
Sekarang Nadin hanya sendirian di ruang rawatnya.
Tok tok tok.... Seseorang mengetuk pintu.
"Silahkan masuk.... "
Ceklek
"Pak Bagas, katanya tadi mau pulang?"
"Ini obat buatmu, tadi aku lupa belum nebus......." meletakan obat itu di atas meja kecil
"Oh makasih pak.... "
"Sama-sama, ibu sama Dian kemana?"
"Pulang, saya ga tega kalo ibu harus nungguin saya di sini.... "
"Oh gitu.... "
Pandangan mereka bertemu, menciptakan keheningan.
Jantung Bagas berdetak lebih cepat, seakan dia baru saja lari mengitari lapangan sepak bola sebanyak 7 kali.
"Ehem...., a aku.... pulang dulu ya... "
"Ia silahkan pak, saya nitip salam buat Naila ya.... "
"Ya....... "
Karena saking saltingnya Bagas malah melangkah ke kamar mandi.
Nadin yang melihat itu hanya tersenyum manis.
"Ya Alloh sungguh sempurna ciptaan Mu...., semoga Engkau mengijinkan aku untuk memilikinya..... " batin Bagas kala melihat senyum Nadin
............
Kantor polisi....
Seorang laki-laki berperawakan Arab-Indo berjalan tergesa-gesa di lorong kantor polisi. Raut wajahnya menunjukan kegelisahan dan amarah yang sudah memuncak.
"Adnan, akhirnya kamu datang juga nak... "
"Mas Adnan tolong keluarkan aku dari sini... "
"Silahkan duduk pak Adnan... " seorang polisi memerintahkannya untuk duduk
"Sebenarnya ini ada apa pak, ko ibu dan istri saya ada di sini?"
Sang polisi menjelaskan perkara yang telah di buat oleh dua orang itu.
"Astaga umi, Fani kalian ini ya.... "
"Maafin umi Nan, umi hanya memperjuangkan hak mu..... "
"Ia mas....."
"Apa umi dan istri saya bisa bebas pak, lagian ini juga kasus kecil, kami akan menyelesaikannya secara kekeluargaan....."
tanya Adnan
"Tunggu......"
Ucap seseorang yang baru masuk.
"Saya membawa bukti lain kejahatan yang telah di lakukan oleh perempuan itu, ini silahkan.... " menunjuk Fani
Orang itu menyerahkan ponselnya.
Sang polisi menerimanya lalu segera menyetel rekaman vidio yang sudah terpampang di layar benda pipih itu.
Layar itu menampilkan rekaman saat Fani dan bu Siti di tangkap dan terus berlanjut sampai adegan dima Fani menusuk perut Nadin dengan pisau cutter.
"Saya minta agar kasus ini di lanjut sesuai hukum yang ada.... " tegas orang itu
Orang 'itu' ialah orang suruhan Bagas.
"Boleh saya liat videonya pak?" tanya Adnan
"Ya... "
Adan mekihat video itu dengan seg sama dan teliti.
"Ya ampun Fani...." geram Adnan
"Kaget ya liat kelakuan istri sendiri?" nada ngejek
"Pak saya akan menyelesaikan masalah ini dengan kekeluargaan lagian saya yakin ko korban akan mencabut laporannya"
"Seyakin itukah dirimu?"
__ADS_1
"Eh lo diam, saya ga ngomong sama kamu" hardik Adnan
"Karena pihak pelapor ingin melanjutkan kasus ini, maka istri anda akan saya tahan sampai dia terbukti melakukan kesalahan atau tidak, sedangkan ibu anda bisa keluar... "
"Loh ko gitu pak, ga adil dong masa saya sendiri yang di tahan..." protes Fani
"Pak Badi bawa dia.... "
"Siap ndan... "
"Mas tolong dong bilang ke mba Nadin buat lepasin aku.... " berontak saat di suruh masuk sel
"Akan mas usahain, ayo bu pualng.... "
Adnan segera mengajak ibunya untuk pulang.
..........
"Nan pokonya kamu harus bisa ngeluarin Fani dari penjara sebelum orangtuanya tau..... " ucap bu Siti
"Iya bu aku akan usaha... "
"Ayo sekarang kita ke rumah sakit"
"Napain kerumah sakit bu?"
"Kamu itu *** atau b**** sih, ya kita ke Nadin minta dia buat cabut laporannya lah"
"Oh gitu bu"
"Udah ayo buruan jalan... "
Adnan menjalankan mobilnya menuju rumah sakit.
............
Bagas tidak jadi pulang, dia memutuskan untuk menunggui Nadin saja. Pikiran dan hatinya tak tenang ketika harus meninggalkan sang pujaan hati sendirian.
"Mau makan?" tanya Bagas canggung
Nadin muali terbiasa dengan kehadiran Bagas di kesehariannya.
