
Sepanjang perjalanan Tina terus saja merengut kesal karena ucapan Riko masih saja terngiang di kepalanya.
"Kamu masih marah ya sama aku?"
"Kamu pikir?" jawab Tina dengan cuek.
"Ya sudah, maaf. Tapi aku hanya bicara jujur kok, memangnya salah?"
"Ya salah sih enggak. Cuma seharusnya kamu tidak usah berbicara seperti itu secara gamblang dong! Kamu seharusnya itu bisa menghargai perasaan aku sebagai kekasihmu." Tina akhirnya mengeluarkan undang-undangnya.
Riko hanya bisa meminta maaf dan menerima kesalahan. Padahal dia rasa apa yang diucapkannya tidaklah salah. 'Wanita itu memang Maha benar. Sepertinya aku harus banyak-banyak sabar jika bersama dengan Tina. Tetapi apa yang kau katakan kan benar, keteknya seperti kotoran kucing, bau sekali ... tapi ya sudahlah, daripada aku kena semprot.' batinnya merasa pasrah.
Sesampainya di rumah Tina, tiba-tiba saja ponsel milik Riko berdering, dan ternyata itu panggilan dari bunga yang memintanya untuk menjemput Ardi di Vandara karena Bagas tidak sempat.
"Kenapa?" tanya Tina.
"Ini, sahabat kamu minta aku buat menjemput Ardi di Bandara. Katanya Bagas tidak bisa jemput."
"Ya udah, kalau gitu aku ikut."
Riko menatap tak suka saat Tina mengatakan untuk ikut dengannya. Seketika tatapan pria itu menyipit tajam. "Kenapa kamu melihatku seperti itu?"
"Kamu ikut ke sana?" Riko mengulang pertanyaannya dan langsung dibalas anggukkan oleh Tina. "Iya, memangnya kenapa? Ada yang salah?"
"Bilang aja kalau kamu ke sana itu hanya ingin bertemu dengan Ardi. Kamu masih punya perasaan ya sama dia?" selidik Riko dengan tatapan menyipit dan alis terangkat satu.
"Nggak ada. Udah deh jangan ngaco kalau ngomong. Aku lagi males untuk berdebat. Memangnya salah kalau aku ikut?"
"Ya nggak salah sih, cuma--"
__ADS_1
"Ya udah, ayo jalan!" Tina memotong ucapan Riko dengan wajah yang masih cemberut.
Akhirnya pria itu pun melajukan mobilnya. Dia tidak mempunyai pilihan lain, namun tidak menampik jika di dalam hatinya ada rasa cemburu saat Tina meminta untuk ikut. Namun dia mencoba untuk berpositif thinking dan tidak ingin berpikir yang bukan bukan.
Sesampainya di bandara, Tina menunggu di mobil, sementara Riko turun untuk menyusul Ardi. Dan setelah beberapa saat wanita itu melihat Ardi sedang berjalan sambil bercengkrama renyah dengan calon suaminya.
Sejujurnya Tina ingin memastikan perasaannya kepada Ardi, apakah sudah hilang atau masih bersemayam. Tapi saat melihat Ardi, ternyata rasanya sudah hambar dan Tina yakin jika Ardi sudah hilang dari hatinya.
"Ini semua berkat Mas Riko, dia yang membuat aku bisa melupakannya. Dan sekarang setiap melihatnya jantungku sudah tidak berdebar lagi," gumam Tina.
"Eh, lo juga ikut, Tin? Apa kabar?" Ardi mengulurkan tangannya saat berada di dalam mobil dan dia duduk di jok belakang.
"Alhamdulillah kabar baik. Gimana pekerjaan lo di Jepang? Apa sudah beres?" Tina berkata sambil melirik dari ujung matanya.
"Alhamdulillah sudah kok, makanya gue balik ke Indonesia. Kalau belum, mana mungkin gue bisa balik ke sini," kekeh Ardi.
Mereka pun meninggalkan bandara, tapi di tengah jalan Ardi meminta Riko untuk berhenti, karena dia ingin menuju sebuah supermarket untuk membeli sesuatu. Sebab tenggorokannya sangat haus, karena tadi tidak sempat beli minuman.
"Astaghfirullahaladzim! Ardi Awas!" teriak Riko yang tadi juga keluar karena melihat nenek-nenek itu ingin menyeberang, tapi Ardi lebih dulu menolongnya.
BRAK!
BUGH!
Benturan yang cukup keras seketika terdengar. Mobil membanting setir setelah menabrak tubuh seseorang. Tina terpaku saat melihat tabrakan tersebut.
