Pengelana Rimba Persilatan

Pengelana Rimba Persilatan
eps 162


__ADS_3

Fu Ke-wei memotong kata-kata dia, sambil menepuk-nepuk punggung tangannya dengan serius berkata, "aku pasti harus pulang, aku tahu kau suka padaku, beberapa hari ini kita bersama-sama aku tahu perasaanmu,


tapi......" "Xian-wei, aku tahu kau sudah menerima perasaan


aku......" Fu Ke-wei dengan lembut mendorong tangan nya, dia menjaga jarak.


Tadinya dia memperalat Guan Mei-yun untuk mendekati keluarga Guan, rencananya sudah diputuskan sebelum tiba di Wu-chang, menurutnya sebelum menyelidiki ketua benteng Xi dan anaknya, dia ingin mengetahui dulu dengan jelas keadaan kota Wu-chang, makanya Fu Ke-wei melaksanakan dengan memperalat wanita ****** ini, dia tidak pernah menggunakan perasaannya, kalau tidak ada perasaan bagaimana bisa ada rasa cinta" Cinta dan harapannya Guan Mei-yun telah ditujukan pada orang yang salah.


"Aku tentu harus pergi." Wajah Fu Ke-wei sedikit pun tidak tersenyum, "hanya dipercepat saja.


Nona Guan, harap kau selanjutnya tidak menyia-nyiakan hidupmu lagi, seorang wanita, tidak henti-hentinya mencari kepuasan tidak akan ada ujungnya."


"Iii...!Kau......"


Guan Mei-yun merasa melihat sikap Fu Ke-wei tidak biasa, melihat sorot mata Fu Ke-wei yang dingin, tidak tahan dia berteriak heran.


"Keluargamu sangat kaya dan berkuasa, mungkin kau masih belum merasakan, kekayaan dan kekuasaan yang diperoleh dengan cara ini, mudah mendapatkannya tapi habisnya pun sangat cepat. Kau sangat cantik, sangat memikat orang.


Muda dan cantik adalah kekayaanmu, tapi waktu adalah musuhmu.


Kekayaan bisa hilang, sedang musuh selamanya akan mengikutimu.


Sekali kecantikanmu luntur, yang tinggal hanya sebuah lagu penyesalan yang dinyanyikan pelan.


Aku adalah orang ibu kota, tidak akan menikmati kenikmatan asmara disini, hal yang mencelakakan orang merugikan diri sendiri semacam ini, jika kulakukan pasti aku akan menyesal."


"Aku tidak ingin mendengar kata-kata ini.


Nasihat tua yang merontokan gigi ini, murni adalah omong kosong." Teriak Guan Mei-yun keras, seperti akan meledak, "Bagaimana jika aku tidak mengizinkan kau pergi" Aku pasti bisa melakukannya."


"Kau tidak akan bisa melakukannya, makanya kau biarkan


baik-baik aku datang dan biarkan baik-baik aku pergi."

__ADS_1


"Kau......" Guan Mei-yun dari gelisah berubah menjadi marah,


mengulurkan tangan dengan cepat mengunci pergelangan


tangan dia. Fu Ke-wei tahu maksud hatinya, segera dia menarik tangan mendorong kursi bangkit berdiri.


"Kau kurang pintar." Dia tersenyum berkata, "wanita gila yang berilmu tinggi itu, juga tidak bisa berbuat apa-apa padaku, jangan menggunakan kekerasan pada laki-laki, pulanglah! Hati-hati, orang-orang perkumpulan Cun-qiu bisa menculikmu, mereka bisa membawamu Zhen-jiang, mengirim kau ke dunia hiburan."


"Iii..! Kau... bagaimana kau bisa tahu perkumpulan Cunqiu."


Guan Mei-yun terkejut, mulutnya jadi gagap seperti kesurupan.


"Makanya aku katakan kau tidaklah begitu pintar!"


"Aku......aku benci kau!" Guan Mei-yun tiba-tiba menjerit keras, membalikan kepala lari keluar, "Ternyata kau dari perkumpulan Cun-qiu......" Suaranya gemetar, semakin jauh.


"Tuan, apakah siap berangkat?" kata Xie-shen yang


menyamar seorang pria tua, dengan nada aneh minta


"Ah...perempuan." Fu Ke-wei menggeleng kepala tertawa pahit lalu melangkah keluar ruangan, "apakah ada kabar?"


