Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Kasihan


__ADS_3

Happy reading......


Ardi melajukan mobilnya tidak tentu arah, yang ada di pikirannya saat ini hanyalah Bunga dan juga perasaannya yang hancur. Dia tidak menyangka jika Bagas satu langkah di depannya, bahkan mungkin, sekarang Ardi akan kehilangan Bunga untuk selama-lamanya,


"Kenapa aku terlalu bodoh! Kenapa aku bisa terlambat. Kenapa kak Bagas lebih cepat dariku? Aku yang memendam rasa ini sejak dulu, tapi kenapa malah kak Bagas yang mendapatkan cintanya Bunga? Ya Tuhan, kenapa kau berikan aku rasa sakit seperti ini? Aku benar-benar tidak sanggup, walau hanya untuk bernapas. TUHAN ...!" teriak Ardi di dalam mobil sambil memukul setirnya beberapa kali.


Ardi bahkan membawa mobil dengan sedikit oleng, karena saat ini Ardi merasa hidup pun terasa begitu hampa dan juga percuma. Selama ini dia bertahan hanya untuk Bunga, untuk memperjuangkan wanita itu, tapi ternyata Ardi terlambat. Bunga sudah dimiliki oleh pria lain untuk kedua kalinya, dan kali ini dia harus merelakan Bunga bersama kakaknya.


Ardi tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Bunga menjadi kakak iparnya, karena Ardi benar-benar tidak akan pernah sanggup melihat keromantisan dan kemesraan pasangan itu, yang sudah pasti membuat hati Ardi sangat hancur.


"Mengapa, cinta begitu menyakitkan? Mengapa, menanti begitu menyakitkan? Mengapa, rasa ini tumbuh? Bahkan semakin dalam, yang pada akhirnya membuat aku benar-benar hancur. Kenapa Tuhan? Kenapa kau hadirkan rasa ini di hatiku kepadanya, jika pada akhirnya kau tidak menyatukan kami? Jika pada akhirnya kami harus terpisah, dan jika pada akhirnya dia harus menjadi kakak iparku. Kenapa Tuhan!" teriak Ardi sambil meneteskan air mata.


Walaupun dia pria yang gentleman, tapi Ardi juga masih punya perasaan. Hingga dia tidak bisa lagi menahan sesak di dadanya, dan air mata pun mewakili rasa sakit itu saat ini.


CKIIT...


Ardi terlonjak kaget saat melihat seorang gadis tengah menyeberang dengan seorang nenek-nenek, hampir saja Ardi menabrak mereka, jika dia tidak langsung menginjak remnya. Kemudian Ardi pun turun dari mobil dan melihat keadaan mereka.


"Maaf, maafkan saya. Saya benar-benar tidak sengaja. Apa kalian tidak apa-apa?" tanya Ardi kepada dua orang yang kini tengah duduk di aspal.

__ADS_1


Wanita yang sedang memegang bahu sang nenek seketika mengangkat wajahnya. "Tidak apa-apa, Tuan. Hanya saja, saya butuh tumpangan untuk membawa Nenek saya ke rumah sakit, Tuan. Beliau benar-benar sudah tidak bisa lagi untuk berjalan," ucap Gadis itu sambil menangkupkan tangannya di depan dada, memohon kepada Ardi agar pria itu memberinya tumpangan untuk ke rumah sakit.


Ardi melihat ke arah sang nenek, di mana wajah itu sangat pucat. Apalagi nenek tua renta itu terus memegangi dadanya, dan tanpa pikir panjang Ardi pun langsung menyuruh mereka masuk dan membawanya ke rumah sakit.


"Nek, Nenek yang kuat ya! Nenek jangan tinggalin Mentari. Kalau Nenek ninggalin Mentari, lalu Mentari tinggal dengan siapa, Nek? Nenek harus kuat, Nenek nggak boleh pergi. Mentari yakin, Nenek pasti akan sembuh," ucap Gadis itu saat berada di jok belakang.


Ardi hanya diam saja sambil melihat dua orang di belakangnya melalui pantulan cermin. Dia benar-benar kasihan melihat gadis itu yang terus menangisi keadaan sang nenek.


Sesampainya di rumah sakit, Ardi langsung membantu sang nenek untuk segera dibawa ke UGD, dan Dokter pun segera memeriksa keadaan nenek tersebut. Sementara itu Mentari dan juga Ardi menunggu di luar ruang UGD.


"Ya Allah, selamatkanlah Nenekku, ya Allah. Jangan kau ambil dia. Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain dia, ya Allah," ucap Mentari sambil mengangkat kedua tangannya menengadah ke atas kemudian dia mengusapkan ke wajahnya.


Ardi benar-benar tidak tega melihat gadis itu, tapi apa yang dia bisa lakukan. Dia pun saat ini sedang merasa hancur. Kemudian tak lama Dokter pun keluar, dan Mentari yang melihat itu segera menghampiri sang Dokter.


