Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Jangan Ganggu Mama dan Papa


__ADS_3

Happy reading......


Saat Bagas sudah sampai di kantornya, dia sedang menunggu seseorang. Karena Bagas sudah memerintahkan kepada orang itu untuk mencari tahu soal peneror yang selama ini meneror dia dan juga Bunga, apalagi tentang kejadian semalam.


Setelah 10 menit menunggu, orang itu pun masuk kedalam diantar oleh sekertaris pribadi Bagas. Kemudian, orang itu duduk di hadapan Bagas dan menyodorkan sebuah berkas.


Tanpa banyak berbicara, Bagas segera mengambil berkas itu dan mulai membukanya, dan membacanya dengan teliti. Rahang Bagas mengeras saat melihat bukti yang baru saja didapatkan6 detektif yang dia sewa.


"Jadi, ini semua karena ulah nya? Berani-beraninya dia mempermainkan diriku!" geram Bagas sambil mengepalkan kedua tangannya dengan sorot mata yang begitu tajam.


"Apa kau tahu, sekarang mereka ada di mana?" tanya Bagas pada pria yang ada di hadapannya.


"Iya, mereka ada markas nya, yaitu di jalan xxx," jawab pria yang ada di hadapan Bagas saat ini.


Bagas pun mengangguk, kemudian dia menyuruh orang itu untuk pergi. Tidak lupa, Bagas juga mentransfer uang yang sudah dijanjikan atas kerja keras detektif itu.


Setelah Bagas mendapatkan bukti tentang siapa peneror yang selama ini meresahkan dia dan juga Bunga. Kemudian Bagas pun menelpon Elang, salah satu anak buahnya yang terkuat. "Halo, aku mau kau ke markas mereka. Aku akan kirimkan alamatnya, mereka berjumlah 3 orang, dan jangan lupa kau tangkap anak buahnya mereka juga yang dulu menculik Bunga!" titah Bagas pada Elang yang berada di seberang telepon.

__ADS_1


Dengan amarah yang sudah tidak terkontrol lagi, Bagas menonjok tembok yang ada di sampingnya, dia benar-benar geram. Selama ini dia cukup diamx tapi ternyata mereka makin merajalelax dan Bagas pun harus memberikan mereka pelajaran.


Setelah urusannya di kantor selesai, Bagas kembali ke rumah, karena saat ini dia butuh Bunga berada di sisinya. Bagas memang ke kantor hanya untuk menyelesaikan pekerjaan yang sedikit, ditambah dia harus bertemu dengan detektif yang sudah dia sewa, untuk menyelidiki tentang peneror itu.


Sesampainya di rumah, Bagas langsung menuju kamar untuk mengganti bajunya, dan saat dia masuk ke dalam kamar, Bagas melihat Bunga sedang duduk di tepi ranjang sambil memang ku laptopnya. Kemudian pria itu pun naik ke atas ranjang lalu merebahkan badannya di atad ranjang, dan menaruh kepalanya di pangkuan Bunga.


"Kamu lagi kerja, Sayang?" tanya Bagas kepada Bunga, dan wanita itu pun mengangguk.


Bunga dapat melihat raut kecemasan di wajah Bagas, kemudian dia mengusap rambut suaminya.


"Ada apa, Mas? Kamu sedang memikirkan sesuatu? Atau ada hal lain yang mengganggu pikiranmu?" tanya Bunga sambil mengusap lembut wajah Bagas.


"Lalu, bagaimana? Apakah kamu sudah menemukan siapa dalang dari semua kerusuhan, dan juga teror itu?" tanya Bunga dengan penasaran.


Bagas mengangguk, kemudian dia pun menjelaskan yang sebenarnya, tentang siapa dalang dibalik teror itu, dan Bunga yang mendengarnya pun seketika menjadi takut. Karena peneror itu benar-benar keterlaluan, sudah berani berbuat nekat yang membahayakan nyawa Bunga.


