Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 27


__ADS_3

Fu Ke-wei tidak istirahat lagi, dengan cekatan dia bangkit dari


duduknya, mengeluarkan kepala dari kereta memeriksa, wajahnya


berubah. Empat ekor kuda yang datang dari depan seperti sudah gila,


kusirnya juga seperti sudah gila, keretanya bergoyang keras,


berloncat loncatan, tampak mengerikan, sepertinya setiap saat


keretanya bisa terguling hancur berkeping-keping.


"Cepat jalankan kereta ke dalam sawah!" terdengar


teriakan pada kusir utama.


Di pinggir jalan ada parit selebar dua chi, sawah hanya


beberapa tumpukan pasir putih, bagaimana kereta bisa keluar"


Kusir utama tidak menurut, dia malah mengerem


keretanya, dengan lancar mengendalikan keledai,


keretanyajadi berhenti di sisi jalan.


"Hati-hati mereka " Fu Ke-wei berteriak dengan keras,


mendadak dia keluar dari dalam kereta.


Kereta lawan datang menerjang, kekuatannya seperti


gunung runtuh. Empat penunggang kuda di belakangnya, malah di luar sepuluh


langkah telah meninggalkan jalan raya, maju dari kedua


sampingjalan, baru saja kereta berpapasan, empat penunggang kuda


itu juga sudah sampai di kedua sisi kereta.


Golok dan pedangnya di cabut, saat dua penunggang kuda itu


menempel disisi kereta, mereka melukai pantat keledai dengan


pedang dan golok, dan tanpa berhenti menerjang terus kedepan.


Kusir utama terkejut, keledainya kesakitan dan berlari ke depan,


kusir utama tidak menduga kejadian ini, hingga jatuh terlentang.


Debu berterbangan, di depan tidak terlihat orang.


Kereta kuda yang berlari mendadak membelok, membuat kereta


tidak terkendali dan berguling ke kanan.


Di dalam bayangan debu, sepuluh ekor lebih kuda telah datang


menerjang, melihat kereta kuda berguling, mereka tidak keburu


menghindar. Orang berteriak, kuda berkikik! Langit goyang bumi


goncang, mengerikan sekali.


"Oh! Langit!" Fu Ke-wei yang melayang turun di atas tumpukan pasir di sisi jalan me-nengadah kepala berteriak, merasa, bulu di

__ADS_1


seluruh tubuhnya menjadi dingin dan berdiri, hawa dingin menutup


tubuhnya. Kereta empat kuda yang mewah dan empat penunggang kuda


telah berlari sejauh seratus langkah lebih, suara keretanya sangat keras, derap kuda seperti guntur, semua menghilang dalam debu


yang berterbangan. Tiga belas penunggang kuda, hanya tinggal tiga orang yang paling


belakang, di saat kritis menerjang, mereka kesamping dan masuk


kesawah jadi bisa selamat, sepuluh yang lainnya tujuh mati seketika, tiga luka berat hampir mati, empat belas ekor kuda tidak ada seekor pun yang dapat berdiri sendiri, kebanyakan putus kaki patah leher, roboh semua.


Kusir utama sudah mati, mati tertindih oleh kuda yang mati.


Delapan penumpang di dalam kereta luka parah, yang


beruntung selamat hanya dua orang, pelajar dan pedagang. Yang


satu patah tulang kaki kanannya, yang satu tangan patah dan


kepala luka. Orang yang tidak mati, dalam kepulan debu menolong yang


terluka, yang mati dibaringkan di sisi jalan, yang luka dibopong


kesawah untuk dibalut lukanya.


Fu Ke-wei menemukan buntalannya sendiri dibawah kereta yang


hancur, dengan lancarnya mengobati dan membalut luka pelajar dan


pedagang. Dia mendengar suara derap kuda, juga tahu tiga penunggang


kuda yang selamat membawa temannya yang luka, dengan cepat


pelajar dan pedagang. Dia mempunyai obat luka yang paling


bagus, cara membalutnya juga lancar sekali.


"Kalian bertalianlah." Dia menghibur dua orang yang terluka parah, "nanti aku pergi kekampung terdekat minta pertolongan."


Dia jalan kearah datangnya, kampung Ru-wen yang ada


dibelakang yang berpenduduk sekitar dua-tiga puluh keluarga.


Dia tidak dapat tinggal menjadi saksi melapor ke polisi, setelah dua orang yang luka parah di serahkan pada kepala kampung, dia


meninggalkan Ru-wen menuju kearah selatan, menuju ke kabupaten


Ye. Saat tiba disana, hari sudah hampir malam.


