
Happy reading.......
Ardi sedang tersenyum senang karena dia akan pergi makan siang bersama dengan Bunga, tapi seketika senyum itu luntur, saat membaca chat balasan dari Bunga. Hatinya mendadak sakit, semangatnya seketika menjadi luntur.
"Aku harus lebih bekerja keras lagi untuk mendapatkan Bunga." Ardi bergumam dengan lirih, kemudian dia pun bangkit untuk menuju ruang meeting. Karena semua karyawan sudah menunggu dirinya.
Sementara itu Bnagas sedang duduk di kursinya dengan senyum yang terus mengembang di wajah tampan nya, di tangannya saat ini ada sebuah kalung yang ber liontin kan Bunga dengan mutiara di tengahny, membuat kalung itu terlihat begitu mewah, namun sangat elegan.
'Kalung ini sangat cantik, secantik yang memakainya nanti,' batin Bagas sambil memandangi kalung itu.
********
Tina masuk ke dalam ruangan Bunga, karena ruangannya dan Bunga saat ini sudah terpisah, tidak satu ruangan kembali. Lalu, wanita itu duduk di sofa sambil mengangkat satu kakinya, di tumpang kan ke-1 kaki yang lain.
"Makan siang yuk! Gue laper banget nih," ajak Tina kepada Bunga. Dan wanita itu langsung mangangguk, "ayo, Gue juga dah laper nih," jawab Bunga sambil mengambil tasnya, kemudian berdiri dan berjalan keluar ruangan bersama dengan Tina untuk makan siang di sebuah kafe yang tidak jauh dari kantor mereka.
Rasanya Bunga sangat lega, karena dia bisa makan siang dengan tenang tanpa diarecoki oleh kedua pria itu. Dan kali ini Bunga bisa makan dengan kenyang, tanpa merasa pusing oleh ulah Ardi dan juga Bagas.
__ADS_1
Selesai makan siang, mereka pun kembali ke kantor. Namun Tina izin sebentar kepada Bunga untuk supermarket, karena ada yang harus dia beli. Dan Bunga mengizinkan. Dia pun pulang menggunakan mobilnya, sementara Tina menaiki taksi, karena supermarket dan juga kantor mereka berlawanan arah.
Saat Bunga sampai di kantor, hujan turun begitu derasnya. Sementara itu di supermarket Tina sedang memilih barang apa saja yang dia beli untuk keperluan nya yang habis di apartemen.
Setelah semua selesai, Tina pun keluar. Tapi sayang, hujan begitu deras dan Tina tidak membawa payung sama sekali. Dia juga tidak bisa memanggil taksi, sebab supermarket dan juga jalanan lumayan berjarak, jadi kalau dia menerobos hujan bisa bisa badan dia basah kuyup.
Tina bingung harus bagaimana? Kemudian ia mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Bunga, agar menjemput dirinya. Tapi seketika Tina menepuk jidatnya, dia lupa jika ponsel nya tertinggal di ruang kerja.
"Ya ampun Tina ... barang seperti itu kamu bisa lupa? Belum nikah aja, Gue udah pikun. Gimana kalau Gue udah nikah, udah punya anak dan nenek-nenek? Lupa kali ya, jalan pulang?" gerutu Tina pada diri sendiri.
Tina berdiri di luar supermarket menunggu hujan sedikit reda, lalu dia akan menerobos dan memanggil taksi. Tapi hujan tidak kunjung reda, malah semakin deras. Bahkan petir menyambar-nyambar, membuat Tina mengusap kedua lengannya dengan sedikit bergidik takut.
"Hei ... kamu sedang apa di sini?" tanya orang itu kepada Tina.
Wanita itu langsung menoleh, dan dia kaget saat melihat Ardi yang berada di sisinya. "Loh, kamu kan adiknya pak Bagas? Kok bisa ada di sini?" tanya Tina dengan heran, sambil menatap Ardi dengan tatapan menyipit.
"Iya, tadinya mau beli rokok, soalnya rokok aku habis. Lalu ... kamu sendiri kenapa berada di sini? Berdiri di depan supermarket, sambil memandangi hujan? Lagi putus cinta?" ledek Ardi kepada Tina, namun wanita itu langsung mencebik
__ADS_1
"Putus cinta dari Hongkong! Pacar aja nggak punya, boro-boro putus. Talinya aja nggak disambung," gerutu Tina dengan wajah cemberut.
Ardi terkekeh saat melihat wajah Tina yang ditekuk, tidak dia sangka jika Tina begitu lucu saat sedang kesal. Kemudian dia menawarkan Tina untuk masuk ke dalam mobilnya
"Ayo ... aku antar kamu untuk pulang. Hujan juga semakin deras, kamu tidak akan bisa pulang. Untuk memanggil taksi pun, kamu harus menerobos hujan bukan?"
Tina terlihat ragu menerima tawaran Ardi, tapi saat dia melihat hujan yang semakin deras, dengan petir menyambar-nyambar, Tina pun menjadi takut. Kemudian dia mengangguk, lalu mereka pun berjalan memasuki mobil Ardi. Namun, saat Ardi akan membuka pintu mobil tiba-tiba petir menyambar dengan keras, hingga membuat Tina seketika memeluk tubuh Ardi dengan erat.
Ardi mematung saat Tina tiba-tiba memeluk tubuhnya, dia kaget, namun dia paham jika gadis yang saat ini sedang memeluk dirinya takut dengan petir
Kemudian Ardi mengusap punggung Tina.
"Tidak apa-apa, petirnya sudah tidak ada. Cepat masuk ke dalam mobil," ucap Ardi menenangkan wanita itu.
Tina yang mendengar ucapan Ardi seketika melepas pelukannya, wajahnya merah menahan malu. Kemudian dia mengangguk sambil menundukkan kepalanya dan masuk ke dalam mobil. Setelah di dalam mobil Tina menjitak kepalanya beberapa kali, merutuki kebodohannya yang tiba-tiba memeluk tubuh Ardi.
"Stupid, stupid ... kenapa sih, Lo malah meluk tubuh Ardi? Ya ampun Tina ... mau ditaruh di mana muka Lo?" gerutu Tina pada diri sendiri, karena dia kelepasan memeluk tubuh pria tampan itu.
__ADS_1
Ardi pun menjalankan mobilnya meninggalkan supermarket, dia tidak mempermasalahkan kejadian tadi. Tapi Tina, dia merasa canggung dan malu, bahkan jantungnya saat ini sudah berdebar karena jujur, setelah sekian lama Tina baru memeluk tubuh seorang pria lagi. Setelah 5 tahun dia pisah dari mantan suaminya.
Bersambung.......