Penghianatan Suamiku

Penghianatan Suamiku
Mengamen


__ADS_3

Happy reading.........


Tidak terasa seminggu telah berlalu, dan kini putranya Sony juga sudah dibawa pulang ke kediaman Mardasena, dan rumah itu terasa begitu ramai dengan kehadiran baby Kenzo.


Suasana di rumah Mardasena yang tadinya sepi, kini terasa begitu ramai bahkan setiap hari selalu ada saja keributan dan kecerewetan Mami Rindi tentang kecerobohan Sony, yang baru saja menjadi seorang Papa dalam mengurus Kenzo.


Pagi ini Bunga tidak berangkat bekerja, karena dia tadi subuh mendapat telepon dari Bagas, jika nanti malam dia dan juga keluarganya akan datang ke kediaman Mardasena untuk membicarakan sesuatu tentang hubungan mereka.


"Mi, Pi, aku izin sebentar ya mau ke salon buat acara nanti malam," ucap Bunga kepada kedua orang tuanya.


Setelah itu dia pun menaiki mobil dan pergi ke salah satu salon untuk mempercantik dirinya. Bunga memang sekarang gencar merawat diri, dia tidak ingin terlihat kumel dan juga tidak terurus saat Bagas dan keluarganya datang nanti malam.


Tidak terasa 2 jam sudah Bunga perawatan, dan setelah selesai Bunga pun keluar dari salon menuju sebuah Cafe untuk menyegarkan tenggorokannya yang terasa haus.


Saat bunga tengah meminum jusnya, tiba-tiba tatapan Bunga mengarah ke jalan yang berada di depan Cafe. d


Dia melihat seorang perempuan tengah menggendong seorang anak kecil, dan Bunga sangat kaget saat tahu jika itu adalah Nara dan juga Azam.

__ADS_1


"Itu kan Nara dan Azam, mereka kenapa ada di pinggir jalan?" heran Bunga sambil menatap Nara yang sedang duduk di trotoar sambil menenteng sebuah botol Aqua di tangannya, dan saat Bunga perhatikan, Nara ternyata sedang mengamen sambil menggendong Azam.


Bunga yang merasa kasihan pun seketika bangkit dari duduknya, kemudian dia berjalan ke arah Nara dan juga Azam yang sedang mengamen. Padahal cuaca saat itu sedang terik dan sangat tidak bagus untuk kesehatan seorang anak kecil yang berada di luar rumah di bawah teriknya matahari.


"Nara ..." panggil Bunga sambil menepuk pundak wanita itu.


Wanita itu menoleh ke arah belakang, dan seketika matanya membulat saat melihat Bunga yang sedang menatap dirinya dan juga Azam dengan heran. Lalu Nara mencoba pergi dari sana, tapi Bunga segera menahan tangannya, dan saat Bunga akan berbicara, tiba-tiba rintik-rintik hujan sudah mulai turun. Padahal tadi cuaca sangat terik, tiba-tiba sudah mendung saja.


"Ayo ikut aku, tidak baik kalau Azam kehujanan. Nanti dia sakit," ujar Bunga sambil menarik tangan Nara, dan wanita itu pun hanya bisa pasrah saat Bunga menarik tangannya. Dia tidak bisa menolak sama sekali, walaupun sebenarnya Nara sangat malu bertemu dengan Bunga dalam keadaan seperti itu.


Bunga tidak mengajak Nara mengobrol terlebih dahulu, dia sengaja menunggu makanan tiba dan membiarkan wanita yang ada di hadapannya itu makan untuk mengisi tenaganya, karena bunga melihat jika Nara seperti seseorang yang belum makan.


Saat makanan datang, Nara hanya menatap makanan itu sambil menelan ludahnya dengan kasar. Dia lapar ingin makan, tapi dia gengsi di hadapan Bunga.


"Makanlah, jangan gengsi. Isi dulu tenagamu, aku tahu kamu pasti belum makan kan?" tanya abunga pada Nara saat wanita itu akan menjawab tiba-tiba perut Nara berbunyi dengan keras, menandakan jika memang ucapan Bunga itu benar. Akhirnya mau tidak mau Nara pun memakan makanan itu dengan lahap.


Ada rasa sedih dan sakit di hati Nara saat dia memakan makanan itu, sebab sudah lama sekali dia tidak memakan makanan mewah saat bersama dengan Ferdi.

__ADS_1


"Sebenarnya kenapa kamu mengamen? Aku dengar dari tante Farah, kamu dan masih Ilham sudah bercerai? Lalu, kenapa sekarang kamu malah mengamen? Apalagi bawa Azam, itu kan tidak baik untuk kesehatan Azam?" tanya Bunga saat Nara selesai makan.


Nara menunduk malu saat Bunga bertanya seperti itu, dia tidak berani menatap wajah wanita yang ada di hadapannya. Nara begitu malu karena harus bertemu dengan Bunga dalam keadaan seperti itu, padahal dulu Nara sering mencaci, memaki, bahkan menghina Bunga, tapi ternyata wanita yang ada di hadapannya itu malah sangat baik kepada dia dan memberi dia makan.


Nara terdiam sejenak, dia bimbang apakah dia harus berbicara dan mengungkapkan semuanya kepada Bunga atau tidak. Pasalnya dia sangat malu jika harus membicarakan tentang kehidupannya saat ini yang jauh dari kata bahagia kepada Bunga, dia merasa malu karena dulu dia sangat jahat kepada Bunga, dan sekarang dialah yang menderita.


"Jika kamu memang tidak siap untuk bercerita, tidak apa-apa. Aku maklum kok, aku juga tidak akan memaksa," ucap Bunga yang seakan tahu apa yang ada dalam pikiran Nara saat ini.


Nara pun menatap bunga dengan tatapan yang sendu, tatapan penuh rasa bersalah. Dia benar-benar iri dengan kecantikan Bunga luar dalam, dia tidak menyangka jika wanita yang ada di hadapannya itu begitu baik bahkan tidak membenci dirinya walaupun selama ini Nara sudah jahat kepadanya.


"Huufff ..." Nara menarik nafasnya dengan panjang, kemudian dia pun menceritakan kisah hidupnya kepada Bunga.


"Kamu benar, aku dan juga mas Ilham memang sudah bercerai. Kamu juga mungkin sudah tahu kan, kalau Azam bukanlah Putra kandung dari Mas Ilham. Aku terlalu bernafsu ingin menguasai hartanya mas Ilham, tapi ternyata aku sendiri yang masuk ke dalam jurang yang aku buat. Benar jika perbuatan jahat pasti akan kembali pada diri sendiri, dan itu yang aku rasakan saat ini."


Nara menjeda ucapannya sejenak, mencoba mengumpulkan kata-kata yang pas untuk dia ucapkan kepada Bunga, karena saat ini Nara sangat malu pada wanita yang ada di hadapannya itu.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2