"MAS RIKOO!" teriaknya dengan nada menjerit. Dia segera berlari ke arah tubuh Riko yang saat ini tengah tergeletak di aspal setelah tertabrak oleh mobil, sehingga mengalami benturan yang cukup keras di kepalanya.
"Ya Allah sayang!" Air mata Tina seketika mengucur deras. Dadanya terasa sesak, lututnya sangat lemas saat melihat kondisi sang kekasih. "Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu malah menyelamatkan dia?" ucap Tina dengan nada bergetar.
__ADS_1
Riko tidak menjawab, karena dadanya terasa sesak, apalagi kepalanya sangat amat sakit, sehingga terus saja mengeluarkan darah segar yang membanjiri aspal.
Ardi pun segera berlari dan mendekat ke arah Riko kemudian dia duduk di sebelah pria itu. "Apa yang kau lakukan, Riko? Kenapa kau malah menyelamatkanku?" Dia pun berteriak lalu menelpon ambulans.
"Sebentar lagi ambulans akan datang," ujar Ardi.
Riko tersenyum, dia memegang tangan Tina lalu berkata dengan nada yang lirih dan tersendat-sendat, "aku sangat mencintaimu. Aku beruntung karena Tuhan telah mempertemukan kita." Sementara Tina hanya menggelengkan kepalanya dengan air mata yang terus-menerus mengalir tidak ada hentinya.
"Shuut! Jangan menangis! Kamu terlihat cantik jika tidak mengeluarkan air mata. Kamu tahu! Kamu adalah wanita kuat yang pernah aku temui. Kamu adalah wanita yang hebat, bahkan rasa cintaku tidak bisa digambarkan dan tidak bisa diukur seberapa besar kepadamu." Kemudian tatapan Riko mengarah kepada Ardi, dan dia memegang tangan pria itu. "Sebelum aku pergi, aku titip Tina padamu! Jaga dia! Sayangi dia dan jangan pernah menyakitinya!"
"Hai, apa yang kau katakan? Kau pasti akan selamat. Kau akan menikah dengan Tina! Jangan seperti ini!" sergah Ardi sambil menarik tangannya. Dia menggelengkan kepala dengan kuat saat mendengar ucapan Riko yang menurutnya tidak masuk akal, bahkan seperti sebuah belati yang menusuk jantungnya begitu dalam.
"Aku mohon, jaga Tina untukku! Menikahlah dengannya!"
"APA! Kau sudah gila, ya?" kaget Ardi dengan tatapan membulat.
Sementara Tina menggeleng dengan tegas. "Tidak. Aku tidak mau menikah dengannya! Aku sangat mencintaimu, dan hanya ingin kamu yang akan menjadi suamiku. Aku tidak mau!" tolak Tina.
"Aku mohon! Ini adalah permintaan terakhirku, jadi tolong menikahlah dengan Tina, dan jaga dia untukku!" Terlihat Riko mulai sesak nafas. Kendati darahnya terus saja mengucur sehingga baju Tina pun basah oleh cairan merah tersebut.
"Enggak, sayang! Enggak akan! Kamu pasti akan selamat. Kamu tidak boleh meninggalkanku! Pernikahan kita akan dilangsungkan, semuanya sudah ditepatkan bukan? Kamu tidak boleh pergi! Aku tidak mau jika berpisah dengan kamu! Huhuhu ..." Tina menangis histeris.
"Aku akan selalu ada di hati kamu, my sewty." Kemudian tatapan Riko mengarah kembali kepada Ardi. "Di, aku mohon!"
Ardi terlihat bimbang, dia memejamkan matanya sejenak, kemudian mengganggukan kepala. "Baiklah jika itu permintaanmu." Tina langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam. "Apa yang kau katakan, hah?! Apa kau sudah gila?!"
Ardi tidak menjawab, dia pun sangat bingung. Karena kepulangannya sejujurnya ke Indonesia untuk melamar Mentari dan menikahinya tapi malah harus mendapatkan kenyataan yang begitu pahit, di mana dia harus menerima sebuah wasiat dari pria yang sudah menyelamatkan nyawanya.
Riko tersenyum lega, kemudian dia memejamkan matanya secara perlahan, dan melihat itu Tina langsung mengguncang bahu Riko. "Tidak, Sayang! Kamu tidak boleh meninggalkanku! Bangun sayang! Bangun!" teriak Tina, "aku tidak mau menikah dengannya! Hanya kamu yang aku mau. Bangun Riko! BANGUN!" jerit Tina, akan tetapi Riko telah tiada untuk selamanya meninggalkan cinta di hati wanita itu yang saat ini tengah menangis dengan begitu pilu.
__ADS_1
BWRSAMBUNG......