Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Bau


__ADS_3

Tina mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumah. Hatinya begitu senang karena ternyata tante Imelda menerima kehadirannya dan mereka mempunyai selera yang sama.


Saat wanita itu berhenti di lampu merah, tiba-tiba saja ponselnya berdering, dan ternyata itu dari Riko yang mengajaknya untuk bertemu.


"Tapi sayang, ini kan sudah sore."


"Iya, aku tahu, tapi aku baru saja pulang kerja dan aku rindu sama kamu," jawab Riko di seberang telepon.


Tina tersipu malu, pipinya merona dengan hati berbunga-bunga. "Oke, kita ketemuan di mana?"


"Di salah satu restoran aja ya, nanti aku kirim alamatnya. Atau, kamu mau aku jemput?"


"Nggak usah, sayang, aku bawa mobil kok. Tadi kan habis ketemu sama tante Imelda."


Telepon pun terputus setelah mereka berjanji untuk bertemu di sebuah restoran. Tina langsung melajukan mobilnya menuju tempat tersebut, dan tidak membutuhkan waktu lama dia pun sampai, karena memang jaraknya tidak terlalu jauh namun Tina masih belum melihat kedatangan Riko di sana.


Dia memesan minuman kesukaannya bersama dengan Riko, tetapi Tina tidak memesan makanan karena dia masih merasa kenyang. Dan untuk menunggu calon suaminya, Tina pun bermain sosial media.


"Aduh! Siapa sih yang tutup mataku? Udah deh sayang ... nggak usah kayak ABG," ujar Tina sambil membuka tangan yang saat ini tengah melingkar di kedua matanya.


"Huuuf! Kamu ini ... memangnya kenapa kalau seperti ABG? Lagi pula, kita ini masih muda, jadi wajar saja jika masa puber." Riko menaik turunkan alisnya dengan senyuman manis yang terpantri dari wajah tampan tersebut.


"Puber kamu bilang? Ya ampun sayang! Umur kita ini udah berapa tahun, bukan lagi umuran 17 tahun. Jadi masa-masa Puber itu sudah tidak ada." Tina menggelengkan kepalanya sambil terkekeh kecil saat mendengar guyonan dari calon suaminya itu.

__ADS_1


Tak lama minuman yang ia pesan pun datang, kemudian Riko bertanya tentang pertemuan Tina tadi bersama dengan ibunya, karena dia merasa penasaran.


Jujur saja selama di kantor Riko merasa cemas, karena takut ibunya akan berkata yang tidak-tidak terhadap Tina. Walaupun ia sudah tahu jika kedua orang tuanya menerima status Tina, tapi tetap saja itu membuatnya sedikit khawatir.


"Kamu tenang aja! Tante Imelda sangat baik kok. Bahkan kita tadi sempat belanja bareng. Kamu tahu! Kamu itu benar-benar beruntung memiliki Ibu yang bijak sepertinya, dan bukan hanya itu saja ... tante Imelda ternyata orang yang humoris."


Lalu Tina pun menceritakan tentang pertemuannya bersama dengan tante Imelda dan apa saja yang mereka katakan. Dan mendengar itu, tentu saja membuat Riko tersenyum senang dan juga merasa lega karena kekhawatirannya ternyata tidak terjadi.


Dia pikir tadinya sang Mama akan berbicara yang membuat Tina tersinggung. Namun ternyata di luar dugaan, keduanya malah terlihat akrab dan mempunyai selera yang sama.


"Kayaknya kalau kita nikah, posisiku bakal tergeser deh. Kamu lebih dominan sama mama." Riko memasang wajah masamnya.


"Ya nggak dong sayang. Kamu ini ada-ada aja. Kamu kan nanti suamiku, jadi apapun harus aku utamakan. Tapi kamu tahu ... sudah lama sekali aku tidak merasakan kasih sayang seorang ibu, dan itu malah kudapatkan dari Tante Imelda."


