
Taman Qing-feng berada di luar kota, tanahnya luas sekali, semua bangunan berbentuk tunggal terpisah masing-masing, merupakan salah satu taman ternama setempat, berjalan sekeliling harus memakan waktu setengah hari lebih.
Du Lan-yin menemani mereka sampai di vila teratai, lalu dengan tahu diri meninggalkan mereka pergi dengan pelayan wanita.
Vila teratai luasnya kira-kira enam tujuh ha, penuh dengan teratai dan kuncup teratai, di kelilingi dengan pohon dan bunga yang indah.
Vila teratai dibangun di tengah danau, ada jembatan dengan
sembilan belokan menghubung ke daratan, satu belokan yang dekat ke vila adalah model jembatan gantung, begitu papan jembatannya diangkat maka terputuslah hubungan ke daratan.
Du Lan-yin dengan alasan ada urusan yang harus diselesaikan, meninggalkan mereka berdua di vila menikmati pemandangan bunga teratai atau naik perahu.
Setelah main setengah harian, para nona harusnya telah lelah.
Tapi Guan Mei-yun tidak merasa lelah, tapi pura-pura lemah,
dengan leluasa menggaet lengan Fu Ke-wei, duduk diatas tiang melintang vila, dengan genitnya mengambil sapu tangan wangi, dan indahnya mengelap keringat di lehernya, wajah yang merah tidak pakai kosmetik, tampak lebih cantik memikat.
Fu Ke-wei menggaet tangannya, tersenyum membalikan wajah menatap Guan Mei-yun sedikit tidak bisa menahan diri, tidak saja wajahnya memikat dan harum tubuhnya juga merangsang.
"Kau......kau lihat apa?"
Dia juga melihat Fu Ke-wei dengan sorot mata yang aneh hangat, di dalam tubuhnya timbul gelombang aneh, dengan genit melihat Fu Ke-wei dengan mata putihnya, warna merah di leher naik ke atas.
"Cantik alami, cantik sekali." Fu Ke-wei mengusap tangannya dengan pelan, senyumnya membuat hatinya bergelombang, perasaan yang datang dari tangannya juga membuat dia lupa diri, "Mei Yun, akhirnya aku mengerti juga makna kecantikan bisa dinikmati."
"Gombal!" Seluruh tubuh Guan Mei-yun jadi panas, dia pura-pura akan menarik tangannya.
Fu Ke-wei mengambil kesempatan menariknya, melumpuhkan tarikan dia, hmmm... sekali, tubuhnya setengah diputar, mengikuti arah jatuh di pelukan Fu Ke-wei.
Semua gerakan jatuh ke pelukan tampak sangat alami.
Guan Mei-yun memeluk dengan kuat, dia seperti meloncat di
awan, menutup matanya, pura-pura meronta tubuh yang panas itu.
__ADS_1
"Mei......Mei......Yun......"
Hati Fu Ke-wei juga bergelombang, matanya menyorot sinar
aneh, dia bisa merasakan denyut hatinya lebih cepat satu kali lipat, ingin mengendalikannya juga tidak mampu, tangan
menambah tenaga. "Mmm, Xian-wei, kau......kau......"
"Ooo..Aku......"
Fu Ke-wei tertegun, tenaga di tangan mengendur.
"Kau, terhadapku apa......apa bersungguh sungguh?" dia
menyandar di pelukan Fu Ke-wei berguman, wajahnya menempel di dada yang kuat dan hangat.
"Mei-yun, percayalah padaku," Kata Fu Ke-wei di sisi telinganya dengan lembut, tangan di atas tubuhnya dengan lembut mengusap-usap. "Akhirnya aku menemukan orang yang bisa mencurahkan hati,
ya......yaitu......kau......." Dia seperti mabuk seperti bengong, hampir lumpuh di pelukan Fu Ke-wei.
"Jika ayahmu tidak menolaknya, bawa aku menemui ayahmu, bagaimana" Mei-yun, biarkan ayahmu melihatku apakah pantas buat kau......" "Ayahku terlalu sibuk dengan kegiatan rutinnya, entah lewat beberapa hari lagi, baik tidak?"
apakah setelah kembali dari perkebunan teh dan persawahan?"
