
Happy reading........
Selesai sarapan, Bunga pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Dan untuk beberapa hari mungkin dia tidak akan masuk ke kantor sampai keadaannya benar-benar pulih.
"Sayang, bolehkah Mami bertanya sesuatu kepada kamu?" tanya Mami Rindi sambil duduk di tepi ranjang di samping putrinya.
"Tentu Mi, Mami mau bicara apa?"
"Apa satu minggu yang lalu, Papi menemui kamu? Dan apa kamu sudah memaafkan Papi?" Mami Rindi bertanya dengan tatapan penuh harap.
Bunga terdiam mendengar ucapan sang Mami, kemudian dia memalingkan wajahnya menatap ke arah jendela, di mana langit biru yang sedang cerah dengan awan yang begitu indah.
Mami Rindi paham dengan apa yang dirasakan Putrinya saat ini, dia tahu memang tidaklah mudah memaafkan seseorang yang telah menyakiti hatinya, terlebih orang itu adalah orang yang paling berharga dalam hidup Bunga.
"Mami tahu apa yang kamu rasakan saat ini. Tapi Nak, percayalah Papi tidak benar-benar mengusir kamu. Saat itu dia hanya terbawa oleh emosi saja."
Bunga pun menoleh ke arah Sang Mami, kemudian dia tersenyum. "Iya Mi, aku tahu kok. Lagi pula aku tidak pernah membenci Papi! Aku sudah memaafkannya, walaupun aku tidak bisa berbohong jika luka itu masih terasa sangat sakit di hati ini."
***********
__ADS_1
Bagas Baru saja sampai di rumahnya dan dia langsung menuju kamar untuk membersihkan diri sekaligus bersiap-siap untuk pergi ke kantor, karena 1 jam setengah lagi dia akan ada meeting bersama klien yang begitu penting.
30 menit sudah Bagas telah bersiap dengan pakaian kantornya, kemudian dia menuruni tangga tanpa sarapan terlebih dahulu dan berjalan menuju ke mobil. Tetapi baru sampai di ruang utama, dia berpapasan dengan Ardi yang baru saja pulang Nge-gym.
"Lo udah mau ke kantor Kak?" tanya Ardi saat melihat Bagas sudah rapi dengan setelan jasnya.
"Iya," jawab singkat Bagas.
"Kak, tunggu...!" Ardi menghentikan langkah Bagas yang hendak keluar dari pintu. "Kenapa?" tanya Bagas.
"Kak, Lo semalam ke mana? Kenapa Lo nggak pulang?" tanya Ardi dengan tatapan menyipit, Bagas yang mendengar itu pun mengerutkan dahinya. "Lo semalam ke sini?" tanya Bagas balik dan langsung di Jawab anggukan oleh Ardi. "Iya, semalam gue ke sini mau nginep. Rencana nemenin Lo, kasihan. Eh, taunya Tuan rumahnya malah nggak ada. Nginep di mana Lo? Jangan bilang Lo nge-hotel ya sama cewek?" tuduh Ardi sambil menunjuk wajah Bagas.
Bagas yang mendengar itu pun segera menyingkirkan jari telunjuk Ardi yang sedang menunjuk wajahnya.
"Hah! Rumah sakit? Lo ngapain ke sana Kak? Lo sakit? Lo nggak apa-apa kan?" tanya Ardi dengan begitu cemas saat mendengar jika Bagas semalam berada di rumah sakit.
Sebagai seorang Adik, tentu saja dia sangat khawatir. Karena walau bagaimanapun mereka hanya dua bersaudara, dan mereka harus saling menjaga.
"Semalam Bunga sakit, dia pingsan dan harus dirawat. Jadi aku semalam menginap untuk nemenin dia," jawab Bagas sambil melihat jam tangannya. "Yasudah, kalau gitu aku pamit dulu ya, sarapan aja sendirian."
__ADS_1
Ardi kaget saat mendengar jika Bunga masuk ke rumah sakit, dia hendak bertanya kembali kepada sang Kakak, tapi sayang, Bagas sudah masuk ke dalam mobilnya. Ardi pun hanya bisa menghela nafasnya lalu masuk lagi ke dalam rumah.
'Bunga sakit apa ya? Aku harus ke apartemen dia untuk menengoknya, tapi kenapa harus Kak Bagas sih yang berada di sisi Bunga saat seperti itu? Harusnya kan aku. Iiiih... Aku kalah cepat sama Kak Bagas rupanya,' batin Ardi menggerutu.
Dia pun bersiap ke kamarnya untuk membersihkan diri, setelah itu dia akan pergi ke apartemen Bunga untuk menengok wanita itu. Dia ingin melihat keadaan wanita yang dicintainya.
Ardi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju apartemen Bunga, setelah sampai Ardi pun masuk ke dalam lift untuk menuju di lantai di mana kamar apartemen Bunga berada.
Ardi memencet bel pintu, dan tak lama pintu pun terbuka. Tapi yang membuka pintu itu bukan Bunga, melainkan seorang wanita paruh baya dan ternyata dia adalah Maminya Bunga.
"Assalamualaikum, selamat siang Tante. Maaf, Tante siapa ya?" tanya Ardi dengan bingung.
"Saya Maminya, Bunga. Kamu siapa?" tanya balik Mami Rindi.
Ardi mengerutkan keningnya, pasalnya dia memang tidak pernah bertemu dengan orang tuanya Bunga sedari SMA.
"Oh, Tante Maminya Bunga? Perkenalkan Tante, saya Ardi sahabatnya Bunga. Apa Bunga ada di dalam Tante? Saya dengar dia sedang sakit? Saya ingin menjenguknya," ucap Ardi dengan sopan.
Mami Rindi menatap Ardi dari atas sampai bawah. 'Sepertinya pria ini bukan dari kalangan orang biasa?' batin Mami Rindi, kemudian dia mempersilahkan Ardi untuk masuk ke dalam apartemen. Sedangkan Mami Rindi ke dapur untuk membuatkan teh hangat.
__ADS_1
'Wah... Ternyata ada calon Mami mertua. Aku harus mengambil hati Maminya Bunga, supaya nanti saat melamar Bunga, Maminya dan juga keluarganya Bunga setuju!' batin Ardi sambil senyum-senyum sendiri.
Bersambung. ........