Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 164


__ADS_3

Tidak mudah jika ingin menghadapi mereka, tentu saja mungkin harus banyak berkorban dulu.


Di hari kedua setelah perahu meninggalkan Wu-chang, mereka sudah merasa ada orang yang mencurigakan mengikuti.


Saat ini orang-orang kedua belah pihak tidak banyak, sulit bisa menghadapi orang-orang Jin-she-dong, sehingga mereka tidak berani merapat di daerah Jiu-jiang, tapi sebelumnya di tempat yang sepi mereka mengutus anak buah, menyewa perahu lain lagi untuk memberi kabar.


Anak buah yang diutus oleh ketua benteng Xi, berjalan menuju Hu-guang, menelusuri sungai besar berlayar ke atas, di kota sepanjang perjalanan memberitahukan pada anggotanya segera pergi ke Nan-jing untuk berkumpul.


Sedang utusan Yu-shu-xiu-shi berjalan menuju timur laut, dan juga mengutus anak buah lainnya pergi dulu ke kantor cabang di Nan-jing, dari Nan-jing mengirimkan kabar pada markas pusat di Zhen-jiang, dalam satu hari satu malam sudah bisa tiba.


Hujan badai akan terjadi, gelombang gelap bergulung


dahsyat.


Fu Ke-wei yang pintar malah jadi korban kepintarannya, dia mengira ketua benteng hanya ingin bersembunyi.


Orang yang bersembunyi pasti tidak akan aktif, tidak ada kekuatan untuk menyerang, sehingga dengan tenang dia meninggalkan temannya berjalan sendiri, berjalan seorang diri mencari jejak musuh akan lebih mudah, orang nya sedikit juga bisa menghindar kebocoran berita.


Perkiraan salah ini, harus dibayar sesuai dengan harga


kesalahan itu. Dia lupa akan nasihat kuno serangga seratus kaki, mati pun tidak akan kaku, mengira setelah bentengnya hancur, ketua benteng Xi dan anaknya tentu ingin bersembunyi saja, disampingnya tidak mungkin ada orang yang berguna.


Dia juga tidak menduga, ketua benteng Xi telah bergabung dengan perkumpulan Cun-qiu. Karena hanya seorang diri, jadi berita yang diperoleh kurang banyak itu adalah hal yang pasti.


Di Jiu-jiang dia mengantar pergi Xie-shen berempat, dan


mengucap hati-hati, sampai jumpa.


Tapi mereka berempat malah pergi berlayar pada hari itu juga.


Dia masih tinggal satu hari di Jiu-jiang, hari kedua baru naik


perahu berlayar ke bawah.

__ADS_1


Sekarang, tiba-tiba dia merasakan perasaan yang sepi.


Di Wu-chang, dia menggunakan Guan dan Du dua orang nona, mendekati keluarga Guan, berharap bisa mendapatkan tempat persembunyian ketua benteng Xi, dia seperti berada di dalam kampung romantis, putra romantis, nona cantik jelita, hidup beromantika, menikmati kehidupan yang bahagia.


Namun sekarang, kembali telah seorang diri lagi, dia kembali berkelana di Jiang-hu, sibuk dalam urusan dirinya mengejar musuh.


Hoa-fei-hoa juga adalah seorang nona muda yang cantik, cantik alami, lebih cantik dari pada dua nona Guan dan Du, cantiknya entah melebihi kecantikan kedua nona itu beberapa kali lipat, malah dia masih ada hubungan seperguruan.


Tapi, dia selalu mengambil jarak pada Hoa-fei-hoa, perasaannya selalu tidak bisa ada kemajuan, walau dia sudah merasakan perasaan Hoa-fei-hoa pada dirinya.


Mungkin, di dalam lubuk hatinya, terpendam perasaan tidak cocok akan sifat Hoa-fei-hoa yang angkuh, yang merasa dirinya benar.


Mengenai Ouw Yu-zhen dan Nie-sha-yin-hoa, setelah selama


mengikut dia, sifatnya yang dulu dingin angkuh sudah hilang tidak berbekas, mereka seperti berubah jadi orang lain, segalanya menjadikan Fu Ke-wei sebagai idolanya.


