Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 153


__ADS_3

Seorang putra terhormat ibu kota, dengan sekali serangan


seharusnya sudah cukup. "Traang!" kembang api berterbangan, Mi-hun-tai-sui terlontar mundur delapan che lebih, hampir saja menabrak dinding, kakinya menginjak kaki kanannya Jin Ying-ying yang tidak keburu menghindar, hampir saja dia terjatuh.


Jin Ying-ying juga menjerit kesakitan, menarik kakinya!


Fu Ke-wei tidak mengejarnya, dia takut melukai dua wanita yang ada dilantai.


"Aku orangnya sangat memegang urusan benar salah, kau memegang atau tidak bukan urusan aku." Fu Ke-wei melotot ditempatnya, tangan kiri bertolak pinggang persis seperti berandalan, "aku sama denganmu, adalah seorang gila sek yang diketahui semua orang.


Aku datang kekota Wu-chang, adalah karena tertarik pada dua gadis keluarga Du dan Guan, sudah tampak di depan mata dengan satu panah dapat dua elang, mendapatkan orang dan harta, malah mendadak muncul dua wanita yang lebih cantik dari Jin-she-dong, terusmenerus merusak usahaku, sungguh mengesalkan sekali.


Aku sudah tidak tahan lagi, bersumpah harus mendapatkan mereka, jadi satu panah dapat empat elang, peluk kiri rangkul kanan, ditambah ganjal didepan dan dibelakang. Hemm..! Tidak diduga kembali mendadak muncul kalian sekelompok anjing brengsek, malah berani merebut incaranku, kau blasteran yang buta ini, malah beraninya berebut makan lebih dulu daging angsaku, aku ingin sembelih kau berandalan kelas tiga... apa yang telah aku katakan pasti akan kulaksanakan."


Mendengar kata-kata ini Tian-xie-jian Lenggang dan orang


setengah baya lainnya sampai mengerutkan alis.


Hati Jin Ying-ying ya marah ya malu ya gelisah, Jin Wen-wen


malah sepertinya tidak terpengaruh, hanya dengan sepasang


matanya yang jernih memperhatikan Fu Ke-wei.


Saking marahnya Mi-hun-tai-sui merasa paru-parunya


seperti akan meledak, sekali berteriak keras, dia kembali


menerjang maju seperti kerbau gila.


"Traang traang traang!" tiga kali terdengar suara pedang!


Mi-hun-tai-sui kembali terlontar ke sudut dinding, setiap


serangan dahsyatnya, semua tanpa ampun ditangkis oleh Fu


Ke-wei.


Kali ini, akhirnya Mi-hun-tai-sui mengerti.

__ADS_1


Putra terhormat dari ibu kota ini, jurus pedang dan tenaga dalam mengendalikan pedangnya, sama sekali bukan orang biasa seperti dia sering temui, dia segera mengeluarkan teriakan keras, memanggil penjaga diatas dan anak buahnya untukdatang


membantu.


"Tidak perlu repot-repot." Fu Ke-wei yang tahu isi hati Mi-hun-tai-sui, pedangnya sudah mendesak Mi-hun-tai-sui ke sudut mati, "orang dibawah loteng, sudah dibunuh mati semua olehku. Begitu orang diatas loteng turun satu, pasti akan mati satu. Pelayanku diluar telah menghadang jalan bawah tanah ini, dia membunuh orang lebih menakutkan dari pada aku, sekelompok bawahanmu itu, tidak ada yang mampu menahan sekali sabetannya.


Sekarang, paling bagus kau tenangkan dirimu, perhitungkan bon urusan salah-benarnya dengan aku."


"Kau jangan sembarangan bicara," Mi-hun-tai-sui mulai


ketakutan, dia berlagak merogoh ke dadanya, seperti akan


mengeluarkan senjata ampunnya, "dua gadisnya keluarga Du dan Guan, aku masih tidak memandangnya......"


"Yang aku bicarakan adalah dua wanita cantik yang di lantai ini, kau jangan berniat busuk menghindar yang berat melakukan yang ringan."


