segera dia memotong,
dan tubuhnya dijatuhkan ke kanan.
Tian-ya-koay menggetarkan lengannya, berubah dari menusuk jadi
menyapu, buug.... terdengar suara, orang setengah baya yang di sebelah kiri kepalanya pecah, orangnya hanya menjerit sekali, lalu roboh ke tanah meregang nyawa. Di depan telah jatuh tiga orang, pengepungan telah mengalami kegagalan.
Tian-ya-koay segera meloncat keluar dari kepungan.
Shi-tu Yu-yao juga meloncat keluar dari kepungan, tapi dia
merasa, pendeta dao dan empat orang temannya sedang
menyerang dia dari belakang.
"Siaat...!" Sambil membalikan tubuh dia berteriak, sambil lari ke depan.
Tian-ya-koay juga tepat sedang membalikan kepala melihat ke
Shi-tu Yu-yao yang baru saja melemparkan senjata
rahasianya langsung berkata:
Celaka! Dari belakang satu pohon cemara besar, keluar Dewa Dingin
Yu Wu-ji, yang diam-diam telah memukul dengan sebelah
telapaknya. Dewa Dingin namanya termasuk dalam tiga sesat dunia, telapak
Tai-yin yang dipukulkan menggunakan tenaga dalam Tai-yin-mo-gang
(Setan besar angin dingin) di dunia persilatan sangat terkenal
kehebatannya, tenaganya sangat menakutkan, tenaga telapaknya
dapat melukai orang dari jarak satu zhang lebih, jika terkena dalam jarak delapan che, di jamin daging akan pecah tulang hancur,
jurusnya adalah salah satu jurus telapak yang hebat dan sangat kuat sekali.
Bagaimana pun Shi-tu Yu-yao tidak tahu ada orang lagi yang
sembunyi dibalik pohon. Begitu tenaga telapak mengenai punggung belakang sebelah kiri,
dia seperti terkena oleh godam seribu jin, tubuhnya terdorong maju ke sebelah kanan, menabrak satu pohon pinus besar, membuat daun
pohon berjatuhan, dia juga mental dan jatuh ketanah, pedangnya
terlepas dari tangannya, dia meronta tapi sulit berdiri lagi.
__ADS_1
Pendeta dao tahu senjata rahasianya Shi-tu Yu-yao sangat lihay,
saat mau jatuh Shi-tu Yu-yao telah melemparkan senjata rahasianya, untung dia cepat membelok dan bergerak memutar ke belakang
pohon pinus, dia hampir saja terkena senjata uang logam, dia
terkejut sampai mengucurkan keringat dingin.
Seorang laki-laki lainnya, karena tidak waspada dia terkena oleh
senjata uang terbang, pada lehernya, setelah menjerit ngeri, lalu
roboh ke tanah. "Cingcang mereka! Mereka berdua telah membunuh empat orang
kita." Seorang laki-laki besar seperti orang gila melayangkan golok
menerjang. Pendeta dao mengayunkan tangannya menampar laki-laki besar
hingga mulutnya berdarah dan mundur tiga langkah.
"Brengsek! Jika kau berani membunuh mereka" ketua
benteng tentu akan mengupas kulitmu," kata pendeta dao sambil menotok jalan darah Shi-tu Yu-yao, "Tian-ya-koay telah berani membunuh orang-orang benteng, bocah wanita ini bersama
Sepasang Pedang Langit Selatan, mengumpulkan
teman-temannya, datang ingin meminta pertanggungjawaban
benteng kita, ketua benteng marah dan bersumpah ingin
menangkap mereka hidup-hidup untuk dijadikan contoh pada
mereka, walau mereka tidak datang, ketua benteng tetap akan
membawa orang mencari mereka. Sekarang mereka telah
tertangkap, apa kau berani membunuh mereka" Hemm... "
"Saudara Wan, sabarlah, lihat bagaimana bocah perempuan ini
membayar hutang pada ketua benteng."
Seorang laki-laki setengah baya maju ke depan, menggunakan tali,
mengikat kaki dan tangannya Shi-tu Yu-yao sambil tertawa penuh arti,
"setelah ketua benteng menikmatinya, akan ada kesempatan buat kalian mendapat sisanya, saat itu kalian ingin bagaimana juga terserah,
bukankah lebih bagus?"
Shi-tu Yu-yao ingin bunuh diri dengan menggigit lidahnya, tapi tidak keburu, mulutnya telah dibuka oleh pendeta dao saat menangkapnya, sehingga ingin mati juga sudah tidak bisa!
Sepuluh orang itu menggendong empat mayat dan empat
tawanan, dengan senang kembali pulang ke benteng, terhadap temannya yang mati mereka tidak merasa sedih lagi.
Orang yang bermain nyawa, hidup mati adalah hal biasa, asal bisa hidup itu senang, jika mati ya matilah, nasib memang harus begitu, tidak perlu terlalu dipikirkan.
Kali ini yang memeriksa gunung, tidak saja tugas utamanya
menangkap Sepasang Cantik Jiang-nan telah berhasil, juga tanpa sengaja bisa menangkap dua orang musuh, sama dengan di atas batang tumbuh bunga, jasanya bertambah satu, pendeta dao
Zhong-tiao dan Dewa Dingin dua komandan pasukan merasa bangga, sampai para anak buah yang berjalan menggendong tawanan juga tidak merasa kepayahan.
__ADS_1