Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 16


__ADS_3

Gunung Zhu berada di luar gerbang utara, dari kota kirakira


jauhnya lima li, ini adalah tempat rekreasi ternama, disana ada satu bangunan kuil Guang-ji yang cukup ternama. Perahu yang berlayar di sungai, dari jarak lebih dari sepuluh li sudah dapat melihat pagoda Ling Gui yang berada disisi kuil.


Disisi kuil ada satu balkon Di-chui, ini adalah tempat untuk


menyambut para orang orang ternama dari kota yang datang


melancong, biasanya kuil ini tidak menerima tamu menginap, maka


pintunya sering ditutup rapat tidak tampak ada orang.


Jam tiga pagi itu, di sebuah ruangan mewah di balkon ada sinar


lampu, dua orang yang duduk di satu meja, di sampingnya ditempatkan sebuah pembakaran yang di dirikan sementara, api menyala, membuat


air didalam teko kecil hampir mendidih.


Tampak di ruangan itu ada seorang laki-laki dan seorang wanita,


yang laki-laki usianya sudah lanjut, kepala botak, wajahnya penuh


keriput, memakai mantel dao, mantelnya lebar dan besar, tampak


suci. Yang wanita berpenampilan seorang wanita dusun, usianya kurang


lebih tiga puluh tahun, rok kain, dandanannya sederhana sekali,


wajahnya bersih, walau wajahnya biasabiasa saja, tapi dia seperti


seorang wanita dari keluarga yang rajin mengurus rumah dan bisa


mendampingi suami mengajar anak.


Diatas meja ada teko dan gelas teh, sebuah teko keramik ungu


dari Yi-xing, empat gelas setelannya ditaruh diatas baki teh. Kotak teh nya sangat cantik dan mahal, daun teh yang ada di dalamnya


pasti bukan kwalitet biasa.


Air sudah mendidih, dao tua mulai menyeduh teh.


"Sudah jam empat." Nyonya setengah baya berguman, "jika


lancar, mereka seharusnya sudah akan kembali."


"Seorang yang tinggal setengah nyawa, dan di sampingnya tidak


ada teman yang menemani, sampai para berandalan setempat pun


menghindar jauh dari dia, seharusnya lancar." dao tua menumpahkan


teh untuk nyonya setengah baya, "menambahkan satu pisau buat dia,


bisa di katakan semudah membalikan tangan. Ooo! Apakah kau


merasa tidak tenang?"


"Aku khawatir saat bocah itu meregang nyawa balik menggigit."


Kata nyonya setengah baya, "harimau mati tidak jatuh


keperkasaannya, bocah itu sangat bandel sekali!"


"Kau membesar-besarkan orang lain."


"Kenyataannya memang begitu." Kata nyonya setengah baya, "Ratu


Lebah membunuh orang, tidak pernah sekaligus menggunakan tiga


buah jarum Ekor Lebah, kali ini menggunakan tiga buah jarum, tetap tidak dapat membunuhnya, hingga lima enam hari dia tetap masih bisa berjalan, jika kau kira mudah menghadapinya, kau salah besar."

__ADS_1


"Tenang saja! Lu bersaudara kepandaiannya tinggi sekali, selain


pintar juga waspada, kali ini pasti berhasil, Ooo! Apa kau


sungguh-sungguh ingin pulang membawa satu telinga sebagai


bukti?" "Benar, pelanggan bersikukuh mengeluarkan uang lebih seribu


liang perak, ingin mendapat sebuah benda sebagai bukti."


"Besok pagi kau sudah bisa membawa barang bukti pulang


melapor." dao tua kembali menumpahkan the, "mungkin mereka


segera akan kembali, aku keluar sebentar memanggil saudara Zhen,


mungkin membawa dia masuk untuk minum teh meningkatkan


semangat...Iii!" Pintu yang tidak dikunci, entah kapan sudah terbuka lebar, sebuah


bayangan hitam yang langsing berdiri di pintu, pedangnya terselip di pinggang, mantelnya melayang-layang seperti roh.


"Saudara Zhen sudah tidak akan bisa masuk lagi." Kata tamu


tidak diundang itu, "apa tidak persilahkan aku masuk minum teh"


Wangi sekali, sepertinya teh Yun-wu yang tersohor mahal."


Laki-laki dan wanita itu terkejut sampai meloncat, hampir saja


membalikan meja besar. "Kau..." teriak dao tua terkejut dan ketakutan.


