
"Dua tua aneh ini tidak ada yang perlu ditakuti." Hoa Sheng kecil meniru orang dewasa, dengan menepuk dada dengan berani dia berkata,
"tentara datang di tahan jenderal, air datang ditimbun tanah, kita keluarga Li takut pada siapa" Apa itu Huo-bao-ing, apa itu Bu-fei-khe, menakuti orang lain boleh, datang ke Xiang-yang untuk menakuti orang keluarga Li, jangan harap."
"Pepatah mengatakan, tombak terang mudah dihadapi, panah
gelap sulit menahannya."
Kata Shuang-jie-shu-sheng tertawa, "dua orang tua aneh tidak
mudah dihadapi, dalam kegelapan seperti setan mengganggu kalian,
bagaimana pun hal ini bisa membuat orang sakit kepala, bagaimana
pun berhati-hati adalah yang terbaik, jika menilai kemampuan
sebenarnya, tentu saja Pedang Pemutus Arwah (Toan-hun-jian) ayah
kalian bisa mengalahkan mereka, tapi mereka berada di tempat gelap kita di tempat terang, juga siang malam harus waspada, itu hal yang tidak menyenangkan."
"Xiang-yang adalah daerah kekuasaan keluargamu, orangnya
banyak, pengawasan di mana-mana." Nyonya muda cantik
melanjut-kan, "jika mereka datang membalas dendam, pasti tidak akan terang-terangan, cara paling bagus bertahan, adalah
menyerang lebih dulu, tidak memberi kesempatan lawan
menyerang." "Betul, menyerang lebih dahulu." Li Hoa-xin mengangguk kepala tanda setuju, "jika bukan saudara Luo kebetulan datang bertamu ke rumah, kami masih tidak tahu dua orang tua aneh itu adalah
temannya Nan-yang-ba-jie, hingga mungkin memberi mereka
kesempatan! Saudara Luo, terima kasih."
Di depan tampak ada satu bangunan kecil untuk istirahat,
tadinya dari kejauhan tidak terlihat di dalamnya ada orang, tidak
diduga setelah mendekati sampai sepuluh langkah, mereka melihat
di sisi tiang berdiri seorang sastrawan muda berbaju hijau.
Sastrawan muda ini usianya dua puluh tahun lebih, wajahnya
tampan, perawakan tinggi semampai, seluruh tubuhnya tampak
lembut, tidak ada ciri-ciri orang persilatan, juga tidak seperti
seorang pelajar yang lemah.
Mata semua orang menjadi bersinar, tidak tahan mereka
menatap sekali pada sastrawan itu, tapi tidak ada waktu berpikir
bagaimana dia bisa datang, sambil berbincang, mereka berjalan
nendekati bangunan untuk istirahat.
"Kalian baru datang!" Sastrawan baju hijau :ertawatawar,
"sungguh bagus, bagus..."
__ADS_1
Li Hoa-xin tertegun, lalu menghentikan angkah.
"Kata-kata anda mengandung sesuatu." kata Shuang-jieshu-sheng Luo Wen-jing dengan nada dalam, "tolong tanya,
bisakah beritahu siapa marga dan nama anda?"
"Aku orang biasa, tidak punya keluarga yang bisa dibanggakan, tidak menyebut marga dan nama juga tidak apa, kau panggil saja aku sastrawan, aku memang seorang sastrawan."
"Baik, anggap saja kau sastrawan." Li Hoa-rin sudah sampai dimulut bangunan, jarak kedua belah pihak kira-kira empat lima
chi, "kau kenal kami?"
"Di kota Xiang-yang siapa yang tidak kenal dengan tuan muda
Li yang besar?" "Tapi aku tidak kenal dirimu, Ooo! Kau pasti ada keperluan
penting, tolong tanya ada keperluan apa?"
"Ada orang menitipkan surat padaku untuk disampaikan." Sastrawan baju hijau mengulur tangan kedalam dada, "orang yang mengirim surat itu berkata, asalkan orangnya keluarga Li, suratnya boleh diberikan. Aku tahu tuan-tuan dari keluarga Li, sering datang bermain ke gunung Xian, maka aku datang kesini menunggu. Di rumah anda, di kebun Li ada
anjing galak, aku tidak berani datang kesana mengantar surat. Ini! Ini suratnya."
