Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 42


__ADS_3

"Saat aku menyampaikan pesan, apa kau benar ada di dalam


kamar?" tanya Shang-fei terkejut, "anda da......datang dari mana?"


"Omong kosong! Jika aku tidak di dalam kamar, bagaimana tahu


tempat pertemuannya?" kata Fu Ke-wei dingin, "di penginapan masih ada enam orang bangsat bisa jadi saksi, mereka diam-diam


menyerang dengan senjata gelap."


"Mereka......" "Demi undangan anda, aku tidak apa-apakan mereka. Tapi,


bangsat yang tiarap di bawah tembok yang diam-diam menyerangku


dengan keji, dia menyerang dari belakang menggunakan Cakar Setan


Dingin, sangat menyebalkan sekali. Apakah dia itu Setan Jahat


Sun-ren" Dia sedikit pun tidak ada rasa kasihan, hawa racun negatif Cakar Setan, dapat melukai orang dari jarak tiga chi lebih, telah


digunakan secara diamdiam menyerang orang sangat jitu sekali,


perbuatannya ini tidak salah kalau di bunuh."


"Kau apakan dia......"


"Dia tidak akan mati, tapi di bandingkan dengan Ba-fangdu-ti


Jin-ba-dou, dia mungkin lebih parah sedikit, ada beberapa tulang


iga yang patah harus diobati."


Empat belas orang itu melihatnya, jelas terkejut oleh


perkataannya, juga sepertinya rada sedikit tidak percaya.


"Kelihatannya, kau ini adalah pesilat tinggi misterius yang berilmu hebat." Kata Shang-fei menggigit gigi, "bertarung adil denganmu, orang yang dapat mengalahkanmu tidak ada seberapa orang."


"Bagus, bagus." Dengan waspada dia melihat pada empat belas orang yang mengepung-nya, "di luar orang masih ada orang, di luar langit masih ada langit, ilmuku belum terhitung hebat. Anda


mengundangku datang kesini, betulkah berniat menggunakan


keahlian silat mengusir aku meninggalkan tempat ini?"


"Kau sedang mendesak kami melakukan hal yang luar biasa."


"Tidak berniat lagi bertarung dengan adil?" dia bertanya dengan nada dalam.


"Ini juga kau yang memaksa kami."


"Empat belas lawan satu?"


"Mungkin." Kata Shang-fei, "kau terlalu hebat, tidak bisa salahkan kami."


"Kalian melakukan ini, apakah pernah memikirkan


akibatnya?" "Kami sudah datang, sudah datang ya tergantung nasib. Tenang saja, kami tidak akan mendakwamu membunuh orang pada pemerintah. Aku


percaya kau mungkin bisa membunuh beberapa dari kami, tapi kami


percaya kau akan membayarnya dengan nyawamu."


"Ooo...! Orang penting kalian, sepertinya belum datang."


"Yang kau maksud saudara Li" Dia pergi mencari Huo-baoing dan Bu-fei-khe untuk mencari penyelesaian, tidak sempat datang kesini.

__ADS_1


Empat belas di banding satu, kau masih merasa kurang?"


"Sebaliknya, aku merasa harus waspada. Orang banyak lebih kuat, masing-masing perbedaan silatnya tidak beda seberapa, lebih banyak satu orang pasti lebih dapat peluang. Makanya, aku tidak berniat


menempuh bahaya bertarung dengan kalian empat belas orang,


selamat jalan......"


Tapi, dia sudah terlambat satu detik, di saat dia mengatakan


tidak berniat menempuh bahaya, empat orang yang paling dekat


telah maju melakukan penyerangan.


Lawannya menyerang menggunakan telapak dan tinju, dia sedikit


merasa di luar dugaan, di saat ragu-ragu inilah, dia sudah terlambat untuk mundur, dengan reflek dia mengerahkan tenaga dalam


menahannya. Begitu sepasang tangannya di buka, dia tahu dia akan celaka


Dia pertama kali melihat empat orang menyerang, tidak


menyangka sepuluh orang lainnya mendadak mengulurkan


telapak tangan pada temannya, dengan kuda-kuda, tangan


sepuluh orang itu masing masing di tempelkan pada bahu empat


temannya itu. Melihat keadaan begini, dia tahu habislah sudah.


Buuk... paak... beberapa suara keras terdengar, dia merasa seperti sepuluh ribu jin tenaga mengenai tubuhnya, sepasang lengannya


seperti terkena geledek, tenaga dalam tertahan, tenaga dahsyat


membalik. Ilmu menyatukan tenaga dalam, adalah ilmu hebat yang jarang


bukan saja akan celaka, tenaga yang terkumpul juga akan buyar.