Fu Ke-wei berlagak seorang berandalan yang cemburu, "apa kau ingin mengeluarkan tabung penyembur puder Xiao-yao"


Sudahlah! Kau menganggap obat beracun itu barang sangat


berharga, kali ini obatmu sudah habis digunakan, kau jangan


Didalam hati Mi-hun-tai-sui mengeluh, tangan yang


merogoh dadanya jadi kaku.


"Kau jangan terlalu menghina orang......" teriak Mi-hun-taisui putus asa.


"Brengsek! Beraninya kau mengatakan aku terlalu menghina


orang?" Fu Ke-wei teriak, "kau merebut wanita incaranku, apa itu bohong" Lihat, kau masih menginjaknya dibawah kakimu! Aku harus membunuhmu."


Dalam bentakannya, pertama kali dia mengangkat pedang lalu menyerang, begitu pedang dijulurkan, tampak sinar kilat menyilaukan mata, suara dengungan pedang seperti suara geledek yang samar-samar dari luar langit.


Mi-hun-tai-sui didesak disudut mati, tidak ada ruang untuk


bergerak menghindar, hanya bisa sekuatnya menangkis, dengan serabutan mempertahankan arah depan yang sempit.


"Boom! Traang trang......" terdengar suara logam beradu yang mengerikan, kembang api menyembur, hampir setiap gerakan pedang lawan adalah serangan mematikan.

__ADS_1


Kasihan Mi-hun-tai-sui, ilmu pedangnya memangnya juga tidak begitu hebat, mana bisa menahan sinar kilat yang datang menekan bertubi tubi" Menahan tujuh-delapan serangan pedang, dibawah dada, kedua sisi tubuh, bokong, baju robek celana rusak, ada yang robek ada yang lubang, dalam sekejap dia sudah menerima delapan, sembilan serangan pedang di tempat yang tidak mematikan, ditempat yang robek jejak darah jelas terlihat.


Setelah suara terakhir dengungan pedang terdengar, Fu Ke-wei mundur tiga langkah, mengambil jarak, sekalian menggunakan kakinya memindahkan Jin Ying-ying satu zhang lebih, menghindar dari sudut yang berbahaya.


"Aku tidak terburu-buru." Dia perlahan mengibaskan pedang sambil tertawa keji, "aku ingin mempermainkan dirimu, menusukmu menjadi mayat yang berlubang ribuan, lalu memotong jadi delapan potong besar mempertunjukannya pada khalayak ramai, untuk memperingatkan pada orang yang mau merebut wanita incaranku ini."


Tubuh Mi-hun-tai-sui mengucurkan keringat dingin, kaki dan tangan jadi kaku, nafasnya terengah-engah seperti nafas sapi, tangan yang mengangkat pedang juga gemetar, sinar galak dimata telah menghilang, dia seperti seekor sapi tua yang telah menarik kereta seharian, tenaganya hampir habis.


"Aku......aku akan kem......kembalikan wanita cantik ini


padamu......" Mi-hun-tai-sui seperti telah gila berteriak,


"aku...aku tidak tahu dia... dia adalah wa.. .wanita pe...pesanan kau......"


"Sekarang kau sudah tahu, hemm...!"


"Orang lainnya......"


"Orang lainnya tidak ada hubungan dengan aku."


"Wanita yang sedikit lebih besar itu...dia adalah janda,


aku...aapa boleh...boleh meninggalkannya?"


"Brengsek, kau masih penasaran ya" Janda adalah wanitanya wanita, aku paling suka. Kau malah merebut kesukaan orang?" Fu Ke-wei berteriak, mendadak maju menusuk, pedangnya berubah jadi sinar kilat yang menerjang.


"Sssng..." sebuah suara keras terdengar pedangnya


Mi-hun-tai-sui terlepas, menabrak kedinding, tangannya retak


mengucurkan darah. Fu Ke-wei membuang pedang, maju menerjang dengan kepalan dan telapaknya, berturut-turut sepuluh lebih pukulan keras mengena pad? tubuhnya, setiap pukulan mengenai daging, setiap telapak mengena telak, memukul Mi-hun-tai-su roboh terjerembab lalu berdiri, diangkat dipukul jatuh, ditarik lagi dipukul dengan keras.


"Aww......aduh......"


Mi-hun-tai-sui berteriak sekeras-kerasnya, menggema


diseluruh ruang bawah tanah, menggetarkan telinga.


# Yg like semoga masuk surga 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2