
Langit terlihat begitu cerah, seorang gadis cantik berambut panjang hitam legam tergerai begitu indah sedang menunggu untuk interview kerja. Dia mengibaskan proposal kepada wajahnya, karena merasa gerah walaupun ruangan di sana ber-ac.
"Aduh ... masih 6 orang lagi. Aku ke toilet dulu deh," gumam Aurora.
Dia pun berjalan ke arah toilet dan membasuh tangan, setelah menuntaskan hajatnya Aurora hendak kembali ke tempat di mana dia akan interview kerja.
Wanita itu berjalan dan duduk kembali di kursi, akan tetapi seseorang keluar dari ruangan tersebut dan mengabarkan bahwa interview kerja diundur besok, karena tiba-tiba saja pemilik perusahaan itu ada acara mendadak.
Aurora akhirnya keluar dari kantor dengan jalan sedikit gontai. "Dasar Bos tidak tahu diri. Mentang-mentang dia penguasa di kantor ini, bisa seenak jidat kepada kami yang melamar kerja. Sudah nunggu dari pagi sampai bangkotan, tapi dia malah membatalkannya begitu saja!" gerutu Aurora dengan kesal.
Wanita itu terus saja berjalan dengan bibir yang komat-kamit karena dia merasa geram, namun saat dirinya akan berjalan menuju gerbang kantor tiba-tiba tubuhnya menabrak seseorang.
"Aduh ... siapa lagi sih?" kesal Aurora sambil membereskan berkas-berkasnya, kemudian dia mendongak dan menatap ke arah pria tampan yang saat ini tengah berada di hadapannya.
Wanita itu sedikit terpaku, namun seketika dia pun merasa kesal. "Apa kamu tidak punya mata? Berjalan saja tidak becus!" gerutu Aurora yang masih terbakar emosi, "kamu karyawan di kantor ini, ya? Bilangin tuh sama Bos kamu! Kalau mau membatalkan interview itu, seharusnya bilang kek dari awal. Jangan membuat orang menunggu dari pagi sampai lebaran kuda."
Pria yang berada di hadapan Aurora mengerutkan keningnya, tapi seketika dia mengangkat satu alisnya saat mendengar jika Aurora sedang menggerutu tentang pemilik perusahaan itu.
'Menarik.' batin pria tersebut.
Melihat tidak ada tanggapan dari pria yang berada di hadapannya, Aurora pun pergi dari sana. Namun tiba-tiba saja tangannya ditahan oleh pria itu ditarik hingga membuat Aurora seketika terjerembab dalam dekapannya.
Tatapan mereka terkunci satu sama lain, membuat Aurora tidak bisa berkutik sama sekali. Dia menegak salivanya beberapa kali saat melihat mata tegas, hidung mancung, rahang yang kokoh, serta dada bidang yang begitu lebar yang saat ini tengah ia rasakan dan tengah Ia tetap.
PLAK!
Satu tamparan mendarat di pipi pria tersebut. "Gila ya lo? Mencari kesempatan dalam kesempitan. Benar-benar laki-laki tidak tahu diri!" marah Aurora.
Dia mendengkus dengan kesal, kemudian melepaskan pelukannya, sementara pria itu hanya tersenyum miring saat mendapatkan perlakuan kasar dari wanita yang baru saja ditemuinya.
"Menikahlah denganku!" pintanya.
Aurora terbengong, matanya membulat dengan mulut menganga saat mendengar ucapan pria itu. Namun seketika dia tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Sepertinya lo ini kekurangan obat, atau lo baru aja keluar dari rumah sakit jiwa?" Wanita tersebut menggelengkan kepalanya dengan tawa yang masih belum mereda. "Sayang, tampan-tampan kok sinting."
Setelah mengatakan itu, Aurora pergi dari sana, akan tetapi tangannya masih ditahan oleh pria tersebut. "Aku serius, menikahlah denganku!"
Seketika Aurora menatap tajam ke arah pria itu. Untuk beberapa detik dia tidak mengucapkan apapun, sementara pria yang berada di hadapannya hanya menatap dengan datar.
"Kau ini udah gila ya! Kita aja baru ketemu, ngapain lo ngajak gue nikah? Udah, awas! Lepasin, gue mau pulang. Sepertinya karyawan di sini stres semua." Aurora menghempaskan tangannya, akan tetapi pria itu tidak melepaskannya.
"Lepaskan gue!" tekan Aurora, "atau--"
__ADS_1
"Atau apa? Saya serius," jawabnya dengan nada datar.
Aurora yang kadung kesal seketika menendang perut pria itu, sehingga membuat pria tersebut mengaduh kesakitan.
"Anda tidak apa-apa, Tuan?" tanya seorang pria yang berada di sampingnya sambil menatap tajam Aurora.
"It's oke, aku tidak apa-apa."
"Rasain. Masih untung perut lo yang gue tendang, daripada pusaka, lo." gerutu Aurora, "dasar pria sinting! Kenal kagak, main ngajak kawin aja." Wanita itu pun pergi dari sana dengan bibir yang semakin menggerutu.
Tidak habis pikir dengan pria yang baru saja ditemuinya, di mana tiba-tiba saja mengajaknya untuk menikah. Padahal mereka baru saja bertemu secara tidak sengaja.
"Pria gila! Sinting. Apa dia salah minum obat? Tampan sih, tapi sayang, kayaknya otaknya kurang. Masa baru bertemu udah ngajak nikah? Kenal aja kagak. Namanya aja aku nggak tahu." Aurora membuang nafasnya dengan kasar saat berada di dalam taksi.
