
Happy reading.......
Bunga terdiam dengan air mata yang sudah mengalir deras, bahkan dia tidak mempunyai tenaga hanya untuk melepaskan pelukan itu.
Sedangkan seorang wanita paruh baya yang berumur 50 tahun, menangis dalam pelukan Bunga. Dan setelah beberapa menit mereka menumpahkan air mata, wanita itu pun melepaskan pelukannya lalu membalik tubuh Bunga.
"Anak Mami... Kamu apa kabar sayang? Mami sangat merindukanmu," ucap wanita itu dengan deraian air mata yang sudah deras membasahi pipinya.
Bunga tidak berani menatap wajah wanita yang ada di hadapannya itu, rasanya suara Bunga telah tercekat di tenggorokan, hingga sangat susah sekali untuk berkata apapun.
"Nak, apa kamu tidak merindukan Mami? Apa kamu tidak ingin memeluk Mamimu ini?" tanya wanita itu sambil memegang kedua pipi Bunga agar menghadap ke arahnya.
Air mata Bunga semakin deras mengalir, kemudian dia langsung memeluk tubuh wanita itu, menangis tersedu-sedu dalam pelukannya. Menumpahkan rasa rindu sekaligus rasa sakit yang ada di dalam hatinya.
Tidak Bunga pungkiri jika dia begitu merindukan wanita yang saat ini dia peluk, wanita yang melahirkannya, membesarkannya, mendidiknya, bahkan menyuapinya. Wanita yang Bunga anggap sebagai seorang pahlawan di dalam hidupnya.
"Mami... Aku sangat merindukan Mami," ucap Bunga dengan suara yang begitu serak, karena tertahan oleh tangisannya.
Iya, wanita itu adalah orang tua kandungnya Bunga. Beliau bernama Rindi Maheswari. Kebetulan tante Rindi menyuruh anak buahnya untuk mengikuti ke mana Bunga pergi, dan saat mengetahui jika hari ini adalah sidang perceraian putrinya, tante Rindi pun datang ke pengadilan, tetapi dia hanya menunggu di luar gedung.
Wanita itu melepaskan pelukannya kemudian dia mengajak Bunga untuk duduk di kursi yang ada di parkiran itu. Kemudian dia menggenggam tangan putrinya. Putri yang selama ini dia rindukan, yang selama ini dia kasihi, yang selama ini dia besarkan dan dia didik dengan sepenuh hati dan penuh cinta.
__ADS_1
"Nak, Mami mohon pulanglah ke rumah! Kamu tahu, rumah begitu sepi tanpa kamu. Dan Papi juga sering sakit-sakitan, karena dia sangat merindukan kamu. Maafkanlah Papi, Nak. Mami tahu jika luka yang Papih berikan kepada kamu, itu sangatlah dalam. Tapi walau bagaimanapun Papi mengatakan itu karena saat itu Papi dalam keadaan emosi." Tante Rindi mencoba membujuk Bunga untuk kembali ke rumahnya.
Mendengar ucapan sang Mami, Bunga hanya terdiam. Air matanya bahkan tidak henti menetes, kemudian dia menggeleng dengan lemah. "Maafkan aku Mih, tetapi aku tidak bisa pulang ke rumah. Bukankah Papi sudah mengusir aku? Bukankah Papi tidak menganggapku lagi sebagai anak? Lalu kenapa aku harus pulang ke sana? Aku tidak marah pada Papi, aku sudah memaafkannya. Namun Mami benar, rasa sakit itu masih ada di hatiku Mi, bahkan sangat jelas."
Tante Rindi tertunduk lemas, dia tahu apa yang dirasakan oleh putrinya. Tidaklah mudah untuk melupakan sebuah luka yang ditorehkan oleh orang tua sendiri, walaupun sebagai anak dia sudah memaafkan orang tuanya.
Kemudian Bunga menghapus air matanya, lalu dia menghapus air mata yang ada di wajah sang Mami, wajah yang selama ini dia rindukan, wajah yang selama ini menemaninya setiap hari.
"Mami tahu, mungkin memang kamu belum siap untuk kembali ke rumah. Tapi percayalah Sayang, pintu rumah selalu terbuka lebar untuk kamu. Dan asal kamu tahu, Papi juga amat sangat menyesal karena telah mengucapkan kata-kata itu. Saat ini Papi sedang ada di Eropa untuk mengurus perusahaannya, dan Mami sendirian di rumah. Abangmu juga belum pulang! Dia masih harus mengurus pekerjaannya di Korea."
Mendengar ucapan sang Mami, Bunga merasa Iba. 'Ya Allah, apakah aku durhaka jika aku tidak menemani Mamiku? Aku juga sangat merindukannya, tapi luka ini begitu sangat dalam,' batin Bunga sambil menerawang jauh menatap lurus ke arah depan.
"Insya Allah Mi, nanti coba Bunga akan mampir." Kemudian tante Rindi memeluk kembali tubuh Bhnga. Rasanya Dia tidak ingin melepaskan pelukan itu, karena sudah 5 tahun lamanya mereka berpisah, dan baru satu tahun ini Tante Rindi dan juga suaminya menemukan keberadaan Bunga.