"Engga pak, saya masih kenyang... " tolak Nadin
Tok tok tok
"Siapa ya.... " Nadin mencoba bangkit
Dengan cepat Bagas melangkah ke pintu, kemudian membukanya.
"Hem si brengsek nih..." guman Bagas
"Loh ko elo di sini, kalian berduan ya?"
"Terserah saya dong mau dimana, eamng kalo saya berduan kenapa?" memancing amarah
Adnan segera melayangkan tinjunya, namun Bagas dengan cepat menghindar, jadi tangan Adnan mengenai tembok.
"Au pasti sakit tuh..." ejek Bagas
"Udah Nan jangan ngurusin dia, kita kesini mau ketemu Nadin....."
"Ia mi, minggir lo, kita mau masuk!!"
Dari pada menambah keributan, Bagas membiarkan keduanya masuk.
"Nadin kamu ga papa?"
Ada sedikit kehawatiran di kalimatnya.
"Hem.... "
"Eh kalo punya mulut tuh jawab... " bentak bu Siti
"Ada apa, langsung ke intinya aja... "
"Saya mau kamu cabut laporan pembunuhan kamu!!"
"Saya ga pernah melaporkan apa pun" tegas Nadin
"Alah jangan mu*** kamu, terus tadi kenapa ada polisi yang datang pasti ada yang laporkan?"
"Saya yang lapor"
"Hah......" muka kaget
"Jangan ke gitu mukanya, kaya orang *** aja"
"Brengsek lu, cepet cabut laporan itu... "
"Ga akan... "
__ADS_1
Nadin tambah pusing melihat kedua pria itu malah semakin ribut.
"Huhfffff...., tolong keluar semua...." suara Nadin begitu menggelegar
Semuanya segera keluar.
..........
Kini Nadin sedang sarapan bersama ibunya, setelah 2 hari lalu keluar dari rumah sakit.
"Din kayanya na Bagas suka kamu... "
"Dih si ibu apaan coba, masa iddah ku aja belum selesai malah bahas kaya gitu... "
"Tapi Din...."
"Udah ya bu sekarang jangan bahas kaya gitu dulu.... "
Keduanya pun melanjutkan sarapannya.
..................
3 Bulan sudah terlewati, itu artinya masa iddah Nadin selesai.
Selama itu juga hidup Nadin damai tanpa ada yang mengganggu seperti sebelum sebelumnya.
Bagas juga semakin gencar mencari waktu untuk bisa berduaan dengan Nadin, ya walaupun Nadin menganggap dirinya sebagai kaka.
Hari ini Nadi akan pergi berlibur ke kota Jogja bersama ibu, keluarga pamannya dan para kariawan swalayannya.
Semuanya telah berkumpul di depan swalayan, bis yang akan mengantarkan mereka juga sudah datang.
"Mba Nadin..... "
"Nah kamu lebih cantik pakai pakaian gini, tapi kalo mau pakai hijab pasti tambah cantik lagi.... " puji Nadin, saat melihat Naila yang mengenakan pakain kaos panjang dan celana panjang.
"Hehe mba Nadin bisa aja.... "
"Hem, jadi ikut nih?"
"Jadi dong, kenalin nih pacar aku.... "
"Masih kecil udah pacaran, sekolah dulu yang bener biar ga di bodohi sama buaya darat..." ucap Nadin
"Ia mba, aku tetep sekolahko.... "
"Terserahlah, ayo masuk.... "
Naila dan pacarnya segera masuk ke dalam bis.
"Hai bu.... "
"Naila ya?"
"Ia bu, kenalin ini pacar saya... "
"Jangan pacaran dulu kamu masih terlalu kecil.... "
"Ehemmm, cek, cek....." suara Rehan, yang bertugas sebagai pemandu wisata.
Bukannya Nadin tak ingin menggunakan pemandu wisata 'asli' namun dia tak mau jika nantinya para kariawannya tidak puas.
"Pagi semua....."
"Pagi..... "
"Aku absen dulu ya.... "
Rehan mulai mengabsen para penumpang.
"Udah masuk semua kan?"
"Bos kita belum.... " ucap Nanda
"Lah kemana si bos, kalian tunggu di sini ya, jangan keluar, biar aku yang akan cari si bos.."
Nadin sedang ke toilet menemani anak om Hamzah yang berumur 2 setengah tahun.
"Udah de?"
Bocah perempuan berpipi gembul itu memamerkan giginya sambil mengangguk. Dengan telaten Nadin me**** bocah itu.
"Lah, ternyata bu bos kencan di kamar mandi...... " ucap Rehan yang sudah berada di depan pintu toilet
"Dih ga sopan, sana keluar"
"Masih anak kecil juga bu.... "
"Keluag, ntar kalo ada yang liat kamu, kamu di kiraan lagi ngintip lo.... "
"Ia juga ya, yasudah saya tunggu depan toilet...... "
__ADS_1
"Ia.... "