Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
# 29


__ADS_3

"ODGJ nya laki apa perempuan?" tanya Bagas yang masih fokus menyetir


"Laki...."


Citttt


Duk, kening Nadin terantuk dasboard.


"Aduh, mas kenapa sih?"


"Jadi sebelum Adnan dan aku yang nyentuh kamu, kita keduluan ODGJ?"


"Ya gimana ya mas, kan waktu itu aku belum tau...."


"Hah....." menghela nafas


"Terus kamu di apain lagi sama ODGJ itu?"


"ODGJ itu bilang, kalo nantinya aku akan jadi wanita solehah, pintar dan berbakti pada orang tua..."


"Ko ODGJ nya tau ya?" guman Bagas


"Tau apa?" bingung Nadin


"Tau kalo kamu bakal jadi pintar... "


"Pintar?"


"Perasaan aku biasa aja, orang lulus sekolah aja nilaiku pas-pasan...."


"Ia, kamu pintar, pintar mencuri hati aku...."


Bles, pipi Nadin memanas, dia malu mendengar gombalan sang suami.


"Mas kita jadi kan ke swalayan aku?"


"Astaghfirullohaladzim, mas lupa, jadi putar balik nih?"


"Ia dong mas...."


"Ok siap tun putri....."


Bagas memutar balik arah kendarannya.


Bagas berhenti ketika lampu merah.


"CANGCIMEN nya mas, arem-arem juga ada.." ucap anak laki-laki yang menawarkan dagangannya.


"Mau ga yang?"


"Boleh, itu arem-arem nya beli semua..."


"Siap...."


"Arem-arem nya ya de semua..." menyodorkan kantong


"Siap mas..."


Anak kecil itu memindahkan satu persatu, nasi ketan yang dibungkus menggunakan daun pisang, lalu tengahnya di isi dengan sayur itu ke kantong yang Bagas sodorkan.


"Ini mas..."


"Berapa semuanya de?"


"Satunya seribu lima ratus, itu ada 30..."


"Berarti seribu lima ratus di kali 30 samadengan Rp 45.000 ya de...."


"Ia mas..."


"Ini..." menyodorkan uang limapuluh ribuan satu lembar


"Kembaliannya buat ade aja..."


"Beneran mas?"


"Ia..."


"Makasih mas...."


"Sama sama.... "


Nak kecil itu pergi dengan bibir mengulas senyum.


"Ini sayang..."


"Makasih mas..."


"Sama sama sayang....."


Bagas melanjutkan perjalanannya, setelah lampu lalu lintas menyala hijau.


............................................


"Alhamdulillah sampai...."


"Ia alhamdulillah...."


Cegleg, Nadin membuka pintu mobil, lalu ia turun, di ukuti oleh sang suami.


Tangan kiri Nadin membawa kantong yang berisi arem-arem, dan tangan kanannya menggandeng mesra lengan suaminya. Lalu keduanya melangkah masuk.


"Assalamu'alaikum....." ucap keduanya


"Wa'alikusalam..... "

__ADS_1


"Duh mesranya yang pengantin baru, jadi iri nih...." goda mba Dian


"Apa an sih mba...."


"Haha, malu nih ye..."


"His, gimana mba, pengunjung meningkat?"


"Alhamdulillah, tapi pelayannya kurang Din.......... "


"Ya sudah di tambah aja, mba bikin pengumuman bahwa kita sedang butuh kariyawan..."


"Sudah Din, hari ini yang ngelamar akan datang untuk interviu.... "


"Oh ya sudah..."


"Nanti kamu aja ya yang nginterviu...."


"Ga ah, mba aja, takut pak bos cemburu...." berbisik di akhir kalimatnya


"Hahaha....."


"Hayo bisik bisik apa?"


"Bisik bisik, kalo mas itu baik dan tampan, mba Dian tolong ini nanti di bagi ya...." memberikan kantong yang berisi arem-arem


"Wah, makasih Din... " menerimanya


"Sama sama, aku sama suami mau keliling dulu ya mba...."


"Siap..."


"Ayo mas...."


"Ayo..."


Nadin mengajak suaminya untuk berkeliling swalayan. Nadin menyapa setiap kariyawan yang di temuinya.


Sampailah mereka di atap. Nadin ingin menikmati pemandangan yang tersaji di sana.


"Mas..."


"Apa sayang?"


"Kita nyantai di sini yu...."


"Ya....."


Nadin mengambil tikar yang ada di gudang, lalu ia menggelarnya. Lalu keduanya duduk.


Nadin menyenderkan kepalanya di bahu sang suami.


Tak ada obrolan yang terjadi, keduanya larut dalam pikirannya masing masing.


Dert dert. Suara ponsel, berhasil memecah keheningan yang ada.


