Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Aku Sudah Memaafkanmu


__ADS_3

Happy reading


Nara kemudian melanjutkan ucapannya kembali. "Setelah Mas Ilham mengetahui jika Azam bukanlah Putra kandungnya, dia pun mengusir kami tanpa belas kasih, lalu aku pergi ke rumah Ferdi, pacarku. Aku tinggal hampir 2 bulan di sana, tapi ternyata kebahagiaan yang aku impikan hanyalah sebuah khayalan semata. Ternyata Ferdi tidak pernah benar-benar mencintaiku, dia hanya menjadikanku budak nafsunya saja."


Sejenak Nara kembali terdiam, dia menangisi hidupnya yang begitu miris. Sementara itu Bunga yang mendengar curhatan dari Nara menjadi kasihan walaupun dulu Nara jahat kepadanya, walaupun Nara dulu membenci dirinya, bahkan menghancurkan rumah tangganya dengan Ilham. Tetapi Bunga adalah wanita yang mempunyai hati yang lembut, dia tidak pernah dendam kepada orang lain, bahkan dia tidak pernah membenci orang lain yang pernah menyakiti dirinya.


"Sudah 2 minggu aku dan Azam luntang-lantung di jalan, kami tidak mempunyai apapun. Bahkan untuk makan pun aku dan Azam harus mengemis dan mengamen, jika tidak seperti itu maka aku dan Azam tidak akan pernah bisa makan. Aku tahu, mungkin ini adalah karma bagiku, karena aku dulu pernah jahat kepadamu. Aku menghancurkan rumah tanggamu dan juga Mas Ilham, aku tahu jika ini balasan dari Allah untukku."


Nara menangis, air mata yang sudah sejak tadi dia tahan tidak bisa dia bendung lagi. Air mata itu pun lolos membasahi kedua pipi Nara, dia benar-benar menyesal. Apa yang dia ungkapkan, semuanya terucap dari dalam hati, tulus bukan karena dia ingin meminta belas kasihan Bunga, tapi Nara benar-benar menyesal atas segala perbuatan yang telah dia lakukan kepada Bunga waktu dulu


"Aku benar-benar minta maaf, aku tahu, mungkin kejahatanku tidak terbatas, mungkin kejahatanku tidak termaafkan, mungkin kejahatanku juga telah membuat hidupmu hancur, dan juga keluargamu bersama Mas Ilham hancur. Aku terlalu dibutakan oleh nafsu dunia, maafkan aku, Bunga. Aku benar-benar menyesal, aku pantas seperti ini," ucap Nara dengan penuh rasa penyesalan sambil menggenggam tangan Bunga.

__ADS_1


Bunga yang mendengar permintaan maaf yang tulus dari Nara, menggenggam balik tangan wanita itu, bahkan sekarang Bunga bisa merasakan tangan Nara begitu kurus. Dia tidak bisa membayangkan penderitaan yang Nara alami. Walaupun Nara jahat kepada Bunga, tapi Bunga sangat bersyukur, karena semenderitanya dia selama ini, Nara jauh lebih menderita daripada dirinya.


"Aku sudah memaafkanmu, lalu sekarang kamu tinggal di mana?" tanya Bunga sambil menatap Azam yang tertidur dalam gendongan Nara.


"Aku tidur di emperan toko, di mana saja, asal ada tempat berteduh. Untuk mencari kosan pun aku tidak mampu, sebab kosan kan mahal. Aku tidak mampu untuk membayarnya, bahkan untuk makan saja kami pas-pasan dan seadanya. Kadang cuma sehari sekali, untung saja Azam menyusu dari diriku, jika tidak, dari mana aku akan mendapatkan susu formula?" ucap Nara dengan sedih sambil menatap Azam dengan tatapan yang sendu.


Saat ini Nara sangat bersyukur, karena dia memiliki Azam yang menjadi penguat dirinya. Walaupun kehidupan Nara sekarang sudah berubah 180 derajat, yang dari bergelimang harta dan sekarang menjadi seorang gembel. Tetapi Nara tidak pernah patah semangat, karena selalu ada Azam yang berada di sisinya.


"Baiklah, sekarang kamu ikut aku yuk," ajak Bunga kepada Nara. Namun wanita itu segera menggeleng. "Tidak usah, aku akan lanjut mengamen lagi. Masih sedikit uang yang aku kumpulkan untuk beli obat Azam," jawab Nara.


"Obat Azam? Memangnya Azam lagi sakit?" tanya Bunga, kemudian dia bangkit dan memegang kening Azam. Seketika Bunga kaget saat merasakan badan Azam yang panas, lalu dia menatap ke arah Nara.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak membawanya ke rumah sakit? Azzam ini lagi panas, kalau terjadi apa-apa sama dia bagaimana?" tanya Bunga dengan khawatir.


"Bagaimana aku akan membawa Azam ke rumah sakit? Sedangkan untuk makan saja, kami pas-pasan. Itu kenapa aku harus mengamen lagi, untuk membeli obat Azam," jawab Nara sambil mencium kening Ajam dengan lembut.


"No! Sekarang kamu ikut aku. Tidak ada penolakan ya, ini semua demi Azam!" paksa Bunga sambil menatap Nara dengan tatapan tidak bisa dibantah. Nara yang melihat itu pun sangat terharu, kemudian dia ikut bersama Bunga menaiki mobil, dan Bunga langsung membawa Nara dan juga Azam ke kediaman Mardasena, dan di tengah jalan dia juga sudah menelpon dokter dari keluarga Mardasena untuk memeriksa keadaan Azam.


"Bunga, sebaiknya aku turun saja. Aku tidak ingin merepotkan siapapun, lagi pula aku malu dengan keluargamu. Mereka pasti sangat membenciku, karena aku pernah menghancurkan hidupmu, aku pernah menghancurkan keluargamu. Jadi, sebaiknya aku turun di sini saja," pinta Nara. Dia merasa tidak enak karena dia takut keluarga Bunga tidak akan menerimanya.


Bunga tersenyum ke arah Nara. "Tidak usah khawatir, keluargaku tidak jahat kok. Mereka pasti akan menerimamu, lagi pula saat ini yang harus kita dahulukan adalah Azam dan juga kesehatannya. Dia masih sangat kecil, masih butuh asupan gizi yang baik. Kalau sampai terjadi apa-apa sama Azam, apa kamu mau?" Bunga berucap sambil menatap Azam yang masih tertidur dalam gendongan Nara.


Akhirnya Nara pun pasrah dan ikut Bunga ke kediaman Mardasena, walaupun sejujurnya hati Nara takut jika keluarga Bunga akan mencaci dan memaki dirinya. Apalagi dulu, terakhir saat Nara bertemu dengan keluarga Bunga di pesta saat itu, Nara menghina Bunga habis-habisan, walaupun pada akhirnya dialah yang dibuat malu.

__ADS_1


Bersambung.........


__ADS_2