Tamu tidak di undang itu perlahan melangkah masuk, sambil


menutup dan mengunci pintu, tangannya diangkat, sssst... sebuah


suara pelan terdengar, satu telinga manusia yang pucat jatuh


Tamu tidak diundang ini ternyata adalah Fu Ke-wei, pada nyonya


setengah baya berkata dengan ramah, "kabar matinya Xie-jian-xiu-luo Fu Ke-wei, besok pagi akan tersiar."


Dao tua merapatkan sepasang tangan, akan melakukan satu


gerakan. "Jangan kau gunakan Telapak Pendorong Gunung itu, aku tahu kau


adalah pendeta dao dari Wu-yi-qing-xi, sekarang tinggal di Kuil


Guang-ji." Kata Fu Ke-wei berhenti di jarak dua zhang lebih, "Telapak Pendorong Gunung mu bisa melukai orang dalam jarak delapan chi, di luar delapan chi sudah tidak ada pengaruhnya, menyerang padaku, tidak akan ada gunanya."


"Tampaknya kau tidak terluka." Teriak pendeta dari Wu-yi


terkejut, "orang-orangku terkena tipumu."


"Jarum Ekor Lebah nya Ratu Lebah tidak gagal, tapi aku dapat


bertahan." "Tapi para tabib itu..."


"Luka sangat mudah di samarkan, menempelkan satu


gumpal daging sapi busuk dan tidak mengizinkan tabib


memeriksanya dan memberi obat, sangat mudah sekali."


Nyonya setengah baya diam-diam menggeser kearah


jendela, gerakannya ringan sekali.


"Nyonya, jangan kau berpikir menerobos jendela melarikan diri,


sekali tubuhmu meloncat..." Fu Ke-wei dengan keras berteriak pada si nyonya, "ah...! Aku jamin paling sedikit ada tiga bilah pisau Xiu-luo, menembus tubuh seksimu, gerakanmu pasti tidak secepat pisau

__ADS_1


Xiu-luo ku. Ingat! Aku sudah peringatkan."


"Kau...kau telah membunuh Lu bersaudara?" tanya Pendeta Wu-yi


menahan nafas. "Membunuh mereka! bukankah aku harus berhadapan dengan


hukum" Tentu, telinga ini adalah kepunyaan mereka."


"Me...mereka te...telah mengaku?"


"Kalau tidak mengaku apa mereka bisa hidup?"


"Oh langit! Bagaimana kau bisa tahu kami sedang


mengerjai mu?" "Mudah sekali, aku tidak mati, bos kalian mana mungkin puas"


Orang-orangnya Ratu Lebah yang diam-diam menyerang aku, pasti


tidak berani tinggal disini, mungkin sudah berada sejauh ratusan li, mana ada waktu aku menghabiskan satu atau setengah tahun


mengejar mereka" Makanya, aku terpaksa menunggu orang-orang


kalian yang datang ingin membereskan dan mencari aku.


Hari ini, diluar aku berlari kesana-kemari mencari jejaknya Tamu


Penggantung, kalian pasti mengira aku telah salah arah, maka dengan tenang dan berani melakukannya! Rencana kalian dan perbuatannya


sungguh hebat, sayang bertemu dengan aku yang lebih hebat dari


kalian. Sekarang, kalian berdua siapa yang mau beritahukan, orang


yang menyuruh kalian."


"Jangan harap." Kata nyonya setengah baya, "aku, pendeta Wu-yi


dengan kau akan mengadakan satu pertarungan hidup mati, masih


belum pasti siapa orang yang bisa hidup sampai melihat matahari


terbit, nama Xie-jian-xiu-luo tidak bisa menakutkan orang, jangan


terlalu percaya diri."


"Tuan, apa kau berani bertarung terbuka dengan kami?" tanya


pendeta Wu-yi dengan suara dalam.


"Tidak." Katanya tegas, "kalian terus mene-rus ingin


membunuhku, tidak ada satu alasan pun untuk bertarung secara


adil dengan kalian."


"Kau..." "Yang paling penting adalah, kalian berdua tidak boleh ada satu


pun yang lolos." Katanya dengan tenang, "bertarung secara adil, aku tidak bisa mengawasi dua orang."


"Kau di Jiang-hu adalah..."


"Aku apa pun bukan." Dia tertawa tawar, "aku hanya seorang


yang tidak sudi diam-diam dibunuh tanpa alasan, maka mencari


sebabnya. Sekarang, kalian sudah boleh menyerang, hati-hati


pisau Xiu-luo ku." Dia berdiri menurunkan tangan, matanya memandang


hidung, hidung memandang hati, seperti patung batu,


sepertinya perubahan yang terjadi disekitar, tidak ada

__ADS_1


sangkut-pautnya dengan dia.


__ADS_2