Suara ponsel tante Rindi pun terdengar nyaring, menghentikan ucapan nya. Kemudian dia mengangkat telepon itu, dan ternyata dari temannya yang sudah menunggu dia di restoran untuk arisan.
"Sayang, Mami harus pergi sekarang. Ingatlah, pintu rumah selalu terbuka lebar buat kamu. Dan kami menunggu kepulangan kamu Nak," ucap tante Rindi sambil mengecup kening dan juga kedua pipi Bunga.
Mendapat perlakuan hangat seperti itu, Bunga memejamkan matanya. Hatinya benar-benar menghangat, karena kecupan itulah yang selama ini Bunga rindukan setiap hari. Pelukan yang hangat dan sandaran bahu di setiap keluh kesahnya.
Dengan berat hati tante Rindi pun pamit kepada Bunga, karena dia sudah ada janji bersama dengan temannya. Tapi sebelum itu tante Rindi kembali memeluk tubuh Bunga dengan erat, mereka tidak sadar jika ada 3 orang yang memperhatikan mereka tak jauh dari tempat di mana Tante Rindi dan juga Bunga duduk.
__ADS_1
"Mami pulang dulu ya," pamit tante Rindi, dan langsung dibalas anggukan oleh Bunga. Kemudian Bunga mencium tangan tante Rindi. "Hati-hati Mi," ucap Bunga sambil tersenyum manis ke arah sang Mami.
Lalu wanita itu pun masuk ke dalam mobil mewah, di mana sang supir sudah menunggunya. Dan Bunga melambaikan tangannya saat mobil itu pergi meninggalkan Pengadilan Agama.
Saat Bunga akan masuk ke dalam mobil, tiba-tiba Tante Farah, Nara dan juga Ilham menghampirinya. "Bunga..." Panggil Ilham.
Bunga kembali menutup pintu mobilnya, lalu menatap ke arah tiga orang yang berjalan mendekat ke arahnya. "Iya Mas, kenapa?" tanya Bunga.
Ilham menatap wajah Bunga yang begitu sembab, dia yakin jika Bunga habis menangis. "Wanita tadi siapa? Kenapa sepertinya kamu habis menangis? Apa wanita tadi menyakiti kamu? Tapi kenapa kamu terlihat akrab sekali dengan dia?" tanya Ilham dengan wajah penasaran, begitupun dengan Nara dan juga tante Farah. Mereka juga sangat ingin tahu siapa wanita yang berpakaian elegan dan memasuki mobil mewah itu.
Bunga tersenyum, kemudian dia menatap Ilham. "Siapa dia, itu tidak penting lagi Mas. Lagi pula kita bukan suami istri, dan siapa itu yang bersamaku maupun yang dekat denganku, bukan lagi urusan kamu! Kalau begitu aku pamit dulu, assalamualaikum," ucap Bunga sambil membuka pintu mobilnya. Namun baru saja dia akan masuk, tiba-tiba suara cempreng tante Farah memekikan telinga.
"Dasar wanita sombong! Sudah Kismin, sombong, mandul, tidak tahu diri! Dan aku sangat yakin, mobil ini kamu tuh dapat sewa kan? Kalau nggak punya duit itu, nggak usah sok jadi orang!" Sindir tante Farah dengan nada Ketus.
Bunga tersenyum miring, kemudian dia menatap tante Farah juga dengan sinis. "Apa urusan tante? Mobil ini mau saya sewa kek, mau saya beli kek, itu urusan saya, bukan urusan tante! Lagi pula, kita tidak ada hubungan apapun ya. Jadi berhenti mengusik hidup saya! Dan berhenti mengomentari hidup saya, jika kalian masih ingin tetap hidup bahagia. Atau kalau kalian memang ingin hancur, maka dengan senang hati saya akan menghancurkan kalian!" jawab Bunga dengan geram, kemudian dia menutup pintu mobil itu dengan keras.
Bunga mengklakson mobilnya saat tante Farah menghalanginya, hingga membuat wanita itu terjingkat kaget dan memukul kap mobil milik Bunga dengan kesal. Setelah itu dia pergi meninggalkan parkiran. Bunga malas jika harus berdebat dengan orang seperti mereka.
Sedangkan Ilham dan juga Nara masih saja memikirkan wanita paruh baya tadi yang begitu dekat dengan Bunga
'Siapa dia? Siapa wanita itu? Kenapa aku baru melihatnya, dan kenapa Bunga terlihat begitu dekat dengan wanita itu?' batin Ilham masih bertanya-tanya.
__ADS_1
'Siapa wanita kaya yang bersama Bunga tadi? Kenapa mereka terlihat begitu akrab? Dan bagaimana bisa wanita mandul itu kenal dengan wanita sekaya tadi? Aku tahu mobil yang wanita kaya tadi memasuki, itu adalah keluaran terbaru dan harganya masih 2 miliar,' batin Nara dengan penuh tanda tanya sambil menatap mobil Bunga yang semakin menjauh.
Bersambung.............