
Happy reading......
Mentari keluar dari ruangan Bu Raya dengan wajah yang sendu, air mata yang sejak tadi mengenang di kedua kelopak matanya akan menetes saat dia mengedipkan mata walau hanya satu kali.
Rasa sesak kian mendera di hati Mentari. Bagaimana tidak? Di saat Mentari ingin membuka lembaran baru, memulai hidup yang baru, dengan semangat yang baru. Selalu ada saja orang yang tidak pernah menyukai dirinya, padahal Mentari tidak pernah membuat masalah kepada siapapun. Dia selalu berbuat baik dan selalu berusaha untuk tidak menyakiti orang lain.
Akan tetapi, di dalam dunia ini tidak ada yang namanya jalan yang lurus. Pasti ada belokan dan setia rintangan di setiap jalan yang dilewati oleh setiap manusia. Begitu pula dengan kehidupan, tidak ada yang menyukai kita sepenuhnya, pasti akan ada saja orang yang tidak menyukai kita, walaupun kita sudah berbuat baik kepada mereka.
Terkadang, baik saja tidak cukup untuk membuat orang menyukai kita, tetapi walaupun begitu, kita tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan. Walaupun mereka menyakiti kita, walaupun mereka menjatuhkan kita, walaupun mereka tidak menyukai kita. Maka, kita jangan membalas mereka dengan hal yang sama. Justru kita harus membuktikan kepada mereka, jika kita mampu berdiri dengan kaki kita sendiri, dan kita tidak boleh menunjukkan jika mental kita jatuh, hanya karena kejahatan mereka. Walaupun terkadang apa yang mereka perbuat kepada kita, membuat kita down, membuat kita benar-benar terpuruk.
Saat Mentari masuk ke dalam dapur, Melisa sudah menunggu dirinya sambil tertawa dengan sinis. Kemudian dia melangkah menghampiri Mentari, lalu berbisik di telinga gadis itu.
''Makannya, jangan sok cari muka di depan Bu Raya. Aku peringatkan kepadamu, ya! Ini baru permulaan, ingat, jika kau mendekati Pak Ardi, dan kau juga mencari muka di hadapan Bu Raya, aku akan melakukan lebih daripada ini, paham!'' ancam Melisa dengan nada yang menekan di telinga Mentari.
__ADS_1
Gadis itu diam saat mendengar ancaman dari Melisa, padahal selama ini Mentari tidak merasa mencari muka kepada Bu Raya. Dia hanya bekerja dan bersikap baik sebagai seorang karyawan, tapi ternyata ada saja yang tidak pernah menyukai dirinya.
Siang ini, Mentari sedang membersihkan sebuah meja di cafe. Lalu salah satu temennya meminta Mentari untuk datang ke ruangan Bu Raya, karena Bu Raya memanggil Mentari.
'Ya Allah, ada apa lagi ini? Bukankah, masalah tadi sudah clear, dan aku juga sudah mendapatkan surat peringatan dari Bu Raya? Apakah aku akan dipecat? Ya Allah ... jika aku dipecat, aku cari kerjaan kemana lagi?' batin Mentari dengan resah. Karena dia takut jika Bu Raya memecat dirinya karena kejadian tadi.
Gadis itu pun langsung melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Manager, dan saat dia masuk ternyata di sana sudah ada Ardi yang sedang menunggu dirinya. Kemudian Bu Raya meminta mencari untuk duduk di kursi.
Melihat Ardi ada disana, Mentari menundukkan kepalanya. Dia benar-benar takut, jika pria itu kan marah karena Mentari pikir, dia sudah mengecewakan Ardi.
''Begini, Mentari. Saya sudah menceritakan kejadian tadi kepada Pak Ardi, dan itu kenapa Pak Ardi datang kesini,'' ucap Bu Raya sambil menatap kearah Mentari, dan Mentari yang mendengar itu pun langsung mengangkat wajahnya dan menatap Bu Raya dengan tatapan yang sendu.
''Bu, saya mohon, jangan pecat saya Bu. Saya benar-benar tidak sengaja, itu bukan murni kesalahan saya, Bu. Saya berbicara jujur, jika bahu saya memang disenggol oleh Mbak Melisa, tapi jika itu memang menjadi kesalahan saya, saya minta maaf Bu. Tolong jangan pecat saya. Tuan Ardi, saya mohon jangan pecat saya. Saya tidak punya pekerjaan lagi selain ini. Hanya disini saya bisa bertahan, Tuan,'' ucap Mentari sambil berlutut di hadapan Bu Raya dan juga Ardi.
__ADS_1
Mentari memohon agar dia tidak dikeluarkan dari pekerjaan itu, karena hanya itulah mata pencaharian Mentari saat ini, dan Ardi yang melihat itupun sangat kaget. Kemudian dia berjalan ke arah Mentari dan meminta gadis itu untuk berdiri.
''Berdirilah! Jangan seperti ini, tidak bagus memohon kepada manusia,'' ucap Ardi sambil membantu Mentari untuk berdiri, dan gadis itu pun berdiri dengan wajah menunduk.
''Tuan, percayalah. Saya tidak melakukan itu, Tuan. Maafkan saya Tuan, tolong jangan pecat saya.'' Mentari berucap dengan air mata yang sudah mengalir membasahi kedua pipinya, dia benar-benar ketakutan jika Ardi akan memecat dirinya.
Ardi dan Bu Raya pun melirik satu sama lain, kemudian Ardi meminta Mentari untuk duduk di sofa di sebelahnya. Sedangkan Bu Raya hanya menatap saja kepada dua orang yang ada di hadapannya itu. Sebetulnya dia juga heran, kenapa Ardi begitu peduli kepada Mentari, walaupun Mentari masuk juga atas rekomendasi dari Ardi.
''Bu Raya, bawa flashdisk hasil dari rekaman hari ini kepada saya! Tempatnya saat jam makan siang tadi. Saya ingin melihat kejadiannya, apakah memang Mentari yang salah, atau memang ada yang sengaja ingin menjahili nya!'' titah Ardi kepada Bu Raya, dan wanita itu langsung keluar dari ruangan untuk pergi ke ruangan cctv dan mengambil rekaman tadi siang.
Mentari yang mendengar itu pun langsung mengangkat wajahnya dan menatap Ardi. Dia pikir, Ardi akan memecat dirinya, tetapi ternyata dia salah. ''Tuan, tidak memecat saya?'' tanya Mentari dengan suara yang purau.
Ardi terkekeh, kemudian dia mengacak rambut Mentari dengan gemas. ''Tentu saja tidak! Kenapa aku harus memecat kamu? Jika memang kamu yang menjatuhkan minuman itu, maka kamu akan mendapatkan surat peringatan bukan? Aku tidak akan langsung memecat dirimu, kecuali restoran ini kamu yang bakar, baru aku akan memecat kamu.'' kekeh Ardi saat melihat wajah Mentari yang sudah berlinang air mata.
__ADS_1
Sebagai seorang Bos, Ardii tentu saja harus bijak dalam mengambil keputusan. Dia tidak bisa memandang dari salah satu sudut saja, karena Ardi harus menyelidiki dari akarnya juga, tentang apa penyebab Mentari seperti itu. Karena, yang Ardi lihat 3 bulan ini, Mentari bekerja dengan sangat baik dan tidak pernah ceroboh. Maka itu, Ardi ingin mengecek CCTV, apakah benar jika Mentari melakukan kecerobohan atau tidak.
Bersambung......