Riko menatap sendu ke arah kekasihnya, dia menggenggam tangan Tina dan menatapnya dengan lekat. "Maaf ya jika perkataanku tadi membuat kamu sedih. Aku dan juga keluargaku akan menyayangimu. Kamu tidak akan pernah kekurangan kasih sayang."


"Makasih ya sayang Aku bahagia karena Tuhan mengirimkan kamu untukku. Dan aku berharap kita tidak akan pernah terpisahkan."


"Tidak akan. Hanya maut yang akan memisahkan kita. Aku tidak akan berpaling, kecuali maut yang membuatku harus meninggalkanmu."


"Kamu ini bicara apa sih! Ngomongnya suka ngawur deh. Udah ah ... aku nggak suka!"


"Sayang, apa yang aku katakan itu benar." Riko memegang dagu Tina, namun wanita itu melengos. Akan tetapi, pria tersebut tidak kehabisan akal. Dia memeluk tubuh Tina dan merangkul pinggang rampingnya. "Kamu tahu! Bahkan aku berharap tidak akan pernah dipisahkan di dunia ini. Walau maut nanti memisahkan kita, tapi hatiku akan tetap untukmu. Dan aku berharap kamu juga akan selalu menaruh namaku di dalam hatimu."

__ADS_1


"Sayang, please deh jangan bicara kayak gitu! Kamu itu seperti membuat pembicaraan sebuah wasiat saja. Jangan membuat perkataan menjadi sebuah doa! Dan jangan pernah membuat perkataan sebagai sebuah firasat, ake. Aku tidak mau dan aku tidak suka!" sergah Tina dengan wajah cemberut.


"Iya sayang, iya, maaf. Tapi kok kayak bau sesuatu ya?" Riko mengendus-ngendus sambil mendekat ke arah sang kekasih.


"Apa sih Yank? Jangan aneh-aneh deh. Aku udah mandi. Memangnya bau apa? Dari tadi aku nggak nyium apa-apa kok."


"Nggak tahu, kayak bau aneh gimana gitu ..." Riko terus aja mengendus, dan kali ini hidungnya tepat berhenti di depan ketek milik Tina, kemudian pria itu mengangkat wajahnya dan menatap kedua manik milik wanita tersebut.


"Sayang, kamu nggak pakai deodorant ya?"


Tina yang mendengar pertanyaan itu pun seketika membulat. Dia langsung memegang kedua keteknya. 'Astaga naga! Kenapa aku bisa lupa tadi nggak pakai deodorant? Ini kelewat seneng ketemu camer.'


"Pa-pakai kok," bohong Tina, akan tetapi wajahnya tidak bisa untuk mengelabui sang kekasih.


"Yakin? Tapi kok baunya benar-benar seperti telur busuk ya?"


"Haiiik! Sembarangan!". kesal Tina dengan tatapan tajamnya. "Se asam-asamnya, tidak mungkin sampai seperti telur busuk."


"Iya, nggak seperti telur busuk sekali sih ... hanya saja lebih tidak enak, seperti kotoran kucing."


"What!" mata Tina membulat tajam pada Riko, saat pria tersebut menyamakan bau keteknya dengan kotoran kucing.


"Oh ... seperti kotoran kucing ya ..." Tina kemudian mengusap tangannya pada ketek yang sama sekali belum dia beri deodorant, kemudian Tina memberikannya kepada hidung Riko. "Nih makan kotoran kucing!" kesalnya, kemudian dia berlari ke arah kamar mandi.

__ADS_1


Sementara Riko sudah dari tadi terus aja mual, dia mengambil tisu lalu mengelapnya. Akan tetapi tetap saja bau itu tidak mau hilang. "Astaga! Calon istriku jorok sekali. Kenapa keteknya sebau ini? Dia makan apa sih setiap hari? Apa dia makan pete dan jengkol?" lirihnya sambil terus muntah-muntah tetapi tidak ada yang keluar.


BERSAMBUNG......


__ADS_2