
Awan hitam dari langit utara mulai berjalan ke arah langit selatan. Angin berhembus kencang, membuat dedaunan lepas dari tangkainya.
Pohon cemara menggugurkan begitu banyak buahnya, akibat sapuan angin itu. Kilat mulai menyambar.
Suara peringatan akan cuaca buruk mulai terdengar di seluruh penjuru pantai. Kemungkinan besar akan terjadi ombak besar dan tinggi. Para pengunjung dihimbau agar segera menjauh dari pantai.
Nadin dan Bagas yang baru saja sampai, langsung memutar balik mobilnya, mereka tak mau mengambil resiko yang terlalu besar.
"Musim keberapa kah ini?" guman Nadin
"Kenapa yang?"
"Ga papa...."
"Hem, tadi mas denger gumananmu loh yang........"
"Tadi aku berguman musim keberapa ini..."
"Lah di negara kita kan cuma ada dua musim, kemarau dan hujan, dan ini kita sedang berada di musim hujan...."
"Tau, tapi tetep ada perhitungannya, bagi orang Jawa...."
"Ia sih, mas taunya cuma musim 'kesongo'.... "
"Haha, sama....."
Musim kesong, atau kesembilan identik dengan hujan desar, angin kencang beserta petir yang meyambar nyambar.
"Apa kita akan memasuki musim itu?"
"Mungkin..."
"Terus kita mau kemana?"
"Tersera mas saja..."
"His kenapa selalu terserah..."
"Karena aku hanya sebatas makmum, dan mas imam, jadi aku akan mengikuti kemana mas pergi dan apa yang mas lakuin...."
"Hem...."
"Mas tau kenapa nabi Adam di keluarkan daru surga?"
"Ya, karena menuruti kemauan istrinya yaitu Siti Hawa...."
"Tepat sekali..."
Tak terasa mobil mereka sudah memasuki halaman rumah mereka.
"Dah sampai, Alhamdulillah...."
"Alhamdulillah..."
Bagas keluar dari mobilnya, lalu ia membukakan pintu untuk Nadin.
"Makasih mas..."
"Sama-sama...."
Nadin turun, lalu keduanya berjalan masuk ke rumah mereka.
Mbok Jum membukakan pintu untuk keduanya.
"Assalamu'alaikum mbok...."
"Wa'alikusalam, mas sama mba ga jadi ke pantai?"
"Engga mbok, di sana mendung sama ada angin besar, semua pengunjung di bubarkan" jelas Nadin
"Oh...."
"Ia mbok, ayo masuk mbok..."
"Ia.. "
Mereka bertiga pun masuk. Bagas dan Nadin langsung menuju kamar mereka.
Ceklek, Nadin membuka pintu. Keduanya pun masuk.
Nadin segera melepas hijabnya, lalu berganti pakaian. Begitupun Bagas.
Selesai berganti pakain, Nadin merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
"Hadap sini dong yang..."
__ADS_1
Nadin memiringkan dirinya menghadap sang suami.
"Cape ya?"
"Lumayan..."
"Mau mas pijitin?"
"Engga, maunya di peluk aja..."
"Ya sudah, sini..." merentangkan tangannya
Nadin bergegas menggeser tubuhnya, masuk kedalam dekapan sang suami.
Bagas mencium pucuk kepala sang istri, menghirup aroma wangi yang selalu di rindunya.
Tak terasa air matanya mengalir begitu saja, menembus lapisan rambut Nadin hingga ke kulit kepalanya.
"Mas....."
"Hem..."
"Kenapa?"
"Mas merasa bersyukur bisa memilikimu...."
"Alhamdulillah kalo gitu...."
Lalu keduanya larut dalam obrolannya, tentang anak-anak cara mengarahkan anak agar tetap dalam jalur kebenaran, dan masa depan mereka.
.............................................................................
Dua minggu kemudian, kini usia kandungan Nadin sudah 4 bulan. Dan hari ini Nadin dan Bagas mengadakan sukuran untuk 4 bulanan.
Papah Putra, mamah Ais, Naila, om Hamzah, bibi Yuna dan Aira sudah berada di rumah mereka sejak kemaren, mereka semua ikut membantu menyiapkan acara ini.
Nadin dan Bagas, mengundang tetangga terdekat, dan anak-anak yatim.
Seorang kyai yang tertua di komplek ini memimpin jalannya acara. Kini saatnya acara inti yaitu pembacaan do'a untuk sang ibu hamil dan jabang bayinya.
Sang kyai mendo'akan kebaikan untuk ibu dan sang jabang bayi.Setelahnya ialah acara penutup.