Dia masuk kota sebelum gerbang kota di tutup, dan tidur di


penginapan. Hari kedua dia tidak meneruskan perjalanan, dia


menghabiskan waktu seharian mencari berita.


Hari ketiga, dia menyewa seekor keledai kecil, dengan penuh


amarah menuju Nan-yang. Xiang-yang, kota terbesar di perairan tengah Han-jiang, adalah


pintu penting di utara provinsi Hu dan Guang, sejak jaman dahulu


ternama lalu lintasnya, perekonomian dan kemili-terannya.


Kota pemerintahan Xiang-yang walau mengalami beberapa kali

__ADS_1


peperangan, tapi pulihnya cepat sekali, di dalam kota sudah tidak


tampak kerusakan akibat peperangan, pasar sangat ramai, tampak


sangat maju. Xiang-yang merupakan sentral perdagangan, di seberang utara


Han-jiang berjarak tiga empat li dari kota Fan. Dulu jalan kota Fan memanjang sampai kepinggir kali, tapi jalan lama telah dibakar rusak, deretan toko dan penginapan yang makmur sudah tidak terlihat.


Fu Ke-wei menginap di penginapan Fulai, penginapannya terletak


di selatan kota, di sekitarnya merupakan tempat penambatan


perahu, 'naga' dan 'ular' bercampur baur, hingga banyak masalah


terjadi. Satu li lebih dari barat daya kota, ada satu erumahan Hanbei yang


cukup ternama, lerumahan ini miliknya tuan Li, bangsawan


Xiang-ang, Li Yong-kang. Tapi pengurusnya adalah marga Jin, biasa dipanggil Jin-badou


(tuan kedelapan Jin). Perumahan ini adalah satu tempat penting yang di ketahui


orang-orang dunia persilatan, orang di perumahan ini menguasai berbagai macam usaha di Xiang-yang, kereta, perahu, toko, kaki, gigi, tidak ada yang tidak di kuasai. Barang kelontongan yang datang dari hilir, dan hasil bumi ang dikirim ke hilir, semua telah di dirikan oleh tuan Li dengan kantor bermerk besar, pemasukan perhari satu dou emas


sumbernya sangat luas. Di hati orang persilatan, nama tuan Li berada dalam urutan


Sembilan Jago Pedang terbesar, julukannya Pedang Pemutus Arwah


(Toan-hun-jian), pedang pusaka dia yang bersinar emas mencolok


mata sungguh menakutkan orang.


Julukannya Jin-ba-dou adalah Delapan Arah Tanah, bisa di nilai


dia orang bagaimana. Pokoknya, mereka berdua bukan saja naga setempat daerah


Xiang-yang, di dunia persilatan juga punya nama. Di dalam hati


orang setempat, mereka adalah hartawan kaya raya dan tuan


tanah besar. Rumah tuan Li, berada sepuluh li di selatan Xiang-yang sebelah barat gunung Xian, tempatnya dinamakan Kebun Li. Diantara Kebun Li dengan gunung Xian, ada sebuah jalan raya yang menuju Jing-zhou. Dari Kebun Li ke utara, sampai ke pantai selatan danau Xiang-yang, sawah didaerah ini hampir semuanya milik keluarga Li, bisa bayangkan besarnya


kekayaan keluarga Li. Xiang-yang adalah pelabuhan darat dan air terbesar di Hanjiang, tidak saja hasil buminya subur, lebih-lebih jalannya ramai oleh pedagang dan pelancong, di penginapan jika ada seorang tamu menginap, tentu tidak menimbulkan perhatian orang lain, apa lagi tamu ini sama sekali bukan orang ternama.


Nama yang di daftarkan Fu Ke-wei di penginapan adalah


Fu-xian, seorang pelajar pengelana.


Pakaiannya cocok dengan kedudukannya, berbaju hijau,


orangnya tampan dan tinggi, ada bawaan sedikit lembut, sedikit


pun tidak ada ciri ciri orang persilatan.


Kebun Li tidak terlalu luas, di sana ada sepuluh lebih gedung


yang di kelilingi pohon dan bunga. Satu li disebelah barat, baru ada perkampungan petani yang terdiri dari dua puluh lebih rumah dan


kandang hewan, ini adalah tempat tinggalnya para pekerja dan


petani. Gunung Xian adalah tempat melancong yang ternama, dengan


pemandangan indah. Anak anaknya keluarga Li, sering dengan anak


orang kaya di kota, melancong ke atas gunung.

__ADS_1


__ADS_2