"Aku juga tidak tahu......mmm! Kau......kau jahat
sekali......" Tangan Fu Ke-wei bergeser menyentuh di bagian tubuh yang sensitif, satu gelombang aneh menerjang Guan Mei-yun, tanpa sadar dia merintih genit, menghembus nafas seperti anggrek, seperti ular menggeliat di pelukan Fu Ke-wei, dia tersesat di dalam gelombang yang liar ini.
Pria menginginkan wanita, terhalang satu gunung, wanita menginginkan pria, terhalang kertas satu lembar.
Fu Ke-wei merasa lepas kontrol, mencium bibir kecilnya yang
panas itu. Di sekeliling tidak ada orang, taman Qing-feng yang luas ini tampak tenang, waktu yang bagus, pemandangan yang indah, seorang laki-laki seorang perempuan, tidak ada saru halangan pun, hal apa pun bisa terjadi.
Rambut kacau, perak mengeletak, baju setengah terbuka, buah dada putih seputih giok, cukup menyalakan bara api nafsu.
__ADS_1
Fu Ke-wei sudah tidak bisa menahan diri, tadinya dia sengaja
menimbulkan nafsu wanita sembarangan ini, ciuman yang terus menerus dari bawah leher turun hingga pada buah dada yang menggiurkan.
Baju perlahan dibuka, sekarang tubuh Guan Mei-yun hampir menjadi kota yang tanpa penjagaan.
Di tengah jembatan sembilan belokan, tiba tiba terdengar satu batuk pelan.
Guan Mei-yun dengan sangat terkejut cepat cepat menarik bajunya, menutup buah dadanya yang terbuka.
"Lan-yin......kau......"
Sambil memakai baju dia duduk dengan benar sambil
berteriak marah. "Bukan nona Du." Kata Fu Ke-wei juga cepat-cepat duduk kembali.
Seorang wanita cantik yang bisa membuat orang berdebar hatinya, memakai baju warna putih bulan, baju tipis dengan lengan baju ketat, membuat buah dada yang tinggi itu lebih seksi, mata genit yang berair benar-benar bisa menggaet roh orang.
Walau wanita ini telah menyaksikan pemandangan mesra kedua orang itu, tapi sepertinya tidak terkejut.
"Kau ini siapa?"
Guan Mei-yun dari malu menjadi marah, dia membenci sekali
wanita yang tidak tahu kesenangan orang ini, yang telah merusak kenikmatan dia, sambil meloncat marah memaki-maki, sambil cepat-cepat membereskan baju yang kacau.
Model rambut dari pakaian wanita ini, sudah menjelaskan
kedudukannya berbeda, tapi dia pasti bukan pelacur di rumah bordil.
"Aku datang mencari tuan rumahnya taman ini," Wanita baju putih menunggu dua orang itu membereskan bajunya, baru pelan-pelan mendekat, "taman setan ini vilanya terlalu banyak dan juga terlalu luas, orang yang bersembunyi di dalam sini, jika orangnya sedikit, sulit bisa mencarinya, makanya harus mencari orang menanyakannya."
Guan Mei-yun adalah tamu yang sering datang ke taman Qing-feng, pelayan di taman ini, dia hampir semuanya tahu, malu yang ditimbulkan karena perbuatannya terlihat tidaklah membuat dia jadi tidak waspada, begitu melihat dia sudah merasakan orang ini tidak di kenal, sehingga dia berteriak bertanya pada orang ini.
Begitu mendengar nadanya, dia tahu betul orang ini benar saja orang asing.
__ADS_1
Seharusnya dia berpura-pura jadi seorang wanita baik-baik, tapi dia telah mencium ada bahaya, nada wanita itu tidak benar, dia tidak bisa berpura-pura menjadi seorang wanita baik-baik yang tidak bisa ilmu silat.
"Wanita murahan yang pantas mati, kau berani masuk ke tempat khusus untuk keluarga wanita yang terlarang untuk orang luar, sungguh tidak tahu malu." Dengan marah dia menerjang pada wanita yang masuk ke tempat terlarang ini, kakinya lincah dan cepat, "Jika kau senang mengintip hal yang begini, kenapa tidak cari sendiri laki laki......lah......"