Kemudian para tamu undangan di persilahkan untuk menikmati makanan yang telah di hidangkan.
Para anak yatim itu makan dengan lahapnya. Nadin yang melihat itu terharu sekaligus bersyukur.
"Sayang kamu nangis?" bisik sang suami
"Aku terharu, melihat anak-anak itu makan dengan lahap...." berbisik
"Kirain ada yang sakit...."
"Hehe bukan ko mas...."
Para tamu mulai membubarkan diri setelah menikmati makanannya.
"Pak Bagas, mba Nadin, kami pamit pulang ya....." ucap salah satu tetangga
"Ia monggo silahkan, terimakasih atas kehadirannya...." jawab Bagas
Sekarang keadaan telah sepi, tinggal keluarga inti yang belum pulang.
"Makasih mah, bi, dan juga Nai, sudah membantu Nadin..."
"Sama-sama...." jawab bibi Yuna
"Sama-sama mba..."
"Sama-sama sayang, nanti setelah haliharan kamu tinggal di rumah mamah ya, biar ada yang bantuin...." ucap mamah Ais
"Makasih mah, tapi aku sama mas Bagas sepakat untuk tetap tinggal di rumah kami ini........ " jawab halus Nadin
"Hem, pasti nanti mamah bakal sering nginep di sini...." sewot Nai
"Tentu, kan kasihan kalo iparmu ngurus sendiri....." jawab mamah Ais
"Tuh kan, belum lahir aja udah geser kedudukan aku sebagai anak terahir, apalagi kalo sudah lahir....."
"Enggalah, kamu tetep anak terahir mamah...."
"Huhuhu, nda....." suara tangis Aira, di gendongan ayahnya
"Kenapa sayang?" tanya bibi Yuna, sembari mengambil alih sang anak
"Ayah jahat, masa Ai ga boleh makan coklat" adunya pada bundanya
__ADS_1
"Emang kenapa om?" tanya Nadin
"Coklatnya udah expayet...."
Nadin mencoba mengingat-ingat sesuatu.
"Hehe, maaf in mba ya Ai, coklatnya emang udah ga bisa dimakan..."
Ya, Nadin ingat kapan ia membeli coklat itu. Yaitu ketika usia kandungannya baru menginjak 1 bulan.
"Tapi Ai pengin coklat....."
"Yu sama mba, kita beli coklat yang banyak..." ucap Naila
"Beneran?" mata berbinar
"Ia, ayo..."
Akhirnya Aira pergi bersama Naila.
"Haha, katanya tadi takut ke saing, tapi dianya aja sayang banget sama anak kecil...." ucap mamah Ais
"Biasa, namanya juga cemburu, takut perhatian orang tuanya hilang......." timpal bibi Yuna
"Mah, ayo pulang...." panggil papah Putra
"Ia..."
"Nadin, mamah sama papah pulang dulu ya..."
"Ia silahkan mah, pah...."
"Nanti Nailanya gimana?" tanya bibi Yuna
"Di jemput sopir, ayo mampir ke rumah..." ucap mamah Ais
"In Sya Alloh, kapan-kapan...."
"Dulun ya..."
"Ia, silahkan..."
Nadin bangkit, dia mengantarkan sang mertua hingga mobil yang di tumpanginya sudah tak terlihat lagi.
Lalu Nadin segera kembali ke dalam.
"Sayang mau makan?" tanya Bagas yang baru kembali dari dapur, sembari membawa nampan berisi makanan untuk Nadin
"Duh, romantis sekali, jadi iri..." goda bibi Yuna
"His bibi apaan sih..." ucap Nadin dengan tersemu malu
"Oh sayang iri, nih aku bawain mangga, mau ga yang?" tanya om Hamzah
"Boleh..."
"Wah mau juga dong om..." ucap Nadin
"Makan dulu, kamu kan ga bisa makan makanan 'kecut', nanti perutmu sakit...."
Kecut adalah bahasa Jawanya rasa asam.
"Ia deh..."
"Kita buat rujak aja kali ya..."
"Enak tuh, di kulkas ada jambu biji, bengkowang sama apel, buat tambahan..."
"Ok, bibi ambil ya..."
"Ia, nanti Nadin minta..."
"Ia, tapi kamu makan dulu ya..."
"Siap..."
Nadin dengan semangat memakan makanannya.
Bibi Yuna mengambil buah-buahan yang di sebut Nadin lalu mencuci dan mengupasnya.
Bersambung.......
.............................................................................
Hai gaes.....
__ADS_1
Semoga kalian selalu dam keadaan baik ya... (Aminn)
Jangn lupa mampir di karya aku yang lain ya, dengan judul Kisah Cinta Zahra, ucap masih sepi....