"Ooo! Coba lihat." Luo Wen-jing melewati Li
Hoa-xin, mengulurkan tangan kanan menerima surat, "surat
ini... ii!" Luo Wen-jing berniat baik, dari pembicaraannya, dia sudah tahu
orang ini, lawan bukanlah kawan, makanya dia ingin menggunakan
kesempatan menerima surat, sekalian menangkap sastrawan untuk
di tanya. Tapi jurus Sutra Emas Membelit Pergelangan gagal dilancarkan,
kecepatan sangat tinggi berputar menuju ke wajah Luo Wen-jing.
Suratnya lewat dari sisi telinga kanan Luo Wen-jing, malah terdengar ada desiran angin, bisa diketahui tenaga jari sastrawan sangat
mengejutkan. Jika Luo Wen-jing tidak meningkatkan kewaspadaan
sebelumnya, pasti tidak akan bisa menghindar luncuran surat itu.
Reaksi Luo Wen-jing cukup luar biasa, begitu tangkapannya gagal,
dia sudah tahu ada bahaya, tepat waktu itu tubuhnya
bergerak menghindar, juga menarik tangannya, cepat
menangkap surat itu, sayang dia masih terlambat sedetik, dia tidak dapat menangkap surat yang sangat cepat itu.
Li Hoa-xin juga sudah bersiap, dia segera merendahkan tubuh,
begitu berteriak, tangan kirinya diangkat, sebuah mata uang
membelah angin terbang keluar.
Sastrawan itu tidak tertipu, dia tertawa dua kali, bertiarap ke
tanah, meloncat miring keluar, menerobos bawah pembatas sisi
bangunan, sejauh tiga zhang lebih.
__ADS_1
Uang logam itu tiba-tiba menjadi tiga, membelok dari tiga arah
terbang berputar, lalu setelah satu zhang lebih berkumpul kembali, baru nenjadi satu garis lurus berurutan terbang, di empat-lima zhang baru jatuh kedalam hutan.
Tapi sastrawan itu malah muncul dari arah berlawanan, dari
sebelah kiri dia bangkit berdiri.
Li Jian-jian sudah sampai, dia juga berteriak, dengan angin yang
membawa bau harum dia menyerang, lima jari tangan kanannya
setengah lurus setengah di tekuk, dengan cepat menjulur ke dada
sastrawan itu, arahnya sederetan jalan darah besar Ren-me, ke atas menguasai tenggorokan, ke bawah jalan darah Jiu-wei, titik mana pun sekali terkena, jika tidak lumpuh juga pasti mendapat luka dalam, melihat tenaganya saja, sudah tahu jari-jari mulus itu sangat menakutkan, pasti bukan serangan ringan.
"Kau juga terlalu sombong." Sastrawan dari dalam lengan bajunya mengeluarkan kipas, tanpa sungkan menyabetkan keatas.
Li Jian-jian terpaksa merubah gerakannya lari menotok jadi
mencengkram, lima jarinya ditekan, dan berhasil menangkap bagian
atas kipas tertutup itu, dengan posisi kuda-kuda merampas kipas.
Tapi, tiba-tiba dia merasakan diatas kipas ada arus tenaga yang
tidak dapat ditahan, tidak saja dia harus melepaskan
cengkeramannya, tenaga lawannya pun sudah menyerang.
Terdengar teriakan terkejut! Li Jian-jian seperti ditiup angin topan, terbang ke pinggir sejauh dua zhang lebih, hampir saja terjatuh,
wajahnya berubah. "Hahahaha " Tawa sastrawan itu menggelagar, tubuhnya zerbang masuk
kedalam hutan, pergi menjauh.
"Saudara Li, jangan dikejar." Nyonya muda cantik cepat
berteriak, "bertemu hutan jangan masuk, musuh sudah tidak dapat dikejar."
Li Hoa-xin menghentikan langkahnya dan mundur kebelakang,
warna wajahnya sudah tidak seperti biasanya.
Dia tadi melihat, sastrawan itu telah mendahului,
menghindar dari jurus Tiga Bintang Mengejar Rembulan,
membuat di dalam hatinya merasa terkejut, dan merasa sangat
tidak tenang. Hoa-sheng yang kecil memungut suratnya, lalu membacakan:
"Kepada Pedang Pemutus Arwah Tuan besar Li. Penjelasannya ada didalam."
Suratnya telah disegel, menurut aturan harus dibuka sendiri oleh
tuan besar Li. Tapi karena cara pengirimannya mengandung
permusuhan, diatas surat juga tidak ada pengirimnya, jadi sangat
mencurigakan. Li Hoa-xin adalah seorang yang berani bertanggung jawab,
__ADS_1
setelah berpikir sebentar, dengan berani membuka surat itu, dan
dibacanya. Setelah selesai membaca, diajadi tertegun.