Dia menyandarkan kepalanya di jok, kemudian menatap lekat ke arah luar di mana saat ini jalanan sangat macet. Padahal panas sudah mencapai ubun-ubun, tapi untung AC di dalam mobil cukup membuatnya merasa dingin.
Sementara pria tadi melihat ada satu lembar kertas putih milik Aurora yang tadi sempat berceceran, dia pun mengambilnya kemudian membaca biodata tersebut.
"Tuan, kita harus pergi dari sini! Meetingnya akan segera dimulai."
"Iya, ayo!" jawab pria tersebut, lalu dia masuk ke dalam mobil. "Edo, saya mau kamu selidiki wanita itu! Dan saya mau dia menjadi sekretaris saya. Kamu besok panggil dia, oke!"
"Wanita yang menabrak saya tadi.nIni dia biodatanya, kamu selidiki tentang dia!"
Edo mengambil kertas yang diberikan oleh pria yang saat ini menjabat sebagai bosnya, kemudian dia pun mengangguk. Namun, sebenarnya Edo merasa penasaran kenapa bosnya menginginkan wanita itu, tapi dia tidak ingin banyak bertanya.
'Sepertinya wanita itu menarik sampai bos menginginkan dia sebagai sekretaris. Tapi memang iya ... baru pertama ini ada yang melawan Bos. Bahkan sampai memaki-maki dirinya.' batin Edo.
.
.
"Assalamualaikum," ucap Aurora saat masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam sayang, kamu baru pulang," jawab Bunga, sang mama.
"Iya Mah."
"Gimana? Keterima nggak kerjanya?"
Aurora menggelengkan kepala, "enggak. Tadi bosnya seenak jidat membatalkan interview, padahal aku udah duduk manis dari pagi, menunggu sampai lumutan dari lebaran monyet sampai lebaran kebo, tapi malah dibatalin begitu aja. Benar-benar menjengkelkan!" gerutu Aurora dengan bibir manyun.
__ADS_1
Bunga terkekeh, kemudian dia mengusap rambut Aurora. "Kamu ini sudah berumur 25 tahun, tapi sikapmu masih seperti anak kecil."
"Udah lah Ma, aku mau masuk dulu ke kamar, capek." Aurora beranjak dari sofa lalu dia masuk ke dalam kamar, akan tetapi saat dia duduk di tepi ranjang matanya tertuju pada sebuah foto pernikahan yang terpajang di dinding kamarnya.
"Andai saja kamu tidak pergi, Mas," lirih Aurora sambil menatap wajah tampan almarhum Kevin.
Ingatannya seketika tertuju kepada tiga tahun silam, di mana dia dan juga Kevin baru menikah dan mereka akan mempunyai anak. Namun tiba-tiba di kehamilan Aurora yang ke-5 bulan mereka mengalami kecelakaan hingga akhirnya Aurora harus kehilangan suami dan juga bayi yang ada di dalam kandungannya.
Setelah kepergian suami tercintanya, bahkan kehilangan anak di dalam kandungannya, Aurora menutup hatinya untuk pria manapun. Sehingga selama itu pula tidak pernah menemukan pria pengganti Kevin di hatinya, karena jujur saja kecelakaan itu membuat Aurora trauma.
.
.
Malam ini Aurora sedang berada di meja makan, dia menatap ke arah adiknya yang sedang makan dengan lahap.
"Kamu ini disuruh kerja di perusahaan papa, tapi menolak terus. Padahal seharusnya kamu bantuin Papa di perusahaan," ujar Bagas.
"Pah ... Aurora cuma ingin mandiri aja," jawab wanita itu. "Lagi pula, di perusahaan Papah kan sudah ada Arjuna. Dia harus belajar untuk menjadi seorang pemimpin."
"Ya, tapi kan Arjuna masih SMA, dan baru akan lulus sekolah."
"Udah ya Pah, Aurora males berdebat. Tapi kan setiap ada apa-apa Aurora juga membantu perusahaan, kan?"
Bagas dan juga Bunga hanya bisa menghela nafas dengan pelan. Bukan apa, mereka hanya ingin Aurora tidak kelelahan bekerja dengan orang lain tidak tertekan karena dapat perintah ini dan itu. Sedangkan di perusahaan ... dia akan menjadi seorang bos, dan bukan diperintah melainkan memerintah.
Akan tetapi balik lagi, keputusan ada pada Aurora. Mereka juga tidak ingin memaksa, karena wanita itu memiliki jalan hidupnya sendiri.
"Terus, kamu besok mau ke perusahaan itu lagi?" tanya Bunga.
"Enggak Mah. Besok aku mau ke rumahnya Anggi sama Rika, kayaknya aku sama mereka mau bangun Cafe aja deh, daripada harus melamar kerja sana sini."
"Bukannya Kakak udah punya Cafe, ya?" timpal Arjuna
"Iya, memang sudah sih, Jun. Tapi kan pengen memperluas aja."
Setelah mengobrol dengan keluarganya, Aurora masuk ke dalam kamar. Dia memejamkan mata namun tidak bisa tertidur, wanita itu mengusap perutnya.
"Aku menang sangat merindukan masa-masa hamil. Rasanya hidupku sepi tanpa kamu Mas," lirihnya sambil menitikan air mata menatap foto Kevin yang berada di ponselnya, dan mengenang masa-masa indah bersama pria tersebut.
BERSAMBUNG......
__ADS_1