Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Beri Aku Waktu


__ADS_3

Happy reading......


Siang ini Bagas sudah siap untuk menjemput Bunga makan siang, dia menyemprotkan parfum ke badannya agar tubuhnya tidak terasa bau saat bertemu dengan Bunga. Bagas harus tampil perfect di hadapan Bunga, qdia tidak mau membuat wanitanya tidak nyaman berada di sisinya.


Selama dalam perjalanan senyum tidak pernah luntur di wajah Bagas, bahkan dia terus membayangkan bagaimana indahnya kencan bersama dengan Bunga. Dan di dalam saku jas Bagas, dia juga sudah menyiapkan kalung yang selama ini dia ingin kasih kepada Bunga, tapi terus saja gagal dan kali ini Bagas tidak ingin gagal kembali.


Sesampainya dia di kantor Bunga, Bagas langsung turun dari mobil kemudian masuk ke dalam kantor. Dan saat dia masuk ternyata Bunga baru saja keluar dari lift, lalu mereka pun masuk kembali ke dalam mobil Bagas untuk pergi makan siang. Tapi, suara Tina menghentikan langkah Bunga saat akan menaiki mobil.


"Nanti kalau pulang bawa kabar baik ya," goda Tina sambil mengedipkan matanya ke arah Bunga.


Melihat godaan sahabatnya, Bunga langsung memutar bola matanya dengan malas, kemudian dia masuk ke dalam mobil sambil berdecak kesal. Dia tidak habis pikir kenapa sedari pagi Tina terus aja menggoda dirinya, padahal Tina tahu jika Bunga sangat kesal digoda seperti itu.


"Kita mau makan ke mana?" tanya Bunga pada Bagas, setelah mobil jalan.


"Ada deh, nanti juga kamu akan tahu," jawabannya sambil menyetir mobil dengan fokus ke arah depan. Padahal saat ini hati Bagas sedang bahagia, karena akhirnya dia bisa makan bareng bersama dengan Bunga.


Setelah menempuh perjalanan 40 menit, mereka pun sampai di sebuah restoran. Namun Bunga merasa heran, sebab Bagas mengajaknya untuk naik ke lantai 2 yang ada di restoran tersebut. Dan di lantai 2 terlihat begitu sepi hanya ada mereka berdua dan dua orang pelayan yang sedang menyajikan makanan di atas meja.


Kemudian Bagas menarik kursi dan mempersilahkan Bunga untuk duduk, wanita itu pun langsung duduk. Tapi ada yang aneh, Bunga merasa Jika Itu adalah sebuah kencan, di mana tempatnya sangat romantis dan juga indah.

__ADS_1


'Kenapa aku merasa seperti ABG lagi ya, yang sedang kencan bersama pacarnya?' batin Bunga terkekeh saat melihat tempat sekelilingnya.


Kemudian mereka pun mulai makan tanpa banyak bicara, karena keduanya sama-sama canggung walaupun sudah kenal dekat. Setelah makanan habis, Bunga mengelap mulutnya dengan tisu lalu dia meminum es lemon tea yang sudah tersedia di sana.


Saat Bunga memakan es krim penutup di meja, tiba-tiba Bagas berjalan dan berjongkok di sampingnya, membuat Bunga seketika mematung. Bahkan es krim yang disendok dan akan dimasukkan ke dalam mulutnya terhenti di udara.


Belum hilang rasa kaget Bunga, tiba-tiba Bagas mengeluarkan sebuah kalung dari balik jasnya. Kalung yang sangat indah, sampai membuat mulut Bunga menganga dan menatap kalung itu tanpa berkedip.


"Ini maksudnya apa?" tanya Bunga dengan gugup saat Bagas jongkok di hadapannya sambil memegang sebuah kalung yang indah, bahkan saat ini jantung Bunga sudah berdebar.


"Kalung ini sedari kemarin Ingin sekali aku memberikannya kepadamu, tapi tidak ada time yang tepat. Jadi, sekarang waktu yang tepat untuk aku memberikan kalung ini kepadamu. Aku mohon Terimalah kalung ini." Bagas berbicara dengan nada yang penuh harap kepada Bunga.


"Maaf, maksudnya ini gimana sih? Kalung itu untuk apa?" Bunga bertanya dengan nada heran dan alis bertaut.


Bagas menarik nafasnya dengan dalam, kemudian dia menatap kedua bola mata Bunga, lalu menggenggam tangan wanita itu. Bagas merasa Jika dia harus mengatakan semuanya, karena semakin Bagas pendam, dia akan semakin tersiksa. Dan Bagas bukanlah seorang ABG lagi yang labil akan hal percintaan, dia sudah pernah berumah tangga, jadi Bagas pikir, jika dia harus gentle sebagai laki-laki.