Mereka sangat cantik juga penurut sehingga, Fu Ke-wei


memandang mereka sebagai adik, merasa sayang juga kasihan.


Dengan emosi yang tidak stabil, dia juga menyewa perahu


berlayar ke bawah. Hari ini, di sore hari, Fu Ke-wei muncul di kabupaten Jiangning.


Ini adalah salah satu kabupaten besar dari tiga kabupaten besar di luar jangkauan Nan-jing, berjarak ke Nan Jing sekitar enam puluh li, disana ada kantor pemerintah pemeriksaan, satu kabupaten yang cukup ternama.


Dua puluh li lebih sebelah utara, adalah Da-sheng-guan yang mencekek leher perairan utara Nan-jing.


Tadinya Da-sheng-guan tidak ada kantor pemerintah bagian


pajak, kota Jiang-ning juga tidak ada.


Tapi sepuluh tahun lalu setelah dari pusat mengirim petugas

__ADS_1


pajak untuk mengambil pajak, dua tempat ini jadi di dirikan kantor pajak. Satu batang bambu satu batang pohon pun harus di kenakan pajak yang berlipat.


Akibatnya perahu penumpang dan barang tidak berani berlabuh lagi di pelabuhan Da-sheng dan kota Jiang-ning, pasar jadi sepi, sumber daya manusia mengalir keluar dengan jumlah banyak, para penduduk pada pergi ke Nan-jing mencari makan, sehingga sekarang yang tinggal di Jiang-ning kebanyakan hartawan.


Akibatnya, di daerah sekitar Jiang-ning menjadi tempat


beraksinya penyelundupan dan petualangan.


Fu Ke-wei berdandan seorang pengelana Jiang-hu, dia


menginap di penginapan Yue-lai.


Di buku daftar tamu nama yang di pakai Fu-xian.


Toko di seberang penginapan, adalah satu rumah makan kecil, tamu yang makan sedikit sekali.


Seorang laki-laki besar yang berdandan awak perahu, masuk ke dalam rumah makan kecil, iatang ke satu meja yang sudah ada tiga orang tamu makannya, langsung duduk, di atas meja sudah ada mangkuk sumpit yang dipakainya.


"Bagaimana?" tanya seorang laki-laki besar yang duduk


disebelah atas. "Seorang yang berbisnis satu kali jalan." awak perahu berkata,


"Tampak sangat tegap badannya, tapi tidak terlihat ada yang


mencolok." "Apakah perlu diselidiki lebih lanjut?" laki-laki besar sangat hati hati.


"Aku rasa tidak perlu, bagaimana kita bisa nenguntip dan menyelidik satu persatu pada setiap orang asing yang masuk ke Jiang-ning, kalau sampai begitu harus mengutus berapa banyak orang melakukannya" kata laki-laki besar yang jaru datang, "perusahaan pelayaran Jiang-ning majikan tuan Fan sudah menyanggupi membantu perkumpulan kita, jika menemukan ada yang mencurigakan, segera memberitahukan pada kita."


"Itu sih belum tentu!" laki-laki besar lainnya tidak setuju dengan pandangan laki-laki yang baru datang, "menyelidiki perahu walau itu biasa, tapi orang di atas perahu harus terlibat di dalamnya, jadi itu tidak biasa. Orang-orang Jin-shedong juga bukan orang biasa.


Jika majikan Fan tahu perahu yang akan diselidiknya, penumpangnya orang-orang Jin-shedong, dia pasti tidak ada keberanian mengusiknya."


"Aneh!" seorang pria besar lainnya yang duduk disebelah kanan membelokan pembicaraan, Sudah beberapa hari, dengan pergaulan majikan Fan yang luas, menyelidik arah tujuan sebuah perahu cepat tipe menengah, seharusnya mudah seperti membalikan telapak tangan, apa lagi ciriciri yang kita berikan sangat banyak, mengapa sampai sekarang masih belum ada kabarnya?"

__ADS_1


"Perahu itu pasti sembunyi di suatu teluk sungai yang sangat ke dalam, bagaimana menyelidiknya."


__ADS_2