
Fu Ke-wei tidak istirahat lagi, dengan cekatan dia bangkit dari
duduknya, mengeluarkan kepala dari kereta memeriksa, wajahnya
berubah. Empat ekor kuda yang datang dari depan seperti sudah gila,
kusirnya juga seperti sudah gila, keretanya bergoyang keras,
berloncat loncatan, tampak mengerikan, sepertinya setiap saat
keretanya bisa terguling hancur berkeping-keping.
"Cepat jalankan kereta ke dalam sawah!" terdengar
teriakan pada kusir utama.
Di pinggir jalan ada parit selebar dua chi, sawah hanya
beberapa tumpukan pasir putih, bagaimana kereta bisa keluar"
Kusir utama tidak menurut, dia malah mengerem
keretanya, dengan lancar mengendalikan keledai,
keretanyajadi berhenti di sisi jalan.
"Hati-hati mereka " Fu Ke-wei berteriak dengan keras,
mendadak dia keluar dari dalam kereta.
Kereta lawan datang menerjang, kekuatannya seperti
gunung runtuh. Empat penunggang kuda di belakangnya, malah di luar sepuluh
langkah telah meninggalkan jalan raya, maju dari kedua
sampingjalan, baru saja kereta berpapasan, empat penunggang kuda
itu juga sudah sampai di kedua sisi kereta.
Golok dan pedangnya di cabut, saat dua penunggang kuda itu
menempel disisi kereta, mereka melukai pantat keledai dengan
pedang dan golok, dan tanpa berhenti menerjang terus kedepan.
Kusir utama terkejut, keledainya kesakitan dan berlari ke depan,
kusir utama tidak menduga kejadian ini, hingga jatuh terlentang.
Debu berterbangan, di depan tidak terlihat orang.
Kereta kuda yang berlari mendadak membelok, membuat kereta
tidak terkendali dan berguling ke kanan.
Di dalam bayangan debu, sepuluh ekor lebih kuda telah datang
menerjang, melihat kereta kuda berguling, mereka tidak keburu
menghindar. Orang berteriak, kuda berkikik! Langit goyang bumi
goncang, mengerikan sekali.
"Oh! Langit!" Fu Ke-wei yang melayang turun di atas tumpukan pasir di sisi jalan me-nengadah kepala berteriak, merasa, bulu di
__ADS_1
seluruh tubuhnya menjadi dingin dan berdiri, hawa dingin menutup
tubuhnya. Kereta empat kuda yang mewah dan empat penunggang kuda
telah berlari sejauh seratus langkah lebih, suara keretanya sangat keras, derap kuda seperti guntur, semua menghilang dalam debu
yang berterbangan. Tiga belas penunggang kuda, hanya tinggal tiga orang yang paling
belakang, di saat kritis menerjang, mereka kesamping dan masuk
kesawah jadi bisa selamat, sepuluh yang lainnya tujuh mati seketika, tiga luka berat hampir mati, empat belas ekor kuda tidak ada seekor pun yang dapat berdiri sendiri, kebanyakan putus kaki patah leher, roboh semua.
Kusir utama sudah mati, mati tertindih oleh kuda yang mati.
Delapan penumpang di dalam kereta luka parah, yang
beruntung selamat hanya dua orang, pelajar dan pedagang. Yang
satu patah tulang kaki kanannya, yang satu tangan patah dan
kepala luka. Orang yang tidak mati, dalam kepulan debu menolong yang
terluka, yang mati dibaringkan di sisi jalan, yang luka dibopong
kesawah untuk dibalut lukanya.
Fu Ke-wei menemukan buntalannya sendiri dibawah kereta yang
hancur, dengan lancarnya mengobati dan membalut luka pelajar dan
pedagang. Dia mendengar suara derap kuda, juga tahu tiga penunggang
kuda yang selamat membawa temannya yang luka, dengan cepat
pelajar dan pedagang. Dia mempunyai obat luka yang paling
bagus, cara membalutnya juga lancar sekali.
"Kalian bertalianlah." Dia menghibur dua orang yang terluka parah, "nanti aku pergi kekampung terdekat minta pertolongan."
Dia jalan kearah datangnya, kampung Ru-wen yang ada
dibelakang yang berpenduduk sekitar dua-tiga puluh keluarga.
Dia tidak dapat tinggal menjadi saksi melapor ke polisi, setelah dua orang yang luka parah di serahkan pada kepala kampung, dia
meninggalkan Ru-wen menuju kearah selatan, menuju ke kabupaten
Ye. Saat tiba disana, hari sudah hampir malam.