"Mmm......" Dia teriak dengan suara terbekam, tubuhnya terbang kebelakang


oleh tenaga yang dahsyat, menuju ke arah bangunan peristirahatan


yang berada dua zhang lebih dibelakang, seperti layang-layang putus tali, tangan dan kaki meronta-ronta terbang.


Di atas bangunan peristirahatan di tiang palang, turun satu


bayangan hitam, tubuh itu turun dari atas kebawah sambil


membentak, sepasang telapak tangannya memukul, menimbulkan


angin pukulan yang kuat. Buum... terdengar suara keras, arah tubuh Fu Ke-wei yang jatuh


berbelok setelah terkena serangan angin pukulan itu, roboh ke lantai di tengah bangunan.


Orang yang diam-diam menyerang tubuh Fu Ke-wei naik


miring, sepasang kaki turun ke bawah, dengan kekuatan penuh


menginjakan kakinya pada Fu Ke-wei.


Di saat hidup atau mati, orang yang semangat hidupnya kuat, bisa


mendadak mengeluarkan tenaga tersembunyi yang sulit di


bayangkan, seluruh tubuhnya timbul satu perubahan aneh.

__ADS_1


Sekejap setelah dia jatuh, dia mengeluarkan satu siulan panjang yang bernada marah, tubuhnya berguling, tangan dan kakinya mendadak


mengeluarkan tenaga kuat meloncat ke atas, tubuhnya seperti anak


panah terlepas dari busurnya, dari bawah palang pembatas bangunan


menerobos keluar, sejauh tiga zhang lebih, sekali loncat tiga zhang lebih, dua tiga loncatan telah menghilang di kegelapan malam, seperti


bayangan setan yang menghilang.


Orang yang mengejar di belakang, hanya mengejar seratus


langkah lebih, sesudah itu tidak terlihat bayangannya lagi.


Hari kedua, hari ketiga, pelayan penginapan Fu-tai tidak


pernah melihat dia kembali kepenginapan.


Sore hari di hari ketiga, di utara kota Fan sekitar lima-enam li di Ji-li-dian-guan.


Satu li sebelah barat Ji-li, ada satu sungai kecil yang mengalir ke selatan, pantainya tumbuh subur rumput alangalang yang cukup


tinggi. Ada seorang anak kampung sedang mencari anak kambing yang


hilang, ketika mendekati pantai, tiba-tiba dia melihat di depan rumput alang alang, duduk seorang pemuda dengan wajahnya yang pucat,


sepasang mata tertutup rapat, sepertinya sedang tidur.


Bajunya yang robek-robek sudah tidak bisa menutup


tubuhnya lagi, otot dan dagingnya tampak merah seperti darah,


berbeda sekali dengan wajahnya yang pucat putih.


"Aduh! Kau.. .kau ini manusia.. .atau setan"


Anak kampung itu berteriak terkejut, sempoyongan


melangkah mundur. "Aku manusia." Kata si pemuda, pelan-pelan dia membuka sepasang mata yang tampak kelelahan, "aku punya satu balok perak, tolong belikan aku makanan, paling bagus ada satu teko arak. Dan juga, kecuali orang di rumahmu, jangan sekali-sekali katakan aku ada disini. Jangan takut, kemarilah, saudara kecil!"


Anak kampung itu sudah tidak takut lagi, dengan wajah penuh


pertanyaan pelan-pelan mendekat.


"Di rumahku ada arak, masakan juga bisa beli di Ji-li-dianguan."


Anak kampung berkata, "kau...kau tampaknya seluruh tubuhnya


berlumuran darah..."


"Bukan, aku di lukai oleh perampok." Dia menyodorkan sepuluh liang perak, "paling baik suruh orang tuamu sediakan masakannya, jangan beli di Ji-li-dian-guan."


"Baiklah." Anak kampung menerima perak, "rumahku di depan tidak jauh, aku bawa kau kesana, baik tidak?"


"Aku telah mendapat luka yang parah, seluruh tubuh terasa lemas, tidak bisa berjalan."


"Ka......kalau begitu biar ayahku menggendongmu......"


"Tidak perlu, begitu bergerak tubuhku jadi sakit."


"Ha......hari hampir gelap......"


"Aku akan duduk disini sampai hari terang. Cepatlah pergi, terima kasih adik kecil."


Anak kampung menganggukan kepala, dengan cepat berlari

__ADS_1


pergi. Hari keempat, pemilik penginapan Fu-tai, siap melapor pada


kantor pemerintah mengenai tamunya yang hilang.


__ADS_2