"Wa'alikusalam, kalian di mana?"


"Di swalayan Nadin...."


"Oh, kirain mamah kailan ke mana, sini pulang, om nya Nadin datang nih...."


"Oh ok mah, suruh tunggu sebentar ya, Bagas sama Nadin langsung pulang nih...."


"Ia, ya sudah wasalamualikum.... "


"Wa'alikusalam........"


"Siapa mas?"


"Mamah nyuruh pulang, katanya om Hamzah datang..."


"Ya udah ayo pulang...."


"Ayo...."


Keduanya bangkit. Nadin segera menggulung kembali tikarnya.


Nadin membawa tikarnya ke gudang, lalu menaruhnya di pojokan.


Tap Tap Tap, sura langkah kaki menuruni anak tangga.


"Mau pulang Din?"


"Ia mba...."


"Ko buru buru?"


"Ada om Hamzah di rumah...."


"Oh, hati-hati ya...."


"Siap, mari mba...."


"Mari...."


Jeglek. Bagas membukakan pintu untuk Nadin.


"Silahkan sayang...."


"Makasih mas...."


"Sama-sama sayang...."


Jeglek.

__ADS_1


Mbrum, suara mobil Bagas yang di stater. Bagas pun melajukan mobilnya.


"Mas, aku mau beli cilung sama cilok dong..."


"Siap...."


Bagas menepikan mobilnya. Setelah mobil berhenti, Nadin langsung turun dari mobil dan menghampiri tukang cilung dan cilok yang berada di trotoar jalan.


"Pak beli cilung nya 20 ribu jadi tiga...."


"Siap neng, pedes ga?"


"Yang dua pedes, yang satu ngga....."


"Siap....."


Nadin berjalan ke arah penjual beraneka cilok.


"Pak beli cilok yang di goreng sepuluh ribu, sama yang di kukus 20 ribu..."


"Siap, saus nya di pisah?"


"Ia pak...."


"Ok laksanakan....."


Nadin memperhatikan penjual cilok yang cekatan memasukannya ke dalam plastik.


10 Menit kemudian, barulah cilok dan cilung gorengnya selesai.


"Ini mba..." menyerahkan cilok gorengnya


"Makasih pak..." menerimanya, lalu memberikan uang pembayarannya.


"Sama-sama, pas ya mba...."


"Ia pak...."


Nadin kembali ke penjual cilung.


"Ini mba...."


"Makasih pak, ini uangnya...."


"Sama-sama mba, pas ya mba...."


"Ia pak, mari...."


"Mari mba...."


Nadin kembali ke mobil suaminya.


"Udah sayang?"


"Udah, ayo pulang..."


"Ayo, berdo'a dulu...."


Nadin membaca do'a naik kendaraan darat.


'Subhanallazi sah horolana hadza wamakunna lahu muq rinin, wa inna illa robbina lamun qolibunn.....'


Yang Artinya : Maha suci Alloh yang menundukan kendaraan ini untuk kami, dan tiada kami akan mempersekutukan bagi-Nya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya.


"Amin...."


..........................................


Bagas dan Nadin memasuki rumah orang tua Bagas, setelah sebelumnya mengucap salam.


"Wah kayanya ada yang lupa sama kita, setelah nikah nih...." sindir om Hamzah


Nadin tak peduli dengan sindirian omnya, dia malah langsung memeluk omnya yang sedang duduk dari belakang.


"Ah kangennya sama om ku yang ganteng ini........ " memeluk om Hamzah


"Ka, Adin ga kangen Ai?" tanya anak perempuan berpipi gembul itu, dengan mata yang berkaca-kaca akibat menahan rindu.


"Uluh uluh, sayangnya kaka....." menoel pipi Aira


"Kangen ya?"


Aira hanya mengangguk, pipinya sudah basah oleh air matanya.


"Kayanya ada kabar bahagia yang udah telat nih....." ucap bibi Yuna, yang melihat tubuh Nadin sedikit bertambah berat badan.


"Lah, sayang belum ngasih tau mereka?" tanya Bagas


"Hehehe, belum, waktu itu aku lupa...." cengir Nadin


"Hemmmm....."


"Udah berapa bulan?" tanya om Hamzah


"Jalan dua bulan...." jawab Bagas


"Ko kayanya udah lebih dari itu?" selidik bibi Yuna


"Kembar....." jawab Nadin


"Alhamdulillah..... "


Aira yang belum paham hanya memperhatikan para orang itu.


"Haha Ai bingung ya?" tanya Nadin

__ADS_1


"Ia, emang ka Adin kenapa?"


"Di perut kaka ada dede bayinya, jadi kaka ga bisa gendong kamu....." jawab Nadin


__ADS_2