Dia masuk kota sebelum gerbang kota di tutup, dan tidur di
penginapan. Hari kedua dia tidak meneruskan perjalanan, dia
menghabiskan waktu seharian mencari berita.
Hari ketiga, dia menyewa seekor keledai kecil, dengan penuh
amarah menuju Nan-yang. Xiang-yang, kota terbesar di perairan tengah Han-jiang, adalah
pintu penting di utara provinsi Hu dan Guang, sejak jaman dahulu
ternama lalu lintasnya, perekonomian dan kemili-terannya.
Kota pemerintahan Xiang-yang walau mengalami beberapa kali
__ADS_1
peperangan, tapi pulihnya cepat sekali, di dalam kota sudah tidak
tampak kerusakan akibat peperangan, pasar sangat ramai, tampak
sangat maju. Xiang-yang merupakan sentral perdagangan, di seberang utara
Han-jiang berjarak tiga empat li dari kota Fan. Dulu jalan kota Fan memanjang sampai kepinggir kali, tapi jalan lama telah dibakar rusak, deretan toko dan penginapan yang makmur sudah tidak terlihat.
Fu Ke-wei menginap di penginapan Fulai, penginapannya terletak
di selatan kota, di sekitarnya merupakan tempat penambatan
perahu, 'naga' dan 'ular' bercampur baur, hingga banyak masalah
terjadi. Satu li lebih dari barat daya kota, ada satu erumahan Hanbei yang
cukup ternama, lerumahan ini miliknya tuan Li, bangsawan
Xiang-ang, Li Yong-kang. Tapi pengurusnya adalah marga Jin, biasa dipanggil Jin-badou
(tuan kedelapan Jin). Perumahan ini adalah satu tempat penting yang di ketahui
orang-orang dunia persilatan, orang di perumahan ini menguasai berbagai macam usaha di Xiang-yang, kereta, perahu, toko, kaki, gigi, tidak ada yang tidak di kuasai. Barang kelontongan yang datang dari hilir, dan hasil bumi ang dikirim ke hilir, semua telah di dirikan oleh tuan Li dengan kantor bermerk besar, pemasukan perhari satu dou emas
sumbernya sangat luas. Di hati orang persilatan, nama tuan Li berada dalam urutan
Sembilan Jago Pedang terbesar, julukannya Pedang Pemutus Arwah
(Toan-hun-jian), pedang pusaka dia yang bersinar emas mencolok
mata sungguh menakutkan orang.
Julukannya Jin-ba-dou adalah Delapan Arah Tanah, bisa di nilai
dia orang bagaimana. Pokoknya, mereka berdua bukan saja naga setempat daerah
Xiang-yang, di dunia persilatan juga punya nama. Di dalam hati
orang setempat, mereka adalah hartawan kaya raya dan tuan
tanah besar. Rumah tuan Li, berada sepuluh li di selatan Xiang-yang sebelah barat gunung Xian, tempatnya dinamakan Kebun Li. Diantara Kebun Li dengan gunung Xian, ada sebuah jalan raya yang menuju Jing-zhou. Dari Kebun Li ke utara, sampai ke pantai selatan danau Xiang-yang, sawah didaerah ini hampir semuanya milik keluarga Li, bisa bayangkan besarnya
kekayaan keluarga Li. Xiang-yang adalah pelabuhan darat dan air terbesar di Hanjiang, tidak saja hasil buminya subur, lebih-lebih jalannya ramai oleh pedagang dan pelancong, di penginapan jika ada seorang tamu menginap, tentu tidak menimbulkan perhatian orang lain, apa lagi tamu ini sama sekali bukan orang ternama.
Nama yang di daftarkan Fu Ke-wei di penginapan adalah
Fu-xian, seorang pelajar pengelana.
Pakaiannya cocok dengan kedudukannya, berbaju hijau,
orangnya tampan dan tinggi, ada bawaan sedikit lembut, sedikit
pun tidak ada ciri ciri orang persilatan.
Kebun Li tidak terlalu luas, di sana ada sepuluh lebih gedung
yang di kelilingi pohon dan bunga. Satu li disebelah barat, baru ada perkampungan petani yang terdiri dari dua puluh lebih rumah dan
kandang hewan, ini adalah tempat tinggalnya para pekerja dan
petani. Gunung Xian adalah tempat melancong yang ternama, dengan
pemandangan indah. Anak anaknya keluarga Li, sering dengan anak
orang kaya di kota, melancong ke atas gunung.
__ADS_1