"Kelompok benteng Qang-feng berangkat naik perahu, Yushu-xiu-shi juga pergi dengan naik perahu." Kata Xie-shen, "sebagian orang-orangnya Jin-she-dong mengejar Yu-shu-xiushi, tapi tidak ada hubungannya dengan kita."


"Kita juga kejar mereka." Fu Ke-wei telah memutuskan, "jika orang-orang perkumpulan Cun-qiu juga pergi dengan naik


perahu, walau tidak berjalan bersama sama, diantara keduanya pasti ada hubungan."


"Jika mereka bertarung ditengah jalan, bisa menghemat


beberapa hal pada kita."


"Tapi mungkin juga di tengah jalan dari musuh berubah jadi

__ADS_1


kawan. Ketua benteng Xi adalah ulat berkaki seratus, matinya tidak kaku, di Zhong-yuan kekuatan dia tidak cukup, dia bisa mengesampingkan permusuhannya pada Yu-shu-xiushi, malah dia berbalik meminjam kekuatan perkumpulan Cunqiu untuk mendukungnya.


Hingga jika kita mengejarnya, sangat mungkin akan bertarung mati-matian dengan mereka berdua, kita harus berhati-hati sekali."


Jiu-jiang dekat danau Po-yang adalah pasarnya hasil bumi,


tempat berkumpulnya para pedagang, keadaan pasarnya sangat ramai, juga merupakan tempat penting di daerah itu, pusat lalu lintas darat dan air.


Di sini mencari jejak beberapa orang persilatan sangat sulit, apalagi tempat dan orangnya tidak dikenal, lebih sulit lagi.


Hoa-fei-hoa, Nie-sha-yin-hoa dan Xie-shen adalah orang yang


berpengalaman di dunia persilatan, tapi tidak pernah datang ke daerah danau Po-yang.


Buat Fu Ke-wei sebagai pemburu dunia persilatan yang cekatan, meski pengalamannya lebih banyak, juga merasa asing di daerah danau Po-yang, disini dia tidak punya kenalan untuk diminta bantuannya.


Ouw Yu-zhen dulu pernah datang ke daerah Jiu-jiang, sebab daerah ini adalah markasnya perkumpulan Qing-lian, dia sering melaporkan hasil kerjanya tapi sebagai seorang pembunuh bayaran, dia jarang berhubungan antar manusia.


Sehingga, dia juga tidak punya teman yang bisa membantu. Terakhir Fu Ke-wei terpikir pada Pedang Setan Zhuo-liang seorang persilatan yang hebat.


Ketika dia bertarung dengan ketua perkumpulan Qing-lian, Pedang Setan pernah jadi wasitnya.


Walau Pedang Setan Zhuo-liang sudah berkeluarga dan hidup senang, tapi terhadap masalah dunia persilatan dia tetap menaruh perhatian.


Fu Ke-wei akhirnya mendapatkan kabar jejak ketua benteng Xi, Yu-shu-xiu-shi dan orang-orang Jin-she-dong.


Tiga kelompok orang itu semua naik perahu berlayar ke


bawah. Hari ini saat waktu makan malam, lima orang itu makan di ruangan makan penginapan, situasinya tampak tidak biasa.


Di ruang makan, tamu yang makan sangat sedikit, para pelayan dengan tenang bersantai ria, tidak ada pelayan yang melayani tamu makan, tamu yang menginap di penginapan ini semuanya orang yang punya kedudukan, masing-masing makan di kamarnya, di ruang makan jarang orang datang berkunjung.


"Sekarang ketua benteng Xi dan anaknya tentu akan lebih hati-hati bersembunyi, bukan hal yang mudah mencari dia, tapi aku tetap harus mendapatkannya."

__ADS_1


Kata Fu Ke-wei memecah keheningan, "Aku tidak berburu-buru, begitu jaring langit menutup, dia tidak akan bisa bersembunyi lagi. Besok kita berpisah disini, Xiao Ji dan Xiao Zhen rumahnya ada di Hang-zhou, bisa bersama-sama pulang kerumah menunggu berita. Xiao Ling yang seorang diri, berkelana di Jiang-hu juga bukan hal yang baik, lebih bagus bersama-sama mereka pergi ke Hang-zhou, tinggal dulu beberapa hari, mengenai......"


"Kelihatannya, kau juga tidak akan membawa aku." Xieshen merasa putus asa.


__ADS_2