Dada Bunga semakin berdebar dengan keras saat Bagas memegang kedua tangannya, apalagi saat ini pria itu Tengah menatap kedua matanya, membuat Bunga seketika menahan nafas. Karena walau bagaimanapun dia adalah seorang wanita yang mudah luluh jika diperlakukan selembut dan seromantis itu oleh seorang pria, apalagi setiap kali Bunga berdekatan dengan Bagas jantungnya tidak bisa dikondisikan.


"Bunga Maheswari ... aku tahu mungkin ini terlalu cepat, tapi kamu pernah dengar kata pepatah bukan? Cinta tidak memandang waktu, cinta tidak memandang usia, cinta tidak memandang kasta, bahkan cinta tidak memandang status dan cinta juga tidak memandang ke mana dia akan berlabuh, mencari tempat ternyamannya. Dan kamu tahu, saat ini hatiku telah berlabuh kepadamu! Entah sejak kapan cinta ini tumbuh, entah sejak kapan rasa ini datang di dalam hati, tapi hadirnya kamu di dalam hidupku, membuat aku seperti hidup kembali. Membuat hidupku seperti berwarna lagi, apalagi Aurora yang begitu dekat denganmu membuat hatiku selalu menghangat dan nyaman saat menatap kalian. Jadi ... Bunga Maheswari, Will you marry me...?"

__ADS_1


Bagas mengungkapkan semua isi hatinya kepada Bunga, membuat wanita itu seketika mematung menatap Bagas tanpa berkedip. Dia benar-benar kaget dengan semua ucapan Bagas, Bunga seperti merasa Jika dia saat ini tengah bermimpi di siang hari.


Bagas yang melihat Bunga tidak merespon, kemudian mengelus tangan wanita itu. "Bunga ..." panggil Bagas.


Ucapan Bagas mampu menyadarkan kembali kesadaran Bunga, lalu dia menatap pria yang ada di hadapannya itu yang tengah memegang kedua tangannya. 'Jadi ini bukan mimpi? Ini beneran? Aku dilamar?' batin Bunga bertanya-tanya. Dia masih merasa tidak percaya jika saat ini Bagas tengah melamar dirinya.


"Jadi ... apa jawaban kamu?" tanya Bagas kepada Bunga, dan mendengar pertanyaan Bagas Bunga menghela nafasnya.


Dengan perlahan Bunga pun melepaskan genggaman tangan Bagas di kedua tangannya. "Maafkan aku, aku ini baru satu bulan bercerai dengan Mas Ilham, dan aku masih dalam masa iddah. Tidak baik seorang wanita menerima lamaran seseorang saat dia masih dalam masa iddah, kamu benar, cinta memang tidak memandang waktu dan juga yang lain, cinta juga tidak tahu kemana dia akan berlabuh. Tapi, aku tidak ingin menjawab sekarang. Berikan aku waktu, agar aku bisa berpikir, apakah memang kamu jodoh yang dikirimkan Allah untuk aku? Karena jujur, aku tidak mau salah dalam melangkah kembali untuk berumah tangga, jadi bolehkah aku meminta waktu?"


Jujur, Bunga tidak ingin salah kembali dalam mengambil keputusan, karena bagi Bunga pernikahan itu hanya satu kali seumur hidup. Tapi nyatanya dia harus menikah mungkin untuk kedua kalinya, walaupun dia belum tahu dengan siapa. Dan karena dia pikir dia sudah dewasa, dia bukan anak ABG lagi, dan Bagas juga sama. Jadi abunga meminta waktu kepada Bagas untuk berpikir tentang jawaban apa yang akan dia kasih kepada pria itu, karena Bunga juga tidak ingin memberikan harapan palsu kepada orang lain.


"Baiklah, kalau begitu aku akan memberikanmu waktu sampai masa iddahmu selesai. Dan kalung ini kamu simpan! Setelah masa iddahmu selesai, aku akan menagih jawabanmu. Jika kamu menerima lamaranku, maka kamu pakai kalung ini, tapi jika kamu tidak menerima lamaranku, maka kamu boleh buang kalung ini ke laut, kemanapun itu," jelas Bagas.


Bunga kemudian mengambil kalung itu lalu menyimpannya di dalam tas.


"Baiklah, aku akan menjawab setelah masa iddah aku selesai," jawab Bunga sambil tersenyum ke arah Bagas.


Kemudian mereka pun pulang ke kantor untuk bekerja kembali, dan Bagas juga bilang kepada Bunga jika nanti sore dia yang akan menjemput Bunga pulang. Karena mulai sekarang, Bagas yang akan mengantar jemput Bunga agar mereka semakin dekat. Karena hubungan dan perasaan tidak akan bisa dimulai tanpa adanya kedekatan. Dan Bunga pun tidak masalah akan hal itu selagi masih dalam batasnya.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2