Dokter itu terdiam sejenak sambil menatap Mentari dengan bingung. Dia benar-benar tidak tega harus menyampaikan kabar duka itu kepada gadis yang berusia 20 tahun tersebut.


"Dok, anda kenapa diam saja? Jawab pertanyaan saya, Dok. Nenek saya baik-baik saja kan? Dia tidak apa-apa kan, Dok?" tanya Mentari sambil menggoncang lengan sang Dokter.


Dokter itu menghela nafas dengan panjang, kemudian dia menatap Mentari dengan tatapan yang sendu. "Maafkan kami, Nona. Saya hanyalah manusia biasa, dan yang mempunyai takdir adalah Allah. Maaf, saya tidak bisa menyelamatkan Nenek anda. Beliau terlambat dibawa ke sini, Nona. Karena penyakit Beliau juga sudah sangat parah," jelas Dokter itu dengan tatapan sedih ke arah Mentari.

__ADS_1


Bagaikan kehilangan tenaga, tubuh Mentari seketika oleng, tapi untung saja Ardi segera menahan tubuh gadis itu hingga tidak jatuh ke lantai. Rasanya Mentari sudah tidak ada tenaga lagi, dunianya seakan hancur, bahkan tatapannya kini sudah kosong seakan hidup Mentari sudah berakhir.


"NENEK ...!" teriak Mentari sambil masuk ke ruang UGD.


Langkahnya terhenti saat melihat suster menutup kain ke seluruh tubuh sang Nenek, Mentari langsung berlari dan memeluk tubuh Neneknya dengan erat. Lalu menangis tersedu-sedu di dalam pelukan jenazah Neneknya.


"Nenek, kenapa Nenek ninggalin Mentari? Nenek, kan udah janji sama Mentari, Nenek akan tetap berada di sisi Mentari. Nenek nggak akan pernah ninggalin Mentari. Nenek juga berjanji kan, kalau Nenek sembuh, kita akan jalan-jalan ke taman? Terus, kenapa sekarang Nenek ninggalin Mentari? Apa Nenek tidak kasihan kepada Mentari? Nenek kan tahu, Mentari tidak punya siapa-siapa lagi selain Nenek. Kenapa Nenek ninggalin Mentari secepat ini, Nek? Mentari belum siap ditinggal sama Nenek, nanti Mentari tinggal dengan siapa? Nek, bangun. Mentari Mohon, bangun ...."


Mentari terus mengguncang tubuh jenazah Neneknya dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya. Rasanya hanya untuk berucap saja Mentari tidak kuat, suaranya benar-benar tercekat di tenggorokan. Dia benar-benar tidak sanggup jika harus kehilangan sang Nenek.


"Ya Allah, kenapa kau ambil Nenek, Mentar? Kenapa, ya Allah?" ucap Mentari sambil terus memeluk tubuh Neneknya.


Ardi benar-benar tidak tega melihat itu, dia kemudian berjalan mendekat ke arah Mentari, lalu mengusap pundaknya. "Bersabarlah, Nenekmu sudah tenang di alam sana. Dia sudah tidak kesakitan lagi bukan? Apa kau mau, jika Nenekmu masih berada di sini, sedangkan raganya terus sakit? Apa kau tega melihat itu?" ucap Ardi sambil mengusap bahu Mentari.


Mendengar ucapan Ardi, Mentari langsung berdiri dan menubruk tubuh Ardi, memeluknya dengan erat. Dia tidak peduli siapa Ardi, yang saat ini Mentari butuhkan adalah pelukan hangat dan ketenangan dari seseorang. Karena saat ini dia tidak tahu harus memeluk siapa, karena Mentari tidak punya siapapun selain sang Nenek.


Ardi tentu saja sangat kaget, tapi kemudian dia mengerti keadaan Mentari saat ini. Lalu Ardi pun mengusap punggung gadis itu, dia merasa iba melihat gadis itu harus kehilangan sang Nenek. Apalagi Ardi mengetahui jika Neneknya adalah satu-satunya orang yang Gadis itu punya saat ini.


Ardi pun membantu Gadis itu menyelesaikan administrasi dan kepulangan jenazah sang nenek, ke rumah, dan saat Ardi sampai di rumah Gadis itu, dia merasa sangat miris. Karena melihat rumah yang begitu kumuh.

__ADS_1


'Selama ini aku kurang bersyukur, karena dengan kemewahan yang aku miliki, aku bahkan sering mengeluh. Tetapi ternyata, banyak yang di bawah aku, lebih menderita malah, tapi mereka kuat. Gadis itu juga sudah tidak punya siapa-siapa lagi, dan harus hidup sebatang kara di tempat seperti ini.' batin Ardi bermonolog sambil melihat sekeliling rumah itu yang terasa menyedihkan.


Bersambung.......


__ADS_2