Bagas bangkit dari tidurnya, kemudian dia duduk di sebelah Bunga, lalu merengkuh wanita itu dalam pelukannya. "Tidak usah takut, Sayang. Ada aku di sini! Aku tidak akan pernah membiarkan mu terluka, walau sedikitpun. Kamu tenang saja, aku akan memberikan orang itu pelajaran," ucap Bagas dengan lembut, mencoba menenangkan perasaan Bunga yang saat ini sedang ketakutan.

__ADS_1


Sementara di lantai bawah, Mami Rindi baru saja pulang mengantar Aurora sekolah. Kemudian, Mami Rindi mengajak Aurora untuk ke dapur dan makan siang, tapi Aurora menolak. Dia ingin bertemu dengan Bunga dan juga Bagas, karena Aurora sangat merindukanmu orang tuanya itu. Apalagi semenjak Bunga menjadi ibu sambungnya, Aurora ingin selalu berada di dekat wanita itu.


"Kamu jangan ganggu Papa sama Mama, dulu ya. Mereka 'kan, lagi bikin Adek buat Aurora," jelas Mami Rindi saat Aurora akan menaiki tangga.


Gadis itu pun menengok ke arah Mami Rindi dengan tatapan berbinar. "Maksud Oma, dedek bayi?" tanya Aurora dengan wajah antusias, dan Mami Rindi pun langsung mengangguk. "Iya Sayang,nkalau Aurora mau mempunyai adik, maka Aurora nggak boleh ganggu Mama dan Papa dulu! Nanti kalau Aurora ganggu, dede bayinya nggak jadi-jadi?" ucap Mami Rindi mencoba memberi pengertian pada gadis kecil itu.


Aurora pun mengangguk, kemudian dia tidak jadi naik ke lantai atas menuju kamar Bunga. Diapun akhirnya bermain di taman belakang bersama Mami Rindi dan juga Jelita dan Kenzo. Karena memang, Mami Rindi disengaja agar Aurora sementara waktu tidak mengganggu Bunga dan juga Bagas. Dia juga pernah merasakan menjadi pengantin baru, jadi Mami Rindi tahux jika Bagas dan Bunga sedang hangat hangatnya sebagai pengantin.


**********


Di sebuah pinggiran jalan, seorang wanita tengah menggendong anak kecil, dan dia sedang melayani pembeli,ntapi saat melihat anaknya sudah tertidur, wanita itu pun langsung menidurkannya di bawah. Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Nara, dan anak kecil dalam gendongan nya adalah Azam. Memang saat Bunga menolongnya dulu, dan membawa Nara ke kediaman orang tuanya. Nara hanya tinggal beberapa hari saja di rumah Bungax tapi setelah itu dia pamit untuk mencari kosan. Karena Nara malu, jika harus merepotkan keluarga Bunga. Apalagi dengan status Nara yang pernah menyakiti Bunga.


Saat Nara keluar dari rumah Bunga, orang tuanya Bunga, yaitu Mami Rindi, memberikan Nara modal untuk membuka usaha, dan itu tentu saja tidak Nara sia-siakan. Dia menyewa kosan dan juga dia membuka usaha angkringan seperti sosis bakar, jagung bakarx bakso bakar dan juga jajanan yang lainnya. Nara rasa, itu cukup untuk menyambung hidup. Karena untuk usaha yang lain, Nara belum bisa, sebab Azan masih terlalu kecil dan tidak ada yang mengurus nya selain Nara.


Di tempat lain tidak jauh dari tempat Nara berdagang, sebuah mobil berhenti, karena mobil itu mogok kehabisan bensin. Sedangkan Pom bensin di sana sangatlah jauh. "Aduh ... kenapa mobilku pakai mogok segala sih! Lagian, kenapa aku bisa sampai lupa ngisi bensin?" gerutu Ilham sambil memukul setirnya dengan kesal, kemudian dia menatap kearah kanan dan kiri mencari penjual bensin angkringan.


"Nah, itu ada warung angkringan. Sebaiknya aku tanya saja deh, siapa tahu di sini ada pom bensin terdekat?" gumam Ilham sambil turun dari mobilnya, kemudian dia berjalan mendekat ke arah angkringan yang tak jauh dari tempat dia memarkirkan mobil.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2